27 October 2015

Blog Seumuran Anak TK

10 comments :

Blog bagi saya sudah seperti... apa ya. Diibaratkan seperti anak, saya belum punya anak. Sebagai adik, saya tidak punya adik. Seperti pacar.. nanti si M marah dong kalo dia segala disamain sama blog.

Blog sebagai pelarian, mungkin dapat dibilang demikian. Di saat tak lagi ada telinga yang saya percayai untuk berbagi kegalauan. Setidaknya dengan menuliskannya, saya dapat menumpahkan uneg-uneg tanpa harus turut menambah beban hidup orang lain. Dan memang tidak semua orang ikhlas membuka layanan curhat 24 jam. Iya sih gak ngebebanin orang, tapi kan menambah beban kuota internet? Ah, tidak seberapa, teman, dibanding manfaatnya yang besar bagi kesehatan pikiran dan hati saya.

Sejalan dengan waktu dan pengalaman ngeblog, ada suatu masa saya mulai menyadari untuk menyaring sampah pikiran secara ketat. Perlukah disebarkan? Pentingkah diudarakan? Gimana kalau ada yang nyinyir sama postingan sampah saya? Gimana kalau ada haters, terus mengadukan konten blog saya ke Kemenkominfo! Gak bakalan mewekkah saya disidang aparat terhormat andai kejeblos UU ITE? Saking kebanyakan mikir, saya jadi batal melulu memperbaharui blog padahal waktu luang berlimpah banget tahun 2014 lalu (bilang aja males, Cep).

Kini saya mulai mendedikasikan blog ini untuk diri sendiri, seperti halnya beranda rumah yang merupakan relung pribadi sang pemilik. Sebagai tuan rumah, kita yang harus mawas diri agar selektif menaruh perabotan maupun hiasan tertentu di selasar beranda sesuai estetika dan etika. Tentu, saya akan melayani siapa pun tamu yang datang termasuk teman-teman yang mampir ke blog ini seramah yang saya mampu.

Tapi jujur aja setahun belakangan pengunjung blog mulai sepi nih, teman... hiks. Terutama sehabis peralihan domain dari cepyhr.com ke basabasipagi.blogspot.com, dan sekarang ganti domain lagi ke cepy.web.id. Blogger hejo tihang pantaslah tersemat pada diri saya. Selain itu satu per satu blogger mulai meninggalkan blog masing-masing, kebanyakan lebih memilih Path sebagai medium berbagi yang praktis dan jauh lebih personal.

Sebelum sibuk bekerja nanti (doakan dong, teman, supaya saya lekas direkrut), sebisa mungkin saya konsisten mengisi blog ini dengan topik apa adanya, dengan bahasa yang sederhana. Saya lagi suka ngepost tentang makanan di sekitar rumah. Cibinong, daerah di mana saya bermukim, perkembangannya pesat. Baru ditinggal empat bulan, tiba-tiba udah ada lampu merah di pertigaan Karadenan. Perbaikan jalan di mana-mana, padahal tumben loh, Desember masih dua bulanan lagi.

Menurut saya, salah satu parameter kepesatan suatu daerah adalah munculnya satu demi satu destinasi pemanja lidah kekinian. Kesejahteraan perlahan meningkat. Kebutuhan utama penduduk setempat sudah terpenuhi berkatnya, kemudian mereka mulai memperhatikan kebutuhan selera lidah. Meski tidak sedikit yang baru-baru itu lekas tenggelam, takluk oleh kejamnya pasar dan selera masyarakat yang sukar ditebak, akan tetapi lekas digantikan tempat-tempat makan baru lain.

Oh ya. Kesalahan terbesar saya selama ini adalah jarang blogwalking. Padahal teman-teman di dunia maya itu sama pentingnya dengan teman di dunia nyata, terkadang malah lebih loyal. Guna menebus dosa-dosa masa lalu, saya mulai mengoptimalkan aplikasi Feedly dalam genggaman supaya tidak ketinggalan postingan blog terkini dari teman-teman sekalian. Boleh dong share di sini url blognya, nanti akan saya unggah ke content lists Feedly.

Selamat merayakan hari blogger nasional 2015, teman-teman, tahun yang berat. Saya sudah menginjak tahun ke lima berkelana di blogosphere, kurang lebih seumuran anak TK, lagi lucu-lucunya loh hahaha. Apa aja hal-hal yang kamu kangenin dari awal-awal masa ngeblog? Kalau saya, kangen terjebak di blog yang dihujani salju, kursor kelap-kelip, template anime Naruto yang riweuh, kemudian mengalun lagu D'Bagindaz tanpa permisi. Tiba-tiba Mozilla Firefox crash.[]

26 October 2015

Masakan Padang Bukan Cuma Nasi Padang

2 comments :

Kuliner khas Minang identik dengan rumah makan padang atau lebih akrab cukup dengan sebutan nasi Padang. Rendang, ayam pop, ayam bakar, ikan kembung, banyak lagi pilihan menu lain, dihidang pada piring berbunga yang susunannya bertumpu terhadap barisan mangkuk-mangkuk ayam terbalik. Di atasnya, kipas angin dengan komponen opsional suwiran plastik bertindak sebagai pengusir lalat.

