17 August 2015

Mahasiswa Hidup untuk Bertahan Hidup

No comments :
Isu GO-JEK memang anget-anget tai ayam akhir-akhir ini, dengan segala pro kontranya. Tukang ojek konvensional merasa lahan periuk nasinya diusik oleh ide pemuda yang berhasil memvirtualkan pangkalan ojek ke dalam aplikasi android. Penumpang tidak perlu mendatangi pangkalan, cukup oles-oles layar sentuh saja. Kita semua tahu, jangkauan pasar yang luas adalah parameter penting dalam berwirausaha. Apalagi jaman sekarang jaman di mana gunting kuku gocengan di warung kelontong kalau dijual di berniaga dot com seharga 15 ribu, tetep aja laku. Dengan pangkalan virtual, tukang ojek bisa mangkal di mana aja, sambil leyeh-leyeh di rumah pun gak masalah. Toh peluang datangnya calon penumpang terbentang sejauh 20 km, tidak sesempit cakupan pangkalan ojek yang umumnya menguasai satu gang atau kompleks saja. Menerima penumpang di luar lahan yang telah disepakati antar pangkalan, jotos yang berbicara. Preman minded banget. Apalagi saat GO-JEK populer. Udah banyak kasus pencegatan GO-JEK oleh tukang ojek konvensional, bahkan pemukulan, penganiayaan, tapi bukan itu yang pengin saya bahas.

Meroketnya pamor GO-JEK tampaknya menggaruk jiwa seorang Penulis (atau Novelis, entahlah saya belum pernah tertarik untuk membeli karyanya yang "perempuan" banget) bernama Fahd Pahdepie sehingga jarinya gatal untuk mengkritisi kabar para sarjana yang memenuhi antrean pendaftaran calon "tukang ojek keren", sebagaimana berita pada surat kabar yang ia baca:

MENAMBANG IDE: MENEMUKAN BERLIAN DALAM PIKIRANRibuan sarjana yang mendaftar menjadi pengemudi GO-JEK demi penghasilan...
Posted by Fahd Pahdepie on Wednesday, 12 August 2015


Saya pun ketularan gatal untuk mengkritisi Bung Fahd. Sebenarnya agak bertele-tele esai-esaian Bung Fahd tersebut. Kadung banyak opini-opini yang semua orang pun sudah tahu. Semisal rumus suksesnya Jack Ma lah, Carlos Slim Helu lah, Bill Gates lah... Tolong, jalan hidup setiap orang berbeda-beda, tidak harus Drop Out dulu lantas kesuksesan terbentang di depan mata. Kemudian point yang harus dicetaktebali, tidak semua orang berenang di lautan bidang IT seperti mereka. Bidang IT dan telekomunikasi itu tergolong ranah Engineering yang cepat sekali berkembang dan cenderung mudah untuk dipraktikkan (dalam hal ini perangkat lunaknya, mengenai hardware, relatif tidak berkembang sepesat software) bahkan oleh orang yang belajar secara autodidak sekalipun. Lain dengan Mechanical, Chemical, Civil Engineering, teknologi tahun 30-70an pun relatif masih relevan diaplikasikan di industri. Coba kita pake komputer jaman dulu, jangankan era komputer tabung hampa, apakah bisa maen COC via bluestack di windows 95?  Padahal windows 95 baru berusia 20 tahun.

Kepesatan dunia IT dan telekomunikasi tentunya berimbas pada basahnya lahan untuk mencari sesuap nasi dan sebongkah emas, tinggal kemauan, kegigihan, dan ide orang bersangkutan aja. Dan enaknya, ide itu bisa dengan mudah dipraktikkan dan dicompile, untuk kemudian ditelaah trial and errornya. Setelah itu langsung presentasikan di depan klien, jika klien sreg langsung rilis dan pasarkan, jika laku baru diproduksi besar-besaran. Bandingkan dengan proyek sipil jembatan Suramadu. Tahap konsep sudah ada sejak puluhan tahun lalu, baru terwujud kemarin-kemarin. Atau di industri semen, Vertical Roller Mill yang mulai berani digunakan industri semen akhir-akhir ini, sebenarnya sudah ditemukan pada 1950 dan baru mulai berkembang pada 1980an. Sampai sekarang, teknologi tersebut masih dibilang paling canggih di antara metode penggilingan raw material semacam Tube Mill. Padahal sekarang sudah jamannya Path dan Periscope, bukan?

Jadi Bung Fahd, tolong jangan padu-padankan aneka bidang ke dalam kepesatan perkembangan dunia IT. Apalagi dihubungkan dengan ide menulis novel atau serial motivasi rumah tangga. Kenapa?

