31 December 2016

Kilas Enam Belas

No comments :
Ramalan saya gak salah-salah amat. Tahun ini ternyata emang lebih berat dari 2015. Perekonomian Indonesia makin enggak jelas. Imbasnya ke mana-mana. Ke hajat hidup orang banyak yang masih perlu subsidi tapi nyatanya subsidi bakalan bener-bener dinihilkan. Negara terus memperbaharui efisiensi anggaran tiap tahun. Masih giat korupsi aja udah sok-sokan ngikutin gaya korporasi dengan kebijakan efisiensi sana-sini.

Jangan tanya dengan hidup saya. Awal tahun yang sangat berat. Mengontrol hidup di 2016 sama beratnya dengan mengendalikan berat badan. Semangat naik turun. Harapan kembang kempis. Begitu pun isi dompet. Tidak seperti tensi darah yang konsisten naik terus dan lambung yang kembali menggolak sampai akhir tahun.


Senang sekali bisa menonton karya beliau langsung di bioskop, bukan lagi mengunduh dari internet seperti tujuh film sebelumnya karena saya yang terlambat mengetahui ada sutradara keren yang filmnya terkategori cult untuk dikoleksi bahkan dipamerkan dalam perbincangan sehari-hari.

Awal tahun ini saya menonton The Hateful Eight sendirian di studio bioskop yang sepi. Kalau tidak salah ingat, cuma ada delapan orang yang duduk di dalam studio. Mentang-mentang film ke delapan dan judulnya pun ada unsur delapan. Tidak seperti antrean padat studio sebelah yang sedang memutar film-film populer. Dan satu jam berselang makin berkurang dari delapan karena ada pasangan yang memilih exit sebelum credit title turun. Mungkin darah-darah di film hampir sama dengan warna lipstik pacarnya dan mereka enggan tercemari imaji mengerikan saat sedang intim berciuman.

Konflik yang lebih rumit dari tujuh film sebelumnya dengan scene dan lokasi minimalis, Tarantino masih mengusung kekhasannya, tentu tidak luput dari adegan menembak buah zakar yang epik itu. Katanya Tarantino cuma mau bikin 10 film seumur hidupnya. Dan karena ini film ke delapan, maka hanya tersisa dua karya beliau yang dapat kita nikmati setelah ini. Tolong, jangan sampai mati ketembak buah zakar dulu sebelum tuntas 10 film ya, Pak Tarantino.

2. Masak Sendiri

Beberapa bulan berlalu. Nasib belum berubah juga karena saya pun tidak melakukan apa-apa dan masih bingung menerima segala kenyataan saat itu. Saya memilih tinggal di rumah sendirian. Membobol tabungan untuk makan sehari-hari. Dengan tujuan mengirit agar tabungan habisnya perlahan-lahan sampai saya dapat pekerjaan, saya memutuskan memasak sendiri.

Belanja sayur ke tukang sayur. Tidak, saya masih terlalu malu untuk membeli sayur di tukang sayur yang lewat depan rumah. Saya beli sayur di kios pinggir jalan saja, dan kresek belanjaannya disamarkan ke dalam ransel sepeda. Ngirit tapi gengsi.

Hampir setiap hari saya memasak dengan membaca resep-resep simpel dari internet karena ribet sekali mempraktikkan resep dari ibu saya yang biasa menggunakan banyak rempah. Tempe orek, (masukkan daging-dagingan atau telor-teloran) asam manis, ayam teriyaki, kangkung saus tiram, sayur sop, tumis jamur, mi dan kwetiau goreng. Sepanjang bulan-bulan sarat keringat di dapur waktu itu, saya menyesal malah sering menyia-nyiakan masakan ibu saya. Ternyata masak itu susah, apalagi bila harus masak bervariasi setiap hari.


Sebenarnya niat melakukan hal satu ini sudah sering muncul sejak jauh-jauh hari sebelum 2016. Tapi saya rasa, bulan Maret (atau April atau Mei yah saya lupa) tahun ini adalah waktu yang tepat untuk menghapus semua akun media sosial. Mula-mula adalah Path, socmed yang selalu bikin anxiety berlebihan karena postingan kita dilihat oleh berapa orang pun kelihatan dan notifikasi love dari orang bikin kita euforia berlebihan. Kemudian Instagram, yah, sebelas dua belas lah dengan Path, malah lebih fana lagi. Google Plus sudah pasti karena dari awal pun gak ada seru-serunya.

Facebook sudah pasti dong karena udah gak ada juga temen yang maen di sana. Cuma akun Twitter yang masih saya aktifkan sampai sekarang. Sebenernya saya juga pengen deaktivasi Twitter, tapi kok sayang yah... banyak banget ceceran darah perjuangan enam tahun belakangan khusus untuk socmed satu ini, yah, termasuk followers yang segitu-gitu aja hahaha. Solusinya cuma saya atur jadi private account saja.

Dampak menghapus berbagai akun socmed bener-bener positif. Saya dapat kembali berpikir jernih tanpa pretensi dari siapa-siapa termasuk teman, keluarga, saudara, seleb socmed, pakar politik abal-abal. Lebih menghargai arti pertemuan offline dengan orang-orang di dunia nyata dan saya dapat bercakap-cakap dengan siapa saja tanpa beban karena saya tidak tahu apa masalah mereka yang biasanya saya ketahui ketika saya masih masif maen socmed terutama Path. Benak saya jauh lebih tenang. Hati saya lebih lapang. Lebih ikhlas menerima dunia apa adanya.

Sebenernya masih ada dua akun socmed yang susah banget dihapus: Pinterest dan My Space. Gregetan banget saya pengen ngehapus dua akun socmed itu, tapi kayaknya beneran mustahil ya soalnya mereka memproteksi diri dari deaktivasi akun. Ada cara lainkah?

4. Terpaksa Kembali ke Bandung

Stres lantaran kejelasan nasib tak kunjung muncul, akhirnya saya gencar melamar pekerjaan di mana saja, posisi apa saja, dan gaji berapa saja. Ternyata dapetnya malah di Bandung. Lokasi yang tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk bekerja, karena yah, Bandung cuma nyaman sebagai tempat berwisata bukan untuk bekerja.

Ternyata benar. Bekerja di Bandung menyiksa sekali dalam hal perjalanan berangkat-pulang kerja. Macet sepanjang jalan, bukan sekadar di persimpangan! Apalagi akhir pekan! Ah, kedongkolan tiap pagi dan sore saat itu masih hangat dalam ingatan. Tapi demi pengalaman kerja pasca kuliah dan rekening bank yang harus terisi supaya tidak diblokir, saya berusaha ikhlas menjalani segala romantika itu.

Di Bandung, saya bekerja sebagai staf data entry di sebuah konsultan pajak. Pekerjaan utamanya adalah audit dan data controlling. Lucunya saya ditraining sama kelahiran 96 atau 97 ya, pokoknya dia lulusan SMA, dan masih kuliah akuntansi semester tiga. Bener-bener, kelapangdadaan saya waktu itu diuji. Diajarin ini-itu yang setelah direnungkan sih saya juga sudah paham sebelumnya, ditegur kalo salah padahal kan namanya juga baru banget belajar akuntansi setelah seumur hidup saya cuma terpapar sama ilmu engineering, sesekali diomelin karena perkara amat sepele, sama yang usianya lebih muda dan pendidikannya lebih rendah dan tingkat semangatnya masih semangat-semangatnya tapi labil itu cukup menguras adrenalin, terutama emosi dan harga diri. Sumpah, mana lagi bulan puasa.

Tapi yah, saya berusaha tidak menjadikan itu sebagai masalah dan saya menyadari bahwa dulu saat seusianya pun saya seperti itu. Sok Tahu dan Sok Benar adalah sinonim dari Anak Muda. Mungkin karena itulah Bung Karno suka dengan gairah Pemuda (dan istri muda)? Pada akhirnya, saya mampu juga, bahkan saya rasa dapat menyelesaikan pekerjaan lebih efektif dari yang mengajarkan saya, dan pada awal bulan 12, saya lepas landas dari pekerjaan di sana sesuai dengan etika dan peraturan.

5. Hipertensi

Life begins at 40. Masalah, penyakit, akan berdatangan setelah manusia menginjak usia empat puluh. Saya malah ngeduluin. Tidak lama setelah ulang tahun yang ke dua puluh lima, kepala saya puyeng banget ketika sedang bekerja, saat dalam perjalanan pulang-pergi kerja seperti mau pingsan. Setelah dicek dokter, ternyata tensi saya tinggi banget, bahkan bagi standar orangtua sekalipun, sementara saya masih merasa muda lah, masih dua lima kok.

Mungkin karena pekerjaan yang menuntut nol kesalahan (gak lucu kalo auditor salah ngaudit) dan hape mesti standby 24 jam melayani pertanyaan dari atasan dan rekan saya sampai-sampai tidur pun mimpi tentang kerjaan, dan tentu saja jarak rumah dan kantor yang jauh banget dalam segi waktu tempuh perjalanan dan kepadatan lalu lintas, kalau jarak sih seharusnya tidak tergolong seberapa jauh. Stres bikin darah tinggi.

Dua bulan kemudian, kepala saya pusing lagi, bahkan lebih parah, jantung berdetak sangat cepat saat terbangun dari tidur malam. Besoknya absen kerja lagi, dan kata dokter tensi darah saya masih belum turun juga. Sampai sekarang, saya rasa tensi darah belum normal-normal banget. Tapi setidaknya jarak tempat kerja di sini tidak sejauh saat bekerja di Bandung, dan lalu lintasnya masih waras. Kenapa sih masih pada betah di Bandung dan apa yang betul-betul dinikmati orang-orang berpelat B saat Sabtu-Minggu-Tanggal Merah-Tahun Baru dari Bandung? Fana sekali kebahagiaan kita ya.

6. Kembali ke Bogor

Awal Desember saya kembali ke Bogor. Dipanggil lagi sama perusahaan yang dulu sudah menguliahkan saya. Kala itu perasaan saya masih campur aduk mungkin karena sudah kepalang sering merasakan kepahitan dan kepedihan, jadi segala rupa di mata saya tidak ada yang sungguh-sungguh putih suci. Setiap hal pasti punya sisi gelap dan terang. Bukan hitam atau putih, tapi gradasi dari hitam menuju putih. Berharap Tujuh Belas menyenangkan. Biasanya yang mengandung unsur tujuh-tujuhnya itu pertanda baik. Apakah menikah pun pasnya di usia 27? Ah, lupakan.[]

23 December 2016

Berdoa Berdua

No comments :
Senja di sini adalah pameran otomotif tanpa booth dengan kontes klakson di setiap persimpangan. Sinar lampu rem lebih semarak dari jingga keemasan yang suka dicuri para penikmat kesepian menggunakan tustel pembeku waktu. Jalan bolong sesekali melahap ban pengendara yang terbodohi sibuk. Tak ada pilihan selain merelakan.

Penyiar radio mengulang lelucon kemarin, kemarin, kemarinnya lagi, menghibur khalayak yang kembali mengulang kebosanan setiap sore menuju rumah, mungkin menghibur, satu-satunya pekerjaan yang merindukan konvensional.

Aku sedang ingin pulang berdua. Aku pernah mencoba berusaha berdua namun bertahun-tahun yang dapat kulakukan hanya berdoa agar tak lagi berdua. Manusia tidak pernah sungguh menikmati kesendirian, hanya saja karena lebih dari sendiri tidak menyelesaikan apa-apa, maka kebanyakan tidak melakukan apa-apa agar lekas menggandakan.

Mencipta peduli lahirkan pamrih untuk dipedulikan. Berkorban demi terima pengorbanan. Menjaga rahasia supaya rahasia terlihat sebagai wajar sepintas lalu. Mencinta agar dicinta. Siapa yang seharusnya lebih dahulu memberi?

Terbangun sebelum subuh tanpa dering beker mudah sekali apabila dunia mulai terasa penuh untuk dipikir dan dipedulikan. Kesempitan menyeret kamarmu yang semula terdampar berantakan di kepalaku mulai pindah ke bibir orang lain. Tapi mengapa kau serampangan membawa pula hatiku ke sana? Aku ingin baik-baik sendirian.[]

12 December 2016

Tanggal Merah

No comments :

Selayaknya biasa setiap aku keluar rumah, kemacetan selalu setia menyambut pagi, kurang lebih sama seperti istriku yang senantiasa setia padaku yang sudah begini. Untuk berjalan saja susah. Harus pakai kursi roda yang didorong istriku. Sekarang, di dalam sedan ini, aku duduk di sebelah kiri, bukan di sebelah kanan untuk menyetir. Istriku yang berada di sana. Meski ia pun sudah tak lagi muda. Mengapa di dunia ini harus ada akumulasi usia yang mendiskriminasi tua dan muda? Ah, lupakan, kali ini aku tak ingin terlihat lebih perempuan dari istriku.

“Pagi ini macet sekali, Siska. Kamu lelah? Semalam kamu kurang tidur.”

