27 February 2016

Gregetan

No comments :

Lembar-lembar hidup Minke ternyata belum berakhir, saya masih dipaksa pungut suhuf demi sufuf yang semakin menguak konflik dan derita yang harus ia hadapi. Terpaksa ia mengubur kalut yang ia rasa kurang penting―ya, kejadian setragis kematian istrinya ia rasa tak usah dikulum lagi dalam kenang―dibanding setumpuk kebalauan sekarang yang datang tak henti. Sudah kepalang menderita ia ditinggal mati Annelies, ia memutuskan tetap tinggal di Wonokromo, di istana yang menjelma medan pesakitan.

Kalau Bumi Manusia lebih menyemaikan bibit-bibit pikir Minke yang tersadarkan waktu demi waktu, dalam Anak Semua Bangsa, Pram rupanya menyuruh Minke kembali merenungi diri sendiri, pada bangsanya sendiri, semuanya berpokok pada nasib dan masa depan. Oleh Jean Marais dan Kommer, bagai ditusuk-tusuk hati dan otak Minke hasil pendidikan Eropa yang adiluhung itu. Mereka memohon Priyayi tanpa nama marga itu untuk mulai menulis tentang bangsanya melalui bahasa Melayu, satu-satunya bahasa yang dimengerti benar oleh penduduk bangsanya. Perintah yang bagai jauh, amat jauh dari khayali tentang jiwa keeropa-eropaan Minke. Apalah gunanya berkobar perubahan di hadapan kolonial dengan bahasa mereka, sementara kolonial sendiri tak segenapnya menghendaki perubahan di Hindia Belanda, tentu saja.

Ir. Maurits Mellema melanjutkan keserakahannya dalam dingin kemunafikan, dan sukses luar biasa berlayar dan mengabdi dalam kepriyayiannya mulai dari Afrika Selatan hingga negeri-negeri jajahan lain bangsa kebanggaannya di dunia ketiga. Apa lagi sebetulnya yang ia cari, sudah sempurna pula hidupnya, masih saja kekayaan ayahnya yang sudah modar, ayahnya yang dulu ia benci, nyatanya masih pula rakus untuk ia merampas harta-benda ayahnya yang berasa asin keringat Nyai Ontosoroh, gundik mendiang ayahnya, perempuan Pribumi yang amat pandai bekerja dibanding gadis Eropa Totok pun, dengan berselimut hukum waris Nederland yang bagai boneka; begitu mudah diliuk-liuk ke sana kemari oleh dalang selama ada uang.

Goresan pena Pram dalam roman kedua ini semakin sendu dalam dendam, tambah memikat untuk saya baca, gregetan untuk saksikan babak demi babak kisah tokoh rekaannya―sesungguhnya bersandar pada tokoh nyata Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1880 - 1918)―yang begitu dekat dalam imaji saya. Jumpalitan alur yang kadangkala memelintir dan mengempas-ambangkan emosi pembaca, membuat Anak Semua Bangsa memantik kepenasaran dan pertanyaan, apa lagi sih cerita-derita yang harus dialami dan terpaksa dihadapi Minke dan Nyai ini, taklah Tuhan kasihan pada orang-orang sebaik mereka? Memang Pram adalah Tuhan yang kejam![]

25 February 2016

Minke dan Annelies

No comments :

Membaca Bumi Manusia―meskipun terlambat―seperti membaca dirimu sendiri, bagaimana bila dirimu lahir dan hidup pada tahun-tahun pemungkas abad 19, menjelang abad 20 yang diagung-agungkan sebagai era modern. Modern, dahulu adalah kosa kata baru yang sangat keren katanya di kalangan terpelajar, mungkin sekarang sebanding dengan seven eleven ya di benak alay bercelana dilipat seperti pengungsi banjir.

Membaca roman tetralogi Buru yang pertama ini membuat saya berpikir, apakah Prosais Indonesia cuma punya satu kiblat saja sebagai patokan kekerenan suatu karya yang sangat Indonesia. Saya jadi teringat gaya tutur Okky Madasari, Seno Gumira Ajidarma, Khrisna Pabichara dalam Trilogi Dahlan dan Gadis Pakarena-nya, bahkan Ahmad Tohari sekalipun. Mirip-mirip sedikit. Saya seperti sedang menikmati surabi oncom atau kinca kental dari gula aren yang benaran asli, setelah sebelumnya banyak mencoba surabi-surabi duren, blueberry, Nutella, atau Toblerone bertopping jengkol bila memang ada, dan ternyata yang orisinal adalah yang paling mengenyangkan dan mengenangkan. Mungkin karena pedagangnya sudah wafat.

