21 June 2015

Postingan Ke-200: Ngeblog dari Cirebon

2 comments :
Seminggu sudah saya meninggalkan kota Bogor tercinta. Kangen doclang. Kangen mi glosor. Kangen temen-temen di sana. Kangen hujan-hujanan sama pacar malem-malem.

Ceritanya begini. Saya kebetulan ditugaskan menggarap skripsi di pabrik cabang Cirebon sampai 30 September mendatang. Lokasi tepatnya adalah Palimanan. Lebih tepatnya Gempol. Entah apa pertimbangan mereka mengirim kami bertiga ke sini. Apa pun alasannya, saya legowo saja, barangkali supaya saya nyicipin lagi hidup mandiri di kosan, bukan sekadar sendirian di rumah orangtua.

Ngomong-ngomong tentang Cirebon.Sebelum saya ke sini, saya dengar banyak orang yang bilang Cirebon itu panas, gersang, sepi dan lain-lain. Begitu tiba di sini, pada Minggu sore pekan lalu, udaranya bersih, begitupun trotoar dan jalanannya. Jalan rayanya lengang banget. Langit biru bersih dengan sedikit awan. Hujan jarang turun, nyaris belum pernah selama seminggu saya tinggal di sini.

Memang, satu setengah jam ke arah barat, memasuki Palimanan kemudian Desa Gempol, daerah di mana pabrik semen yang saya tuju berada, suasananya agak berbeda dengan di kota. Jauh lebih sepi dan gersang. Namun dibandingkan dengan Citeureup sih jauh. Pepohonan besar masih mendominasi kiri kanan jalan. Gang permukiman masih masuk truk kecil ke dalam, setiap rumah masih tersisa halaman, yang ditanami pohon mangga yang buahnya baru pentil-pentil tapi banyak. Katanya bibit Indramayu. Di belakang kampung terhampar luas pesawahan yang di atasnya melintas jalan tol Palimanan.

Secara keseluruhan, daerah Gempol masih asri. Mungkin karena di sini cuma ada dua plant pabrik, maka emisi gas buang tidak terlalu ngefek. Selain itu jarak kedua plant pun cukup jauh dengan permukiman penduduk. Jika boleh berlebay-lebay, luas dua plant di sini kurang lebih sama dengan luas sembilan plant di Citeureup. Well, silakan bayangkan perbedaan emisi debunya, jelas jauh berbeda.

Oh ya. Sebagian besar penduduk sekitar hanya tahu nama pabrik semen Gempol, atau bahkan pabrik semen saja. Tidak tahu-menahu brand semen dimaksud.

Kendala di sini adalah warung makan dan minimarket. Kemarin-kemarin saya sering menyindir secara satir Alfamart dan Indomaret yang membeludak di Bogor. Akan tetapi di sini, di Gempol, saya malah kangen sama keduanya. Untuk menuju minimarket kembar tersebut, kami mesti jalan kaki sekitar 1-2 kilometer. Kalau mau naik angkot, sayang ongkos. Sedangkan motor masih terparkir di Bogor, belum diboyong  ke sini (atau mungkin tidak akan dibawa ke sini). Jadilah saya mengakrabkan diri lagi dengan warung kelontong jaman dulu serta warung nasi yang saban saat dikerubuti kontraktor dan sopir truk Pantura. Hanya dua warung itu penolong di kala perut lapar maupun pencukup kebutuhan hidup lain kami di sini.

Terlebih bulan puasa seperti sekarang. Bisa sahur dengan roti seribuan pun sudah alhamdulillah, karena tidak ada warung yang buka. Magic com adalah investasi paling hip jika ingin bertahan hidup di sini. Karena pada hari kerja, mulai pagi hingga sore kami harus muter-muter pabrik, memahami dan mendalami karakteristik dua plant semen Gempol. Alhasil kemarin kami naik turun tangga dan inspeksi dua pabrik seharian sekadar dengan tenaga sahur wafer nabati. Gapapalah biar greget.

Ah, jadi pengen mi glosor sama kroket bumbu kacang nih, hiks... []

2 comments :