Istriku fokus menyetir. Seingatku belum lama ia dapat menyetir, seusia penyakitku saja. Ia memaksakan diri untuk dapat menyetir sedan tua ini, jika tidak, aku sulit ke mana-mana. Naik angkot, repot sekali, sebab ke mana pun, aku memboyong kursi roda. Menunggu anak, betapa jauh tempat mereka bermukim dan bekerja, padahal bila diukur, tidak jauh-jauh amat karena pesawat dan kereta sudah murah dan nyaman. Sudah tua, menakar jalan ke mana pun terasa jauh bagiku. Tak lagi dapat pergi jauh seperti dulu. Lagi pula kata istriku, waktu mereka terlalu penuh untuk kami.

“Begini-begini saja. Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, Kang.”

Aku tersenyum. Cuma ini yang dapat tulus kuberikan kepadanya sekarang untuk menebus ketotalannya pada segenap hidupku. Kugenggam tangannya, meremas jemarinya yang memeluk kemudi. Masih lembut seperti dulu, cuma sedikit keriput, yang sering orang lain seusiaku persoalkan. Beruntung tangan sebelah kanan belum mati rasa seperti sepasang kaki dan keseluruhan tangan kiriku, sehingga masih dapat kurasakan kasih yang mengalir di balik urat-urat punggung tangan Siska yang terhubung dengan organ kecil di dalam dadanya.

“Lepaskan. Aku sedang fokus menyetir. Aku tak mau lagi mengganti rugi pada anak sekolahan yang kebetulan terjatuh di samping kita. Padahal dia yang menyerempet mobil kita yang tak menyisakan ruang cukup luang dengan trotoar.”

Kubelai rambutnya. “Kalau rambutmu tidak ikut menyetir, kan?” Sudah putih semua. Tapi masih tebal dan lebat. Sementara kepalaku sudah selayaknya helm yang terguguri helai-helai daun cemara, sehingga setiap keluar rumah kusungkupi saja dengan songkok hitam. “Kamu cantik sekali, Siska.”

Istriku tak acuhkan. Mungkin sudah tahu kelanjutannya.

“Bagaimana kalau mampir dulu ke tenda lontong Padang itu, Siska. Pasti enak sekali. Sudah lama aku tidak makan enak. Setiap hari, kamu memasak untukku terlalu jahat, Siska. Tiga kali sehari, aku makan seperti makan dengan kapur berkuah.”

“Tidak.”

“Ayolah. Sesekali aku ingin menyantap makanan manusia.”

“Sekali tidak tetap tidak boleh!”

Seperti bulan-bulan sebelumnya, aku gagal merayu istriku untuk mampir makan dalam perjalanan ke rumah sakit. Membuang bosan, aku memutar tuas di pintu supaya kaca jendela saparuh terbuka. “Matikan saja AC-nya, ya.”

“Sejak kapan AC mobil kita dingin, Kang? Tak ada pengaruh mau jendela dibuka atau ditutup. Buka saja jendelanya kalau mau.”

Aku bersyukur kepalaku masih mampu menoleh ke kiri dan kanan. Sehingga sekarang dapat kupandangi toko-toko tua di kawasan pecinan yang sedang kami susuri. Dulu aku biasa berjalan-jalan di sana bersama istriku beli kain aneka corak untuk ia bikin menjadi baju anak-anak dan kadang-kadang bajuku. Mengudap croissant yang enak di kedai Soe Yun yang menjual pula susu murni dan kue-kue basah yang enak-enak. Akhir-akhir ini aku terlalu sering membayangkan yang sedap-sedap, padahal mustahil dapat kukudap. Kalau saja aku dapat pergi sendiri tanpa istriku.

Sedan tua kami melaju semampunya. Pelan merangkak, lintasi jalan-jalan kota ini yang semakin padat. Apalagi pagi dan sore. Sekalinya keluar rumah, aku harus berangkat pada pagi hari. Dan lebih sial lagi bila jadwal kontrol bertepatan dengan hari Senin yang sarat kebencian, seperti hari ini. Ikut bermacet-macet bersama para pekerja keras itu, yang berdasar pengalamanku, belum tentu bekerja sekeras rintangan perjalanan menuju kantor, energinya sudah terkuras di jalan. Dan tahu-tahu sudah tua.

“Kapan Diko pulang?”

“Tidak tahu. Tanya saja langsung padanya.”

“Arum? Windu?

“Kubilang, tanyakan langsung pada mereka. Aku sudah bosan mendengar alasan mengapa mereka betah-betah amat di sana. Sudah kaya raya barangkali. Tak tahu mereka alangkah repotnya mengantre di rumah sakit dengan kartu asuransi kesehatanmu yang sudah jadi milik publik ini. Semua orang bebas sakit kapan saja, sekarang. Makanya tambah penuh saja rumah sakit rujukanmu ini, Kang.” Kudengar kembali lagu keluh yang kerap mengalun dari mulut istriku. “Dan mengantre gaji pensiunanmu yang tidak seberapa itu di kantor pos. Turut berjubel bersama orang-orang yang mengaku miskin yang sedang menagih bantuan tunai bulanan.”

“Tidak seberapa, katamu?”

Istriku diam saja.

“Masih syukur segitu juga pemerintah masih peduli sama kita, Siska.” Aku lupa kapan terakhir kali marah-marah pada istriku. Sekarang Siska lebih galak daripadaku. Namun kini, sepertinya aku jauh lebih bawel dari dia.

“Aku juga pengin kayak orang lain,” dambanya. “Menikmati masa tua yang bahagia di desa perkebunan yang tenteram. Itu angan generasi kita, bukan? Setiap hari kita dapat memetik sendiri mangga, stroberi, anggur. Mau ayam tinggal tangkap dan sembelih. Mau ikan gurami tinggal menjala dari kolam. Beras melimpah. Listrik dan internet, ah tidak penting itu buat kita sekarang, bukan? Kita cuma butuh tempat untuk berdua. Bukan untuk dibagikan kepada dunia.”

“Di mana letak desa seperti itu, Siska? Seingatku, sejak aku masih bekerja sepuluh tahun lalu, tanah-tanah subur di daerah atas sana sudah banyak yang dipagari besi tinggi-tinggi, kemudian ditulisi nama orang kaya dari kota lain. Takkan lama kurasa, bakal disulap jadi kluster-kluster rumah singgah yang harganya terbeli hanya oleh mereka-mereka juga.”

“Kenapa kita tidak ikut beli saja, Kang. Tak usah luas-luas. Lima ratus meter kurasa cukup untuk tempat kita menunggu mati.”

“Kalau ada yang mampu kubeli, kutebus besok pagi.”

“Dulu kau kurang gesit seperti teman-temanmu yang dekat dengan pengusaha dan penguasa. Kau kan orang pajak, mudah saja bukan untuk menjilat mereka. Sedikit saja. Sedikit, kalau dari banyak orang kan jadi banyak.”

“Sudahlah, Siska. Dahulu aku bekerja dengan baik saja, pada hari ini aku stroke, semakin parah. Bagaimana andai aku bekerja lebih agresif dari yang lain?”

“Yah, bekerja jujur saja, kau nyatanya bernasib lebih payah dari rekan-rekanmu yang kau sebut bekerja berlebih-lebihan itu. Kudengar Pak Arus sudah punya perusahaan peternakan sapi yang lumayan besar sekarang di daerah atas.”

“Aku tak ingin apa-apa lagi. Rasanya sebentar lagi mati. Mungkin, mati lebih baik bagiku, sekarang. Beberapa kali aku sempat meminta kematian datang.”

“Aku juga. Sudah lelah rasanya di sini. Kurasa, di alam sana lebih baik.”

“Belum tentu juga, Siska.”

“Entahlah. Pokoknya aku lelah.”

“Lelah karena aku? Aku minta maaf,” sudah keberapa juta kali kata ini kuujar padanya, pada waktu kapan dan tempat mana pun.

“Sudahlah. Delapan tahun sudah cukup membuatku lebih kuat,” Siska mengerem sedan kami sebelum garis putih. Motor-motor dan angkot di belakang kami mengklaksoni, menyalip dan berhenti melampaui belang-belang zebra cross. Istriku memang terlalu patuh pada garis putih. Pada apa pun. Biarkan sajalah.

Sekisar dua kilometer lagi kami sampai di rumah sakit rujukanku yang kusambangi setiap bulan. Namun alangkah rapatnya saf-saf kendaraan ini, termasuk sedan kami. Motor-motor lebih beringas dari biasanya. Bukan tidak tahu, namun kurasa istriku sudah kadung bosan dengan capung-capung Jepang yang kerap mencakar bodi mobil di kanan maupun kiri, terlebih pada mulut bodi kanan-kiri dekat lampu besar.

“Kubilang tadi, Senin ini lebih macet dari biasanya, Siska.”

“Ah! Kau selalu berlebih-lebihan menilai keadaan, Kang, semacam mengira-ngira penyakitmu. Sama saja. Sejak kapan jalanan kota kita kosong melompong seperti gorong-gorong? Kota ini tak pernah berhenti bernapas, pada akhir pekan pun.”

Kujulurkan kepala ke luar mobil. Mengamati satu per satu kendaraan. Banyak sekali mobil bagus. Dan nomor pelatnya pun bagus-bagus setelah lebih saksama kuperhatikan. Motor tentu saja lebih banyak. Kusetel lagu lama yang mengalun dari radio tape, memutar nada-nada serak dari pita kaset. Sudah tak ada lagu baru dalam bentuk kaset dan aku sudah malas memperbaharui seperangkat sistem audio mobil tua kami.

Kurasa, dengan cara berjalan kaki, akan lebih cepat daripada mengendarai mobil untuk melenggang sejauh dua kilometer ini. Pedagang-pedagang yang dulu berjualan di trotoar memang sudah dimusnahkan walikota, cerai-berai berpindah ke beberapa daerah pinggiran dan perbatasan kota. Tapi kenyataannya masih sama saja macetnya.

“Ke mana tukang bubur ayam yang saking kentalnya, ia balik mangkuknya pun tidak tumpah itu pindah, ya? Dulu sembari berangkat bekerja, kita sering mampir sarapan di sana.”

“Mengapa tanya padaku? Pindah ke pinggiran barangkali.”

“Sepulang dari rumah sakit, bagaimana kalau kita mencari lokasi baru tukang bubur itu, Siska?”

“Sudah keburu siang, Kang. Pukul dua tidak ada bubur ayam.”

Apa lagi jenis makanan yang dapat kuajukan melalui proposal rayuan pada istriku. Banyak sekali tentu saja. Soto babat, gudeg, bakmi, rawon, sate kambing, gulai kambing, iga panggang…

“Tumben, parkiran sepi sekali, Kang.”

Kami sudah sampai di rumah sakit. Istriku tak sepayah biasanya ketika memarkirkan sedan kami karena hanya ada dua mobil di areal parkir yang tak seberapa luas ini. Selanjutnya, giliran menunaikan ritual untukku. Mengeluarkan kursi roda dari bagasi, lantas membimbingku berpindah duduk dari kursi mobil ke kursi roda. Ya, sejauh ini, istriku adalah perempuan yang paling kuat.

Kami meluncur menuju bangunan yang tampak menonjol dengan ornamen kaca, material ringan, dan warna-warna terang dibanding bangunan rumah sakit sekitarnya yang tampak tua dengan bedak-bedak kusam pada temboknya, untuk mengambil nomor antrean dari mesin yang ada di sana. Namun sepi sekali, sesepi parkiran barusan. Tidak ada orang di dalam sangkar khusus pelayanan asuransi kesehatan publik itu. Pintu masuknya pun dalam keadaan terkunci.

“Mengapa dikunci?” tanyaku.

“Biar kutanyakan pada satpam di sana.”

Istriku meluncurkan kursiku ke pos satpam.

“Pintu di sana mengapa dikunci, Dek?”

“Hari ini libur, Bu.”

“Libur apa? Sekarang kan hari Senin?”

“Tanggal merah. Saya tidak begitu paham ada peringatan hari apa. Yang pasti, hari ini tanggal merah.”

Mungkin kami terlalu tua untuk memperhatikan kalender seteliti dulu semasih bekerja, mengamati warna tanggal demi tanggal dan memicingkan mata untuk selidiki aksara-aksara kecil keterangan hari peringatan tertentu, lantas membulati tanggal tersebut dengan spidol. Siska mendorongku kembali ke pelataran parkir. Memindahkan tempat dudukku, melipat kursi roda, dan sedikit mengumpat saat tangannya kembali menggenggam kemudi.

“Sudahlah. Kita jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Ya?”

“Yah. Jangan lama-lama. Aku belum memasak.”

“Sekalian kita makan. Kamu pasti lelah setiba di rumah. Lagi pula kau kurang istirahat semalam,” bujukanku memang membosankan, tapi semoga kali ini ampuh.

Istriku merengut. “Sudah telanjur. Baiklah. Aku kalah.”

Kami berencana pergi sebentar ke salah satu taman dari puluhan taman kota yang sudah cukup nyaman untuk dikunjungi setelah pemugaran. Mungkin tanggal merah menyuruh kami sejenak bernapas di luar, usai melulu terbekap di dalam rumah yang semakin pengap untuk kami mukimi berdua.

Taman yang kami sambangi ramai sekali. Kuamati di parkiran, banyak pelat-pelat luar kota yang tertambat di sana. Setelah melakukan ritual seperti biasanya, istriku mendorong kursiku menuju sudut yang setidaknya tidak terlampau ramai oleh manusia. Hanya ada bangku beton dipayungi teduh pohon-pohon tua.