Minke ada sebagai sosok serba salah di sini. Terjebak konflik dalam ketidaksengajaan akibat coba jawab tantangan Robert Surhoof, yang memang kadangkala kita pun sering berada dalam keadaan sedemikian. Namun tentu Minke lebih menderita daripada kita sebagai generasi instagram. Sebagai Pribumi terpelajar yang meskipun punya darah ningrat tapi ia tak punya nama marga yang biasanya ada sebagai kebanggaan dan pembedaan dengan Pribumi Jelata, ia harus terperangkap di "sarang" Nyai yang hidup sentosa di tengah perusahaan perkebunan beserta anaknya yang Indo, Robert Mellema dan Annelies. Ya, Annelies, perempuan inilah yang merebut hati Minke utuh-utuh hingga ia tak sanggup meninggalkan dara berselimut derita yang harus pula turut ia rasakan setelahnya itu.

Konflik demi konflik lahir begitu alami, puncaknya adalah Minke dan Nyai harus berhadapan dengan hukum Hindia Belanda yang tetap berinduk pada Nederland. Tokoh-tokoh yang muncul, meskipun hidup jauh dari zaman saya yang seharusnya sulit untuk sekadar dibayangkan wujudnya pun, sungguh realis. Sebab manusia di zaman mana pun sama saja, meskipun ia Eropa terpelajar sekalipun, ada yang baik, ada yang jahat, dan ada yang munafik. Mungkin inilah kenapa roman ini berjudul Bumi Manusia dan mengapa Pram disebut-sebut banyak terpengaruh Steinbeck dan Camus: ia lahir seolah bukan di zamannya, terlalu cepat ia lahir sebagai pelopor sastra realis di negerinya yang ternyata sejak dulu kurang menghargai bentuk tulisan sebagai kekuatan, sampai sekarang.

Dan romansa antara Minke dan Annelies yang meskipun bukan porsi utama Pram dalam menulis tetralogi di penjara pulau Buru ini, entah mengapa kok romantis maksimal. Tergambar begitu jernih bagaimana tingkah laku dan metode pacaran pada zaman itu, pada zaman yang belum ada instant messenger kemudian saling berkirim sticker, pada zaman yang masih membeda-bedakan antara Eropa Totok, Indo, Pribumi Priyayi, Pribumi Kuli. Kurang lebih sama romantisnya dengan percintaan Edmond Dantes dan Mercedes ataupun Romeo dan Juliet―padahal belum pernah baca nih roman, cuma nonton versi FTV, dan ujung-ujungnya pun sama-sama harus meninggalkan dan ditinggalkan berkat kematian.

Tiga hari saja selesaikan roman yang menurut orang berat ini. Padahal derita hidup Pramlah yang berat sampai kemudian ia wafat. Sekarang kita cukup membacanya di dalam rumah tipe 36 bersandingkan teh manis hangat, di zaman yang setidaknya kita masih dapat berlindung dari deras hujan dan bisingnya jalanan. Tak harus berpelik-pelik berlindung dari pergolakan zaman. Meskipun masih...[]

23 February 2016

Closet

2 comments :
Forrest Gump's Momma always said, "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

I don't agree with Gump's Momma. I guess, life was like water closet. We never know anyone there sits or squats. My Mamah, absolutely, just "nungging" on it. Cause she always said, "geuleuh, urut bujur batur."