"Pake apa?"

"Nasi sama kuahnya aja, Uni." Terkadang, jika beruntung, maka kita akan menemukan cincang daging yang menceburkan diri ke dalam kuah tujuh rupa.

Ternyata masakan Padang bukan cuma nasi padang. Di Cibinong, terdapat kuliner malam yang menyediakan nasi goreng Padang. Lebih tepatnya kedai nasi goreng dan soto khas Kubang, asli Payakumbuh.

Kedai nasi goreng Padang berlokasi di Jalan Raya Bogor-Jakarta, Cibinong. Patokan mudahnya, kedai sederhana ini terletak di seberang swalayan Robinson Cibinong. Buka mulai sore hingga menjelang tengah malam. Berdasar pengalaman, saya pernah mampir makan ke situ paling malam sekitar pukul 11 malam.

Menu andalan kedai ini tentu saja nasi goreng. Penyajian standar terdiri dari sepiring nasi goreng yang mengandung rempah-rempah beraroma kari, ditemani telur dadar tebal yang juga sudah berasa bumbunya. Saya biasa memesan nasi goreng padang didampingi suwiran ayam. Menu seperti ini cukup ditebus 15 ribu rupiah. Selain suwiran ayam, tersedia toping lain yaitu irisan daging tipis mirip dendeng.

Kedai ini menyediakan pula mie goreng, atau kita bisa pula memadukan antara nasi dan mie goreng dan meminta supaya telurnya diceplok saja, misal. Dan sebagaimana tercantum pada banner kedai, terdapat menu soto padang yang terkenal oleh santan plus jeroan-jeroan laknat itu.

Emmh.. sayang sekali saya belum pernah mencoba sotonya, namun saya perhatikan cukup banyak pengunjung yang memesan menu soto kental ini selain nasi goreng sebagai menu andalan.[]

Skor Nasi Goreng Padang Khas Payakumbuh depan Robinson Cibinong :
Rasa : 8,5
Tempat : 7
Pelayanan : 8
Harga : 8
Instagramable : 7,5

23 October 2015

Tambahkan dengan Toblerone

1 comment :

Saya senang mengamati geliat jajanan pinggir jalan di sekitar rumah. Dua tahun belakangan, street food di Bogor, Cibinong dan sekitarnya dimarakkan oleh pedagang sosis bakar dengan ragam rasa dan bentuk. Bertusuk-tusuk sosis berbaris rapi pada baki-baki, pembeli mengambil sendiri ke piring masing-masing, seusai memilih tinggal menunggu sejenak sosis-sosis dibakar. Setelah matang sekaligus beraroma khas panggangan, sosis ditata pada styrofoam lantas dilapisi toping mayones dan sambal belibis.

Selain sosis bakar, yang unik dari geliat street food di sekitar kediaman saya adalah munculnya tren yang sebetulnya simpel tapi kok ya baru kepikiran sekarang. Dulu pernah kepikiran nggak kalau martabak coklat ala abang-abang, sekarang coklatnya berasal dari potongan toblerone, serpih-serpih silverqueen, dan olesan selai nutella? Atau es krim yang dibubuhi sereal serta ditaburi biskuit oreo yang sudah ditumbuk halus sampai menyerupai tanah di dalam pot?

Ide brilian. Selain membuat rasa jajanan jalanan semakin enak karena dibuat dari bahan baku premium, inovasi toping-toping bermerek itu pasti mendatangkan pangsa pasar lebih luas. Bila sebelumnya martabak sekadar kudapan yang hanya dibeli laki-laki dewasa sebagai "sogokan" untuk calon mertua saat malam minggu tiba, sekarang anak muda sepantaran SMA dan anak kuliahan menggandrungi martabak toblerone, yang sekarang tersedia di tiap sudut kota. Mencium peluang pangsa anak muda Bogor yang peduli rasa dan tampilan instagramable, menu beberapa kafe pun segera menambahkan embel-embel merek coklat & biskut pabrikan luar itu ke dalam menu pancake, waffle, hingga minuman semacam milkshake.

Tak hanya martabak dan menu kafe. Jajanan tradisional seperti surabi Bandung pun mengekor ide entah oleh siapa awal mula digagas. Jangan heran saat teman-teman masuk kedai surabi kekinian dan membaca daftar menu: surabi toblerone, roti bakar nutella, pisang keju silverqueen. Minumannya ovomaltine, milo, susu kocok waferstick alias astor, tinggal pilih.

Oh ya jangan lupakan kue cubit, kue genit yang makin moncer di benak anak sekolahan hingga mahasiswa. Kue cubit pun menerapkan ide yang serupa. Tambahkan dengan toblerone.

