30 December 2015

Lekaslah Berlalu, 2015

2 comments :
"2015 akan menjadi tahun yang berat," seorang paranormal berujar di infotainment setahun yang lalu. Setahun bergulir, mengapa Tuhan lebih memilih mengabulkan hasil tenungan paranormal seleb itu ketimbang membaca resolusi di blog saya?

Berat badan yang kembali berat. Semakin berat.

Mungkin gara-gara kalap menyantap segala rupa makanan. Stres selalu membuat otak saya menyempit, sebaliknya usus merayu-rayu mulut melebar, agar pasokan pangan ditambah. Stres menghadapi cobaan, ujian, rintangan yang datang sporadis, kadang perlahan namun tetap berhasil menyayat hayat, terasa semakin berat.

Relationship yang kian erat, semakin dijalani semakin berat. Berat untuk melepaskan, berat untuk melanjutkan.

Gejolak ekonomi, ingar bingar politik, konflik sosial Indonesia dan hal-hal gak penting lain tambah mencekik leher ratusan juta rakyat. Apakah rakyat memang terlahir untuk mengunyahkan derita setiap menjelang jam makan para wakil rakyat?

Ah, 2015. Tahun yang berat.

Baru kiwari saya tak sabar tahun yang masih harus dipijak detik ini supaya lekas berlalu. Berlalulah yang jauh. Jangan kembali lagi.

Biarlah tulisan ini dibaca semua orang, termasuk orang-orang penting atau orang-orang sok penting, suka-suka kalian mendaulat saya sebagai manusia pesimistis, individualis, egosentris, sok idealis, budak introvert abis, dan sifat-sifat lain yang selalu negatif di mata dunia. Entah dunia yang mana. Dunia nyata yang faktanya lebih maya ketimbang dunia maya yang kadang terkesan apa adanya?

Semula saya cuma ingin menyederhanakan hidup. Namun nyatanya berusaha hidup sederhana itu rumit.[]

27 December 2015

Bakmi Jogja Pak Kino

6 comments :

Setiap malamnya, ada beberapa depot pengisi perut menarik yang sempat saya coba di sekitar rumah di Bogor sonoan dikit. Salah satunya Bakmi Jogja Pak Kino yang berada di pinggir jalan kecil menuju kawasan militer Pomad, Bogor.

Bertempat di bangunan sederhana yang sepintas mirip pos kamling, dari kejauhan Bakmi Jogja Pak Kino tampak selalu banyak dimampiri motor maupun mobil pribadi. Usai saya buktikan ke sana semalam, ternyata kedainya cukup luas, tersedia pula meja lesehan buat Anda yang ingin makan sambil selonjoran santai bersama keluarga tercinta.

Awal mulanya, saya sempat mencicipi mie godog yang dibawakan oleh kakak malam-malam. Rasanya enak dengan cita rasa rempah ringan khas jawa. Sensasi hangatnya dapet, seisi tubuh jadi ketularan hangat sehingga tambah bersemangat untuk... tidur. Ditambah saat itu sedang hujan gerimis, jadi suasananya klop banget dengan sepiring mie godog dalam pangkuan tangan. Saya tanya belinya dari mana, ternyata dari Bakmi Jogja Pak Kino di seputar jalan Pomad yang sering saya lewati.

Semalam saya penasaran mencoba mie gorengnya. Ternyata lebih enak, lebih mantap menendang lidah saya dengan cita rasa Jawa, berbeda dengan Bakmi Surabaya Cak Parman yang lekat dengan cita rasa Chinese Food. Saya memilih mie goreng sebab memang sejak kecil saya tidak terlalu doyan dengan mie yang direbus, termasuk mie instan pun harus yang goreng, kerap cemberut bila Mamah salah membelikan mie goreng dari warung, malah beli mie rebus ayam bawang atau rasa soto mie yang bungkusnya ijo itu.


