09 October 2015

Tips Kencing di Urinoir Otomatis

6 comments :
Benarkah pesatnya perkembangan teknologi akan semakin memudahkan aktivitas manusia? Sepertinya belum, setidaknya untuk saat ini. Di era 3.0, rupanya perkara sepele semacam aktivitas buang air kecil bisa mewujud masalah memilukan sekaligus memalukan. Penemuan abad ini yang menurut saya tidak terlalu bermanfaat bagi kemaslahatan manusia (terutama muslim) adalah urinoir otomatis.

Pertama kali saya menemukan urinoir otomatis adalah di toilet XXI. Mula-mula tentu saja saya belum menyadari kalau urinoir yang saya hadapi beroperasi secara otomatis. Baru tersadar ketika urusan kencing selesai, dan tangan kiri secara impulsif menekan berkali-kali tombol bulat datar di atas urinoir.

"Kok gak keluar-keluar aernya!" saya mendadak gelisah, "eh, tapi, emang ini tombol katup flush-nya? Kok flat doang, gak kayak tombol cebok?"

Lima detik, sepuluh detik, air tak kunjung mengalir menyibak bercak-bercak air seni. Saya menoleh kanan kiri. Ternyata saya berdua di dalam toilet bioskop ini, satu orang itu sedang khusyuk kencing di urinoir pojok kiri, sedangkan saya sedang terbujur di urinoir pojok kanan. Posisi kencing yang berseberangan ini ternyata menjadi semacam hikmah. Ketika saya hampir putus asa untuk cebok (dan saya memang sudah merapatkan resleting celana, beberapa langkah hendak bertolak dari toilet menuju studio bioskop), tiba-tiba air mengalir deras. Dua kerjap, tiga kerjap, air masih deras,dan tanpa mengolah pikiran saya langsung menjulurkan kembali kemaluan dari celana yang syukurlah jarak saya dengan orang asing tadi cukup jauh dan aktivitas cebok pun akhirnya dapat ditunaikan dengan paripurna. Walaupun mesti mengorbankan celana dalam yang telanjur ternodai tetes-tetes air seni.

*

Saya bukan orang Jepang yang konon di sana untuk buang air besar pun mesti dicebokin otomatis sama semprotan air dari nozzle dengan tekanan yang sudah diperhitungkan secara ilmiah. Membayangkan hal itu layaknya membayangkan pantat saya dicebokin sama tangan robot ashimo, geli-geli nyetrum gimana gitu. Sejak kecil saya terbiasa cebok sama air dari gayung, air dari keran, air dari sungai, air dari... pokoknya harus ada air. Jikapun tidak ada air, semacam dalam kondisi berkemah di alam bebas, maka saya akan mencari pucuk dedaunan terdekat untuk dipergunakan sebagai pengisap sisa air kencing, tapi ini tidak terjadi setiap hari bukan? Jika bukan berada pada kondisi darurat, dalam kehidupan sehari-hari yang damai, saya toh lebih sering cebok pake air.

Ternyata bukan cuma saya yang syok dengan alih teknologi seperangkat alat cebok abad ini. Dalam setiap kesempatan kencing di urinoir otomatis, saya perhatikan orang-orang sekitar pun mula-mula agak bingung ketika baru menyadari ketiadaan tombol flush di hadapan mereka, lantas mundur teratur, menghampiri wastafel, dan saya tangkap raut kecewa penuh penyesalan mereka saat urinoir yang mereka hadapi beberapa saat yang lalu itu, selepas mereka tinggalkan, justru begitu deras menyapu sisa-sisa air kencing mereka.