Memang ide itu berdampak terhadap harga jajanan yang sedikit lebih mahal. Bahkan dalam kasus martabak misal, bisa berharga dua kali lipat dibanding toping coklat meses. Menurut saya, toblerone terlalu mahal sebagai topping martabak. Karena ngemil toblerone doang pun sudah enak. Martabak toblerone justru, katakanlah giung di lidah. Jadilah martabak, pancake, surabi, menjelma bahan sekunder. Diracik dengan adonan seadanya, dengan keahlian semudah-mudahnya, sebab toh urusan rasa akan tertutupi oleh topping yang sudah ditakdirkan enak dari sananya.

Karena faktor kemudahan tapi ide brilian itu, ibu rumah tangga banyak yang mendadak jualan. Es krim pot terutama. Namun ibu-ibu perlu waspada. Mula-mula memang kita penasaran untuk mencoba jajanan aneh sejenis es krim pot. Namun setelah sekali mencoba, karena bahan-bahannya mudah didapat dari minimarket, mengapa kita tak coba bikin sendiri di rumah? Tak usah beli? Es krim instan banyak tersedia, oreo, sereal apalagi. Ide kuliner brilian yang mudah justru mendadak menjadi murah.

Setelah invasi coklat-coklat dan biskuit di atas, merek food and beverages apa lagi kira-kira yang ketiban promosi gratisan berkat inovasi sederhana para pegiat street food?[]

19 October 2015

Berbuat Baik itu Susah

6 comments :
Kita diajarkan sejak dini untuk berbuat baik. Akan tetapi saya merasa, segelintir orang kerap menghambat kita untuk berbuat baik sekalipun niat kita sudah bulat untuk berbuat baik, sebelumnya.

Ketika kita menyeberang di zebra cross atau di jembatan penyeberangan, teman kita malah skeptis. "Ah, elah, Cep. Ngapain capek-capek naek tangga jembatan penyeberangan. Lagian jijik, banyak pengemis. Udah, lompatin pagar pembatas aja. Woles!"

Karena gak enak dan gengsi juga dibilang orang yang ribet patuh aturan, jadilah saya ikutan nyeberang sembarangan sehingga diklaksonin mobil-mobil bagus berpelat B di jalanan kota Bogor.

Suatu hari saya dengan teman laki-laki hendak ke kota Bogor dari kabupaten. Kita tahu bahwa memasuki kota Bogor, helm wajib banget dikenakan oleh pengendara maupun pembonceng. Memasuki perbatasan antara kota dan kabupaten, saya sampai mengingatkan dia berkali-kali untuk mengenakan helm. Jika tidak saya ingatkan, mungkin berangkat-pulangnya pun helm tetap melindungi ketiaknya, bukan kepalanya, alias ditenteng sepanjang jalan. Untung lagi mujur gak ada polisi, dan yang lebih penting, kepala dia gak bocor.

Begitupun dengan jalur forbidden. Kita, entah kenapa, sangat ingin melawan arus melalui jalur tersebut. Iming-iming cepat dan terbebas dari kemacetan jalur resmi yang semestinya, adalah hadis sahih untuk ditunaikan. Terus terang saya pun sering melakukannya.

Aturan dibuat untuk dilanggar. Begitu kata teman saya. Ada aturan saja kita masih melanggar. Bagaimana jadinya bila dunia ada tanpa aturan-aturan yang diciptakan Tuhan dalam kitab suci, maupun aturan-aturan yang dikreasi oleh manusia sendiri? Di surga saja, Adam dilarang untuk memakan buah terlarang. Tetapi Adam penasaran untuk mencicipi buah itu, kemudian imbas kepenasaran kakek moyang kita itu untuk melanggar titah Tuhan, masihlah dirasakan oleh anak-cucunya puluhan ribu kemudian.

Barangkali, manusia memang diciptakan untuk mematuhi larangan.

*

Yang menyebalkan, kerap kali orang yang sama sekali tidak berniat untuk melanggar, justru dia yang kerap apes tertangkap basah oleh pihak berwenang. Saya sering bernasib demikian.

Saat menghadapi ujian di sekolah atau perkuliahan, saya memang jarang menyontek kecuali jika kepepet banget. Tapi namanya juga siswa yang tidak sempurna dan kemalasan untuk belajar sering melanda, maka menyontek adalah metode paling mumpuni supaya lolos dari nilai merah di raport atau IP nasakom.