“Tanggal merah setelah hari Minggu begini, mengapa tak ada yang menengok kita, Siska? Mengapa orang asing yang rajin ke kota ini dibanding anak-anak kita?”

“Kubilang, tanyakan langsung pada mereka. Jangan lagi-lagi menanyakanku tentang yang sudah-sudah! Aku lelah!”

Kali ini, aku bungkam saja. Khawatir Siska berubah pikiran perihal kesepakatan makan enak di luar sepulang dari sini.[]

Bandung, Oktober 2016

Photo credit: Normal's Overrated

06 December 2016

Sayatan dari Depan

No comments :

Aku sedang belajar memiliki dari bagaimana cara rutinitas menerima setoran delapan jam bahkan lebih dari separuh hidupku setiap hari entah sampai kapan ia berhenti begitu, andaipun kumengelak mustahil aku dapat bertahan di sini. Memiliki selalu menyakiti adalah kepercayaan yang paling iman dan mungkin aman dari kepentingan politik praktis karena mungkin kurang terklasifikasi 4P Philip Kotler layaknya iman yang lain.

Sulit sekali memiliki seseorang ketika aku ingin sekali memilikinya. Sesuatu jauh seperti dekat, seseorang tepat di sebelah bagai berlainan belahan semesta, dan berlari sendirian hanya mengundang sayatan angin, semakin cepat berlari angin dari depan kian giras menjangat kulit. Duduk diam dalam jeda menjerang kesadaran bahwa aku bukan siapa-siapa dan tak pantas dicintai siapa-siapa.

Desember adalah duka dari ragu. Suka menuju luka. Ingin kembali beku jadi angan. Sesungguhnya ingin sekali aku jujur namun kejujuran selalu gagal merangsek budaya pop. Aku selalu memulai apa-apa dari bawah tanah dan setelah berusaha mencoba keluar permukaan aku selalu cemas apabila suatu saat sudah naik ke tempat yang terang, tidak kuasa lagi kurasakan kesyahduan dan ketelanjangan di bawah seperti selama ini. Aku mendadak takut memulai sesuatu di ranah terang benderang mungkin karena sudah sejak lama aku terkungkung dalam pekat gelap, dan menganggap alam tidak gelap hanyalah maya dan kefanaannya hanya pantas dicerca bukan untuk dicinta.

Apa yang dapat seseorang lakukan dari jauh apabila segenap rasa mendekap erat kembali. Rumit untuk sekadar bayangkan kembali pelukan yang enggan melonggar dan kecupan yang lebih panas dari neraka. Semua sudah jadi teka-teki silang yang saling bersinggungan ke atas, ke bawah, menanjak dan melandai, satu huruf terlupa atau memang gagal terisi karena aku terbodohi teka-teki, hanya akan jadi selembar alas gorengan, undian hanya cukup dalam angan.

Tapi semua sudah berubah. Hanya manusia yang susah berubah. Mungkin tidak. Tidak akan.[]

Photo credit: Mister G.C.

30 November 2016

Liar

2 comments :
November yang semula damai berakhir liar. Saya tidak menyangka akan seperti ini takdirnya. Kembali ke sini meninggalkan sana. Ternyata jalanan macet Bandung yang bikin saya darah tinggi enam bulan ini malah mendadak ngangenin saat hendak saya tinggalin.

Ke depan saya tidak punya ekspektasi apa-apa, karena biasanya yang sudah-sudah, target-target yang saya rencanakan lebih banyak gagalnya. Sudah, jalani aja sebaik mungkin. Saya yakin saya dapat melakukan yang lebih baik dari kemarin. Lakukan yang terbaik demi saya sendiri tapi mudah-mudahan orang lain di sekitar saya pun dapat turut merasakan.[]

25 November 2016

Tinggi Lagi

2 comments :
160/100. Darah tinggi lagi. Sssh, gak tahu saya mesti ngapain lagi. Diet-diet yang pake jendela makan itu ternyata malah bikin berat badan naik turun secara drastis dan saya makan makin kalap saat masuk jendela. Mungkin setiap hari perut kaget dengan kelakuan saya yang gemar menimbunkan banyak makanan dalam periode yang singkat. Akhirnya Senin malam kemarin saya beneran tepar... Tidur dengan berlapis-lapis baju pun masih terasa dingin. Bangun tengah malam karena pengin kencing pun, sehabis dari kamar mandi, denyut jantung terasa cepet banget. Kepala hampa. Jalan melayang. Rasanya kayak mau mati.

Semua ini gara-gara hari Minggu kemarin saya kebanyakan makan. Segala dimakan. Padahal hari-hari sebelumnya saya ketat menjaga jam makan. Mari kita tata satu-satu. Pagi-pagi ada bala-bala haneut, kupat tahu Singaparna. Gak lama kemudian, ada tukang batagor yang emang biasanya keliling door to door. Yah tentu saja, semuanya saya sikat. Ketika sedang menyantap semua tadi, Ibu bikin nasi goreng. Begitu matang, saya embat juga.

Sementara, nasi putih belum masuk perut. Siangnya makan apa saya lupa, yang pasti makanan berat. Keripik pisang 2 bungkus saya sikat juga. Sengaja beli es krim padahal kapan boa terakhir kali saya beli es krim. Dan malamnya saya makan bakso pedes banget, yang kuahnya tampak kentel sama lemak. Kalau ngebayangin kelakuan waktu itu sekarang, mendadak saya mual pengin muntah.

Dalam pikiran saya, nasi itu bikin gendut. Jadi gak papa makan banyak pun kalau selain nasi. Ternyata makan non-nasi secara frontal emang gak bikin gendut, tapi bikin sakit.

Yah selain dari makanan, saya yakin tensi yang tetep tinggi selama 4 bulan belakangan, atau mungkin setahun ini karena dulu pernah ditensi juga dan hasilnya lumayan tinggi, gara-gara pikiran juga sih. Setresss. Entahlah, masa depan rasanya makin suram saja kalau saya enggak cepet-cepet ngambil keputusan secara mandiri dan secara sadar tanpa embel-embel harapan palsu dan demi solidaritas bersama lagi.

Rencananya sih mulai awal Desember saya pengin mengembalikan kondisi tubuh yang sebenarnya masihlah mudaaaa agar kembali ke fitrahnya sebagai pemuda yang semangat. Sumpah susah banget kalau situasi dan kondisi yang rajin mengadang mesti dihadapi satu per satu itu masih kayak gini-gini aja kelakuannya. Semua orang dan rerupa kejadian rasa-rasanya gak ada yang bikin tenteram. Jadi inget Si Doel Anak Sekolahan.

Awal bulan saya balik lagi ke Bogor. Pengennya malah kayak murid kungfu yang bersemedi 40 hari di hutan atau air terjun hanya untuk mencari apakah arti hidup ini. Tapi boro-boro sih, saya bangun tengah malam di rumah karena kebelet pun masih baca ayat kursi pas jalan ke kamar mandi. Padahal kamar mandi cuma di sebelah kamar.

Perlahan saya mulai percaya bentuk masa depan akan tergantung pilihan saya hari ini. Sayangnya terlalu banyak pilihan tapi tidak satu pun yang ngasih sinyal berhasil sebelum itu terjadi. Semuanya terkesan sama. Seperti berjudi. Ahh, seharusnya dulu saya belajar sama mamang-mamang tukang cabutan aja, gak usah belajar aljabar linear segala. Saya terlambat 25 tahun dalam belajar berjudi. Padahal saya tidak akan pernah tahu akan hidup seberapa lama lagi.[]

06 November 2016

Pesona Humania

No comments :

Memasuki masa-masa sulit awal tahun ini, saya menemukan lagu-lagu lama yang baru saya sukai. Mulanya sering mendengar Adriano Qalbi dalam Podcast-nya menyebut dan nobatkan Humania sebagai band Indonesia yang beda, keren, bahkan mendahului zamannya. Penasaran, saya pun coba mendengarkan. Ternyata setelah saya setel, kakak saya bilang, "Buset, itu mah lagu pas kamu baru lahir. Zamannya MTV baru muncul di Indo dengan VJ Jammie Aditya dan Sarah Sechan." Mungkin Humania memang mulai getarkan industri musik sekitar masa itu, periode awal 90an.

Apa yang bikin Humania itu keren? Entahlah. Saya juga bingung apa sesungguhnya yang bikin lagu-lagu Humania ini deep banget bagi saya. Padahal saya terlahir beda zaman sama duo Eki dan Heru itu, beda satu generasi. Tentu kegelisahan kami tidak sama-sama amat. Saya coba amati liriknya. Tidak ada diksi aneh-aneh dan puitik banget semacam lagu-lagunya Kla Project. Liriknya cenderung literal sehingga mudah dipahami dan diikuti, tapi jangan salah, belum tentu gampang untuk dinyanyikan sendiri, karena loncatan nada mayoritas lagu Humania rawan timbulkan fals.

Warna suara Eki dan Heru, saya yakin, kalau sekarang mencoba peruntungan di ajang pencarian bakat, enggak bakalan lolos audisi ke Jakarta. Minim improvisasi, minim eksplorasi yang saya pikir emang gak guna dan sia-sia aja sih suara emas itu kalau lagunya "kosong" mah. Suara mereka terdengar sangat manusia, sebagaimana nama bandnya, tidak seperti suara artifisial hasil rekayasa elektronik dari band, solois, dan trio terkini. Kalau tinggi ya tinggi, lurus, tanpa diliuk-liukkan mengemis tepuk tangan. Saat berada pada not sedang, ya datar-datar saja mengikuti irama musik.

Namun barangkali karena ketelanjangannya itu, lagu-lagu Humania menimbulkan kesan mendalam, menurut saya. Mereka punya lagu-lagu yang aroma skeptisnya menyengat, sangat realistis dan seakan dekat dengan peristiwa sehari-hari di sekitar saya. Namun ada beberapa judul yang membuat saya menemukan kembali spiritualitas, esensi hidup, bahwa saya tidak punya apa-apa di sini dan bukan siapa-siapa di muka bumi ini.

Semuanya itu dikemas apik bersama aransemen yang super keren! Kadang benak kebawa melayang ke awang-awang, kadang turut menertawakan keanehan dunia bebal ini, dan tak jarang saya nangis sendirian. Sungguh, enggak salah kalau banyak yang mendaulat Humania sebagai band yang muncul terlalu cepat lampaui zaman. Menurut saya sih, tepat-tepat aja. Yang freak itu produser yang melulu mengendus pasar ketimbang mikir panjang efek berkepanjangan.

1. Jelita

Lagu yang saya sebut-sebut membuat benak saya melayang ke awang-awang. Hati yang kosong dan pikiran yang penuh mendadak bersirkulasi menyeimbangkan kapasitas ideal keduanya. Tafsiran saya, Jelita adalah lagu persembahan untuk ibu kita masing-masing, atau untuk pacar, istri, siapa pun yang terlahir sebagai wanita. Tanpa kehadiran kaum wanita, mustahil kita dilahirkan dan tumbuh dengan baik, sebab sekuat apa pun laki-laki, belum tentu setabah wanita. Tanpa ketulusan mereka, alih-alih melahirkan, memutuskan untuk menjalin pernikahan pun enggan, mungkin. Berkat kejelitaan wanita, dunia jadi lebih bernuansa.

2. Terserah

Wow! Ternyata ada lagu yang seberani dan seapaadanya "Terserah". Begitu kesan yang membekas usai mendengarkan lagu ini. Lagu yang menjadi hits song Humania saat pertama kali berkarya di sini. Mengudar kekesalan terhadap pacar yang posesif, apa-apa maunya diturutin, ke mana-mana penginnya ditemenin, kita jadi tidak punya kehidupan dan hanya punya satu kehidupan: yaitu bersama dia doang, melayani dan menunaikan segambreng keinginannya seolah kita adalah sopir dan tukang kebun dia.

Biasanya lagu cinta di sini, bahkan sampai sekarang, lagu rock sekalipun, mayoritas berkesan memuja-muja wanita, mengemis-ngemis cinta padanya. Tapi Humania tiba-tiba menggebrak dengan lirik skeptis macam itu. Konon Eki menciptakan "Terserah" saat berusia 24. Yah, mungkin usia-usia segitu kegelisahan tentang cinta bukan lagi mengeksploitasi kengenesan sendirian pada malam Minggu. Ada masanya kita merasa fucked up terhadap seisi hidup ini termasuk sama pacar yang sudah lama dipacari, sehingga daripada kondisi jiwa makin gawat, kita memutuskan untuk menjalani dan menyelesaikan masalah hidup sendiri saja. Bukan semata mencari kebebasan hakiki, karena itu takkan pernah ada. Ah ya udahlah. 

3. Ya Udah

Kalau band lain menggubah lagu bertopik sama dengan "Ya Udah", mungkin hasilnya akan jadi lagu yang super mellow dan untuk dinyanyikan penuh penghayatan. Menyoal tentang debar-debar hati laki-laki saat terpikat sosok perempuan pada pandangan pertama, ketika rekah senyumnya merampas akal sehat, namun kemudian berujung pada sikap dingin si perempuan. Tak indahkan sedikit pun hadir si laki-laki, melirik pun tidak. Mungkin karena si perempuan belum tahu laki-laki itu siapa, dia cuma melihat dari penampilan yang mungkin tidak terlalu menarik. Tapi ya udah, setelah dicuekin, si laki-laki pilih mundur saja.