***

Penulis dan novelis adalah profesi yang mulia, saya percaya itu. Beberapa tahun lalu saya sempat kesetanan untuk menjadi penulis. Siang malam saya habiskan untuk membaca novel-novel karya peraih Nobel. Bukan untuk mengerjakan tugas kuliah. Namun alhamdulillah sekarang tidak lagi. Kenapa? Karena, sudahlah, terlalu banyak lahir penulis di Indonesia. Semua orang mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga mulai berusaha mewujudkan cita-cita menjadi penulis, mula-mula di blog pribadi, kemudian bikin antologi keroyokan, goalnya adalah novel best seller seperti novel-novel Bung Fahd, atau barangkali mereka terinspirasi dari Bung Fahd. Masifnya cita-cita menjadi penulis dan membanjirnya novel-novel gak penting di Gramedia mengakibatkan menurunnya kualitas karya tulis. Penulis bukanlah pabrik cerita, begitu keluhan Damhuri Muhammad. Menulis harus bermula dari niat yang tulus, untuk mengubah hidup kita dari yang kurang baik menjadi baik sehingga diharapakan peradaban pada masa mendatang lebih baik dari sekarang. Sayangnya niat saya menulis dahulu tidak setulus itu. Banyak sekali angan yang beraroma materialistik dan popularistik. Demikianlah, barangkali Tuhan tidak mengkehendaki saya berada di jalan yang mengawan sehingga mengembalikan saya ke jalan utama saya yaitu menyelesaikan skripsi.

Dan Bung Fahd bilang, apabila mahasiswa menjadi pengemudi GO-JEK berarti Bung anggap mahasiswa jaman sekarang miskin ide. Oh ya? Daripada ide-ide yang digali seperti ide saya dahulu yang sekadar ide-ide tulisan gak penting, mencari uang dari review blog, lomba blog yang diadakan korporat, resensi novel, mengirim cerpen ke surat kabar, bukankah malah akan menambah rimbun lahan tulis-menulis sehingga kualitas dunia literasi semakin kelam gara-gara saya, dan jika semua orang berpikiran dan memilih jalan menjadi penulis, bukankah akan menghambat karier Bung Fahd sebagai Penulis Tersohor karena saingan makin banyak?

Menurut saya, segenap akal mahasiswa untuk bertahan hidup hingga lulus sebagai sarjana pengangguran, bagaimanapun caranya, pada dasarnya sama saja: mencari uang untuk membeli nasi warteg, memfotokopi literatur berharga jutaan, atau untuk sesekali makan enak di di kafe pada malam Minggu. Anda tahu, Bung Fahd, profesi sampingan yang biasa diambil oleh mahasiswa di antaranya: Asisten Lab, Asisten Dosen, Drafter. Sekarang di jaman pesatnya dunia online yang kerap Bung Fahd elu-elukan itu mulai umum dikenal profesi kontributor media online, buzzer, social media enthusiast, motivator, speaker dan sebagainya hingga menjadi penulis novel seperti Anda! Mahasiswa, sebagai insan yang tidak mau bekerja berat namun ingin menghasilkan duit yang lumayan merasa hidup ini indah ketika datang era serba online, termasuk mencari jodoh pun online. Itu menjadi komoditi yang hip saat ini di kalangan mahasiswa maupun sarjana dari universitas tak ternama.

Bung Fahd, bukan rahasia umum jika perusahaan besar bahkan kecil pun terkesan pilih-pilih calon karyawan, apakah di pelamar berasal dari PTN ternama atau swasta abal-abal. Jadi sarjana lulusan swasta ecek-ecek susah untuk mencari kerja sebagai karyawan. Ironisnya, sarjana itu harus punya pengalaman kerja. Lah, ini fresh graduate gak diterima-diterima kerja gimana urusannya? Gak kerja-kerja dan gak bakal punya pengalaman kerja dong. Maka, mulailah timbul ide untuk memutuskan bekerja di mana saja, asalkan bisa diejawantahkan dalam lembar CV untuk nantinya memudahkan untuk mencari kerja di perusahaan. Jika ditanya pernah bekerja, maka ia bilang pernah, sebagai pengemudi GO-JEK. Apakah menurut Bung Fahd tukang ojek bukan pekerjaan?

Ketika membaca berita di koran yang anda foto tersebut, Bung Fahd, saya malah terkagum-kagum karenanya. Mahasiswa yang masih kuliah maupun sarjana zaman sekarang justru mulai melepaskan jubah bernama gengsi. Tetangga saya di kampung, sarjana MIPA, sudah belasan tahun menganggur. Usianya mungkin 40 tahun lebih. Hingga kini tidak melakukan apa-apa. Apalagi menikah. Kegiatan sehari-hari dia adalah bangun tidur jam 2 siang, karena tiap malam sampai dini hari nongkrong di warung, nonton televisi sambil minum kopi sachetan. Tidak tampak ada niat untuk melakukan apa saja seperti jadi tukang parkir seperti teman nongkrongnya di warung, atau buka usaha cappucino cincau. Demikianlah, barangkali dia sedang menggali ide sedalam-dalamnya sebagaimana anjuran Bung Fahd, sampai botak, tenggelam dalam permenungan di warung, demikian berlanjut hingga belasan tahun kemudian. Jadi, apakah seorang sarjana itu dilahirkan untuk terus-menerus mencari ide, mengasah berlian sekadar dalam diam pikiran atau pertapaan di goa pengangguran, tanpa melakukan kegiatan apa-apa yang produktif seperti jadi tukang ojek?

Ah sudahlah. Tulisan saya jadi bertele-tele tapi kosong seperti Penulis, kan.[]

No comments :

Post a Comment