Tekstur mienya sama dengan mie godog; besar-besar, diameternya lebih besar dari spageti. Empuk tapi tidak terlalu kenyal, sehingga saya tidak terlalu curiga akan penggunaan formalin dalam adonan mie yang saya makan. Suwiran ayam kampung yang ukuran dan komposisinya pas berpadu dalam resap bumbu mie goreng yang lebih kentara dibanding mie godog yang terpaksa mesti berbagi bumbu dengan kuahnya. Jadi lidah saya lebih fokus menikmati bumbu dalam mie tanpa harus menyeruput kuah. Sementara secara tampilan, sepintas menyerupai mie aceh. Ukuran mie yang besar-besar, bumbu yang pas, hanya saja rempahnya memang tidak sekomplit dan menusuk selayaknya mie aceh.

Bakmi Jogja Pak Kino menyediakan beberapa menu. Mie godog, yaitu mie yang digodog atau direbus, sehingga disajikan secara berkuah. Mie goreng yang rasanya menggoyang lidah. Magelangan, nasi goreng yang dicampur mie, istilah lain dari Magelangan adalah Nasi Goreng Mawut. Nasi godog, hampir sama dengan Magelangan yaitu nasi yang dicampur mie, hanya saja disajikan secara basah berkat kuah godog. Dan menu terakhir adalah nasi goreng yang dihargai Rp.12 ribu, sementara semua menu yang saya sebut sebelumnya cukup ditebus Rp. 15 ribu, kecuali Magelangan yang lebih mahal seribu rupiah.


Pada lain waktu saya menjajal Magelangan atau nasi goreng mawut itu tersebab penasaran. Semula saya duga bumbu khas andalan Pak Kino cuma cocok dengan mie, lain halnya dengan nasi. Akan tetapi setelah saya buktikan, keduanya menjelma duet maut yang berhasil menendang kemudian melumpuhkan selera lidah saya. Yang lebih penting adalah kadar kenyang Magelangan lebih besar dibanding menu mie sebab mungkin kalori nasi sedikit lebih besar dibanding mie. Puas sudah... perut saya KO. Demikianlah, saya tak sanggup lagi mengudar cita rasa bakmi Jogja lezat yang bermarkas di Pomad, Bogor ini.

Bila Anda penasaran untuk mencoba Bakmi lain atau belum pernah mencoba Bakmi selain Bakmi Jogja Pak Karso yang menurut saya overpriced serta tidak sepadan dengan porsi dan rasanya, silakan mampir ke kedai Bakmi Jogja Pak Kino. Dan jika Anda datang dari Kota Bogor, ambil kiri di pertigaan Pomad yang ada bangunan tua pabrik Tapioka itu, kemudian lurus terus hingga melewati kantor pos. Setelah itu pelan-pelan karena lokasi Bakmi Jogja ini terletak di sebelah kiri jalan tidak jauh dari kantor pos. Tepatnya di mulut perumahan entah namanya perumahan apa, yang pasti ada tulisan Ds. Cimandala di gerbang kompleks perumahan tersebut.

Harap bersabar menunggu antrean lantaran setiap malam Bakmi Jogja Pak Kino selalu dipadati pembeli. Namun jangan khawatir, sebab waktu tunggu memasak dan penyajiannya lumayan cepat meskipun dimasak di atas tungku arang yang menguar aroma khas, dan tiga pelayan termasuk pemiliknya selalu sigap melayani pembeli.[]

Skor Bakmi Jogja/Jawa Pak Kino :
Rasa : 9
Tempat : 7,5
Pelayanan : 8
Harga : 8,5
Instagramable : 7,5

20 December 2015

Menjajal Kupat Tahu Magelang - Cibinong

2 comments :

Ternyata kupat tahu bukan cuma milik Padalarang dan Singaparna. Magelang pun berhak untuk mengakui kupat tahu sebagai hidangan khas daerah mereka. Tentu dengan cita rasa yang berbeda.
Berlokasi di daerah Cibinong, tepatnya di Cikaret, rumah makan yang menyediakan kupat tahu Magelang ini sudah lama bikin saya penasaran untuk menjajalnya. Baru terlaksana pekan kemarin sepulang ngambil skripsi yang sudah selesai di-hardcover, akhirnya saya tergerak untuk mampir ke sini.