Eh, ternyata suatu hari, si perempuan malah balik suka sama dia. Mungkin karena sudah tahu latar belakang laki-laki itu, jadi tak lagi memandang ia sebelah mata, justru membeliak ingin segera ditembak. Tapi karena si laki-laki telanjur mundur dengan sikap bodo amat dan sudah kadung tahu bahwa perempuan itu mencintainya pun dengan syarat, dia pun tidak merasa perlu untuk menyukai perempuan itu sebagaimana awal mula ia penasaran memandangnya.

4. Persembahan

Nyanyian dibuka paduan suara anak kecil pada bait pertama, kemudian bait selanjutnya disambung vokal Eki, lantas seterusnya bernyanyi bersama-sama. Mengungkap rasa syukur atas nikmat kemerdekaan pada Yang Kuasa. Lagu "Persembahan" mungkin memang persembahan istimewa Eki dan Heru teruntuk negerinya yang sedang berulangtahun kala itu. Lagu yang cukup menggetarkan sedari awal sampai akhir, dan salah satu lagu Humania yang membuat saya sadar untuk apa dilahirkan. Konon ada fans Humania yang pindah agama berkat lagu "Persembahan".

5. Kuasa

Sejujurnya saya cenderung selalu berusaha agar tidak mudah tenggelam dalam suasana haru, dalam bentuk apa pun, termasuk rasa haru yang terbangun oleh lagu. Tapi ketika lagu "Kuasa" terputar, air mata saya mendadak banyak menetes. Begitu saja, padahal biasanya tak segampangan itu. Sampai akhir lagu saya masih tergenang kenang tentang segala rupa yang pernah saya lakukan sebelum hari itu. Dan Humania bagai tidak ada usaha sedikit pun untuk melebih-lebihkan rasa sadar dirinya pada Sang Pencipta. Mengalir saja, sebagaimana lagu mereka lainnya. Tanpa pretensi.

Sebab setelah diputar berulang-ulang dan saya coba telaah liriknya, tidak ada yang spesial. Tidak ada bedanya dengan lagu-lagu religi lain, bahkan jika dibanding lagu rohani yang bener-bener rohani, tentu eksposisi tentang pengakuan dosa-dosa makhluk pada Tuhan jauh lebih detail lagu rohani ketimbang ini. Suara vokal perempuan (pada lagu ini Eki tidak menyanyikan lagunya sendiri) yang teknik vokalnya tidak sewow Raisa namun begitu cocok lengkapi dan warnai aransemen dan makna lagu, sungguh menyayat hati dan mengundang penyesalan pada masa lalu hadir kembali saat ini dan seolah bilang, "Sudah, keputusan yang diambil pada masa lalu tak usah lagi disesali."

Sampai hari ini, saya masih suka menunggu-nunggu giliran lagu ini terputar dalam playlist saya saat bekerja atau pun sesampai di rumah. Jika lagu "Jelita" selalu bikin benak saya mengambang di awang-awang, selanjutnya pada lain waktu "Kuasa" berhasil memapah arwah saya sehingga seakan dekat sekali dengan yang di Atas.[]

Photo credit: Neli O. Filipe

02 November 2016

Manjakan Lidah Anda di Kota Malang

2 comments :
Kota Malang memiliki udara yang lebih sejuk dibanding kota lainnya di wilayah Jawa Timur. Kota ini juga sering kali dijadikan tujuan wisata, baik oleh warga Jawa Timur maupun masyarakat dari daerah lain. Suasana Kota Malang yang asri dan memiliki banyak bangunan bergaya kolonial memang menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan.

Sarana dan prasarana di Kota Malang sudah tersedia cukup baik, termasuk hotel berbintang yang banyak tersedia di kota ini. Apalagi saat ini informasi dan akses pemesanan hotel dan transportasi semakin mudah dengan adanya jaringan internet. Salah satu caranya ialah mengunjungi situs Traveloka.

Anda bisa mempertimbangkan untuk memilih salah satu hotel bintang 4, Savana Hotel Malang yang beralamat di Jalan Letjen Sutoyo No. 32-34 Rempal Celakat Klojen, Malang. Hotel ini cukup strategis dan memiliki jarak cukup dekat dengan tempat wisata lainnya.

Google.co.id

Daya tarik Kota Malang cukup beragam, mulai dari tempat-tempat wisata alam, sejarah, dan wahana permainan seperti olah raga paralayang, Danau Sempu atau Museum Angkut. Selain itu ada juga wisata kuliner yang bisa menjadi salah satu alasan Anda untuk berkunjung ke kota yang dikenal sebagai kota budaya ini. 

Beberapa destinasi wisata kuliner di Kota Malang di antaranya:

1. Orem-Orem

Orem-orem ialah salah satu makanan khas Kota Malang dengan cita rasa pedas. Di dalamnya berisi potongan ketupat, ayam, irisan tempe, tauge, kemudian disiram kuah santan yang kental. Untuk menjaga rasanya yang khas, biasanya kuah orem-orem dimasak menggunakan arang. Makanan ini disajikan dengan tempe goreng atau mendol.

Mendol ialah sejenis makanan khas Kota Malang yang dibentuk lonjong.

Resepenak99.blogspot.com

2. Cwie Mie Malang 

Makanan ini tidak berbeda jauh dengan mie ayam pada umumnya, namun tetap memiliki perbedaan yang khas. Sayuran yang digunakan sebagai bahan utamanya ialah selada, ditambah potongan ayam yang dibuat lebih halus. Makanan ini disajikan dengan taburan seledri dan bawang goreng. Rasanya memang lebih asin dari mie ayam kebanyakan. Kekhasan cwie Malang ini adalah disajikan di atas pangsit yang dibentuk menyerupai mangkok.

Resepmakananindonesia.blogspot.com

3. Nasi Goreng Mawut 

Nasi goreng mawut khas Kota Malang sesungguhnya tak berbeda dengan nasi goreng lainnya. Uniknya nasi goreng ini memiliki campuran seperti mie, sayuran, dan aneka toping lainnya. Hingga tampaklah sajiannya semerawut, maka akhirnya dikenal dengan nasi goreng mawut. Bumbu khas nasi goreng ini ditambah saos dan kecap, sehingga memiliki cita rasa yang khas.

Nasi goreng mawut banyak ditemukan di Kota Malang, salah satu yang cukup terkenal adalah Depot Nasi Mawut Pak Iwan. Lokasinya berada di Jalan Aris Munandar Kota Malang. Di warung makan tersebut juga terdapat menu andalan lainnya yang bercitarasa chinese food.

4. Rawon

Rawon adalah jenis makanan berkuah seperti soto, namun dengan kuah hitam yang berasal dari kluwak. Makanan ini dicampur irisan daging sapi dan bumbu-bumbu khas indonesia hingga rasanya dan aromanya terasa kuat. Salah satu menu Rawon terkenal yang banyak direkomendasikan wisatawan ialah Depot Rawon Nguling yang legendaris. Tempat ini berada di Jalan Zaenal Arifin No. 62 Malang.

Pinterest.com

5. Baso Malang dan Baso Bakar 

Makanan ini memang jadi ciri khas Kota Malang, meskipun saat ini bisa ditemukan hampir di semua kota di Indonesia. Namun tidak ada salahnya jika Anda mencoba menyantap baso Malang di tempat asalnya.

Baso bakar sama halnya dengan jenis baso yang lainnya, hanya dimasak dengan cara dilumuri bumbu bercampur kecap lalu kemudian dibakar. Kedua menu ini bisa Anda dapatkan di Rumah makan Baso Malang Presiden, salah satu kedai baso yang banyak direkomendasikan.

Jika ingin mencicipi baso Malang Presiden Anda bisa datang ke Jalan Baranghari No.5. Dan bila Anda penasaran ingin mencicipi baso bakar, Anda bisa mengunjungi Warung baso bakar Pak Man di Jalan Diponegoro No. 19 A Malang.

6. Wedang Angsle

Jika tadi yang dibahas makanan utama, kini saatnya makanan manis yang bisa dijadikan menu selingan. Wedang Angsle rasanya manis, hampir menyerupai wedang ronde. Topingnya berisi putu mayang, kacang hijau, bubur mutiara, tape singkong dan ketan yang sudah dikukus. Kemudian campuran tersebut disiram dengan kuah santan yang hangat.

Wedang Angsle paling nikmat disantap kala malam hari saat udara dingin Kota Malang mulai menyerang.

Beberapa info dan referensi kuliner di Kota Malang ini telah Anda dapatkan, so, segera rencanakan perjalanan Anda mulai saat ini, karena liburan akhir tahun yang dinanti tinggal menghitung hari.[]

29 October 2016

Menutup Oktober

No comments :
Entah ada magis apa, Oktober selalu berat setiap tahun. Setidaknya bagi saya dan untuk saya hadapi. Termasuk tahun ini. Awal bulan, kejenuhan melanda. Bingung mesti berbuat apa dan bercerita kepada siapa supaya hidup saya tidak biasa-biasa lagi. Menjelang penutup Oktober, sebaliknya; situasi bagai roller coaster, memiuh adrenalin. Doa saya awal bulan agar tidak hidup lurus-lurus saja rupanya langsung terkabul pada akhir bulan.

Minggu ke lima lari Minggu pagi kemarin, pikiran dan hati terasa kosong. Mungkin efek aspal basah perbuatan hujan semalam silam yang bikin sol sepatu kurang mantap pendaratannya. Mungkin keadaan jiwa saya makin berantakan. Apalah, apalah kemungkinan-kemungkinan yang persetan, tapi jarak terjauh akhirnya berhasil saya tempuh kembali. Berharap besok pagi juga.

Kabar yang ditunggu-tunggu masih menunda agar segera berjumpa. Selasa kemarin datang ke sana disambut jalanan basah, pulang ke sini dengan mata basah. Kecengengan yang ke sekian dalam perjalanan. Saya lelah menghitungnya namun benak berinisiatif mencatat. Yang pasti, ke depannya masih ada, dan harus mulai membiasakan, karena hidup kayaknya memang begitu-begitu saja.

Kabar kabur itu menjadi kado yang paling buruk untuk ibu saya yang berulang tahun ke 62 tanggal 26 lalu. Perpaduan tanggal dan usia yang cantik. Tidak seperti kado yang saya berikan semalam itu. Sejinjing take away Hokben 26 Oktober sore sepulang kerja cuma kesia-siaan. Tahun depan, jangan lagi begini, jangan lagi.

Dua bulan lagi. Tinggalkan tahun yang sangat laki-laki. Resolusi tinggal resolusi. Sakit hanya ingin berumah di hati.[]

#Update Minggu pagi: Sakit bukan hanya ingin bermukim di hati. Tapi juga kaki! Engkel kanan kena lagi. Aaarrghh... babiiii!

23 October 2016

Keseksian Kesuksesan

2 comments :

Selama ini saya kira semua orang punya peluang sama untuk dapat berada di posisi orang yang kita idolakan dan elu-elukan dalam silau sorot lampu media. Beberapa tampil dalam sebuah talkshow, berbagi kenangan penuh perjuangan yang sempat mewarnai perjalanan dia menuju kesuksesan. "Saya dulu dilahirkan di tengah keluarga sederhana. Setiap hari kami makan bubur, karena orangtua saya dikaruniai banyak anak. Kadang tidak makan sehari itu. Sehingga saya berjualan getuk dan arem-arem ke sekolah. Uang hasil jualannya untuk membayar iuran sekolah saya dan adik-adik. Untuk apa malu? Saya lebih malu jika harus miskin seumur hidup!"

Pengakuan yang sering saya dengar dari mulut orang sukses. Tentang dahulu si orang sukses itu bukan orang berada. Berasal dari kampung pelosok negeri. Kemudian memutuskan merantau ke kota untuk mengubah nasib dan takdir dia dan keluarga. Keluar dari kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan dari parameter sukses dalam pikirannya yang sudah terjejal wejangan guru-guru dan harapan dari lubuk hati. Fast forward, sukseslah ia di kota.

Namun, apakah bila seseorang dari dusun sukses mengadu nasib di kota, orang-orang kampung lainnya harus mengikuti jejaknya? Misalkan, orang yang beruntung itu sukses merantau sebagai karyawan bank dan kariernya mulus, apakah tetangga di kampungnya harus jadi bankir juga? Mau sebanyak apa lagi jumlah dan jenis bank di sini kalau orang kampungnya saja kepikiran untuk bercita-cita jadi karyawan bank, padahal sawah upluk-aplak, sapi-sapi tinggal dikawin-kawinkan? Silakan ganti bank dengan skop profesi lain yang tak butuh-butuh amat tenaga kerja manusia, seperti pabrik misal yang lama-lama mungkin dikendalikan oleh robot semuanya, termasuk direkturnya.