Sialnya, lantaran tidak terbiasa menyontek, mental saya kurang terasah untuk melakoni perbuatan yang mengadopsi metode gerilya ini. Orang lain mungkin sekali menyontek bisa memperoleh dua-tiga jawaban dalam lima menit, sementara saya sekali menyontek saja bisa 30 menit. 10 menit untuk melihat situasi; apakah saat itu guru sedang memperhatikan saya (padahal saya percaya guru itu tahu kegiatan menyontek di dalam ujian yang ia awasi, hanya saja malas dan gak merasa penting untuk menegur siswanya, mending BBM-an atau check in Path), 10 menit untuk memilih siapa teman yang tepat (dan gak pelit) untuk disonteki, dan 10 menit terakhir untuk membaca kode-kode ataupun menunggu gulungan kertas ninja dari teman. Itu pun belum tentu benar. Saya jarang menyontek karena energi yang saya keluarkan untuk menyontek justru lebih boros ketimbang energi untuk belajar.

Seingat saya, pernah beberapa kali saya ketangkap basah menyontek, dan malunya minta ampun, sampai kapok dan lebih memilih untuk bikin sontekan dalam secarik kertas kecil yang dilipat-lipat ketimbang menyontek sama temen (jangan ditiru ya, adik-adik manis). Sementara itu, yang setiap hari setiap saat setiap waktu seumur hidupnya mendedikasikan diri sebagai penyontek, belum pernah sekalipun teringkus oleh pengawas ujian. Sudah khatam jurus seribu bayangan dan jurus halimun kayaknya.

...energi yang saya keluarkan untuk menyontek justru lebih boros ketimbang energi untuk belajar.

Selain pengalaman getir menyontek, saya beberapa kali ditegur bahkan pernah dipaksa menghadap inspektur security perusahaan karena kecolongan tidak memakai id card saat sidak safety & security. Padahal, sebagian besar teman-teman lain pun jarang menjepitkan id card di saku kemejanya, sebatas disimpan di dalam tas untuk berjaga-jaga jika ada sidak. Saya sampai-sampai diancam dilaporkan kepada Kepala Departemen Human Resources, supaya almamater saya dicetakhitamkan dari program penerimaan Praktik Kerja Lapangan.

Dimarahin dan diancam sama penjaga perpustakaan pun pernah saya alami. Bermula dari dua teman yang meminta saya untuk meminjam buku literatur ke perpus. Menurut anjuran teman yang satu, buku itu jangan dulu dikembalikan karena masih ada yang belum dicatet. Menurut teman yang lain, woles aja, sekali-sekali melanggar aturan lah. Dan bodohnya saya menuruti keduanya, sehingga dua bulan kemudian saya mendapat peringatan dari penjaga perpus bahwa jika saya tidak mengembalikan pinjaman buku dalam 7 hari, maka seluruh mahasiswa lain dilarang untuk meminjam literatur lagi di perpustakaan.

Nah loh, saya juga yang kena getahnya, kan? Saya pula yang kena damprat? Mana tuh teman yang kemarin bilang woles, sekali-kali melanggar aturan? Diem aja, adem ayem.

Apakah kasus korupsi pun demikian? Sesungguhnya, tersangka korupsi yang tertangkap bukanlah pelaku utama, malah bisa pula yang bersangkutan sedang apes lantaran dahulu turut terhasut oleh kolega-koleganya yang justru jauh lebih licin dan busuk tapi tidak tercium aparat? Haruskah selain berbuat baik, kita belajar menyiasati orang lain supaya kita tidak ketahuan dalam berbuat tidak baik?

Mulai sekarang, berbuat baik saya niatkan bukan untuk orang lain atau untuk sekadar mematuhi peraturan, melainkan untuk diri sendiri. Karena berbuat baik dan berbuat buruk sama-sama mengeluarkan energi yang setimpal, akan tetapi menghasilkan dampak yang sangat lain. Setidaknya berbuat baik aman untuk ketenteraman hati, tanpa harus saya senantiasa berhati-hati menghindari kejaran aparat.[]

17 October 2015

Ganti Mazhab

No comments :
Sudah lebih dari dua tahun saya menjalani OCD, lengkap dengan segala problematikanya. Kadang bolong-bolong, kadang ragu, apalagi menyaksikan Om Corbuzier, si pelopor OCD nya aja malah kena stroke awal 2014 silam.

Efek dari inkonsistensi tersebut adalah naik turunnya berat badan saya. Mula-mula, berat badan saya sebelum OCD adalah 103 kilogram, sebulan kemudian turun sekitar 5 atau 8 kilogram, saya lupa. Bulan-bulan berikutnya turun perlahan, kadang naik jika saya bandel, setelah tobat lantas turun lagi. Berat badan teringan yang berhasil saya capai adalah 84 kilogram, itu terjadi menjelang akhir tahun 2014! Rasanya enak banget pake baju apa aja. Kegantengan meningkat 0,0009%, eh kekecilan, meningkat hingga.. yah... lumayan lah, at least muka saya jadi nampak lebih muda, lebih tepatnya mendekati sewajarnya wajah seusia saya.

Tibalah pada suatu masa, tiga bulan belakangan saya menunaikan ibadah OCD justru tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan sebaliknya, perlahan namun pasti celana jadi agak sesak, dan akhirnya nominal angka mengerikan membuktikan di jarum timbangan bahwa berat badan saya beranjak naik. Kok bisa ya?

