25 August 2015

Prakata dari Buku Cement Manufacturer’s Handbook, oleh Kurt E. Perray

No comments :
Diterjemahkan oleh: Cepy Hidayaturrahman

Proses pembuatan semen membutuhkan pengetahuan berbagai disiplin sains, seperti kimia, fisika, termodinamika, dan kimia-fisika. Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahami pengetahuan dasar proses produksi semen dan proses pembelajaran ini cenderung tiada akhir, alias belajar semen seumur hidup. Selalu ada sesuatu yang baru di industri: jenis mesin-mesin baru, teknik operasional yang baru, dan kondisi yang membutuhkan upaya ekstra guna menyikapi perubahan-perubahan. Kegagalan untuk mencerna fenomena demikian sebagai tuntutan profesi, dapat menyebabkan stagnansi dalam menyelesaikan pekerjaan.

Sayangnya, bagi sebagian orang yang memilih karier di industri semen, pengetahuan ini tidak serta merta diperoleh di dalam ruang kelas nyaman atau sekadar di belakang meja kerja. Sebaliknya, untuk mengenali proses secara mendalam, kita harus bermandi pengalaman di lapangan. Untuk manager dan engineer hal ini berarti dia harus secara rutin meniyisihkan waktunya di firing floor, grinding departmenet, packinghouse, dan laboratorium quality control. Dengan melakukan hal ini, dia tidak boleh malu-malu manakala kembali ke office sehabis membersihkan chimney, misal, dengan kondisi pakaian kotor sekaligus berantakan, kontras dengan penampilan rapi staf manajemen.

Selama 23 tahun, Penulis telah bekerja di hampir seluruh departemen pabrik semen dan beruntung telah merasakan pengalaman mulai dari sebagai karyawan hourly sama baiknya dengan ketika menjadi staf manajemen. Sepanjang periode tersebut, tertimpa sak semen saat proses pemuatan ke truk, dust klinker yang menyelinap ke cuping hidung dan daun telinga saat operasional kiln, mata pedas berkat sapuan semen dan kiln dust, cipratan bara dari klinker panas, bergadang pada ribuan malam, panggilan mendadak tiada kenal waktu lantaran ada masalah operasional, dan 16 jam kerja sudah biasa Penulis alami.

Semua itu adalah bagian dari proses belajar.

Segenap peristiwa itu diharapkan tidak untuk menakut-nakuti lulusan baru saat terjerumus ke industri lantas kemudian disuguhkan harapan yang keliru bahwa semua pabrik semen adalah tempat yang sangat kotor untuk bekerja. Tidak semuanya demikian, tipis saja perbedaan dari industri proses lainnya. Bagaimanapun, banyak aspek positif untuk memulai karier di industri semen. Memutuskan hidup di industri semen, sebagai manager, engineer, supervisor, atau pekerja hourly, adalah pekerjaan yang jarang mendatangkan kemonotonan atau kebosanan. Di sini adalah medan teknik yang menarik untuk bekerja dan selalu sarat akan pengalaman tak terduga. Hal itu membutuhkan keahlian masing-masing individu yang dapat menangani masalah di depan mata. Merupakan kebanggaan bagi industri semen yang memiliki banyak sekali figur-figur yang dapat menyelamatkan situasi tanpa harapan kemudian mempertahankannya lancar, layaknya kereta yang melaju di atas rel. Penulis sendiri telah mengamati tenaga ahli dalam bidangnya menjalankan kembali mesin sehingga produksi berlanjut, padahal beberapa tahun silam yang lain sudah menyerah dan mengeluh bahwa alat-alat tersebut sudah melampaui batas alias terlalu tua untuk menggaruk pile di storage. Dalam kesempatan lain, pekerja dan supervisor, di luar jam kerjanya, mereka telah membuktikan dapat memperbaiki bagian alat dan menjalankannya kembali di bawah batas waktu normal yang di perusahaan lain belum pernah dan mustahil dilakukan. Mereka adalah pahlawan yang tak terdengar gaungnya di dalam industri semen, siapa yang baru melakukan tugas dan siapa nama bersangkutan biasanya takkan pernah muncul dalam sejarah bisnis. Pada bagian ini, Penulis khusus mendedikasikan buku ini untuk pahlawan-pahlawan tadi.