Jarang saya lihat orang yang sukses di kampung halamannya. Jika ada pun, ya itu tidak seseksi ikon-ikon sukses mahasiswa Drop Out semacam Bill Gates, Zuckerberg dan mungkin akan diangkat lagi maskot mahasiswa Drop Out sukses lainnya entah untuk apa tujuan media itu ya. Oh, hmm. Mungkin lantaran kita, termasuk saya tentu, sangat gampang terpikat cerita-cerita underdog, from zero to hero, dari tiada menjadi berada, dari gembel kemudian setiap hari check in di hotel.

Sukses sudah menjadi komoditi seksi untuk dikomersialisasi. Buku-buku laris adalah self-help book yang kontennya sarat dengan motivasi menuju sukses. Andai kemarin Mario Teguh tabah dan fokus konsisten saja bersuper-super sampai menjelang ajal, mungkin negara ini bakal memelesat tanggalkan kemiskinan karena kepapaan sering beliau lukiskan sebagai epidemi menakutkan yang mesti segera diberantas buru-buru. Sayang sekali ia punya anak yang berprofesi sebagai seniman yang tak begitu mempan disumpal karya meme bercantum wejangan supaya pembacanya hidup menjadi orang baik yang super, namun mungkin ia sendiri lupa menjadi ayah yang luar biasa (silakan baca kata "luar biasa" dengan penuh semangat dan tangan terkepal menantang angkasa).

Selain kerja keras yang katanya adalah satu-satunya jalan suci menuju gemilang kesuksesan, saya rasa ada beberapa hal yang orang-orang sukses itu lupa share dalam setiap seminar. Mungkin sungguh lupa. Mungkin terlalu banyak yang dipikirkan. Saya sih lebih percaya mereka takut tak bakalan ngetop dan ngepop lagi kalau sering-sering suguhkan realita kesuksesan yang ternyata tidak butuh-butuh amat motivator.

1. Bacot

Semakin berisi semakin merunduk. Tong kosong nyaring bunyinya. Kendati adat ketimuran terus-menerus menganjurkan (bahkan mengharuskan) penduduknya agar lebih banyak bekerja daripada berbicara, tapi mana buktinya ya. Sejak kecil saya tak banyak berbicara, bahkan malas untuk berbicara dengan siapa pun dan lebih suka menulis, menggambar, rajin mengerjakan PR, membantu Ibu membersihkan rumah, gampang disuruh beli bumbu masakan yang habis ke warung, memapah nenek-nenek menyeberang jalan, dan opsi-opsi yang sering saya silangi pada soal pilihan ganda PPKn. Tapi saya belum sukses-sukses juga nih.

Sepertinya ada yang salah. Justru orang yang pandai berbohong gampang sekali lolos rekrutmen pekerjaan, lalu orang macam itulah yang mudah memikat atasan sehingga cepat naik jabatan. Mereka pun mudah untuk membuka usaha sendiri sebab dengan karunia mulut sefleksibel bola karet itu bukanlah tersebut sewujud effort untuk meyakinkan investor cairkan pinjaman dana usaha yang belum tentu berdayaguna. Seharusnya guru-guru saya dahulu menggelar kejuaraan bersilat lidah saja ketimbang calistung dan cerdas cermat cepat tepat yang tak ada gunanya bagi saya saat ini. Telanjur, saya sudah terlambat 25 tahun untuk memulai belajar berbicara.

Entahlah sekarang, masihkah pepatah untuk senantiasa berdiam agar kelak menelurkan emas itu masih terus diwejangkan guru-guru di sekolah? Mudah-mudahan sih masih, supaya generasi centennials mendatang tumbuh memelihara kenaifan dan tak begitu pinter-pinter amat sehingga gampang dibodohi dengan kecanggihan teknologi, jadi saya enak memperbudak merekanya juga jika kelak saya sempat cicipi kesuksesan, sebagaimana generasi X kepada saya.

2. Bakat

Orang yang lebih percaya pada kerja keras daripada talenta, ah menurut saya sih itu cuma justifikasi lantaran dia kurang berbakat. Realistis sajalah, meski konon persentasenya kecil dibanding kerja keras, bakat itu lumayan menentukan nasib. Apakah kamu pikir tukang servis komputer di Jaya Plaza tidak mau jadi setajir Bill Gates? Belum tentu Bill Gates lebih jago ngakalin kerusakan laptop dibanding Akang tukang servis yang penampilannya lebih mirip personil band metal daripada computer geek itu. Apa sih yang bikin mereka beda nasib? Mungkin pendidikan, mungkin stabilitas negara tempat ia lahir dan bermukim, dan saya percaya satu hal lagi adalah bakat.

Saya tidak memungkiri banyak sekali bakat-bakat muda di sini, bahkan di sekitar saya. Sehari-hari mereka tumbuh dengan kepercayaan diri dan harapan tinggi untuk kelak dapat seperti idolanya dalam bidang masing-masing. Sejak dini terus bersemangat mengasah bakatnya demi mencapai goal masing-masing. Tidur sedikit. Jarang bergaul. Habiskan masa muda dengan angka dan kata. Tapi kenyataannya, sebatas bakat tidak cukup. Setelah menyadari, ternyata malah balik lagi ke poin pertama: harus jago bacot juga.

Budaya dan latar belakang negara tentu menentukan keahlian berbicara di depan umum untuk meyakinkan investor atau katakanlah user, misal, dalam suatu penyaringan tenaga kerja. Orang luar sudah terbiasa untuk sekadar mengutarakan pendapat kepada orang lain. Namun di sini tidak begitu, biasanya. Seseorang dengan bakat lumayan pada masa kecil tumbuh dewasa dengan segala ketakutan yang ditransfer oleh orang-orang lebih tua dan berkepentingan. Jadilah waktu mendewasakan usianya namun gagal mendewasakan bakatnya. Talent hunter tentu memilih sosok yang gampang diajak berbicara sebab dengan cara apa lagi satu sama lain bekerjasama dan berkompromi jika tidak dengan berkomunikasi. Karena lebih mudah mengidentifikasi keahlian bacot daripada bakat yang sering kali hanya terkubur dalam palung hati seseorang, bahkan mungkin ia sendiri tidak sadar dianugerahi bakat itu.

3. Beungeut

Awalnya saya pikir manusia berparas cantik dan ganteng itu cuma laku di sinetron dan model reklame saja, atau setidaknya industri lain takkan begitu mendiskriminasi penampilan termasuk postur tubuh. Setelah saya alami, rupanya faktor beunget ini lumayan berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam bidang masing-masing. Jumlah orang ganteng dan cantik di kampung sepertinya tidak terlalu melimpah layaknya di kota. Yah mungkin karena tampil menawan sepanjang hari itu butuh modal, sementara mereka untuk memutuskan membeli antara baju bola KW3 atau beras raskin pun mikirnya sampai setahun. Keburu nikah dan punya anak, sebelum sempat mengukir wajah sendiri.

Jikapun orang sukses itu sering digembar-gemborkan berasal dari kampung pinggir jurang, saya yakin status mereka lumayan terpandang di mata penduduk kampungnya. Paling tidak, bapaknya tokoh masyarakat semacam ketua RT, atau setidaknya juragan kambing. Hanya, karena dikomparasi dengan penduduk perkotaan yang profesinya aneh-aneh dan berpenghasilan berdigit-digit, tentu saja kalah mentereng dan media menakar dia berasal dari keluarga sederhana.

Baiklah. Ganteng dan cantik itu katanya relatif. Tapi untuk apa kita menyertakan potret wajah saat mengajukan lamaran pekerjaan? Katakanlah itu bertujuan agar mereka dapat menghafal wajah kita sebelum benar-benar bersuamuka secara langsung. Saya agak ragu dengan alasan ini. Beberapa kali saya dengar, wajah adalah cerminan jiwa. Ini sungguh sial karena wajah saya bila saya tilik lama-lama di depan cermin malah mirip debt collector, dan lebih sial lagi, saya tidak pernah melamar ke leasing. Pantas saja pabrik-pabrik menolak saya, mungkin takut dipalak.

Dan yang saya amati, orang cantik cenderung effortless dalam memperoleh pekerjaan untuk kemudian meniti karier menuju puncak, sebelum disarankan untuk berhenti bekerja dan mengurus anak dan rumah saja, dan ini jarang sekali karena banyak yang memilih udahan daripada setiap hari mengelola jemuran yang bukan passion dia. Paling tidak dengan wajah seberuntung itu lebih mudah untuk meyakinkan orang lain. Ini memang menyakitkan. Namun mau bagaimana lagi? Tapi saya pikir ulang, faktor beungeut ini sebanding dengan bacot. Yang cantik bisa saja bego, tapi yang pandai berbicara biasanya cukup rapi dalam melipat kebodohannya. Betapa beruntung yang punya keduanya.

4. Bokap

Wuah. Tentu saja faktor terakhir inilah yang paling penting tunjang kesuksesan. Kuliah di ITB apalagi MIT dan Harvard itu bukan cuma butuh otak yang cerdas. Butuh wawasan untuk susun strategi perihal bagaimana cara-cara menembus tembok tebal kampus itu yang ternyata banyak pintu lain termasuk jalur tol, butuh mental badak yang tidak gampang panas dengan perkataan orang, dan tentu saja biaya yang hmm kamu tahu sendirilah. Lantas dari mana diperoleh semua itu? Orangtua. Stabilitas keuangan keluarga. Sementara, faktor keharmonisan keluarga masih nomor dua atau mungkin lima. Bagi yang biasa-biasa saja, sudahlah. Kecuali jika kamu adalah seorang spesial di antara puluhan juta, tentu dengan perjuangan meyakinkan pejabat kampus itu bahwa kamu cukup berbakat. Dan selain bakat, tentu butuh keahlian bacot mumpuni.

Katakanlah enggan kuliah karena lulus SMA lanjut kuliah itu sudah mainstream, dan karena kamu orang kaya kamu ingin terpandang lebih hipster senantiasa. Mau berwirausaha saja. Tentu lebih mudah bila mempunyai orangtua yang setiap harinya tidak perlu resah memikirkan jas hujan bocor karena kehujanan pulang-pergi ke kantor naik motor. Cukup minta satu anak perusahaan saja. Sudah tersebut wirausahawan muda. Mudah kan. Tapi untuk sukses, tentu butuh 3B sebelumnya. Tapi, apa sih yang tidak bisa ditebus dengan uang? Maka dari itu saya merasa B terakhir ini cukup krusial, yang membuat populasi orang sukses di dunia ini tetap sedikit dan terlestarikan sebagai sosok-sosok istimewa yang katanya sih patut diteladani.

Menjadi sukses memang berkesan seksi. Namun bagi saya saat ini, lebih nyaman untuk sering-sering ngaca dan sadar diri. Demikianlah, saya sudahi saja khotbah saya kali ini. Kalau saya cukup pandai berbasa-basi (termasuk berbasa-basi menutup tulisan ini), mungkin saya takkan kepikiran untuk buang-buang waktu menulis di sini.[]

Photo credit: Mahmood Salam

16 October 2016

Membuang yang Tabu

No comments :

Penderitaan bagi saya adalah terlampau lama bertemu dengan seseorang atau orang-orang, dalam rangka urusan pekerjaan sehari-hari atau silaturahmi sesekali. Jika terpaksa harus melakukan hal tersebut, biasanya sepulang dari suatu pertemuan, saya suka sakit perut. Karena terlalu lama menahan kentut, dan perjumpaan di restoran sambil makan dan minum bersama, tentu saja memperparah keadaan. Dan ketahuilah, ini cukup menggelisahkan.

Apalagi jika kantor atau lokasi perjumpaan merupakan ruang berpendingin udara, dan letak kamar mandi dekat sekali dengan ruangan di mana orang yang saya kenal sedang hangat-hangatnya berdiskusi. Untuk membuang angin di kamar mandi pun, saya merasa malu dan khawatir andai ledakan dari pantat yang mana saya tahu akan ber-output stereo atau syukur-syukur nir audio, bocor ke luar kamar mandi sehingga kedengaran oleh orang lain. Mungkin bagi petugas penunggu toilet, suara kentut maupun "plung" sebanding dengan ketokan palu dan gemuruh gerinda bagi tukang mebel, yang menandakan bahwa hari itu mereka lumayan produktif jalani ikhtiar hidup.

Hal ini yang bikin saya malas ketemu orang bila tidak penting-penting amat. Sebab sekalinya ketemu, biasanya tidak sebentar, dan tidak enak kalau saya permisi pulang duluan. Jadi, kalau tidak siap-siap amat untuk bertahan, mending urung sekalian. Saya malu bila suatu saat harus dioperasi dengan diagnosis gangguan perut akibat keseringan menahan kentut. Penyakit ini tidak lebih keren dari kanker dan leukemia, yang sering jadi konflik internal cerita-cerita fiksi itu.

Kenapa selalu timbul kecemasan terkait hal sesampah kentut, saya masih bingung. Dan mengapa kegiatan membuang angin yang sering kali terjadi secara impulsif dan tak dapat direncanakan secara matang, merupakan hal tabu? Padahal menurut saya, meludah sembarangan jauh lebih barbar, dan saya heran orang-orang yang saya temui sehari-hari lebih sering ketahuan meludah sembarangan daripada membuang angin (mungkin lantaran di jalan, polusi dari emisi bahan bakar jauh lebih ganas daripada busuk kentut, sehingga hidung saya luput mengidentifikasi).