Saya menduga hal demikian disebabkan beberapa hal. Pertama, meskipun setiap hari cuma makan dua kali (sesuai gerbang makan 8 jam, 6 jam, dan 4 jam) tiga bulan ini saya mengonsumsi nasi bungkus di warteg yang porsi nasinya sealaihim gambreng dan lauk pauk yang kaya akan minyak dan garam, dan lambat laun terbiasa dengan porsi sedemikian. Sialnya menjelang malam sepulang dari pabrik, perut saya keroncongan lagi! Padahal hari itu dan hari-hari lainnya saya makan dua kali nasi bungkus warteg Cirebonan yang porsinya bisa lima kali porsi makan Isyana Sarasvati.

Entahlah.. perut ini aneh, semakin dimanja, semakin meraja.

Yah, selain pola OCD yang berantakan di atas, pola OCD sepertinya sudah jenuh untuk tubuh saya. Tubuh telah terbiasa menjalani sekian pantangan-pantangan, lantas mengembalikan setelan baru tersebut sebagai setelan default yang tidak mengharuskan mereka mengerkah lemak-lemak biadab ini. Sebetulnya tidak hanya OCD, diet apa pun menurut saya punya potensi untuk menjelma diet yoyo, jika kita kerap melanggar aturan masing-masing.

*

Berkat info dari kakak (yang juga pejuang obesitas tanpa batas) dan blog-blog yang membahas diet food combining, saya merasa tergugah untuk berganti haluan diet dari OCD ke food combining. Apakah iman saya tidak cukup kuat, sehingga belum genap tiga tahun, sudah ganti mazhab segala? Mazhab diet? Bodo amat deh, seperti aneka ragam mazhab agama yang tujuannya sama-sama surga, maka tak apa berganti mazhab diet, yang penting ujung-ujungnya langsing. Aminin dong! *maksa*

Aturan diet ini sederhana (walaupun yang sederhana itu biasanya tidak sederhana untuk dilakukan). Pagi-pagi kita tetap sarapan, hanya saja bukan dengan nasi uduk Mbok Isyana atau bubur ayam Neng Raisa. Pagi-pagi kita sarapan buah-buahan, apa saja, kecuali: nangka, durian, alpukat, dan buah kaya akan gas yang lainnya. Pada siang hari, tentu saja kita makan nasi... tetapi dengan catatan. Aturannya adalah, nasi tidak boleh berpasangan dengan protein hewani semacam ayam, daging, termasuk telur. Pasangan serasi untuk nasi adalah sayur-sayuran dan protein nabati, yang murah meriah dan mudah didapat itu, siapa lagi kalau bukan duet tahu & tempe. Makan nasi dengan pati lain semacam perkedel kentang diperbolehkan, asalkan kadar telur dalam perkedel sedikiiit aja.

Makanan terenak sedunia, bagi lidah, tidak bagi lambung

Untuk makan malam, kita punya dua pilihan. Makan nasi lagi dengan sayur plus protein nabati. Atau makan protein hewani dengan sayuran. Contohnya ayam goreng dipadukan dengan tumisan buncis dan wortel, bisa juga kita makan malam dengan menu omelet telur (katakanlah telur dadar) digobal-gabul sama sayuran. Atau makan malam sama capcay warung tenda yang biasanya sudah dilengkapi beragam sayuran, sedikit bakso, suwiran ayam, dan telur orak-arik. Ingat, tanpa nasi ya! Oh ya, sebaiknya kita makan malam sebelum pukul 18.00, saya lupa apa alasannya, kaitannya dengan siklus-siklus pencernaan apa gitu.

Yuk sarapan!

Hari ini adalah hari pertama saya berganti mazhab, setelah bedrest lima hari dari penyakit lambung, padahal skripsi minta dituntaskan. Doakan saya supaya kukuh memegang mazhab food combining ini, dan kelak tubuh saya sehat, takkan lagi mudah diserang penyakit yang akarnya dari perut semacam asam lambung naik serta bonusnya adalah tubuh saya akan seideal teman-teman sekalian. Doakan juga saya supaya masuk surga. Amiin![]

14 October 2015

Percakapan dengan Dokter Langganan

No comments :
"Cepy! Bapak Cepy!"

Segera saya masuk kamar konsultasi dengan kepala kliyengan lantaran sudah menunggu Dokter datang sejak sejam lalu dan tenaga yang semakin apa adanya.

"Kenapa, Cepy?"

Dengan mesem terlebih dahulu, saya menjawab, "Awalnya masuk angin, Dok... terus..."

"Badan segede gini bisa juga masuk angin ya," Dokter sipit gemuk itu menyela.

"... terus berlanjut ke perut. Perih banget rasanya. Dugaan saya asam lambung naik."