Buku ini bukan untuk memprakarsai genre work experience. Terlalu banyak variabel tidak diketahui yang masuk ke dalam proses, tentang cara untuk menangani situasi yang nyata. Dengan demikian sungguh keliru untuk menahbiskan buku ini sebagai kitab suci tentang cement manufacturing process. Maksud buku ini, bagaimanapun, guna menyediakan dasar apa dan bagiaman seseorang dapat menjembatani jurang antara teoritikal dengan praktikal. Penulis telah mencoba menyusun informasi teknis yang dianggap penting untuk menyuguhkan latar belakang proses yang baik kepada pembaca.

Merupakan hal yang luar biasa jika seorang engineer dapat melewatkan empat jam melakukan preparation test, satu jam actual test di lapangan, dua jam kalkulasi, dan dua hari dalam mengolah hasil pengamatan dan menulis laporan. Di dalam bab-bab buku ini tersedia work sheets yang dapat disalin oleh engineer sehingga menghemat waktu pekerjaan.

Karena sebagian besar formula-formula dalam buku ini dihadirkan dalam satuan British dan Metric, engineer tinggal memilih apa yang cocok dengan peralatan yang ada di lapangan dan kondisi operasi masing-masing. Jadi, Pembaca harus membiasakan diri untuk memastikan formula-formula dan satuan yang sesuai dengan pekerjaan dan proyek bersangkutan. Terlampir pula di akhir buku ini tabel konversi yang menuntun Pembaca supaya familiar dengan tiga unit satuan: British (English), Metric, dan Satuan Internasional (SI).

Penulis ingin menyaksikan perguruan tinggi atau universitas yang mendirikan “School of Cement Manufacturing Technology” di sini, di Amerika Serikat. Semacam institusi yang memungkinkan industri kita (industri semen—Pnj) untuk membangun pusat lahirnya para engineer baru guna mengikuti arus pesatnya perkembangan teknologi di industri Amerika Utara. Penulis harap sekolah tersebut akan dapat berkontribusi banyak terhadap industri semen Amerika Serikat sehingga mengurangi ketergantungan akan teknologi asing. Banyak sekali keunikan proses yang ditemukan dan dikembangkan oleh industri-industri semen A.S. Semoga pada masa mendatang kita dapat kembali mengambil alih teknologi mutakhir dalam proses pembuatan semen. Namun untuk mencapai demikian, perlu kiranya komitmen finansial dan segenap upaya yang lebih keras lagi dari kita semua.[]

Kurt E. Peray 

Dallas, Texas 

Published in 1979

22 August 2015

Perayaan Ulang Tahun

2 comments :
Ketika mendekati tanggal lahir, saya suka senyum-senyum sendiri. Hari ulang tahun bagi saya adalah sama seperti hari-hari biasa. Tak perlu ada perayaan bernuansa hura-hura, kejutan istimewa, hingga colek demi colek krema kue tar berlukiskan happy birthday ke-sekian. Namun itu sekarang. Kalau ingat dulu, saya sadar betapa absurdnya diri saya.

Jika tak lupa ingatan, kelas 1 SD saya menyaksikan ibu seorang temen membagi-bagikan bingkisan ke semua temen anaknya yang isinya snack-snack anak-anak semacam ciki, mie remez, wafer superman, atau agar-agar inaco. Pernah mengalami juga dikasih begituan sama temen yang ulang tahun? Nah, saya juga pengen dong dibegituin. Sepulangnya hari itu saya merengek sama Mamah biar dibikinin begituan kalo ulang tahun, bagi-bagi bingkisan sama temen. Beliau cuma senyum dan dan saya tahu arti senyum itu, yang membuat saya cemberut. Namun beliau menawarkan opsi lain, yaitu bikin seloyang agar-agar kemudian ditengahnya ditaruh lilin ulang tahun kecil, dan dan saya senang sekali waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, kelas 5 SD, saya melihat temen-temen yang ulang tahun diguyur oleh berember-ember air maupun air dalam bungkusan plastik. Senang rasanya ikut-ikutan hal demikian, apalagi kalau memang teman yang berulangtahun adalah teman yang periang dan pandai memeriahkan suasana, maka bertambah meriahlah acara main air di lapangan tersebut, saling perang air satu sama lain di lapangan sekolah tanpa kelahi.