Apalagi pengendara yang serampangan meludah di tengah perjalanan di depan saya, suatu hari setang motor dan sarung tangan sebelah kanan saya pernah terciprat sedikit air liurnya, dan itu lebih menjijikkan dibanding terpaksa hirup kentut seseorang, sebab jika sikap toleran dan empati sedang tak berkenan, cukup saya menghindar dari pekat aroma itu, semisal keluar dari ruangan tempat kami berada untuk mencari udara netral yang lebih melimpah di luar. Sementara air liur, bisa saja mengandung kuman-kuman penyebar wabah melalui media udara yang saya tak tahu seberapa cepat dan awet tingkat penyebaran penyakit suatu ludah.

Saya percaya dalam seciprat air liur terkandung rupa-rupa virus dari sosok peludah. Tapi kentut? Bukankah kentut cuma angin yang numpang lewat dari perut ke lubang dubur begitu saja, dan angin dari perut yang sejatinya netral terkontaminasi menjadi sengit karena mesti pula lalui pasokan tinja, lantas lekas bergabung dengan udara sekitar, hanya tenggat penetralan di udara bebasnya saja yang berbeda-beda sehingga cukup mengganggu pernapasan orang sekitar. Apakah kebiasaan membuang angin harus selalu tergolong perilaku yang tabu?

Saya menunggu riset ilmiah perihal tinjauan fisiologis dan sosiologis perilaku membuang angin sembarangan kelak memperoleh penghargaan Nobel. Segera.[]

Photo credit: eyesontheskies

09 October 2016

Lari Lagi

2 comments :

Sudah pekan ketiga saya lari pada Minggu pagi. Padahal sesungguhnya, pada satu-satunya hari libur itu saya hanya ingin bangun siang dan membaca buku seharian di kamar sampai larut malam dan ketiduran untuk kemudian terjaga sambut Senin yang selalu dibenci. Tapi mau bagaimana lagi, saya ingin sehat.

Tekanan darah yang tinggi cukup menyiksa saya akhir-akhir ini, sebelum memutuskan kembali berlari. Melalui pusing di kepala, dan pencernaan yang kurang nyaman. Hari-hari pun saya lalui dengan serapah. Terus membenci kondisi yang sudah telanjur begini dan merisak nasib diri sendiri. 

Sampai muncul cetusan untuk keluar rumah tanpa motor, atau bahkan satu hari tanpa mengendarai motor sama sekali. Cukup keluar dengan celana pendek, kaus longgar (supaya tidak terlalu kelihatan bahenol), sepatu olahraga, dan uang secukupnya untuk ongkos angkot. Pukul setengah enam kurang sepuluh saya pergi untuk berlari ke tempat yang banyak orang-orang berlari. Lumayan, pulangnya ramai ibu-ibu lagi senam sambil teriak-teriak menggugah syahwat di parkiran supermarket, membeoi instruktur senam yang mungkin lebih cocok jadi biduan dangdut. Cukup menyegarkan letih, tapi, ah, sudah tua-tua sih.

Percobaan minggu pertama hasilnya badan sakit semua: perut kalikiben (pasti gak tahu artinya), paha merah-merah, dan kaki susah dipakai untuk langsung bangkit dari tidur atau duduk tanpa tangan ikut membantu menahan ke lantai atau kursi. Padahal minggu pertama, saya lebih sering berjalan daripada berlari. Minggu kedua hanya kaki kanan yang sakit, dan keesokan harinya rasa pegal itu langsung lenyap. Akhirnya Minggu pagi tadi, alhamdulillah tidak ada anggota badan yang manja. Padahal jarak berlari sudah lebih jauh dari dua Minggu sebelumnya dan saya berlari tanpa berhenti. Mungkin tubuh sudah adaptasi. Atau mungkin saya lebih lama berpura-pura melakukan pendinginan di depan parkiran supermarket. Bahagia itu gitu aja kali ya.

Jujur, saya ingin melanjutkan rutinitas Minggu pagi ini secara istiqamah. Bukan, bukan lantaran kebelet kurus. Itu sih... susah. Saya cuma ingin sehat. Yang saya rasakan saat sedang berlari, otak seolah melepaskan beban-beban pekerjaan yang tak pernah terselesaikan, dari harapan yang tak kunjung sampai. Dari masa lalu yang sebenarnya berat untuk dilepaskan tapi berat pula untuk dikenang-kenang. Pain dan fear itu mungkin memang semu dan cuma iseng nangkring di otak. Cara melepaskan diri dari belenggu itu, ternyata cukup dengan menggerakkan seluruh badan lebih dari 45 menit.

Sebada berlari, saya merasa hidup. Benar-benar hidup. 25 tahun kemarin mungkin saya cuma pura-pura dan seolah-olah hidup. Karena saya tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab dalam kenyataan meski sudah beberapa kali keras berusaha (usaha macam apa ini), cukuplah sekali seminggu saya ingin sejenak berlari dari hal-hal nisbi. Walau tak satu pun peduli, walau segala hal telah terukur materi. Ah, penutupan sampah macam apa ini.[]

Photo credit: Markus Goller

25 September 2016

Merayakan Makan

No comments :

Dalam keseharian, saya sering menemui kegiatan makan diadakan dalam rangka merayakan keberhasilan seseorang mencapai gol demi gol dalam kariernya, keriangan atas bertambahnya usia teman dekat, hingga ritual tambahan ketika membincang urusan pekerjaan. Makan, bukan lagi sekadar menyuap-memamah-menelan sehidang santapan lezat, kemudian tersenyum puas penuh kekenyangan, namun sebagai aktivitas yang pantas untuk dirayakan.

Kenapa, ya, harus makan? Padahal masih banyak kegiatan lain yang tentu lebih berfaedah bagi orang-orang sibuk itu untuk isi dalam waktu mereka yang sempit. Mungkin, olahraga terlalu muluk untuk dihelat bersama-sama karena tidak semua orang punya bentuk tubuh yang cocok dan lingkar minimal kebuncitan perut untuk berolahraga (dan tentu saja tingkat kemalasan masing-masing orang pun berbeda). Makan, terasa lebih komunal karena rata-rata kita makan tiga kali sehari. Jadi kesempatan untuk bersepakat janji di meja makan lebih tinggi peluangnya ketimbang merencanakan pertandingan olahraga di gelanggang yang belum tentu terlaksana setiap pekan dan tak semua orang rutin melakukan.

Termasuk lobi-lobi janji-janji dan perundingan korupsi, semua berawal dari meja makan. Kencan pertama, biasanya diawali oleh ajakan untuk makan di suatu tempat yang menurut keduanya istimewa, seistimewa pertemuan dan kesan pertama yang selalu manis. Ibu dan bapak yang sama-sama sibuk membesarkan perusahaan masing-masing, tiap malam menyempatkan duduk bersama di meja makan, mendengarkan anak-anak (yang dibesarkan pembantu) bercerita tentang betapa menyenangkan suasana di sekolah. Yah, peristiwa ini memang seharusnya, bukan senyatanya. Pada realitasnya sekarang, ibu dan bapak lebih sering makan bersama rekan-rekan kerja dan klien di luar, dan lidah anak-anak terpaksa lebih akrab dengan masakan pembantu yang referensinya apa adanya, begitupun dengan selera tontonan televisi.

Sementara selera ibu dan bapak sudah terbiasakan dengan makanan di luar rumah; menu-menu apa saja yang mudah diketemukan di sekitar tempat mereka bekerja atau mengadakan pertemuan dengan kolega. Semakin deras arus urbanisasi membawa efek lain dalam bentuk keberadaan penjual makanan pada suatu kota tujuan pencari kerja. Sampai-sampai, soto Madura dan Lamongan mewujud kuliner khas setempat yang klop bagi segenap umat, sementara tidak semua orang Bandung suka soto Bandung, bahkan sekadar tahu pun tidak. Hambar, kata orang-orang yang saya kenal, sebagaimana makanan Priangan lain yang begitu-begitu saja, katanya, sama saja dengan sajian sesehari, padahal bagi saya, lebih hambar suatu hubungan yang dipaksakan kemudian didorong dilanjutkan ke jenjang entah itu.

Ngomong-ngomong perihal masakan hambar. Saya percaya, pembentukan selera lidah paling ideal adalah berasal dari olah tangan ibu sejak kita kecil. Memang, belum tentu semua ibu mahir memasak seperti Ibu Sisca Soewitomo atau sekaligus semolek Farah Quinn. Bila boleh jujur, masakan ibu saya pun tergolong hambar. Alih-alih membuka rumah makan dengan nama "Rumah Mamah", sepertinya sulit untuk memenuhi standar 'maknyus' atau 'nendang' atau 'lazies', maupun melampaui 4,5 bintang di situs-situs pengulas makanan. Makanya sejak dulu, saya agak segan untuk membawa teman-teman ke rumah lama-lama, selain karena rumah kami tidak ada halamannya, untuk parkir motor pun susah.

Namun demikian, setidaknya ibu tidak akan setega mamang gorengan untuk turut melumerkan plastik minyak curah ke wajan panas tatkala menggoreng perkedel jagung. Meskipun kurang garam sebab beberapa pelanggannya hipertensi, tidak terlalu gurih karena sudah berhenti pakai vetsin belasan tahun belakangan, dan dimensi yang jauh dari kaidah proporsi, saya merasa aman mencicip lantas membekalnya bersama capcay untuk makan siang di kantor pun, dan yah, aman pula bagi keutuhan gaji yang masih jauh dari batas bawah taraf kelas menengah ini.

Saya pikir anugerah aktivitas makan adalah nikmat yang paling besar dari Yang Kuasa. Sebab apa susahnya bagi Tuhan untuk mengenyangkan jutaan perut manusia tanpa kita harus berepot-repot mengunyah dengan gigi berlubang setelah sebelumnya untuk mencari dan memperolehnya pun susah. Mungkin saya takkan pernah mencicip ajaibnya santan rendang Minang dan kuah tujuh rupa lainnya, hasil dari perjuangan memeras otak dan meredam sakit enam hari dalam seminggu. Atau manisnya sepotong kue pada kencan pertama berlatar gerimis, mustahil dapat saya kenang tanpa karunia indera satu ini. Peristiwa nikmatnya makan sudah setara dengan kemenangan yang mustahil terasa bermakna tanpa adanya pengorbanan, dan sama-sama pantas untuk dirayakan.

Di luar mulai hujan, saat yang tepat untuk makan. Kebetulan Ibu sedang memanggang ketan. Mari makan![]

Photo credit: Robin Dahling

17 September 2016

Taifun

No comments :
[Kepada Barasuara]

1
Di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari
Kau selalu tergelisahkan dengan pertanyaan: apakah kaki lebih cocok digunakan manusia berjalan atau berlari? Sedari kecil kau tak pernah kencang berlari. Badanmu terlalu berat untuk berlari sementara sebayamu terlahir dengan genetik kurus-kurus sehingga nyaman berlari meninggalkanmu terbelakang. Ketertinggalan semakin terkondisikan oleh tidak ada kejuaraan berjalan kaki, kalau ada pun jalan cepat, sama saja adu cepat dan itu pun tidak sebergengsi kompetisi berlari.

Suatu hari kau mencoba pelarian tempatmu dapat berlari lebih kencang dari yang lain tak kuasa. Berlatih sampai raga letih meretih. Berpeluh-peluh dan berdarah-darah sampai terjatuh. Terjatuh lalu bangun lagi. Bangkit berdiri berlandas kaki yang pedih, bagaimanapun kau harus lanjut berlari agar tak mudah tersalip orang lain yang juga sama-sama mengusahakan kolam pelarian masing-masing.

Semakin kencang berlari kau kian merasa sendirian di antara banyak orang yang berlari sedikit lebih lambat atau bahkan jauh lebih lesat darimu, lampaui seyogianya. Padahal kaurasa belum mencapai apa-apa, masih bukan sesiapa, belum telurkan buah yang bagaimana-bagaimana. Gulir waktu tampak gerah dan jijik dengan masa lalu, memaksamu lebih cepat dan tambah lesat berlari menujunya: siklon taifun yang menyesatkan namun silau pukau untuk kauikuti pusarannya.

Dalam progres pelarian tanpa batas, kau berjumpa dengan lawan paling sulit tertaklukkan: dirimu sendiri, sehingga kauputuskan untuk sejenak berhenti, duduk berdua dengannya, berihat sesap kopi sepahit hidup. Kau ternyata lebih mengerikan dari iblis dan butuh iman dan kehati-hatian untuk kerkahkan batumu. Sialnya, kau lupa letak peti perkakas di mana palu ada.

2
Tawamu lepas dan tangis kau redam di dalam mimpi yang kau simpan sendiri
Petik-petik pentatonik mengutik mimpimu dalam tidur panjang pada derita malam panjang. Mimpi datang mengetuk lawang angan, yang telaten kauketik saban malam di halaman-halaman kosong tanpa gunduk-gunduk bunga dan rumpun pegagan. Hanya ada kau dan dia, yang sekarang tiada.

“Dunia bukan suguhan panggung tepat untuk kita dapat duduk manis dan tertawa selepas kita melepas kecam,” kau mengesah padanya, “relakan tawamu untukku, tukar dengan sedikit tangisku ya.”