"Hmm.. gak bener nih kamu makannya pasti."

"Hehe.. seminggu kemaren pola makan saya kacau, Pak, eh Dok..."

Memang demikian, bila saya ingin sepenuhnya jujur, seminggu kemarin saya memang jarang makan nasi. Saban pagi saya minum segelas susu dan mengudap berpotong-potong gorengan. Siangnya makan mi instan dengan nasi. Sorenya saya malas makan nasi, paling-paling.. yah, mi instan lagi, atau kebab, atau cimol, atau... gorengan lagi. Mumpung libur, jadi turut pula meliburkan pola makan sehat yang sudah susah payah saya jaga. Tapi mustahil saya mengutarakan serinci demikian kepada Dokter tua galak namun kadang jenaka ini.

"Muntah-muntah, nggak?"

Saya mengangguk.

"Hamil jangan-jangan?"

"Enam bulan sepertinya, Dok.."

"Enam bulan apanya, dua tahun itu!"

Setelah tuntas membaca riwayat kesehatan saya, Dokter tionghoa itu menghela napas, "Ya sudah... silakan berbaring, Cepy."

Saya berbaring dan menyingkapkan kaus untuk memudahkan Dokter memindai kondisi pencernaan dengan stetoskopnya. Beberapa titik beliau periksa, kemudian menggeleng-gelengkan kepala, "Mi instannya habis berapa bungkus, Cepy?"

"Emm.. ya, gitu deh, Dok." Sialan, kok beliau bisa tahu saya kebanyakan makan aneka rupa mi semacam mi instan goreng, mi ramen instan, mi ramen di Pemda, dan mi-mi yang lain (mikirin kamuh)? Sepertinya muka saya semakin merah dan dekil (lantaran nggak mandi) dilontari pertanyaan headshot barusan. Selesai memindai, Dokter mempersilakan saya untuk bangkit dan kembali duduk di kursi konsultasi.

"Mencret-mencret juga, ya?"

Saya mengangguk. Hmm, jangan-jangan kondisi keuangan saya yang lagi minus ditambah kamera prosumer saya yang baru berumur tiga bulan dicuri orang sebulan lalu pun, Dokter itu tahu. Nanti saya ingin bertanya perihal nasib ah: Sepuluh tahun lagi, dapatkah berat badan saya seideal Matt Demon dalam film The Martian?

"Begini, Cepy. Jangan mentang-mentang badan gede ya. Makan teratur! Jangan makan mi melulu!"

"Kalau buah, gapapa, Dok?" tanya saya, sok gemar menerapkan hidup sehat, padahal akhir-akhir ini paling sebulan sekali doang saya makan buah-buahan. "Melon, atau.. mangga?"

"Boleh.. bagus sebenarnya.. Hanya saja jangan terlalu banyak dulu ya. Melon sifatnya dingin, banyak mengandung air, rawan buat lambung. Mangga juga kalau yang ada asemnya, yang belum mateng bener, mending jangan deh. Kalo cuma setengah buah gapapa lah ya.."

"Oke deh, makasih banyak, Dok!"

"Ya ya.. Cepet sehat, Cepy!"

Keluar dari kamar konsultasi, saya menyerahkan resep kepada kasir yang merangkap tukang obat. Kasir ibu-ibu paruh baya itu menyuruh saya berdiri di atas kayu yang biasa dipakai terapi kesehatan ala Tiongkok, dengan ujung jari-jemari bertumpu terhadap kayu tersebut, sementara posisi tumit menyentuh lantai. Kurang lebih seperti berdiri di atas sepatu berhak terbalik, yang membuat urat-urat betis saya tertarik.

"Tahan dua menit ya.."

Kedua betis yang menegang melahirkan bulir-bulir keringat dingin dari kepala. Dua menit yang sangat lama...

"Oke, sekarang berdiri pelan-pelan. Gimana? Entengan? Terus jalan-jalan sini.. Ringan sekarang, kan?"

Hmm.. bener juga ya... Terapi yang hebat! Tar mau beli ah kayunya! Buat kayu bakar.

Setelah menebus obat, saya segera pulang dan mengucapkan terima kasih.

"Cepat sembuh ya, Cepy! Hindari dulu mi ayam, mi bakso, mi ayam bakso, mi ramen juga..."

"Oke, Bu." Oh, tahu aja Ibu Kasir kalau makanan tadi adalah sohib-sohib saya yang ternyata justru membuat saya sakit dan depresi seperti sekarang.[]

09 October 2015

Tips Kencing di Urinoir Otomatis

4 comments :
Benarkah pesatnya perkembangan teknologi akan semakin memudahkan aktivitas manusia? Sepertinya belum, setidaknya untuk saat ini. Di era 3.0, rupanya perkara sepele semacam aktivitas buang air kecil bisa mewujud masalah memilukan sekaligus memalukan. Penemuan abad ini yang menurut saya tidak terlalu bermanfaat bagi kemaslahatan manusia (terutama muslim) adalah urinoir otomatis.