Plang rumah makan Kupat Tahu Magelang - Cibinong cukup jelas, karena berukuran agak besar, berlatar belakang warna kuning mencolok serta warna huruf merah. Setiba di sana saya disambut seorang mbak pelayan yang memang cuma ada seorang. Selain itu ada kasir yang merangkap pemilik rumah makan yakni H. Syahrizal.

Selain kupat tahu, tersedia pilihan menu mainstream semacam ayam kremes, ayam bakar, nasi goreng, dan sebagainya. Dugaan saya, rumah makan ini menyediakan beragam menu sebab belum tentu semua orang cocok dengan cita rasa kupat tahu Magelang, bahkan belum tentu setiap orang berani mencobanya. Tapi, karena saya telanjur penasaran sama kupat tahu Magelang, ngapain mesen ayam kremes.. kan di warung tenda pun ada.

Kurang lebih 15 menit kemudian, kupat tahu terhidang di meja. Tanpa diminta, pelayan sekaligus peracik kupat tahu itu sudah menambahkan potongan telur dadar. Padahal... justru ini yang kelak mengacaukan rasa kupat tahu Magelang, karena... asin euy, dan, kurang cocok aja menurut saya mah kalo kupat tahu atau ketoprak dilengkapi telur dadar. Jadi giung. Apalagi keasinan kayak kasus saya kemarin. Kalo telur rebus, sepertinya okelah. Tapi di sini gak ada pilihan telur rebus, sayang sekali.


Suapan pertama saya persembahkan untuk sepotong bakwan. Rasanya.. yah, seperti bakwan lah hahaa... yang untungnya gak keasinan kayak telur dadar. Lalu saya mulai berani menyeruput kuah kupat tahu yang berpadu dengan kacang tanah goreng yang tidak terlalu halus. Tanpa telur dadar supaya rasanya gak terkontaminasi dan kacau. Sepintas sih rasanya mengingatkan saya pada lontong balap. Ada manisnya, ada asemnya, ada asinnya. Gak tau, apakah memang pake petis udang juga, tapi menurut saya rasanya mirip-mirip.

Menurut hasil googling sih rempah-rempah yang terkandung dalam kuah kupat tahu Magelang terdiri dari daun sereh, lengkuas, jahe, daun salam, dan gula. Berdasar cecapan lidah, rasa yang justru paling dominan adalah... bawang putih, yang sialnya tidak terlalu saya sukai. Aromanya begitu pekat lantaran bukan bawang merah yang ditaburkan seperti lazimnya hidangan lain, melainkan taburan bawang putih goreng. Tunailah sudah kepenasaran yang harus berbalut kecewa siang itu. Mungkin lidah Sunda saya cuma cocok dengan kupat tahu Padalarang dan Singaparna. Magelang belum saatnya.

Seporsi kupat tahu khas Magelang - Cibinong yang terdiri dari kupat, tahu, bakwan, selada, taoge, kerupuk merah, dan telur dadar ini cukup ditebus Rp. 15 ribu. Masalah worthed atau tidak dengan harga segitu, barangkali selera lidah kita yang akan menentukan.[]

Skor Kupat Tahu Magelang - Cibinong :
Rasa : 7
Tempat : 7
Pelayanan : 7,5
Harga : 7
Instagramable : 7,5

17 December 2015

Abis Sidang Ngapain

6 comments :
Gak tau. Mau jogging buat ningkatin stamina, tiga hari belakangan malah hujan subuh-subuh sampai pagi pukul sembilan. Keburu siang menjadi alasan urung lari pagi. Mau jalan-jalan, gak punya duit. Apalagi backpackeran ke Thailand. Duitnya dari Hongkong. Mau hunting kuliner ke restoran yang keren-keren, bukan kelas lokal dan kaki lima, selain gak punya duit, kok sayang ya kalo cuma diabadikan pake kamera hape. Iya, belum kebeli lagi kamera yang agak bagusan. Pake kamera hape Asus ini, hasilnya banyak melahirkan noise yang bikin mata kita perih seperti foto di atas, selain memang posenya merangsang kamu untuk muntah darah.