“Tidak.” Rupanya dia menampik. “Aku malas berbagi tawa. Kau sendiri pelit bagikan bahagia. Aku ingin bahagia. Senantiasa. Ya!”

Kau tak punya pilihan selain mandiri meredam tangis, merendamnya dalam seember mimpi tersia-sia. Penghuni semesta milyaran, tapi tak satu pun rela berbagi tawa. Dan semua hanya ingin melihatmu tertawa dan bahagia. Tangis hanya cocok untuk dibenam mimpi. Mimpi, mungkin, adalah tanah pengurai segala, bukan pengabul doa.

3
Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu
Lelah berdoa membuatmu berhenti, menyesap kekosongan yang orang lebih suka menyebutnya kehampaan. Tiada peduli yang asli selain kau sendiri yang mengkreasi. Bukan dari orang lain sekalipun mereka menjual dan kau sebetulnya mampu membeli. Kau kontemplasi apa yang telah kaulakukan selama ini: kebodohan, kecerobohan, kemunafikan. Menerima orang lain, bagimu, jauh lebih mudah dari menerima dirimu sendiri. Hingga selama ini sudah berapa topeng yang kau kenakan berganti-gantian sesehari, kau lupa, entah sudah berapa kali ketahuan, kau jauh dari ingat.

Desah napas rutin bermain dengan udara gratis yang bersirkulasi tanpa butuh regulator. Apa lagi yang kau cari? Kau bersibuk telusuri yang tak ada. Menelisik sesuatu yang lebih asyik. Menerabas batas-batas. Merundung ragu. Yang terakhir adalah kesalahan. Usainya kau sadari, ragu cukup fungsional sebagai gawai lacak lokasi menuju impian fanamu. Sayang, kau lebih andalkan yakin yang rupanya hanya sebatas mungkin. “Tak semua yang kau inginkan akan mudah kau dapatkan.” Dulu kau benci dan anggap ayat ini semacam konspirasi yahudi, namun sekarang kau perlahan mengimani.

Pencarian segenap yang fana dari berjuta menggiringmu sampai pada papan petunjuk jalan yang mengarahkanmu kembali. Padahal kau sudah lelah berlari dan berlari. Jauh jarak yang sudah kau tempuh hanya menyuruhmu untuk menempuh jarak yang sama untuk pulang kembali pada dirimu sendiri.

Dalam perjalanan pulang kau bergulat dengan diri sendiri. Beberapa kali mengusahakan untuk membunuhnya supaya lekas enyah dari marcapada sebab tiada guna. Kalian saling tuding kesalahan, silih todong kelemahan yang kalian sama-sama tahu kalianlah yang sedang kalian saling caci-maki.

Berbulan-bulan perjalanan pulang, menyeretmu yang masih dalam pergumulan pertikaian ke pantai damai. Kalian berdua memang tak begitu mahir berenang, namun setidaknya kesiur damai pantai membelai batu di balik ubun-ubun hingga kalian terjerembab penat dipeluk pasir-pasir kasar. Kalian sama-sama alami kekalahan. Akankah saling mengakui dan tak menuding diri paling hebat?

4
Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu
Kecakapan waktu perihal mengukir keriput manusia senja, sama baiknya dengan kemampuan ia mengikis angan. Ia menggelinding cepat ketika kau tengah meneguk suka. Ia melambat saat duka sedang khusyuk merisak. Kau dambakan selasar tanpa ruang dan waktu. Sayang keduanya adalah suami istri yang harmonis.

Sesekali ruang pergi saat kau bermimpi. Hanya ada waktu bersamamu dan suatu masa kau diundang menghadiri pesta di kamar bola. Di sana hanya ada waktu, waktu, dan waktu. Ternyata banyak. Kau dapat memilih satu waktu paling cantik: yang kakinya bagus bersungkup stiletto, betisnya kurus, leher sejenjang angsa, bibir sepenuh harapan, mata seteduh pokok angsana.

Seperti ke mana pun, perjalananmu menuju kamar bola ditemani ragu. Kekasihmu? Tidak tahu. Ia bukan sesiapa tapi selalu ada sejak kau jatuh ke semesta. Sesekali ia mendekap sambil mencumbu, namun lebih sering membelenggu. Meski kau risih tapi ia seperti setan yang tiba-tiba ada tanpa kau sempat merapal doa. Sampai tiba di lawang kencana kamar bola, ia menghilang seperti angan. Yang kaujumpai di dalam hanya ada waktu, yang kelak satu paling menawan di antara waktu menari bersamamu.

“Ragu pencemburu ya,” tukasmu dalam hangat dekap waktu. “Padahal aku siapanya dia, sih? Tahu gitu, aku selingkuh saja denganmu dari dulu, waktuku sayang.”

“Emmh. Yah. Biar dia kencan dengan ruang saja. Dia cukup KDRT. Aku tak sanggup lagi mengisi ruang sepenuh waktu. Aku juga pengin punya waktu luang!”[]

09 September 2016

Kenangan yang Terpaksa Diganti dan Mustahil Kembali Lagi Tetapi Mungkin Memang Seharusnya Demikian Sayangnya Selalu Berat untuk Merelakan

4 comments :

Tidak puas meninggalkan jejak penyakit yang mulai aneh-aneh, tapak-tapak penghujung Agustus pun menginjak-injak masa lalu saya. Hard Disk Drive laptop rusak.

Mulanya, Selasa pagi akhir Agustus, terdengar bunyi klok-klok sesaat setelah saya menyalakan laptop untuk segera bekerja. Tampilan layar masih begitu-begitu saja, pertanda BIOS masih belum terangkat oleh boot. Lebih dari tiga kali dimatipaksa melalui tombol power, akhirnya OS berhasil booting. Namun dasar saya si penasaran dan tukang coba-coba alias si raja tega, saya shut down lagi laptop, ingin mengujinya apakah masih begitu. Ternyata masih. Bunyi klok-klok dan OS gagal booting, sebelum tiga-empat kali dimatipaksa sebagaimana sebelumnya.

Sesampai di rumah saya semakin gelisah ratapi nasib laptop saya. Masihkah dapat diselamatkan data-data yang telah saya kumpulkan dan kreasi lima tahun belakangan yang lebih berharga daripada harga dua juta sembilan ratus sembilan puluh ribu rupiah pada bulan Desember 2012. Hasil akhir adalah laptop saya tidak sanggup untuk booting, meski sudah lebih 20 kali saya pencet-pencet tombol power (iya, kelakuan biadab ini pula mungkin yang menambah kegagalan booting si putih untuk selamanya). Untungnya seluruh data pekerjaan sudah disalin ke flashdisk. Selebihnya: menguap seperti uang gajian.

HDD laptop rusak. Ah, cerita lama.

*

Akhir 2012 pun laptop pertama sebelum laptop ini mengalami hal yang sama. Gagal booting. Bahkan lebih parah, kalaupun berhasil booting, namun kemudian mati mendadak tanpa bilang punten. Analisis saya sama, paling-paling HDD-nya rusak entah bad sector entah memang terdapat ketidaksesuaian pemutar mekanisnya atau malah mainboard-nya yang telanjur kena. Hanya waktu itu saya langsung beli laptop baru ketimbang mereparasinya seperti sekarang, sebab saya masih kurang percaya dengan penyedia jasa servis apa pun di Bogor. Malas berurusan dengan penjual jasa di sana yang lebih sering bilang tidak bisa dan tidak ada.

Sementara sekarang, karena pekerjaan menjadikan laptop bagi saya seibarat cangkul bagi petani (sebetulnya sih emang gak punya duit lah, boro-boro bisa beli Macbook impian), ya sudah esok harinya terpaksa izin absen sehari demi mereparasi laptop ke salah satu gerai servis khusus laptop di Jaya Plaza Ahmad Yani, Bandung. Gejalanya langsung ketahuan: HDD-nya tidak dapat diselamatkan dan harus diganti dengan yang baru.

Tidak ada pilihan lain, saya mengiyakan satu-satunya solusi. Menunggu tukang servis membongkar hard disk lama dan membersihkan seisi laptop termasuk mengakali kipas prosesor supaya terus berputar konstan dengan kecepatan maksimal karena laptop beroperasi langsung dari sumber arus bolak-balik tanpa baterai, pekerjaan yang sebelumnya tidak kepikiran untuk dilakukan sendiri.

"Hard disk lamanya bisa dibenerin gak, Kang? Sayang euy, banyak kenangannya."

"Bisa. Tapi lama dan mahal. Minimal seminggu, biayanya sejuta lima ratus lebih lah. Itu pun belum tentu berhasil. Kalaupun berhasil, belum tentu semua sektor hard disk selamat, A."

"Sejuta lima ratus? Emang harga hard disk 320 GB baru berapa?"

"Tiga ratus lima puluh."

"Oh, gila, benerin hard disk lama hampir setara lima kali beli hard disk baru?"

"Begitulah, A. Tapi kebanyakan sih pada nyerah atau saya yang udah gak sanggup. Tuh liat, tumpukan hard disk rusak orang-orang di dalam etalase."

Di balik etalase sebelah kiri saya yang tukang servis tuduhkan, memang saling tumpuk aneka hard disk berbagai kapasitas dan merek. Tindih-menindih. Cenderung berantakan, seperti tidak ada harganya bahkan bagai tidak pernah alami masa-masa berharga. Kata tukang servis, banyak yang merelakan hard disk lamanya di sana. Tidak dibawa pulang. Mungkin karena tak ada gunanya membawa pulang dan menyimpan hard disk yang sudah mustahil diakses. Yah, merelakan sesuatu atau seseorang kenyataannya memang menyakitkan. Tapi harus dan mau bagaimana lagi. Barangkali hard disk baru akan lebih baik... setidaknya lebih awet.[]

04 September 2016

Sabotase Notifikasi Tinggi

4 comments :

Sabtu malam seminggu yang lalu, saya memaksakan pergi ke dokter sebab sudah tak sanggup menahan rasa sakit di telapak tangan kiri. Walaupun sempat ingin mati, sejujurnya saya tidak berani-berani amat hadapi hidup setelah mati. Jadi, saya periksakan saja kesehatan saya supaya dapat kembali bekerja dengan nyaman sentosa, meski taraf kemakmuran ini masihlah jauh, setidaknya dunia ini selalu menarik untuk ditunggu kelucuannya.

Terdapat tonjolan di telapak tangan kiri. Jika dipencet rasanya sakit. Kurang lebih seperti rasa yang ditinggalkan tisikan jarum donor darah: dua tiga hari kemudian pegal dan kebas seperti ada yang mengganjal, pernah merasakan? Nah, semacam itu: pegal, sakit, mengganjal, ketiga sensasi ini mengganggu aktivitas saya yang lumayan menguras emosi dan iman selama empat hari, dan hari ke empat saya menyerah.

Sebelum masuk bilik periksa, lengan saya dikepit sabuk tensi oleh perawat. Dahinya berkerut saat matanya mengeker jarum tensi. Sekali lagi ia mengulang pengukuran, sebelum beritahukan bahwa tensi saya 160/100. Tinggi sekali, katanya. Pusing tidak, tanya dia. Saya tidak merasa pusing waktu itu. Biasa-biasa saja. Cuma tonjolan di telapak tangan kiri yang sakit. Kepala tidak. Hati, sedikit. Tapi itu tidak penting.

Semasuknya bilik periksa, dokter memindai ulang tekanan darah saya oleh alat tensi digital, lebih akurat tentu saja. Hasilnya: 180/110. Saya mendadak lunglai. Aneh. Tekanan darah setinggi itu, orang-orang termasuk orangtua saya biasanya mengalami gejala pusing luar biasa dan lekas dilarikan ke UGD. Tapi, saya kok tidak merasakan gejala itu. Saya duga ada kabel yang putus pada sistem syaraf sehingga gagalkan transmisi notifikasi tinggi tekanan darah ke otak. Butuh solder dan sedikit timah untuk kembalikan fungsi semula, barangkali.

Dokter bilang gejala sakit di telapak tangan ini bukan berasal dari bisul. Saya pikir juga demikian, toh tonjolan ini tidak berwarna selayaknya bisul yang merah. Namun disebabkan keseharian saya mengendarai motor kopling 55 kilometer pulang pergi setiap hari, dan macet sepanjang jalan, bukan cuma di persimpangan. Dan penyebab tensi tinggi, selain faktor genetik saya yang sungguh jelek, tentu karena kebanyakan makan mi instan, batagor Isan hampir tiap pulang kerja, dan santapan gurih lainnya. Bekerja sebagai kuli data beberapa bulan belakangan memang merangsang selera makan yang maksimal; kalau tidak manis sekali, ya gurih paripurna. Kehambaran cuma kesia-siaan.

Pemuda 25 tahun. Ubanan. Sarjana Kimia tidak terpakai. Bekerja serabutan. Tensi darah 180/110. Indeks Massa Tubuh demikianlah adanya. Masihkah negara ini sandarkan harapan perubahan kepada pemuda? Bukankah yang tua-tua di sana masih ingin terus berbahagia? Ah, baiknya minum obat dulu. Tidur siang. Mimpi yang panjang. Kecup rindu: nasi padang.[]

22 August 2016

Seperempat

2 comments :

Apa yang saya rasakan jelang pergantian hari ini? Biasa saja. Sebiasa sambut hari Senin yang terkondisi sarat kebencian itu. Pagi nanti saya harus bekerja sebagaimana biasa. Sebelum mandi dan berangkat, seperti biasa melahap 7 minutes workout terlebih dahulu, agar selalu sehat menghadapi yang sakit. Menyelesaikan yang takkan pernah selesai. Menghadapi hal biasa yang menolak dihadapi dengan biasa. Berusaha mencintai yang tiada.

