31 January 2016

Segarnya Kuah Gule Kepala Ikan Mas Agus, Cabang Sidoarjo

No comments :
Sabtu petang kemarin, kakak mengajak makan malam bersama ke Gule Kepala Ikan Mas Agus, Sidoarjo. Katanya sih rumah makan yang ada di Jl. KH. Mukmin No. 35 ini merupakan salah satu cabang dari pusatnya di Solo, Jawa Tengah. Selain di Surabaya dan Sidoarjo, masih banyak cabang lain Gule Kepala Ikan Mas Agus seperti di daerah Jabodetabek dan Jogjakarta.

Rumah makan yang mendaulat diri sebagai "Pelopor Gule Kepala Ikan Utuh" ini menyediakan aneka menu yang tentu saja bahan utamanya adalah ikan, namun bagi Anda yang tidak suka atau pantang dengan ikan (seperti saya misalnya) tersedia pula menu daging, udang, atau tahu.


Malam itu kami memesan tomyam kepala ikan yang ukurannya guede rek, gule kepala ikan yang berukuran lebih kecil, sementara saya dan ponakan memilih gule beli. Gule beli ini semacam ikan yang sudah difilet alias daging perut ikan yang disajikan tanpa duri. Kebetulan memang saya adalah orang yang malas makan ikan apa pun yang salah satu alasannya adalah keberadaan duri yang meribetkan aktivitas makan saya.


Alasan lain yang membuat saya seolah pantang terhadap aneka makanan yang "judulnya" ikan adalah kehadiran bau amis yang melayukan selera makan. Namun berbeda dengan ikan hasil olahan Mas Agus. Yang terhidu adalah aroma harum kunyit dan rempah-rempah lain, serta ikan yang berbau segar (gimana ya, susah mencari istilah yang pas), bau anyir sama sekali tidak tercium. Alhasil saya makan ikan dengan lahap berkat aroma yang menggugah syahwat dan ketiadaan duri yang kerap merepotkan itu, menyeruput sesendok kuah demi kuah, memamah daging ikan yang empuk dan lumer di mulut, kemudian menambah nasi setengah porsi.


Penasaran, saya mencoba kuah tomyam yang dipesan kakak. Berbeda dengan gule beli yang berkuah serupa dengan kuah gule kepala ikan, kuah tomyam menyerupai bumbu asam manis, hanya saja lebih encer yang keencerannya kurang lebih sama dengan kuah gule. Lebih segar di lidah, cuman agak ribet makan sembari memisahkan daging ikan dari duri-duri laknat musuh saya itu.

Kesemua menu di atas meskipun bernama gule, agak berbeda dengan gule atau gulai yang sering kita temui yang identik dengan kuah santan kental, sementara gule di Gule Kepala Ikan Mas Agus lebih ringan, lebih mirip tengkleng, sehingga meringankan kerja lidah dan usus yang mencerna lebih sedikit lemak. Selain menu utama, tahu tuna yang kami pesan pun enak, sembulan adonan sagu tunanya terasa segar, sepertinya ikan yang digunakan masih segar, maklum Sidoarjo terkenal dengan upluk-aplak tambak ikan dan udang.


Mayoritas harga menu-menu di Gule Kepala Ikan Mas Agus cukup terjangkau. Gule kepala ikan Rp. 18.700, tomyam kepala ikan Rp. 20.500, gule beli Rp. 18.200. Kenapa harganya meuni kagok begitu, entahlah, cuma Mas Agus yang tahu. Yang pasti rumah makan ini sudah dikenakan PPN 10%.

Dari beberapa figura yang terpampang di dinding rumah makan, Gule Kepala Ikan Mas Agus sudah disambangi oleh artis Ihsan Idol, Mantan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, termasuk legenda kuliner Indonesia Pak Bondan Winarno. Hal ini membuktikan apa? Yah, Anda dapat menyimpulkan sendiri lah...


Jadi, bagi Anda para pencinta ikan, kudu banget mampir ke Gule Kepala Ikan Mas Agus di Jalan KH. Mukmin No. 35, Sidoarjo, maupun di cabang yang terdekat dari kediaman Anda. Sebab Mas Agus berhasil membuktikan bahwa cita rasa masakan ikan belum tentu berduri, belum tentu berbau amis.[]

Skor Gule Kepala Ikan Mas Agus, Cabang Sidoarjo :
Rasa : 8,5
Tempat : 8
Pelayanan : 8,5
Harga : 8
Instagramable : 8

24 January 2016

Kupat Tahu Padalarang

6 comments :

Terdengar asing? Kupat tahu Padalarang memang tidak sepopuler kupat tahu Singaparna atau kupat tahu Magelang atau aneka kupat ngetop lain semacam ketoprak dan lontong sayur Padang. Entahlah, mungkin lantaran rasanya biasa, tidak ada yang spesial. Cenderung kurang berkarakter. Seperti kondisi daerahnya.

Terlebih jika kita menilik penampilannya yang jauh dari kesan eye catching, apalagi instagramable. Bahkan segelintir orang terdekat saya bilang tampilan kupat tahu ini seperti (maaf) muntahan, apalagi jika dipincuk alias dibungkus, bukan makan di tempat.