Seperti penganggur-penganggur lainnya, sehari-hari saya habiskan di depan laptop dan televisi. Nonton kesintingan Kai Wong di DigitalRevTV dari episode lama ampe episode kemarin (iya, keinginan untuk punya kamera bagus udah akut banget). Menonton lawakan gak lucu dari sidang MKD yang udah ngeluarin tiga sekuel. Saking garingnya, malah bikin ketagihan. Kayak keripik setan. Atau memang mereka titisan setan? Nonton televisi sejak bangun tidur hingga mata perih menjelang tidur. Esoknya paginya, pusing pala barbie. Basuh muka. Setel TV lagi. Nonton lawakan garing lagi. Oh ya makan tentu saja. Tak usah saya sebut pun udah ketebak dari tubuh saya.

Gak kerasa banget sih udah mau 2016 aja. Suasana kuliah di kelas ternyata terakhir saya alami setahun silam. Mulai 2015 tidak ada kegiatan di kelas lagi, waktu saya habiskan di pabrik untuk praktik kerja dan penelitian. Tahun ini usia saya 24. Sialnya naluri mengecoh perasaan yang masih merasa sebaya ketika melintas di depan anak-anak SMA yang bikin gemes itu. Padahal anak-anak SMA sekarang sudah seusia keponakan saya. Gila... waktu itu kejam. Saat saya ingin cepat, ia lambat. Ketika ingin saya perlambat atau bahkan saya bekukan, ia terus melenggang tanpa perasaan berdosa.

Awal tahun ini saya menuliskan kata kunci "Kerja" yang ternyata tidak tercapai. Belum, jika saya senantiasa berpikir positif seperti pesan buku The Secret. Entah, jika kegalauan, keraguan merundung. Yang terakhir lebih sering muncul dalam pikiran. Sampai-sampai tensi darah tinggi.

Mungkin kata kunci tahun ini baru akan tercapai tahun depan. Mungkin. Tapi yah setidaknya skripsi sudah kelar, gak perlu lagi berpusing mengais rumus-rumus, wara-wiri revisi, gagal revisi, dan sidang pada akhirnya. Sementara tes rekruitmen kerja sudah saya lakukan. Yang dapat saya lakukan setelahnya hanya menunggu. Menunggu panggilan mereka yang harapannya abu-abu. Dan sayangnya, menunggu seakan diciptakan untuk membuat penunggu ragu. Semakin ragu. Menjelang tahun baru.[]

13 December 2015

Sate Solo Pak Rebo - Cibinong

6 comments :
Setelah ngegosipin sate Padang yang ternyata cuma kalangan tertentu aja yang menggemari, kali ini saya pengin ngobrolin sate yang lebih banyak disukai. Sate Solo. Tepatnya Rumah Makan Sate Solo Pak Rebo yang berlokasi di jalan Raya Sukahati, tidak jauh dengan McD Pemda Cibinong.

Buka mulai pukul 10 pagi hingga 10 malam, Sate Solo Pak Rebo menyediakan aneka masakan khas Jawa seperti sate, tongseng, dan nasi goreng dengan pilihan daging kambing, sapi, atau ayam yang dapat Anda pilih sesuai selera. Tersedia pula sop iga kambing dan gule kambing. Hmm.. kalo saya mah ngebayanginnya aja udah bikin kliyengan.

Dalam beberapa kali kunjungan ke sana, saya baru mencoba sate ayam dan tongseng ayamnya saja. Belum kambing karena saya khawatir tensi darah makin tinggi aja. Belum coba daging sapi juga, karena konon kalo daging sapi disate atau ditongseng bumbunya bakal kurang meresap ke dalam, sehingga rasanya kurang sedap. Tapi kayaknya di Rumah Makan Sate Solo Pak Rebo menggunakan bumbu yang serupa untuk aneka daging, termasuk sapi dan kambing, jadi saya tebak rasanya kurang lebih sama dengan rasa sate dan tongseng ayam yang sempat saya santap.


Sate ayam khas Solo mirip dengan sate ayam buatan Mamah. Sederhana, tidak mengandung banyak rempah yang kadang membuat rasanya jadi kacau. Saya suka sate macam ini, dan tidak terlalu suka sate Maranggi yang manis banget dan rasa rempah lainnya kentara juga. Demikian pula dengan siraman bumbu kacangnya. Sate Solo Pak Rebo mengusung bumbu kacang yang encer dan rasa rempah yang light untuk dicerna lidah saya, membuat lidah ini enggan berhenti menggarap suapan ayam dan nasi. Sehingga jika ke sini, saya merasa tidak cukup untuk makan sate solo sebatas dengan sepiring nasi. Harus dua piring! Kadang tiga malah hahaha..