Sayangnya, saya tergolong anak pendiam dan kaku, bukan tipe yang asyik lah bagi temen-temen sebaya. Ketika memasuki tanggal ulang tahun, dari malem saya ngarep banget sekaligus ragu besok diguyur air rame-rame, sebagaimana yang pernah teman-teman lain alami.

Esok siangnya sepulang sekolah, nyaris saja semua teman-teman pulang, sebelum saya berbisik kepada teman sebangku saya,

“Eh, ini tanggal berapa?”

“Kalo gak salah, 22 Agustus. Kenapa emang, Cep?”

“Hari ini aku ulang tahun.”

“Hah, emang iya?”

“Sumpah kesamber petir!” kala itu mantra sumpah macam ini lagi gaul-gaulnya.

“Oke kalo gitu, tunggu di sini ya.”

Kemudian teman sebangku saya itu memanggil teman-teman lain, membentuk lingkaran seperti briefing para pemain hendak bermain sepakbola. Tiada berapa lama salah seorang teman berlari menghampiri saya sambil mengguyurkan air dari ember, teman-teman lain berhamburan mengikuti. Plastik-plastik berisi air beterbangan di atas kepala. Rupanya harapan saya supaya ulang tahun saya diperlakukan seperti ulang tahun teman-teman lain terwujud, walaupun harus dengan cara konyol; saya membisiki temen bahwa hari ini adalah ulang tahun saya. Bahagia kala itu masih terkenang sampai sekarang, kenangan yang memalukan. Ada ternyata orang yang ngarep dibanjur pas hari ulang tahun. Saya.

*

Masa STM adalah masa-masa di mana surprise ulang tahun terjadi begitu sadis, namun memorable, karena semua teman sedemikian perhatian kepada masing-masing individu, yah, kendati perhatiannya diaktualisasikan dalam mengikat lengan seorang teman melingkar ke pohon dengan tali rafia atau tali apa saja yang diketemukan di sekitar lingkungan sekolah, di mana keadaan sore itu adalah hujan turun begitu deras ditambah tusukan hawa Bandung yang dingin. Badan temen saya yang kurus semakin keriput. Satu jam ia dibiarkan berhujan-hujan sambil memeluk pohon. Saya ingat, esoknya dia langsung absen karena meriang panas dingin. Saya pun pernah mengalami hal seperti itu kala hari ulang tahun tiba. Mengerikan tapi ngangenin.

Ditambah lagi saya aktif di ekskul, dan betapa bahagianya karena ulang tahun saya jatuh bertepatan dengan tanggal ulang tahun ekskul yang saya ikuti. Jadi serasa diulangtahunkan setiap tahun, dan memang sepulang acara biasanya ada acara guyur-guyuran juga. Asyik deh masa-masa STM.

Memasuki kuliah, sepertinya saya harus melupakan ritual guyur-guyuran seperti itu karena sebagaian teman teman saya terpaut dua tahun usianya dari saya, sehingga saya harus tahu diri dan jaga image, dan sejatinya saya udah gak nafsu juga guyur-guyurin orang yang lagi ulang tahun. Selain itu bulan Agustus selalu bertepatan dengan liburan semester genap yang biasanya tiga bulan, dan mulai masuk semester baru biasanya bulan september. Alhasil ulang tahun saya adem ayem aja. Tapi sempat pada 2013 tanggal 22 Agustus saya sudah masuk kuliah dan gak ngarepin kejutan apa-apa, saya sekadar ingin berbagi kebahagiaan dengan membawa dua dus lapis bogor Sangkuriang ke kelas. Entahlah cukup atau tidak pada waktu itu, yang penting saya senang sekali bisa berbagi kebahagiaan di hari ulang tahun, mewujudkan angan pada waktu SD: ingin berbagi makanan dengan teman-teman dan dosen.