Padahal, layaknya manusia, kita tak dapat menilai kemudian menyimpulkan sifat asli seseorang sebatas dari lensa mata. Yang kita lihat bahkan kita yakini semula, seringkali berwatak sebaliknya. Makanan pun demikian, saya pribadi sangat menyukai cita rasa kupat tahu ini meski dandanannya minus. Sebab sudah mengenal dan akrab di lidah saya sejak kecil, tidak ada lagi rahasia yang ditutup-tutupi, kecuali resep turun-temurun yang sampai sekarang hanya keluarga pewaris dan Tuhan yang tahu.

Kupat tahu Padalarang, sesuai namanya, berasal dari Padalarang, salah satu kecamatan di pelosok Bandung sebelah barat. Dalam buku "Jalan Raya Pos, Jalan Daendels", Pramoedya Ananta Toer sempat menyinggung Bandung pinggiran ini:

...Dari Cianjur ke timur sejauh 40 kilometer Jalan Raya Pos mendatar dan mendaki lagi waktu memasuki Padalarang. Pada waktu jalan ini dibikin atau ditingkatkan Padalarang masih berupa dusun yang tak berarti. Sekarang, semasa Orde Baru kota kecil ini biasa tercemar debu karena gempuran pada bukit-bukit kapurnya guna pembangunan...
―Pramoedya Ananta Toer (Jalan Raya Pos, Jalan Daendels; hal. 62)



Memang demikianlah adanya. Padalarang sebelah kulon didominasi oleh bukit-bukit kapur yang sampai sekarang semakin masif dieskplorasi, dengan tanur-tanur vertikal di sekitarnya. Selain bukit dan pabrik pengolahan kapur terdapat pula bukit-bukit batu yang terkandung marmer dan granit di dalamnya, sehingga sekarang mulai bertumbuhan perusahaan pengolahan marmer dan granit di kawasan Cipatat, Padalarang. Di antara bukit-bukit batu dan kapur, di sana pula Gua Pawon berada, kawasan wisata sejarah periode Megalitikum yang sekarang sedang digandrungi oleh para traveler.

Seperti tiga tahun lalu pernah saya tulis, kecuali bukit-bukit batu dan kapur di sebelah kulon tadi, Padalarang zaman dulu selebihnya berupa hamparan petak-petak sawah dan sedikit sekali dusun di sekitarnya. Selain pabrik kertas peninggalan Belanda―yang mungkin dulu adalah satu-satunya bangunan paling modern di Padalarang, sisanya adalah perkebunan, rumah yang berjarak renggang dengan rumah lain, dan tanah lapang. Berkebalikan dengan keadaan saat ini yang sangat padat: ruko dimana-mana, kontrakan di tiap gang ada, ojeg pahibut jeung delman unggal isuk.

Meskipun sudah berubah menjadi kawasan padat penduduk dan bukan lagi dusun tak berarti seperti kata Pram, Padalarang di mata turis ibukota tetaplah kota kecil sebelum Bandung yang sekadar untuk dilintasi, kalau bisa cepat-cepat dilewati agar dapat segera tiba di Kota Kembang, menikmati tata kota modern, berdaya seni tinggi, namun mereka masih dapat menghirup udara segar pegunungan, sebab Padalarang bukanlah Kota Bandung; bukan kawasan yang nyaman untuk dikunjungi dan indah disebarkan di instagram. Alhasil yang penduduk Padalarang rasakan hanyalah kepadatan lalu lintas akibat turis yang cuma numpang lewat.

Kepesatan kota kecil Padalarang seperti grafik polinomial yang sekalinya meningkat terus saja tajam ke atas. Sampai-sampai melupakan faktor-faktor penunjang di bawahnya. Ramayana, Borma, Giant Express, Dunkin Donuts, perumahan elit di mulut gerbang tol, perumahan menengah di pinggir jalan arteri yang selalu macet, sawah yang mendadak menjelma rumah-rumah toko satu per satu muncul, mustahil dapat dihentikan kemunculannya. Sementara jalan raya sebagai sarana utama untuk mencapai fasilitas manusia modern barusan, dari dulu masih sama, dengan lebar yang sama, mungkin semakin menyempit berkat para pedagang kaki lima.

Sebagai jalur penghubung klasik antara ibukota dengan Kota Bandung, Padalarang belum berubah atau setidaknya mengubah diri secara progresif; jalannya masih jalan yang sama yaitu Jalan Raya Pos yang digagas Daendels sejak lebih dari satu abad silam. Apakah membangun jalan memang tidak "seberfaedah" melahirkan izin pendirian Ramayana, Borma, perumahan-perumahan kelas menengah yang bila melihat harganya, mustahil dihuni oleh pribumi yang keadaan ekonominya belum begitu baik dibanding kabupaten lain? Membenahi sarana jalan raya itu sia-sia, gak ada duitnya?

Silakan tanya ke hadirat Yang Mulia Abu Bakar, pejabat Bupati Bandung Barat kita dua periode ini.

*

Kembali pada kupat tahu Padalarang.

Saya pribadi punya kenangan tersendiri dengan kupat tahu Padalarang. Dulu setiap minggu pagi saya dan saudara sepupu suka diajak Kakek sarapan kupat tahu di kios yang berada di dalam pasar Padalarang. Kami mengenalnya dengan Tahu Mulya, penjual tahu kuning sekaligus pemrakarsa kupat tahu pertama kali di Padalarang, hingga sekarang tersohor sebagai Kupat Tahu Padalarang.