Pertama kali saya menemukan urinoir otomatis adalah di toilet XXI. Mula-mula tentu saja saya belum menyadari kalau urinoir yang saya hadapi beroperasi secara otomatis. Baru tersadar ketika urusan kencing selesai, dan tangan kiri secara impulsif menekan berkali-kali tombol bulat datar di atas urinoir.

"Kok gak keluar-keluar aernya!" saya mendadak gelisah, "eh, tapi, emang ini tombol katup flush-nya? Kok flat doang, gak kayak tombol cebok?"

Lima detik, sepuluh detik, air tak kunjung mengalir menyibak bercak-bercak air seni. Saya menoleh kanan kiri. Ternyata saya berdua di dalam toilet bioskop ini, satu orang itu sedang khusyuk kencing di urinoir pojok kiri, sedangkan saya sedang terbujur di urinoir pojok kanan. Posisi kencing yang berseberangan ini ternyata menjadi semacam hikmah. Ketika saya hampir putus asa untuk cebok (dan saya memang sudah merapatkan resleting celana, beberapa langkah hendak bertolak dari toilet menuju studio bioskop), tiba-tiba air mengalir deras. Dua kerjap, tiga kerjap, air masih deras,dan tanpa mengolah pikiran saya langsung menjulurkan kembali kemaluan dari celana yang syukurlah jarak saya dengan orang asing tadi cukup jauh dan aktivitas cebok pun akhirnya dapat ditunaikan dengan paripurna. Walaupun mesti mengorbankan celana dalam yang telanjur ternodai tetes-tetes air seni.

*

Saya bukan orang Jepang yang konon di sana untuk buang air besar pun mesti dicebokin otomatis sama semprotan air dari nozzle dengan tekanan yang sudah diperhitungkan secara ilmiah. Membayangkan hal itu layaknya membayangkan pantat saya dicebokin sama tangan robot ashimo, geli-geli nyetrum gimana gitu. Sejak kecil saya terbiasa cebok sama air dari gayung, air dari keran, air dari sungai, air dari... pokoknya harus ada air. Jikapun tidak ada air, semacam dalam kondisi berkemah di alam bebas, maka saya akan mencari pucuk dedaunan terdekat untuk dipergunakan sebagai pengisap sisa air kencing, tapi ini tidak terjadi setiap hari bukan? Jika bukan berada pada kondisi darurat, dalam kehidupan sehari-hari yang damai, saya toh lebih sering cebok pake air.

Ternyata bukan cuma saya yang syok dengan alih teknologi seperangkat alat cebok abad ini. Dalam setiap kesempatan kencing di urinoir otomatis, saya perhatikan orang-orang sekitar pun mula-mula agak bingung ketika baru menyadari ketiadaan tombol flush di hadapan mereka, lantas mundur teratur, menghampiri wastafel, dan saya tangkap raut kecewa penuh penyesalan mereka saat urinoir yang mereka hadapi beberapa saat yang lalu itu, selepas mereka tinggalkan, justru begitu deras menyapu sisa-sisa air kencing mereka.

Sampai saat ini saya belum paham betul cara kerja sensor urinoir itu. Seusai buang air kecil, saya pernah mundur sedikit lalu maju lagi supaya air flush keluar, namun nyatanya air cebok tidak kunjung keluar. Ini sangat menjengkelkan dan menimbulkan kegelisahan lantaran berpotensi dianggap norak oleh sebagian lelaki yang sudah lulus sertifikasi teknik kencing di urinoir otomatis, dan yang lebih penting adalah rasa malu terhadap sesama (mending kalo "punya" saya tuh gede). Haruskah setelah kita kencing, urinoir kita tinggalkan terlebih dahulu sejauh dua-tiga langkah ke belakang? Lantas bagaimana dengan nasib kemaluan kita yang belum diceboki terpaksa harus kleweran terpamer kepada para lelaki pengunjung toilet? Dapatkah kamu pastikan bahwa tidak ada pria berpelat pelangi saat itu di dalam toilet pria?

Ah, untuk lain waktu tidak ada salahnya kamu termasuk saya untuk mempraktikkan tips berikut yang taktis dan empiris guna mengatasi masalah super sepele ini, berdasar pengalaman saya sebagai praktisi sekaligus pakar urinoir otomatis di mal :

1. Ketika hendak pergi ke mal yang disinyalir memiliki toilet pria dengan urinoir tipe otomatis, sebaiknya kamu membawa gelas plastik air mineral kosong (aqua gelas) untuk diisi kelak oleh air dari keran wastafel (memang kini keran air di mal pun sebagian besar beroperasi secara otomatis, akan tetapi risiko menanggung malu apabila dituduh gaptek tidak sesadis urinoir otomatis yang efek malunya berlipat ganda). Untuk apa gelas plastik? Nantinya untuk diisi air sebagai amunisi cebok. Bawa botol tersebut diam-diam (jika tak malu, dipamerkan pun bukan masalah), taruh di atas urinoir, dan tersenyumlah.