Walaupun di kampus, saya memang bukan teman yang asyik. Bukan pula teman yang cocok untuk dicurhati atau sebagai tempat bertanya segala hal, karena gak terlalu pinter juga, di bawah rata-rata malah. Gak suka maen futsal karena emang gak bisa nendang bola, bisanya cuma tackling dan sliding. Gak suka maen game, sukanya baca buku, dan sayangnya sedikit banget temen yang suka baca buku, termasuk pacar saya, jadi saya sedikit terasing di kelas. Saya orangnya kaku. Kalo bercanda pun kadang gak semua orang ngerti pada bagian mana ia mesti ketawa. Bukannya menyalahkan, tapi emang dari sononya begitu. Didikan orangtua saya mungkin emang kaku, jadi hasilnya begini, saya akui. Tapi sekarang enggak terlalu sih, secara alamiah dan naluriah dan kondisional saya berusaha untuk agak luwes menghadapi berbagai karakter orang yang ternyata unik-unik dan memang tidak ada manusia yang sempurna, dan kita tidak butuh teman yang sempurna, kita cuma butuh teman. Udah gitu aja.

Di balik kekonyolan-kekonyolan di atas, saya kangen banget sama temen-temen yang pernah saya temui dan mewarnai 24 tahun hidup saya. Semuanya.[]

17 August 2015

Mahasiswa Hidup untuk Bertahan Hidup

No comments :
Isu GO-JEK memang anget-anget tai ayam akhir-akhir ini, dengan segala pro kontranya. Tukang ojek konvensional merasa lahan periuk nasinya diusik oleh ide pemuda yang berhasil memvirtualkan pangkalan ojek ke dalam aplikasi android. Penumpang tidak perlu mendatangi pangkalan, cukup oles-oles layar sentuh saja. Kita semua tahu, jangkauan pasar yang luas adalah parameter penting dalam berwirausaha. Apalagi jaman sekarang jaman di mana gunting kuku gocengan di warung kelontong kalau dijual di berniaga dot com seharga 15 ribu, tetep aja laku. Dengan pangkalan virtual, tukang ojek bisa mangkal di mana aja, sambil leyeh-leyeh di rumah pun gak masalah. Toh peluang datangnya calon penumpang terbentang sejauh 20 km, tidak sesempit cakupan pangkalan ojek yang umumnya menguasai satu gang atau kompleks saja. Menerima penumpang di luar lahan yang telah disepakati antar pangkalan, jotos yang berbicara. Preman minded banget. Apalagi saat GO-JEK populer. Udah banyak kasus pencegatan GO-JEK oleh tukang ojek konvensional, bahkan pemukulan, penganiayaan, tapi bukan itu yang pengin saya bahas.

Meroketnya pamor GO-JEK tampaknya menggaruk jiwa seorang Penulis (atau Novelis, entahlah saya belum pernah tertarik untuk membeli karyanya yang "perempuan" banget) bernama Fahd Pahdepie sehingga jarinya gatal untuk mengkritisi kabar para sarjana yang memenuhi antrean pendaftaran calon "tukang ojek keren", sebagaimana berita pada surat kabar yang ia baca:

MENAMBANG IDE: MENEMUKAN BERLIAN DALAM PIKIRANRibuan sarjana yang mendaftar menjadi pengemudi GO-JEK demi penghasilan...
Posted by Fahd Pahdepie on Wednesday, 12 August 2015