Saya masih ingat ciput (penutup kepala) dan bibir tebal ibu penjualnya yang merupakan generasi kedua Tahu Mulya, tangannya yang lincah memotong gelondongan kupat yang besar menjadi potongan-potongan sedang yang tidak terlalu kecil―sering saya ngeri membayangkan tangan ibu itu teriris pisau sendiri. Sampai sekarang bunyi pisau dengan talenan yang berirama stacatto dari ibu itu masih terngiang rapi dalam telinga.

Hal lain yang membekas adalah berbagi sepotong kerupuk putih bersama sepupu, jadi selama itu kami masing-masing biasa makan separuh kerupuk sebagaimana Kakek contohkan. Begitupun dengan porsi kupat tahu yang kami makan setengah porsi saja, sesuai kapasitas perut anak-anak.

Dan ritual kami minggu pagi itu harus berakhir ketika Kakek pensiun untuk kedua kalinya dari PT. Inti―perusahaan telekomunikasi tempat beliau bekerja setelah lima tahun sebelumnya sudah pensiun dari PT. Telkom. Tapi perjumpaan lidah saya dengan kupat tahu tidak berakhir begitu saja, sebab Mamah-Apa pun doyan kupat tahu, sesekali membelinya untuk sarapan kami bertujuh, atau jika kondisi keuangan kurang, Apa cuma membeli angeun atau kuah tahunya saja, tanpa kupat, kemudian kami makan angeun tahu bersama nasi yang dihangatkan pada langseng pagi itu.

Seingat saya keluarga kami sempat beberapa kali berpindah langganan kupat tahu Padalarang. Langganan mula-mula tentu saja Tahu Mulya dan generasi keduanya sebagaimana langganan Kakek. Namun sejak awal 2000an, pamor kedai kupat tahu itu meredup, entah apa sebab persisnya. Dari selentingan mulut ke mulut, konon mereka berpindah lokasi keluar dari Padalarang ke Cimahi. Mungkin kalau zaman sekarang semacam ekspansi usaha. Atau keluar dari comfort zone sebagaimana pakar passion katakan dan anjurkan akhir-akhir ini.

Selain Tahu Mulya, memang ada legenda kupat tahu lain yang akrab bagi masyarakat Padalarang. Salah satunya berlokasi di seberang Stasiun Padalarang, di antara deretan kios-kios yang tergolong kawasan pasar Curug Agung. Penjual itu konon masih beroleh pertalian darah dengan Tahu Mulya meski saudara jauh. Namun karena letak Kupat Tahu Stasion itu cukup jauh dari rumah dan harus naik angkot untuk mencapainya, kami jarang memaksakan diri ke sana hanya untuk sarapan kupat tahu.

Beberapa tahun kemudian, ada kabar saudara kandung perempuan Pak RW yang berstatus Sarjana Teknik membuka kios kupat tahu di pasar Padalarang, di kios peninggalan Tahu Mulya itu. Dan memang ibu muda itu masih ada pertalian darah juga dengan keluarga kupat tahu. Kiosnya bersih, rasa kupat tahunya memang enak, hampir menyerupai rasa Tahu Mulya dulu. Namun sayang pelayanannya lama serta porsinya sedikit, sehingga menurut kami harganya tidak sesuai dengan porsi semestinya. Setelah beberapa tahun, lantaran memang sepi pembeli, kios itu ditinggalkan dan tidak ada lagi pedagang kupat tahu di sana hingga hari ini.

Kata kuncinya adalah: kupat tahu Padalarang sarat dengan intrik Nepotisme. Keluarga kami yang dikenal sebagai keluarga guru mustahil mengetahui resep andalan dan rempah rahasia kupat tahu Padalarang, meskipun Mamah termasuk tipikal ibu-ibu yang suka ngulik-ngulik resep dari majalah Femina pun. Beberapa kali mencoba membuat kuah tahu semacam itu, rasanya selalu aneh. Tak pernah sama dengan legenda.

Hingga setelah saya sekolah di STM pada 2006, suatu pagi Apa pulang dari luar membeli sarapan sebagaimana biasa. Wajahnya berseri-seri dan langkahnya bersemangat dengan tangan menenteng kresek hitam.

"Putrinya Kupat Tahu Stasion buka cabang di depan gang kita!" serunya pada saya dan Mamah sembari buru-buru mengupas staples pada pincuk kupat tahu seakan tak sabar ingin segera menyikat habis isi di dalamnya.


Pagi itu kami bertiga sarapan kupat tahu yang penjualnya baru kami kenal itu, yang rasanya mengingatkan saya pada kenangan dengan Kakek semasa kecil di Minggu pagi. Cita rasa yang persis dengan Tahu Mulya, baik kuah & bihun, tekstur kupat, dan tahu yang digoreng sekenanya asal dicebur ke minyak. Pagi-pagi berikutnya, sampai sekarang sepuluh tahun kemudian, kami memutuskan untuk berlangganan kupat tahu ke situ, terlebih memang lokasinya paling dekat dengan rumah, dan cita rasa legenda yang mereka usung cocok dengan lidah kami.