Tongseng ayamnya pun enak, beneran. Dilengkapi dengan kol, tomat, dan cabe rawit gruntulan. Serta kuah dan rempah yang khas banget. Aroma ketumbar amat dominan dalam semangkuk tongseng ini. Dan rempah-rempah lain yang membuat makan malam kita lebih hangat pada musim penghujan ini. Daging ayamnya empuk dan bumbu terkandung pada kuah turut meresap ke dalam daging. Juara lah pokoknya!


Tempatnya luas dan bersih, buat Anda yang sudah berkeluarga pasti nyaman memboyong keluarga kecil atau besar ke sini, sebab banyak tersedia kursi-kursi jati yang siap kapan saja Anda duduki. Perihal harga cukup terjangkau. Saya kira sate-sate model rumah makan begini agak-agak mahal gimana gitu. Ternyata enggak juga. Seporsi sate ayam yang terdiri dari 10 tusuk, nasi dua piring (hihii), teh tawar, cukup saya tebus 25 ribu saja. Kadang nambah 3 ribu kalo saya ngambil sebungkus rempeyek kedele.

Rumah Makan Sate Solo Pak Rebo tampak selalu ramai oleh pengunjung, tidak peduli siang atau malam. Mungkin sudah banyak pelanggan setianya, dan sekarang tambah banyak. Termasuk saya.[]

Skor Sate Solo Pak Rebo - Cibinong :
Rasa : 8
Tempat : 8,5
Pelayanan : 8
Harga : 8
Instagramable : 7

09 December 2015

Piknik itu Pelik

4 comments :
 

Manusia itu makhluk yang rumit. Kerja eight to five Senin sampai Jumat, kadang pulang telat demi loyalitas. Memasuki akhir pekan, pengin berenang pun, mesti nyampur sama om-om, tante-tante, cabe-cabean dalam satu kolam. Kayak cendol. Macet-macetan dan menginvasi Kota Bandung yang sekarang lagi Instagramable dan Pathable banget, bikin orang Bandung asli jadi mati gaya gak bisa ke mana-mana. Tapi atas nama refreshing, kita seolah wajib menunaikannya setiap pekan, kayak salat Jumat.

Pada hari Minggu beberapa waktu lalu saya ke Taman Bunga sama Si M. Ceritanya melepas stres sejenak sepulang dari presentasi pra sidang sama Pembimbing di Cirebon pada pekan itu. Ketenteraman memang terasa, di sananya doang tapi, cuma tiga jam pikiran ini rileks (dan selfie berdua). Sementara sepanjang jalan menuju ke sononya wuuhh... malah bikin tambah stres. Kami mesti menempuh tiga jam perjalanan dari Citeureup, tapi itu belum apa-apa. Kalo kami terlambat berangkat setengah jam aja, bisa lebih molor lagi tuh.

Sudah rahasia umum jika kita ingin liburan ke Cisarua, Puncak dan sekitarnya, pasti macet. Akibat jumlah kendaraan menuju ke sana tidak sepadan dengan lebar jalan. Sehingga sudah pasti muncul kebijakan buka tutup jalan antara dua arah secara bergantian. Biasanya berselang satu jam, atau kalo udah parah banget, bisa gantian dua jam sekali buka tutupnya. Itu untuk kendaraan beroda empat ke atas. Kalo buat motor sih gak terlalu kepengaruh, sebab kendaraan roda dua ini masih diperbolehkan melaju dari kedua arah oleh Polisi. Tapi..

Ya.. gitu deh. Kudu waspada pisan, apalagi kalo kita melaju berlawanan arus dengan jalur yang sedang dibuka. Saya biasa cari aman memacu motor dengan lambat asal selamat, mendekati garis putih bahu jalan. Gegara ini, waktu tempuh pulang dari Cibodas ke Ciawi yang normalnya satu setengah jam siang itu, bisa lebih molor satu jam karena saya mengendarai motor secara pelan-pelan dan lumayan sering berhenti. Minggir sejenak ngasih jalan Fortuner, CR-V, bahkan bus yang gak sadar bodi ngebutnya minta dibaledog sapatu.