Sampai saat ini saya belum paham betul cara kerja sensor urinoir itu. Seusai buang air kecil, saya pernah mundur sedikit lalu maju lagi supaya air flush keluar, namun nyatanya air cebok tidak kunjung keluar. Ini sangat menjengkelkan dan menimbulkan kegelisahan lantaran berpotensi dianggap norak oleh sebagian lelaki yang sudah lulus sertifikasi teknik kencing di urinoir otomatis, dan yang lebih penting adalah rasa malu terhadap sesama (mending kalo "punya" saya tuh gede). Haruskah setelah kita kencing, urinoir kita tinggalkan terlebih dahulu sejauh dua-tiga langkah ke belakang? Lantas bagaimana dengan nasib kemaluan kita yang belum diceboki terpaksa harus kleweran terpamer kepada para lelaki pengunjung toilet? Dapatkah kamu pastikan bahwa tidak ada pria berpelat pelangi saat itu di dalam toilet pria?

Ah, untuk lain waktu tidak ada salahnya kamu termasuk saya untuk mempraktikkan tips berikut yang taktis dan empiris guna mengatasi masalah super sepele ini, berdasar pengalaman saya sebagai praktisi sekaligus pakar urinoir otomatis di mal :

1. Ketika hendak pergi ke mal yang disinyalir memiliki toilet pria dengan urinoir tipe otomatis, sebaiknya kamu membawa gelas plastik air mineral kosong (aqua gelas) untuk diisi kelak oleh air dari keran wastafel (memang kini keran air di mal pun sebagian besar beroperasi secara otomatis, akan tetapi risiko menanggung malu apabila dituduh gaptek tidak sesadis urinoir otomatis yang efek malunya berlipat ganda). Untuk apa gelas plastik? Nantinya untuk diisi air sebagai amunisi cebok. Bawa botol tersebut diam-diam (jika tak malu, dipamerkan pun bukan masalah), taruh di atas urinoir, dan tersenyumlah.

2. Jika kamu lupa membawa gelas plastik dari rumah, maka kamu dapat memanfaatkan kertas tisu yang tersedia di toilet. Sebelum kencing ambil beberapa tisu sebagai perangkat cebok. Akan tetapi hukum cebok menggunakan kertas tisu masihlah menuai perdebatan khususnya bagi kaum muslim, terutama pengikut Syekh Al-Mukaram Jonru. Cara pertama tadi saya pastikan lebih aman dan syar'i. Jadi sebelum kencing, ada baiknya keluarlah mal dan beli aqua gelas dulu di warung, minum sampai habis, kemudian isi aqua gelas itu oleh air wastafel, setelah itu silakan kencing. Hmm.. ada yang aneh sepertinya.

3. Hampir senada dengan prinsip hemat anak kos tentang "makanlah sekenyang-kenyangnya sebelum masuk mal", maka slogan "kencinglah sepuas-puasnya di rumah sebelum kebelet di mal kemudian terjebak di depan urinoir otomatis dan akhirnya gak cebok" jelas tidak kalah pentingnya dengan semboyan bhinneka tunggal ika untuk dipahami, dihayati, diamalkan, dan diperdebatkan.

Research & Development dalam setiap sub-bidang teknologi memang kadang membosankan, cenderung stagnan, namun lambat laun akan menentukan arah masa depan suatu institusi bahkan suatu bangsa, dengan jalan mengorbankan sejumlah biaya yang sangat besar. Saya sangat mendukung inovasi-inovasi teknologi termutakhir, apa pun itu... kecuali teknologi urinoir otomatis. Sesungguhnya cebok pakai tangan sendiri itu lebih khaffah! Mari kita buat petisi "kembalikan alat cebok manual di toilet mal!" Jangan sampai nanti muncul jemari robot dari dasar urinoir otomatis, mengobok-obok kemaluan kita dengan penuh nafsu.[]

6 comments :

  1. Replies
    1. betul gan, dilematis, mau turun ke toilet lain di lantai bawah, jauh, keburu kebelet #badluckbrian

      Delete
  2. Selalu repot kalau masalah urinoir otomatis, nyari tutorial sampai sini. Yah setidaknya dapat cara ngakalinya, terima kasih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, senang bisa membantu melalui tutorial aneh ini hahaa

      Delete