Sedikit tips dari saya bagi Anda yang mungkin penasaran dan hendak mencari kios atau tenda kupat tahu Padalarang yang paling enak. Sepengalaman saya, jangan sampai Anda terkecoh dengan penampilan gerobak atau kios yang bagus, grafis tenda kekinian, atau penampilan ibu-ibu penjual yang cantik, bohay kameumeut. Percayalah, rasa kupat tahu Padalarang tidak ekuivalen dengan hal-hal demikian. Sebab pertalian darah dengan legendalah yang menentukan.

Parameter sederhana yang dapat kita jadikan sandaran adalah penuh tidaknya tenda kupat tahu itu oleh pelanggan. Dan apakah di atas pukul sebelas siang tenda kupat tahu itu masih berjualan dan stok gelondongan kupatnya masih banyak, sebab pedagang kupat tahu Padalarang yang laris biasa membenahi gerobaknya untuk bersiap pulang pada pukul sepuluh atau setengah sebelas pagi. Kemudian, apakah tahu-tahu kuning goreng banyak menumpuk di atas baskom dan penggorengannya sering padam. Oh ya?

Ya, sebab kupat tahu Padalarang yang laris, saking larisnya, mereka biasa menggoreng tahu secara dadakan dan seolah istilah tahu goreng di benak mereka adalah sekadar syarat pertemuan tahu dengan minyak, asal tahu kecebur saja, sebab tidak lama tahu-tahu itu lekas diangkat dari wajan dan langsung ditaruh ke piring pelanggan yang sedang antre menunggu.


Saya memang tidak muluk-muluk mengharapkan kupat tahu Padalarang untuk go internesyenel semacam Tom Yum, hidangan tradisional dari Thailand. Saya sudah bahagia cukup dengan mengingat kenangan minggu pagi dengan Kakek di dalam pasar Padalarang, dan menyadari bahwa waktu terus berjalan. Usia saya bertambah, sudah lama tak lagi bermukim di Padalarang. Pewaris kupat tahu satu per satu wafat, dilanjutkan oleh generasi-generasi selanjutnya sebagai suksesor yang belum tentu sesukses ayah-ibu-kakek-neneknya.[]

Skor Kupat Tahu Padalarang seberang gerbang kaler Pasar Padalarang (Pewaris Kupat Tahu Stasion) :
Rasa : 9
Tempat : 6,5
Pelayanan : 9
Harga : 8
Instagramable : 6

20 January 2016

Betapa [Tidak] Adilnya Dunia

2 comments :
Dunia adalah panggung sandiwara. Buat apa membuat sandiwara di dalam sandiwara? Hanya akan membuat Tuhan tertawa.
—Semar

Pernah kepikiran bahwa sebagian orang pinter di Indonesia itu kadang lebih goblok dari segoblok-gobloknya orang goblok?

Pertengahan tahun lalu, Novel Baswedan ditangkap polisi, dengan tuduhan penganiayaan karena dulu, dulu sekali, pernah (disinyalir) menyiksa beberapa pencuri burung walet di Bengkulu. Jabatan dia waktu itu sebagai Kepala Resort Kriminal Bengkulu yang tentu secara langsung dianggap paling bertanggungjawab atas kasus penganiayaan pencuri burung walet itu.

Orang baik selalu banjir tuduhan. Penjahat berlimpah pembelaan.

Kehidupan adalah ketakutan-ketakutan yang datang bergiliran.

Jangan-jangan, suatu malam ketika saya tidur bersama anak istri, rumah kami digrebek polisi. Mereka meringkus saya atas tuduhan “Membiarkan Jawaban Ulangan Harian Disontek Teman Sebangku Pada Waktu SD”. Bukan saya yang menyontek, teman saya yang menyontek. Tapi katanya, kejahatan terjadi bukan saja karena niat sang pelaku, namun pula kesempatan yang dibuka lebar-lebar oleh korban.

Berdasar premis itu maka baik si pelaku maupun korban sama-sama harus diusut tuntas. Saya menyiapkan diri untuk menerima vonis gantung karena saya dianggap paling berandil terhadap perilaku korup generasi seangkatan.

Sementara itu, Kabareskrim yang mengesahkan surat penangkapan saya adalah teman sebangku saya yang setiap ulangan harian dan THB semasa SD selalu menyontek saya.

Laporkan dia balik? Paling-paling saya jadi kena pasal berlapis: pencemaran nama baik.[]

17 January 2016

H. Sarbini/M. Sarian: Legenda Sate Madura Cimahi

2 comments :

Setiap pulang ke rumah orangtua, rindu selalu mengajak saya kembali ke masa lalu dengan mesin waktu. Makanan, barangkali, satu-satunya medium yang berhasil mengajak ingatan kita untuk menapak tilasi masa silam suatu tempat, suatu daerah yang pernah kita mukimi. Di mana pun onde-onde selalu bulat berbalur wijen, klepon abadi menjadikan gula merah sebagai ranjau dalam mulut, Mie Apollo tetap sebagai bakmi nomor wahid bagi saya meski sudah sering mendengar mitos cangcut tuyul dicemplungin ke dandang.

Atau kupat tahu Padalarang tetaplah menu sarapan sederhana yang teramat sulit diujicoba racikannya di dapur rumah sendiri, selain di dapur keluarga pewaris kupat tahu Padalarang yang jumlahnya sangat sedikit, karena sedikit yang sanggup dan sukses melanjutkan kejayaan pendahulunya. Dan sekarang, Sate Madura H. Sarbini di Cimahi termasuk salah satu mesin waktu yang jumlahnya tidak banyak itu.