Tapi atas nama refreshing, kita seolah wajib menunaikannya setiap pekan, kayak salat Jumat.

Itu kalo naek motor. Gak tau deh kalo naek mobil pribadi kayak orang-orang berpelat B itu. Mungkin dua jam hanyalah waktu tunggu yang tersia-sia. Setelah dua jam, baru deh bisa nyalain mesin mobil. Itu pun nyetirnya mesti konsentrasi dan ekstra hati-hati, karena dapat dibayangkan suatu arus yang sebelumnya dipaksa berhenti, kalo mendadak dibuka sekonyong-konyong akan menderas lah, paheula-heula, khawatir jalur keburu ditutup lagi. Kayak emosi yang dipendam, sekalinya diumbar, rumah Syahrini bisa berubah jadi rumah-rumahan barbie.

Dan nyetir mobil itu bikin pegel tumit, betis, dan emosi. Saya pernah ngerasain. Apalagi berjam-jam bahkan seharian kedua tumit ini intens menginjak ketiga pedal (kalo yang transmisi manual) gegara jalanan padat diem, bukan padat merayap lagi. Padahal hari Minggu. Besok Senin mesti kerja lagi. Kerja itu capek, menguras tenaga dan pikiran. Selama kerja pikiran mendesak pengin cepet-cepet hari Jumat biar cepet weekend. Begitu hari Sabtu tiba, kita nyetir mobil lagi dari Jakarta ke Bandung, macet-macetan belasan jam. Dan hari Minggu macet-macetan lagi di Puncak. Besok Senin lagi. Dan siklus berulang.

Saya jadi bingung kalo gitu. Apakah rekreasi atau piknik yang kita tunaikan pada akhir pekan membuahkan tujuan rekreasi itu sendiri? Usai piknik, rilekskah pikiran kita? Segarkah raga kita? Bersemangatkah kita menyongsong Senin esok, hari yang selalu penuh kecencian?

Seringkali akhir pekan memerlukan effort yang lebih sinting dari hari kerja. Biasanya pada hari kerja agar seseorang hanya fokus ngurusin kerjaan, gak mikirin hal gak penting semacam kemacetan, ada supir yang sigap antar jemput ke mana pun. Sementara pada akhir pekan seseorang rela nyupir sendiri ratusan kilometer ke Bandung hingga pulang tengah malam demi rekreasi. Apakah kita bekerja lebih keras, mengerahkan segenap batas kemampuan manusia justru pada piknik akhir pekan? Bukan hari-hari setelahnya yang bernama hari kerja?

Jika ya, barangkali benar, kita memang makhluk yang rumit. Menganggap berakhir pekan dengan leyeh-leyeh di rumah terlalu sederhana.[]

06 December 2015

Bakso Muji Ferdianto - Ciluar

2 comments :

Bakso adalah makanan yang setia menampakkan diri di mana pun saya berada. Di mana ada pengkolan, di situ ada depot bakso Solo. Di mana ada ibu-ibu ngerumpi, di situ mangkal abang tukang bakso Wonogiri. Di mana ada perempatan, di situ ada warung bakso Malang. Bahkan mie ayam Bangka pun belum lengkap rasanya tanpa bakso. Saya curiga di hutan lindung Jambi pun ada tenda bakso, yang jualan Mas-Mas yang transmigrasi ke sana. Konsumennya babi rusa, anaconda, tujuh manusia harimau, Aliando Syarief. Ada apa dengan bakso?

Baiklah, teman-teman. Minggu pagi ini saya merasa perlu untuk membincang bakso. Yang dekat-dekat rumah aja ya (baca: yang murah-murah aja), sebenarnya lebih dekat dengan rumah kakak di Ciluar: Bakso Muji Ferdianto.