2. Jika kamu lupa membawa gelas plastik dari rumah, maka kamu dapat memanfaatkan kertas tisu yang tersedia di toilet. Sebelum kencing ambil beberapa tisu sebagai perangkat cebok. Akan tetapi hukum cebok menggunakan kertas tisu masihlah menuai perdebatan khususnya bagi kaum muslim, terutama pengikut Syekh Al-Mukaram Jonru. Cara pertama tadi saya pastikan lebih aman dan syar'i. Jadi sebelum kencing, ada baiknya keluarlah mal dan beli aqua gelas dulu di warung, minum sampai habis, kemudian isi aqua gelas itu oleh air wastafel, setelah itu silakan kencing. Hmm.. ada yang aneh sepertinya.

3. Hampir senada dengan prinsip hemat anak kos tentang "makanlah sekenyang-kenyangnya sebelum masuk mal", maka slogan "kencinglah sepuas-puasnya di rumah sebelum kebelet di mal kemudian terjebak di depan urinoir otomatis dan akhirnya gak cebok" jelas tidak kalah pentingnya dengan semboyan bhinneka tunggal ika untuk dipahami, dihayati, diamalkan, dan diperdebatkan.

Research & Development dalam setiap sub-bidang teknologi memang kadang membosankan, cenderung stagnan, namun lambat laun akan menentukan arah masa depan suatu institusi bahkan suatu bangsa, dengan jalan mengorbankan sejumlah biaya yang sangat besar. Saya sangat mendukung inovasi-inovasi teknologi termutakhir, apa pun itu... kecuali teknologi urinoir otomatis. Sesungguhnya cebok pakai tangan sendiri itu lebih khaffah! Mari kita buat petisi "kembalikan alat cebok manual di toilet mal!" Jangan sampai nanti muncul jemari robot dari dasar urinoir otomatis, mengobok-obok kemaluan kita dengan penuh nafsu.[]

01 October 2015

Kopi

No comments :

Kehidupan adalah kopi; pahit, kafeinnya bikin asam lambung naik, akan tetapi dapat berubah manis jika ditambahkan gula. Menyehatkan bila disesap tak lebih dari dua kali sehari serta diseduh dengan air yang dijerang sampai mendidih betul.

Mengapa kok hidup ini terkesan tidak adil. Telanjur begini. Kenikmatan datang sesaat saja, selebihnya kita bergulat, bermandi dengan derita. Andai dirasiokan antara nikmat dan derita, barangkali cuma 1 nikmat berbanding tak hingga derita. Berterimakasihlah kepada huruf C; huruf C berusaha melamurkan huruf D dalam "Derita", kemudian melestarikannya sebagai memoar yang manis untuk didongengkan.

Manusia itu makhluk yang sempurna. Terlalu sempurna, sampai kadang saya menyesalkan stigma kesempurnaan yang disandang manusia.Tahukah kesempurnaan yang paling sempurna dari manusia?

Ketidaksempurnaan.

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Malaikat tidak. Malaikat selalu baik. Setan tidak. Setan selalu jahat. Manusia? Bisa berhati mulia layaknya malaikat, namun dapat mendadak bersiasat lebih picik dari setan. Baik, baik banget. Jahat, kurang ajar. Bersyukurlah kita punya kedua-duanya.

Letak kesempurnaan manusia adalah akal. Melalui akal yang unik, kita diberikan kebebasan untuk berbuat apa saja; baik atau buruk atau abu-abu bukanlah masalah untuk Yang Maha Pemurah. Malaikat senantiasa patuh. Setan kukuh memberontak. Allah terlalu memanjakan manusia dengan akal yang sempurna, sampai-sampai manusia sendiri yang kini kewalahan untuk mengendalikan alur pikirnya supaya tersebut sebagai baik dan soleh. Supaya masuk surga.

Ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk memperoleh kemuliaan dari harta, tahta, wanita-wanita. Sementara orang-orang baik, sayangnya mayoritas hidup hanya untuk bertahan hidup. Sebab andai senantiasa berbuat baik pun mereka sudah terlampau lelah dianggap sok baik oleh orang-orang jahat. Mental orang baik tidak sekuat orang jahat.

Untuk bertahan hidup di dunia hanya ada dua pilihan: menikmati pahitnya kopi ataukah menyamarkan pahit dengan gula. Jangan lupa aduk dengan doa. Namun bagi orang yang mulai memahami seluk beluk kopi, akan sadar bahwa tanpa gula pun, kopi sudah ada manis-manisnya. Kopi sekadar pelepas dahaga, penyegar pandang pada waktu jeda, sebelum waktu jeda berakhir, sebelum menjelang waktu sesungguhnya datang kemudian....[]