Sepulang membuat SKCK dari Polres Rabu kemarin, saya mampir makan siang ke Rumah Makan H. Sarbini yang sejak dulu belum pernah berpindah dari lokasi yang sama: Jl. Raya Barat 561, dekat Alun-Alun Kota Cimahi. Yang banyak berubah adalah toko samping kanan dan kiri dan kepadatan jalan raya di hadapannya, dan kepala sang empu yang kian mengilap.

Sementara bangunan Rumah Makan ini tetap sama seperti terekam apik dalam romantisme ingatan; dinding berornamen full keramik hingga plafon, meja-meja tua dan deretan kursi Chitose merah, serta lantai tegel merah yang semakin kusam menyerap jejak-jejak kenangan pengunjung, yang mungkin saat ini, pelanggan setia itu tak lagi sanggup untuk sekadar berjalan di atasnya, apalagi menikmati sate atau gulai kambing seperti masa sehat dahulu.


Dengan ramah, pemilik (yang kemudian saya ketahui sebagai pewaris generasi ke dua H. Sarbini) menyambut saya yang memesan sepuluh tusuk sate ayam, santapan favorit saya sepanjang masa. Sembari mengipas-ngipas bakaran sate, sang tuan rumah yang belum saya ketahui namanya itu saya hujani pertanyaan ihwal siapa gerangan dua nama yang dipisah oleh garis miring itu; apakah orang yang sama, ataukah kombinasi nama bapak dan anak?

"Haji Sarbini itu bapak saya, Dek. Beliau sudah lama meninggal. Nama saya sendiri Abdullah."

"Saya kira M. Sarian itu nama Anda. Kalau begitu, M. Sarian itu siapa, Pak?"

Dengan lebar senyum, bapak berkepala mengilap itu setengah bercerita, "M. Sarian itu nama lahir bapak saya. Sepulang naik haji, barulah beliau mengganti namanya menjadi Haji Sarbini. Sesuai kebiasaan kami di Madura yang menganjurkan ganti nama setelah naik haji . Tapi nama M. Sarian masih suka kami cantumkan, setelah nama Haji Sarbini."

Pak Abdullah dan orangtuanya mengaku sebagai asli Madura. Namun sudah sejak tahun 60an, Haji Sarbini sekeluarga merantau ke Bandung, tepatnya di daerah Jamika. Baru pada sekitar 1969 mereka hijrah ke Cimahi, tepatnya di Jl. Raya Barat No. 561 sekitar Alun-Alun, tempat yang masih abadi dapat Anda temukan dan kunjungi sampai sekarang.


"Udah lumayan lama berarti ya, Pak. Lebih tua dari usia saya. Saya tahu sate H. Sarbini sebab dulu waktu kecil setiap kali jalan-jalan ke Cimahi bersama Ayah, pasti suka mampir makan ke sini. Sampai sekarang kalau saya ada di luar Cimahi, suka kebayang-bayang sedapnya sate kambing H. Sarbini."

Pak Abdullah tampak sumringah, "Sekarang Adek tinggal di mana?"

"Bogor, Pak. Baru lulus kuliah, sebentar lagi Insha Allah kerja."

"Alhamdulillah. Senang mendengarnya."

"Terima kasih."

"Sekarang Ayah sehat? Masih tinggal di sini, kan?"

"Kebetulan udah beberapa tahun ini kena stroke, Pak."

"Ya Allah... "

"Begitulah, Pak."

"Nanti lain kali ajak lagi Ayah ke sini ya, Dek. Pasti beliau seneng makan sate sama soto kayak dulu."

Saya cuma tersenyum.

*

Rasa sate ayam H. Sarbini masih sempurna seperti dulu, daging yang tebal dan empuk, serta kadar bakaran yang pas, tidak terlalu gosong, pula matang sempurna. Tidak mentah meskipun menurut saya betapa cepatnya saya menunggu sate dibakar kemudian terhidang di meja. Kemudian, taste bumbu kacang yang halus ini yang belum pernah saya temukan kesepadanannya pada Sate Madura di daerah lain. Entah apa rahasianya. Jangan lupakan acar mentimun dan bawang merah segar, aduk dengan nasi dan bumbu kacang, jadilah surga dunia versi saya.

Makanan, barangkali, satu-satunya medium yang berhasil mengajak ingatan kita untuk menapak tilasi masa silam suatu tempat, suatu daerah yang pernah kita mukimi.
Saya yakin rasa sate sapi dan kambingnya pun masih seperti dulu, sama sedapnya, yang berbeda hanyalah darah saya yang tak lagi mampu menerima sembarangan daging kambing seperti masa kecil dulu. Demikian pula dengan soto sulung yang dahulu gemar menggoyang lidah kecil saya dengan daging, babat, dan jeroan lainnya.


Santap siang Rabu itu cukup saya tebus Rp. 20 ribu: 16 ribu ditambah seporsi nasi seharga 4 ribu. Pada saat yang memang sudah masuk jam makan siang, meja-meja di Rumah Makan H. Sarbini hampir seluruhnya terisi. Ada rombongan meriah ibu-ibu arisan, bapak tua berwajah oriental yang sedang makan soto sendirian, karyawan muda tengah menghabiskan rihat siang di sana. Selain mereka, di sebelah meja saya ada bapak dan anak yang sedang menikmati sate dan semangkuk soto bersama-sama.