Saya pun ketularan gatal untuk mengkritisi Bung Fahd. Sebenarnya agak bertele-tele esai-esaian Bung Fahd tersebut. Kadung banyak opini-opini yang semua orang pun sudah tahu. Semisal rumus suksesnya Jack Ma lah, Carlos Slim Helu lah, Bill Gates lah... Tolong, jalan hidup setiap orang berbeda-beda, tidak harus Drop Out dulu lantas kesuksesan terbentang di depan mata. Kemudian point yang harus dicetaktebali, tidak semua orang berenang di lautan bidang IT seperti mereka. Bidang IT dan telekomunikasi itu tergolong ranah Engineering yang cepat sekali berkembang dan cenderung mudah untuk dipraktikkan (dalam hal ini perangkat lunaknya, mengenai hardware, relatif tidak berkembang sepesat software) bahkan oleh orang yang belajar secara autodidak sekalipun. Lain dengan Mechanical, Chemical, Civil Engineering, teknologi tahun 30-70an pun relatif masih relevan diaplikasikan di industri. Coba kita pake komputer jaman dulu, jangankan era komputer tabung hampa, apakah bisa maen COC via bluestack di windows 95?  Padahal windows 95 baru berusia 20 tahun.

Kepesatan dunia IT dan telekomunikasi tentunya berimbas pada basahnya lahan untuk mencari sesuap nasi dan sebongkah emas, tinggal kemauan, kegigihan, dan ide orang bersangkutan aja. Dan enaknya, ide itu bisa dengan mudah dipraktikkan dan dicompile, untuk kemudian ditelaah trial and errornya. Setelah itu langsung presentasikan di depan klien, jika klien sreg langsung rilis dan pasarkan, jika laku baru diproduksi besar-besaran. Bandingkan dengan proyek sipil jembatan Suramadu. Tahap konsep sudah ada sejak puluhan tahun lalu, baru terwujud kemarin-kemarin. Atau di industri semen, Vertical Roller Mill yang mulai berani digunakan industri semen akhir-akhir ini, sebenarnya sudah ditemukan pada 1950 dan baru mulai berkembang pada 1980an. Sampai sekarang, teknologi tersebut masih dibilang paling canggih di antara metode penggilingan raw material semacam Tube Mill. Padahal sekarang sudah jamannya Path dan Periscope, bukan?

Jadi Bung Fahd, tolong jangan padu-padankan aneka bidang ke dalam kepesatan perkembangan dunia IT. Apalagi dihubungkan dengan ide menulis novel atau serial motivasi rumah tangga. Kenapa?

***

Penulis dan novelis adalah profesi yang mulia, saya percaya itu. Beberapa tahun lalu saya sempat kesetanan untuk menjadi penulis. Siang malam saya habiskan untuk membaca novel-novel karya peraih Nobel. Bukan untuk mengerjakan tugas kuliah. Namun alhamdulillah sekarang tidak lagi. Kenapa? Karena, sudahlah, terlalu banyak lahir penulis di Indonesia. Semua orang mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga mulai berusaha mewujudkan cita-cita menjadi penulis, mula-mula di blog pribadi, kemudian bikin antologi keroyokan, goalnya adalah novel best seller seperti novel-novel Bung Fahd, atau barangkali mereka terinspirasi dari Bung Fahd. Masifnya cita-cita menjadi penulis dan membanjirnya novel-novel gak penting di Gramedia mengakibatkan menurunnya kualitas karya tulis. Penulis bukanlah pabrik cerita, begitu keluhan Damhuri Muhammad. Menulis harus bermula dari niat yang tulus, untuk mengubah hidup kita dari yang kurang baik menjadi baik sehingga diharapakan peradaban pada masa mendatang lebih baik dari sekarang. Sayangnya niat saya menulis dahulu tidak setulus itu. Banyak sekali angan yang beraroma materialistik dan popularistik. Demikianlah, barangkali Tuhan tidak mengkehendaki saya berada di jalan yang mengawan sehingga mengembalikan saya ke jalan utama saya yaitu menyelesaikan skripsi.