Tapi memang, wahai sekte 91, hari ini saya resmi bergabung dengan kalian. Berikut saya angsurkan lembar fotokopi KTP untuk distempel dengan angka dua dan lima besar-besar, atau digunting seperempat bagian, sesuka kalian. Asal jangan kalian kasihkan ke partai berwarna orang meninggal, ya. Saya masih ingin hidup.

Bersyukur, teramat bersyukur, saya dapat mencapai seperempat ini, akhirnya. Memasuki awal tahun, saya mulai terbentur berkali-kali, demikian bulan demi bulan. Suatu hari saya sempat ragu untuk melanjutkan hidup dan mantap untuk mengakhiri saja. Manusia memang perlu terbentur untuk kemudian dapat tulus bersyukur. Krisis seperempat itu benaran ada, penelitian belasan tahun silam itu tidak lebay-lebay amat seperti yang sebelumnya saya duga. Zaman memang sudah berbeda. Masalah baru datang bermacam-macam dan kadang mengada-ada. Sayangnya sifat manusia dari dulu selalu sama. Selalu mencari yang tak ada.

Ke mana mimpi-mimpi itu melejit? Mungkin masih menggantung manis pada ketiak langit. Kenyataannya, kita harus berdiri sendiri di permukaan bumi, tak baik menggantung apa-apa pada apa dan siapa, bolehlah sesekali menjerit bila memang kepalang sakit. Rasa peduli hanya cocok untuk diritualkan masing-masing, bukan demi tuntutan saling. Saya ingin pulang, pulang ke rumah. Letaknya ada di dalam hati sendiri, yang masih terbebat sarang. Semoga lekas tersibak ruang-ruang yang terang. Semakin lapang.

Sudah. Segitu sajalah. Menulis perihal seperempat sekadar dengan seperempat niat, ya beginilah. Lebih baik energi penuhnya saya limpahkan untuk tiga perempat mendatang saja, ya. Mari kita goyang jigo; dua lima, dua lima, semoga makin istimewahhh![]

Photo credit: Booji Wooji Man

17 August 2016

Dedas Resah

2 comments :

Walau benci perubahan teknologi dan zaman, saya malah memaklumi perubahan seseorang. Saya rasa, orang-orang sibuk yang pikirannya penuh dengan dunianya, tampak lebih mudah mengubah sesuatu daripada dirinya sendiri, dan menuntut sekitarnya agar seperti dia. Dunia gegas berubah, seseorang laksana mustahil berubah, kesannya. Padahal realitas tidak selalu seperti itu. Saya mengakui perubahan diri seiring beceknya pengalaman-pengalaman yang ganti-mengganti menggenangi. Dan saya merasa gejala ini baik-baik saja, cukup dengan menjalaninya.

Sayang, orang-orang yang mengenal kita pada masa lalu, mendambakan diri kita yang dulu. Yang culun, lugu, mudah dirayu dan ditipu. Sekarang tiba-tiba datang, bersikap seakan paling mengenal diri kita ketimbang kita memahami diri sendiri. Padahal belum tentu mereka mengenal kita dengan baik, apa lagi berusaha mengenali. Mungkin saja dulu kita belum tahu diri ini siapa dan hendak berbuat apa, maka terus berpura-pura terasumsi baik, dan apa-apa itu baru ketemu sekarang, setelah tak lagi intens bertemu orang-orang masa lalu. Mereka lewatkan puluhan episode-episode kehidupan yang memang tak penting pula untuk mereka tunggu-tunggu dan saksikan, sebab mereka hanya ingin menonton yang baik-baik. Dan tahu sendiri peluang antara nasib baik dan nasib buruk lebih besar mana?

Kita bertambah tua, berpura-pura muda hanyalah usaha sesia-sia memasrahkan tubuh ideal pada teh hijau dan bergelas-gelas jus. Menuanya usia adalah hal yang pasti, kurang menjual untuk diperdebatkan semacam teori bahwa bumi itu datar. Dongeng keresahan lamat-lamat berubah dari penderitaan kesendirian pada malam Minggu menjadi tekanan pekerjaan yang kita tidak tahu kapan terselesaikan. Nafsu makan mulai berkurang setelah sadar bahwa sepincuk nasi padang itu terkalkulasi lumayan mahal bila dibandingkan dengan sallary yang begitulah. Melihat orang terdekat satu per satu menikah, hasrat untuk menikah kian enyah.

Tambah menyadari bahwa nasihat orangtua adalah senyawa damai menyejukkan bagai usapan kabut pagi pada wajah yang kini kian jarang menyaput. Orangtua pun semakin tua, tidak lagi mampu menggebu-gebu menceramahi anak-anaknya seperti dulu. Padahal nasihat menyebalkan pada usia saat ini sangat-sangat dibutuhkan. Mungkin karena sudah memasuki masa pensiun sebagai abdi negara, memilih pensiun pula sebagai abdi keluarga. Dan masih saja saya merasa belum siap berjalan sendiri, padahal waktu selalu menolak untuk berhenti.

Petuah untuk berbuat ikhlas itu benar adanya. Mengharap terlampau besar hanya akan datangkan kekecewaan yang sebanding. Sayang sekali saya hidup pada zaman menerima lalu memberi. Keikhlasan dapat diperjualbelikan. Segalanya tertakar dengan uang. Sayang sekali tidak semua orang berkecukupan menggudangi lembar-lembar hijau yang terkadang panas itu. Dan lagi-lagi, mereka cuma dapat menjual satu-satunya harta: keikhlasan.

Semua akan berubah. Semua harus berubah. Saatnya berinvestasi keikhlasan agar tak sering-sering berbuat ulah, menjaga ritme langkah. Dunia ini sudah lelah mengisap dosa-dosa rasywah.[]

Photo credit: Alex Kiausch

07 August 2016

Lagu-Lagu yang Cukup Nyaman Didengarkan Ketika Hidupmu Kau Rasa Kurang Bahkan Jauh dari Standarisasi Kenyamanan

4 comments :

Saya ingin sekali saja merasa nyaman. Rasa yang hangat terperam di dalam hati adalah cemas. Bukan rasa nyaman. Apa lagi aman. Lama, dan ke sana ke mari saya telusuri, tak kunjung menemukan. Seperti mencari jodoh yang cocok, mungkin kita cuma sedang berbodoh-bodoh memburu bayangan kita sendiri. Konsep mencari jodoh sudah mulai terkesan bodoh. Saatnya membentang jalan sendiri untuk temukan orang lain, bukan bayangan diri.

Ciptakan rasa nyaman bagaikan orang zaman dulu yang lebih suka memasak sendiri daripada membeli. Lebih sehat dan alami tanpa penyedap artifisial. Entahlah kalau nanti Unilever mulai menghidu peluang untuk mengkapitalisasi rasa nyaman. Mungkin bakal muluskan kita dalam membeli se-sachet kenyamanan yang bergelantungan rapi pada seutas kawat di warung sebelah rumah. Lama-lama ada kenyamanan berformalin; yang lebih tahan lama.

Rasa nyaman pun, mungkin, hanya dapat dibikin sendiri-sendiri, dan memang sebaiknya dikonsumsi sendiri-sendiri. Berbagi kenyamanan sering didaulat riya. Menabur kenyamanan maupun menebar kebencian sama-sama dihakimi massa. Satu-satunya media pemerataan kenyamanan yang dapat kita kompromikan mungkin hanya lewat nada-nada. Iya, nada-nada yang sama-sama kita unduh dari internet itu. Tanpa internet, apalah saya ini, mungkin sepanjang usia cuma hafal nama-nama Menteri Kabinet Pembangunan VI.

1. Oasis - Don't Look Back in Anger

Memaknai maksud lagu ini sebagai hal-hal yang sudah telanjur kita perbuat kemudian sesali, sebaiknya lupakan. Dan bersabarlah. Sering kita begitu ingin mencari tempat berlabuh yang paling nyaman dan aman. Kenyataannya, sesuatu yang tampak menakjubkan akan perlahan-lahan memudar. Jangan lihat belakang, setidaknya untuk hari ini. Besok, ucapkan lagi: jangan tengok yang sudah berlalu, lagi, setidaknya untuk hari ini. Sampai akhirnya benar-benar melupakan.

2. Prince - Purple Rain

Entahlah. Hujan ungu saya tafsir semacam kebahagiaan, tentu saja ini lekat dengan kenyamanan. Terlampau sering bersama-sama dengan seseorang tanpa pretensi apa-apa. Hanya ingin melihatnya senantiasa tertawa. Hanya ingin saksikannya selalu bermandi kebahagiaan. Lebih berminat berperan sebagai teman daripada sekadar selingan akhir pekan, meski waktu terus bergulir. Demi terjaganya keutuhan pertemanan. Demi kebahagiaan dia seorang. Padahal, siapa tahu perasaan yang paling nahas berkorban? Wow... Prince, damailah di sana.

3. Sting - Take Me to The Sunshine

Bekerja, bekerja, bekerja. Memangnya kata kerja "bekerja" ini benar-benar bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari? Orang tergila-gila bekerja sepanjang tahun. Hasilnya, polusi udara dan polusi suara melengkapi kegilaan kota tempat mereka bekerja. Terlalu banyak bertemu orang setiap hari namun tidak punya teman untuk sekadar bertukar cerita. Lagi-lagi, pancaran kepedulian orang lain adalah kefanaan yang perlahan akan melamur. Kemudian menyadari, hanya sinar matahari yang benar-benar tulus distribusikan energi pada semesta tanpa hitung-hitungan efisiensi neraca energi.

4. The Rolling Stones - You Can't Always Get What You Want

Perempuan yang semula kita cintai, akhirnya memilih bersama orang lain pada momen resepsi pernikahan. Pekerjaan yang diidamkan sejak kecil tidak kunjung datang sebagai takdir. Pemerintah yang sedari dulu tak pernah memuaskan rakyat (padahal itu adalah satu-satunya pekerjaan mereka) walau telah berganti-ganti pimpinan dengan menjual segembol harapan. Sebab kau tak selalu diizinkan untuk peroleh apa yang kau inginkan. Mungkin yang sesungguhnya kau butuhkan, lebih butuh untuk kau inginkan mulai dari sekarang, daripada yang semula kau cita-citakan dan perjuangkan sebagai keinginan.

5. Sting - Shape of My Heart

Segelintir orang anggap perjudian (dalam arti sebenarnya) adalah meditasi. Memang, hidup pun tumpat dengan perjudian, dalam rerupa pilihan untuk kemudian bebas kita ambil dan tentukan. Obyek berlian mungkin sebanding dengan uang dan ketenaran. Yang diperebutkan banyak orang. Namun Sting merasa itu bukan dirinya, setelah sempat ia mencoba dan berdiri di puncak sana, tentu saja. Ia merasa tidak punya banyak koleksi topeng, yang ia punya dan kenakan cuma satu: wajahnya.

6. Oasis - Stop Crying Your Heart Out

Membujuk kita agar bangun dari keterpurukan. Lupakan yang sudah terjadi dan apa-siapa telah melenggang pergi. Sebab, kata Noel Gallagher, berjuta bintang-bintang yang bersinar, perlahan pun akan mengabur jika malam berlalu dan siang menjelang lantaran memang sudah saatnya. Tenang saja, besok-besok, kita dapat menikmati pendarnya kembali. Sebelum itu, cukup lanjut menempuh hari-hari melalui jalan yang sesuai, berlandas diri.

7. Dream Theater - The Spirit Carries On

Kehidupan memang akrab dengan pertanyaan. Kenapa kita dilahirkan? Dari mana kita berasal? Apakah ada kepastian dalam hidup ini, sehingga kita tak usah lagi bertaruh memperjuangkan hal-hal yang belum tentu berhasil kita gapai pada suatu hari nanti, sehingga kita bagai berjudi setiap hari? Segenap pertanyaan barusan takkan pernah berbuah jawaban yang pasti, sebab yang pasti di dunia ini hanyalah ketidakpastian. Yang dapat kita lakukan adalah: percaya dan iman. Mengimani bahwa akan ada kehidupan pasca kematian nanti. Dan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban tadi, lebih dari cukup untuk paparkan makna dari hidup ini.

8. Bob Dylan - Blowin' in The Wind

Mendengarkan sekaligus memahami lirik Blowin' in The Wind mudah sekali. Mungkin inilah mengapa sangat sulit penyanyi zaman sekarang menyamai kejeniusan Bob Dylan, terlebih dengan sama-sama bersuara sumbang di tengah tuntutan kesempurnaan. Pendewasaan sebagai seorang laki-laki yang mesti mulai membiasakan diri untuk menempuh jarak sejauh-jauhnya. Mendongak langit lebih sering. Mendengarkan lebih banyak suara. Memahami sekitar lebih dalam. Satu-satunya jalan pintas, hanya dengan melakukannya.[]

Photo credit: Matthew Howard