Sebelum beranjak pulang, pada suapan terakhir, kesempurnaan rasa sate ayam ini terasa belum paripurna, seakan ada yang kurang. Ya, saya cuma sendirian di meja ini, tidak seperti momen-momen tercipta di meja sebelah, tidak seperti dulu, di mana saya selalu duduk makan sate berdua bersama Apa.[]

Skor Legenda Sate Madura Cimahi: H. Sarbini/M. Sarian :
Rasa : 8,5
Tempat : 8,5
Pelayanan : 9
Harga : 9
Instagramable : 7,5

10 January 2016

Batagor H. Isan (Asli apa Palsu?)

8 comments :

Membincang batagor belum afdal bila belum langsung mencicipi batagor dari tanah kelahirannya, Bandung. Dari mulut ke mulut, istilah batagor muncul dari singkatan baso tahu goreng. Baso tahu sendiri mungkin lebih akrab di ibukota dengan istilah Siomay Bandung. Konon ide batagor muncul dari baso tahu yang belum habis terjual dan kepalang dikukus, supaya tidak basi digorenglah baso tahu itu yang alhasil mendadak berubah nama menjadi baso tahu goreng; batagor.

Sebagai ibu pertiwinya batagor, di Bandung banyak sekali pengusaha batagor yang mendaulat diri sebagai Batagor Asli Bandung. Batagor Riri adalah batagor yang sudah akrab di telinga turis ibukota (yang ngebet ke Bandung usai takjub melihat foto ekstrim Tebing Keraton di instagram). Padahal kebanyakan orang Bandung malah belum pernah mencicipi batagor yang konon rajanya batagor di Bandung itu.

Batagor Riri bagi saya selayaknya film Hollywood bervisual bagus dan berbudget boros yang mudah memikat kelas menengah dan selalu terkesan keren untuk dikonsumsi, padahal tidak semua film Hollywood itu bagus.

Ketimbang Batagor Riri, Batagor H. Isan adalah batagor yang lebih dekat dengan hati masyarakat biasa di Bandung, termasuk saya, bukan turis Sabtu-Minggu-Harpitnas berpelat B. Haji Isan adalah perintis batagor bawah tanah di Bandung yang terkesan anti kemapanan. Salah satu buktinya, sejak dulu beliau enggan membuka cabang di daerah yang lebih strategis dari lokasi yang sudah dihuni sejak awal perintisan di Jl. Bojongloa Kaler, meskipun jika bicara marketshare di Bandung dan sekitarnya tentu sudah memadai dibukanya cabang kedai batagor lain sebab kedua kedai kecil itu selalu sarat pengunjung. Dua?

Ya, dua. Setahu saya hanya ada dua lokasi Batagor H. Isan di Bandung berupa kedai sederhana, yaitu di daerah Kopo sekitar Rumah Sakit Immanuel. Menurut pegawai dan jelas terpampang pada potret di dinding kedai, H. Isan punya adik bernama H. Kamul. Kakak adik itu sama-sama punya usaha batagor yang resep dan cita rasanya identik, namun membuka kedai masing-masing. Kedai batagor yang paling dekat dengan gang rumah sakit Immanuel ini diprakarsai oleh H. Kamul, tepatnya di Jl. Nyengseret No. 140.

Potret H. Isan (kiri) dan H. Kamul (kanan)

Batagor H. Kamul, Samping RS. Immanuel

Sementara kedai Batagor H. Isan berada di ruas jalan Bojongloa Kaler, tidak terlampau jauh dari kedai H. Kamul. Namun lucunya, masyarakat mengenal kedua kedai itu sebagai Batagor Isan. Memang setelah saya cicipi di kedua tempat itu, batagornya sama enaknya. Aroma tenggiri yang pas dalam adonan aci gurih yang diselusupkan pada tahu putih bagai surga di mulut, cocolkan dengan bumbu kacang encer khas H. Isan yang gurih dan pedasnya pas. Batagor sama-sama ditata pada piring rotan beralas daun pisang dan bumbu dalam mangkuk terpisah. Atau dikemas dalam besek jika batagor hendak kita bawa pulang (take away).

Sayangnya akhir-akhir ini banyak pengusaha yang mendompleng nama H. Isan. Mulai dari kedai sederhana (termasuk H. Isan di Jl. Lurah yang beberapa fotonya terlampir pada artikel ini) hingga kedai modern. Saya pernah melihat sebuah kafe di kawasan Bantarjati, Bogor yang mencantumkan nama Batagor Ihsan (memang, beda tipis dengan Isan dilengkapi huruf H) dengan tipografi dan grafis retro ala-ala.

Entah apakah pengusaha kedai itu menyumbang royalti kepada keluarga H. Isan (sebab beliau sudah wafat pada 2008) berkat pencatutan nama tersebut, atakah cuek aja selama belum ditegur. Lagi pula mana berani keluarga H. Isan yang tergolong bukan berbentuk badan hukum, menegur pengusaha yang bekingannya banyak. Kita sama-sama tahu hukum selalu runcing ke mana toh? Dan lagi pula, dengan menyelipkan huruf H dalam nama Isan, pelanggaran nama badan usaha akan kian mengelabu.