Dan Bung Fahd bilang, apabila mahasiswa menjadi pengemudi GO-JEK berarti Bung anggap mahasiswa jaman sekarang miskin ide. Oh ya? Daripada ide-ide yang digali seperti ide saya dahulu yang sekadar ide-ide tulisan gak penting, mencari uang dari review blog, lomba blog yang diadakan korporat, resensi novel, mengirim cerpen ke surat kabar, bukankah malah akan menambah rimbun lahan tulis-menulis sehingga kualitas dunia literasi semakin kelam gara-gara saya, dan jika semua orang berpikiran dan memilih jalan menjadi penulis, bukankah akan menghambat karier Bung Fahd sebagai Penulis Tersohor karena saingan makin banyak?

Menurut saya, segenap akal mahasiswa untuk bertahan hidup hingga lulus sebagai sarjana pengangguran, bagaimanapun caranya, pada dasarnya sama saja: mencari uang untuk membeli nasi warteg, memfotokopi literatur berharga jutaan, atau untuk sesekali makan enak di di kafe pada malam Minggu. Anda tahu, Bung Fahd, profesi sampingan yang biasa diambil oleh mahasiswa di antaranya: Asisten Lab, Asisten Dosen, Drafter. Sekarang di jaman pesatnya dunia online yang kerap Bung Fahd elu-elukan itu mulai umum dikenal profesi kontributor media online, buzzer, social media enthusiast, motivator, speaker dan sebagainya hingga menjadi penulis novel seperti Anda! Mahasiswa, sebagai insan yang tidak mau bekerja berat namun ingin menghasilkan duit yang lumayan merasa hidup ini indah ketika datang era serba online, termasuk mencari jodoh pun online. Itu menjadi komoditi yang hip saat ini di kalangan mahasiswa maupun sarjana dari universitas tak ternama.

Bung Fahd, bukan rahasia umum jika perusahaan besar bahkan kecil pun terkesan pilih-pilih calon karyawan, apakah di pelamar berasal dari PTN ternama atau swasta abal-abal. Jadi sarjana lulusan swasta ecek-ecek susah untuk mencari kerja sebagai karyawan. Ironisnya, sarjana itu harus punya pengalaman kerja. Lah, ini fresh graduate gak diterima-diterima kerja gimana urusannya? Gak kerja-kerja dan gak bakal punya pengalaman kerja dong. Maka, mulailah timbul ide untuk memutuskan bekerja di mana saja, asalkan bisa diejawantahkan dalam lembar CV untuk nantinya memudahkan untuk mencari kerja di perusahaan. Jika ditanya pernah bekerja, maka ia bilang pernah, sebagai pengemudi GO-JEK. Apakah menurut Bung Fahd tukang ojek bukan pekerjaan?

Ketika membaca berita di koran yang anda foto tersebut, Bung Fahd, saya malah terkagum-kagum karenanya. Mahasiswa yang masih kuliah maupun sarjana zaman sekarang justru mulai melepaskan jubah bernama gengsi. Tetangga saya di kampung, sarjana MIPA, sudah belasan tahun menganggur. Usianya mungkin 40 tahun lebih. Hingga kini tidak melakukan apa-apa. Apalagi menikah. Kegiatan sehari-hari dia adalah bangun tidur jam 2 siang, karena tiap malam sampai dini hari nongkrong di warung, nonton televisi sambil minum kopi sachetan. Tidak tampak ada niat untuk melakukan apa saja seperti jadi tukang parkir seperti teman nongkrongnya di warung, atau buka usaha cappucino cincau. Demikianlah, barangkali dia sedang menggali ide sedalam-dalamnya sebagaimana anjuran Bung Fahd, sampai botak, tenggelam dalam permenungan di warung, demikian berlanjut hingga belasan tahun kemudian. Jadi, apakah seorang sarjana itu dilahirkan untuk terus-menerus mencari ide, mengasah berlian sekadar dalam diam pikiran atau pertapaan di goa pengangguran, tanpa melakukan kegiatan apa-apa yang produktif seperti jadi tukang ojek?

Ah sudahlah. Tulisan saya jadi bertele-tele tapi kosong seperti Penulis, kan.[]