Saya tidak berlebihan menyebut nama kedai bakso ini dengan Bakso Muji Ferdianto. Memang demikian yang tertera pada spanduk, tembok, gerobak di lokasi kedai. Lengkap, sebagaimana nama tercantum pada akta kelahiran. Biasanya kan Mas Gembul, Mas Nur, Mas Yono dan nama Mas-Mas kalem lain. Namun nama kedai yang panjang plus potret lukisan di dinding itu toh memang selengkap rasa hidangannya.

Pertama kali saya mencicipi bakso Mas Muji ini ketika menghabiskan liburan semesteran ke rumah kakak di Ciluar semasih saya STM. Dari Bandung berangkat naik bus sendirian, turun di Baranangsiang dan lanjut naik Miniarta. Setiba di pasar Ciluar di mana saya harus naik ojek supaya sampai ke rumah kakak, saya merasa perut yang selalu lapar ini mesti diisi dahulu (biar gak malu-maluin dateng-dateng kelaparan dan kalap menyikat camilan yang disuguhkan). Selain empat jam perjalanan yang lumayan bikin puyeng. Maklum anak rumahan.

Waktu itu kedai bakso Mas Muji masih sempit (padahal pengunjungnya buanyaak) dan berlantai semen. Tidak terlalu representatif seperti lokasi sekarang yang telah pindah sekitar dua toko ke sebelah kanan dari kedai terdahulu. Usai menyantap bakso Mas Muji, saya merasa inilah bakso yang pas banget. Sebab kalo paling enak sih relatif ya, namun saya berani mendaulat bakso Muji Ferdianto adalah bakso yang paling bakso. Kenapa?

Kuah kaldunya tidak terlampau menyengat baik aroma maupun rasa. Disantap bening tanpa kecap dan sambal pun udah enak. Menurut saya Mas Muji gak nyemplungin gajih atau lemak sapi ke dalam dandang secara berlebihan seperti penjual bakso-bakso lain. Sebatas tulang sapi yang besar-besar sehingga kuahnya lebih light.

Sekilas pandang pun dalam kuah bakso yang terhidang pada mangkok tidak tampak bubble-bubble lemak yang tak pernah bersatu dengan kuah kaldu, seperti friendzone yang selalu bersama, tak bisa bersatu #pret. Lemak ini tentu bakal keliatan jelas jadi noktah-noktah bahkan lempengan-lempengan putih bila bakso kita biarkan dingin. Eneg-eneg gimana gitu.

Selain kuah dan rasa, aromanya pas menurut saya, tidak terlalu kuat aroma bawang putih yang sebagian orang tidak suka dengan aroma itu. Padahal bawang putih kan baik ya, bawang merah tuh yang jahat. Tekstur bakso Mas Muji tidak kenyal, namun mudah untuk dikerat dengan sendok dan garpu maupun langsung kita gigit (langsung ditelan bulat-bulat pun silakan, saya gak tanggung jawab tapi). Rangu mun ceuk urang Sunda mah. Krek-krek gitu. Menurut penikmat bakso, katanya jika bakso memiliki karakter seperti itu, maka proporsi antara daging dan sagu hampir seimbang, lain dengan bakso kenyal yang tentu saja persentase sagunya jauh lebih binal, daging cincangnya seiprit doang.

Bila Anda penasaran sama panjangnya nama warung bakso ini, silakan melipir ke pasar Ciluar. Terletak di seberang pertigaan pasar Ciluar, Jalan Raya Bogor-Jakarta. Namun karena parkirannya cuma cukup memuat lima atau enam motor, enaknya diparkir di seberangnya aja yang ada tempat fotokopi dan tukang jahit. Di situ ada areal parkir yang lumayan lapang. Gak bakal nyasar lah, nama kedainya aja udah kurang lengkap gimana tuh. Ada foto potret Mas Muji juga di spanduknya. Mustahil ketuker sama warung bakso lain.

Selamat berhari Minggu, teman. Musim mangga hampir berakhir, menjelang musim rambutan, menjelang akhir tahun. Sudah menyiapkan agenda liburan tahun baru?[]

Skor Bakso Muji Ferdianto - Ciluar :
Rasa : 8,5
Tempat : 8
Pelayanan : 8
Harga : 9
Instagramable : 7