Sebelumnya, semasih bersekolah pada 2008, tiba-tiba saya menengok ada Batagor H. Isan yang baru dibuka di Jl. Lurah, Cimahi. Bangunannya lebih luas dan lebih higienis ketimbang warung legendarisnya di daerah Kopo. Sampai sekarang saya belum tahu pasti apakah itu cabang resmi H. Isan, ataukah yang memilikinya adalah mantan pegawai di warung H. Isan di Kopo. Sebab sekali lagi, amanat H. Isan dan H. Kamul konon tetap kukuh takkan membuka cabang kedai batagor di daerah mana pun.

Batagor H. Isan, Jl. Lurah, Cimahi

Memang di Batagor H. Isan Jl. Lurah ini, saya menemukan perbedaan yang cukup jomplang. Di sini pegawainya banyak sekali. Ada yang sedang menggoreng batagor setengah matang, menggoreng matang, memplastiki bumbu, menyajikan mie baso, dan yang nganggur pun banyak. Mulai dari remaja tanggung hingga akang-akang sepantaran saya. Tidak ada sosok bapak-bapak di sini selain tukang parkir. Komandonya dipegang oleh pemuda yang berusia paling tua di antara mereka.

Tata saji pun berbeda dengan di Kopo yang selalu menghidangkan batagor pada piring rotan beralaskan daun pisang, serta bumbunya dituang pada mangkuk ayam jago. Sementara di Jl. Lurah baik batagor maupun bumbunya tersaji pada dua mangkuk ayam legendaris itu.

Begitu sampai mulut, tercium aroma ikan yang menyengat. Entahlah, menurut saya aromanya tidak sewangi Batagor H. Isan di Kopo, malah anyir. Apakah ikan yang digunakan bukan ikan tenggiri? Atau gara-gara diracik oleh remaja tanggung? Kemudian, gigi saya lama-lama pegal mengunyah batagor yang alotnya minta ampun. Semacam gaaleun kalau Basa Sundanya mah. Jauh berbeda dengan yang di Kopo, tekstur batagor selalu garing di luar, namun empuk nan gurih di dalam sehingga mudah dicerna mulut.

Dan tanpa saya minta ataupun ditawarkan, mereka malah menyertakan batagor jenis pangsit ke mangkuk, bukan cuma yang tahu. Padahal Batagor H. Isan yang asli tidak menyediakan batagor jenis pangsit. Mungkin mereka memindai selera orang Cimahi yang lebih suka diadakan batagor pangsit selain batagor original. Sialnya, batagor pangsit ini sama alotnya dengan batagor bentuk tahu tadi. Bahkan lebih gawat sebab saya mesti hati-hati menggigit pangsit yang serpihannya cukup tajam untuk melukai mulut.


Demikian pula dengan bumbu yang tidak semantap Batagor H. Isan Kopo. Oh ya, bumbu kacang Batagor H. Isan memang lain dengan bumbu kacang batagor yang biasa. Bumbunya encer, berwarna merah yang berasal dari merah cabe, serta kentara rasa asam cuka. Sudah pedas tanpa harus ditambah sambal. Namun di Batagor H. Isan Jl. Lurah ini, bumbunya gak ke mana-mana; hambar iya, pedas enggak. Kayak makan bumbu kacang tanpa garam, diwarnain cat air merah, terus dikasih kuah air termos.

Jadi, yang mana Batagor H. Isan yang asli itu? Yang sudah teruji sejarahnya adalah Batagor H. Isan di ruas Jl. Bojongloa Kaler dan Batagor H. Kamul di mulut gang Rumah Sakit Immanuel. Keduanya sama-sama ada di daerah Kopo. Sementara jika Anda menemukan Batagor H. Isan di lokasi lain, entahlah, mungkin amanat H. Isan dan H. Kamul sejak awal merintis usaha batagor benar adanya. Membuka cabang hanyalah akan menimbulkan kebingungan di benak masyarakat seperti saat ini. Dan seiring waktu, nama yang semakin besar cuma akan mengetuk pengusaha-pengusaha kekinian yang lebih suka kapitalisasi ala franchise.[]

Skor Batagor H. Isan dan H. Kamul, Jl. Bojongloa Kaler (Kopo), Bandung :
Rasa : 9
Tempat : 7
Pelayanan : 8,5
Harga : 8,5
Instagramable : 7,5


Skor Batagor H. Isan Jl. Lurah, Cimahi :
Rasa : 7,5
Tempat : 8
Pelayanan : 7,5
Harga : 8,5
Instagramable : 7

07 January 2016

Self Service di SPBU Pertamina

No comments :
Beberapa bulan lalu, saya gelisah saat berada dalam antrean pengisian bahan bakar di SPBU Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Pengantre-pengantre di depan saya mengisi tangki sepeda motornya sendiri. Tanpa diisikan oleh petugas seperti lazimnya terjadi di SPBU Pertamina lain selama ini.

Satu per satu pengendara melakukan hal yang sama, kemudian tibalah giliran saya yang kian bersimbah keringat dingin, kepalang gengsi disangka norak karena baru pertama kali menghadapi kegiatan ini. Seumur-umur belum pernah mengisi tangki motor sendiri tanpa dilayani petugas, memegang nozzle sekalipun tak pernah.

Dengan kaku, saya genggam nozzle itu. Setelah petugas perempuan mengisikan nominal uang ke dalam mesin, saya segera menarik tuas nozzle. Batang itu sempat terlonjak karena tangan saya belum siap menerima dorongan yang ternyata lumayan kuat. Si bensin biru pun menciprat tangki bagian luar dan celana saya pun kena. Alhasil saya longgarkan tarikan tuas itu supaya dorongan aliran bensin melemah.

Buat apa sih tujuan pemberlakuan self service di SPBU kampung halaman saya ini? Apakah dengan self service, kita mendadak sekeren aktor Amerika yang kerap mampir di Gas Station dalam scene film-film Hollywood? Lantaran SPBU ini berlokasi di kompleks perumahan kelas menengah ngehek ke atas, jadi budaya mengisi bensinnya pun kudu kebarat-baratan?

Dan kalau memang mereka bertujuan untuk mengurangi jumlah petugas atau man power, kok masih tetap ada petugas berdiri di samping mesin, mengentri nominal atau volume bahan bakar yang kita kehendaki? Sementara pada akhirnya kita mesti repot-repot menyorongkan nozzle sendirian?

Jikapun dipaksakan demikian, seyogianya bahan bakar yang dijual di SPBU yang menerapkan kebijakan self service berharga lebih murah dari metode konvensional, sebab petugas sekadar bertindak sebagai juru ketik mesin pengisian atau bahkan nihil sama sekali. Bagi saya self service sama saja dengan masturbasi. Buat apa mengupah petugas mahal-mahal jika toh harus melakukannya seorang diri?[]

03 January 2016

Ketika Ayam Digeprek

8 comments :

Ini adalah kunjungan kali ke sekian saya ke Rumah Makan Ayam Geprek Istimewa yang berlokasi dekat sekali dari rumah, malah dapat dibilang Ayam Geprek adalah rumah makan di pipireun atau belakang rumah di Jl. Raya Pemda Karadenan. Saking dekatnya, seringkali saya cuek datang sendirian ke sini dengan setelan celana pendek dan kaos belel. Kadang malah belum mandi. Entahlah, semoga waktu itu gak ada pengunjung yang keracunan sebab sajiannya tercemari aroma ludah kering saya.

Ngomong-ngomong, saya sendiri belum tahu tujuan penggeprekan ayam di sini. Apakah supaya bumbu rempah lebih meresap hingga ke tulang-tulang? Atau agar tekstur daging lebih empuk seperti daging tubuh saya ini? Ah, daripada tau-tau kepala kita digeprek sama kokinya, mending makan dulu deh..

Beragam menu disediakan di rumah makan yang berpusat di Jl. Achmad Sobarna Bantarjati, Bogor ini. Spesialisasinya tentu hidangan ayam di antaranya ayam geprek; ayam goreng dengan racikan bumbu rempah rahasia, serta varian lain semacam ayam bakar, ayam pencok, ayam lombok ijo, dan ayam goreng legit. Menu andalan selain ayam adalah hidangan daging & iga, salah satunya iga sambel wangi yang dulu sempat saya cicipi dan rasanya memang mantap, daging iganya empuk serta pedas dari sambel wangi itu tidak berlebihan sehingga rasa iga dan bumbu utama terjaga kekhasannya.



Memilih lapak di saung lesehan bambu, makan siang kali ini saya memesan ayam geprek dan sepiring tempe kemul (mendoan), sementara nasinya satu dulu deh, nanti kalau emang belum kenyang nambah lagi. Namun tumben setumben-tumbennya, pada akhirnya perut saya merasa cukup, sampai-sampai setengah porsi tempe kemul yang terdiri dari empat potong besar-besar cuma sanggup saya makan dua. Sisanya dibungkus ke rumah.







Berdasar pengalaman, semua menu di sini enak-enak sesuai cita rasanya. Tumis taoge ebi, cah kangkung, maupun menu sayuran lain pun tak kalah nampol. Namun perlu dicatat, aneka sambal yang tersedia kadar pedasnya pake banget, termasuk sambal geprek merah ini. Jadi saya rekomendasikan supaya Anda memesan minuman dingin guna melesapkan pedas dengan cepat, semisal es teh manis yang saya pesan.


Yang saya suka dari Ayam Geprek Istimewa adalah pelayanan yang juga istimewa. Pramusaji yang cekatan menerima pesanan, menghidangkan sajian, dan membereskan piring-piring kotor yang kita tinggalkan. Waktu tunggu peracikan menu terbilang cepat meskipun rumah makan ini kerap sarat pengunjung. Yang menarik pula adalah harganya relatif terjangkau untuk sekelas rumah makan. Pesanan saya barusan cukup saya tebus sekitar Rp. 35 ribu sudah termasuk pajak. Jujur saja, zaman sekarang agak susah menemukan rumah makan yang menjanjikan value selengkap demikian.


Menu lain yang penasaran saya jajal lain kali adalah sop iga yang sering dipromosikan di twitter official Ayam Geprek dan poster menu sop iga ini paling banyak dipajang di beberapa sudut tembok strategis rumah makan. Sepertinya memang sama-sama memanjakan selera lidah dan perut.[]

Skor Ayam Geprek Istimewa Cabang Karadenan :
Rasa : 8,5
Tempat : 8,5
Pelayanan : 8,5
Harga : 8,5
Instagramable : 8,5