Get well soon, Mamah. Someday I'll give one million squat toilets, just for you.[]

17 February 2016

Path

4 comments :
kemarin, aku beli ponsel baru
yang bisa sign in aneka social media baru
ponsel lama tak bisa begitu-begitu
kuno, kata orang-orang yang sebelumnya berponsel kuno itu

aku unduh social media yang konon membuhul kadar gaul
path namanya
mudah saja, tinggal kemukakan nama, surat e, kata sandi
ah, sama saja ya
apanya yang baru?

aku invite orang
yang agak kukenal, yang sepertinya bisa dikenali
betul, cuma kasur yang mengenaliku

hasil penelaahan tiga hari tiga malam
di lubuk kesendirian dibantu temaram
ketika ngepath, kita harus ria
baiklah, aku akan berusaha ria
eh, sebentar, aku bukan orang kaya
apa yang mungkin aku riakan?

setumpukan buku di meja mewujud bukit freeport
aku tak punya rak buku
aku potret buku-buku itu
cukup delapan buku
dari seratus buku

ponsel berdering
notifikasi path
temanku, sebut saja raflesia arnoldi, mengomentari foto buku
“aaaak, pinjam dong.”
sejenak aku bingung sebelum balas
“sebentar, kau sendiri, tak pernah meminjamiku awake-mu?”
“maksudmu?”
“yah, kalau tak mau pinjami awake-mu, boleh kuminta tubuhmu?

esoknya, aku tak melihat lagi awake dia di akun path-ku

sore ini, aku pupus akun social media baru maupun social media lalu
berburu social media yang lebih baru lagi
yang tak ada ria lagi
dan aku menemukannya:
jamban terminal
di sana aku bisa melihat orang yang bangun pagi
anak kecil yang main kecrekan
secara live
yang paling penting
setahuku, preman terminal tak doyan buku.[]

karadenan, 13 april 2014

14 February 2016

Nasi Krawu Khas Gresik: Tak Cukup Satu

No comments :

Barangkali, sehelai daun pisang justru lebih magic ketimbang seperangkat Magic Com.
Bila saya amati, banyak nama nasi alias sego-segoan di daerah Jawa Timur. Sego sambel, sego bakar, sego jenggo, sego ayam, sego urap-urap. Ya, sebetulnya lauk-pauk yang terkandung dalam sebungkus sego-segoan barusan cukup umum bagi kita yang berada di luar Jatim, semacam ayam, daging, tahu & tempe, telur, dan sayur.

Sementara di Jawa Timur, kesemua nasi tersebut beroleh nama masing-masing yang unik, tak seperti di daerah lain yang sebatas menyebutkan nasi rames, nasi bungkus, timbel, atau malah nasi warteg untuk mengistilahkan porsi nasi dengan menu lauk-pauk standar.

Sego yang paling terkenal tentu saja sego pecel. Sego pecel sendiri banyak jenisnya sesuai daerah pengusung: Ponorogo, Tumpang (Kediri), Madiun, Nganjuk, dan sepertinya masing-masing daerah di Jawa Timur punya cita rasa nasi pecel yang khas. Nasi pecel tersebar di pinggir jalan, di dalam kereta api, dijajakan keliling dengan bakul, hingga tersedia di rumah makan khusus nasi pecel yang kena pajak 10%.


Selain nasi pecel, salah satu nasi yang terlihat cukup banyak dijajakan di pinggir jalan, khususnya di Sidoarjo adalah nasi krawu yang aslinya berasal dari Gresik. Terdiri dari nasi putih, suwiran daging sapi berselimut serundeng manis, serta sambal terasi yang pedes banget tapi enak. Semuanya dibulen dalam bungkusan daun pisang kemudian kedua ujungnya ditisik oleh tusuk gigi atau lidi. Serundeng dan sambal terasi yang pedasnya menggigit lidah menyempurnakan sajian tradisional yang biasa disantap saat sarapan pagi itu.

Nasi krawu mengingatkan saya pada sajian gepuk di daerah Priangan. Daging dalam nasi krawu persis dengan gepuk, baik dalam hal penampakan maupun pengecapan, yaitu daging berbumbu kering alias tuus, tidak seperti rendang yang mempunyai kuah baik kental maupun encer. Hanya saja saya akui gepuk khas Priangan yang punya dua variasi yaitu gepuk jujut (suwir) berbentuk bola diikat tali bambu, dan gepuk biasa yang bentuk serta ukurannya mirip rendang itu memang lebih kaya bumbu dibanding daging pada nasi krawu.


Serupa dengan gepuk yang biasa disantap bersama nasi timbel, daging nasi krawu pun disajikan bersama nasi dalam bungkusan daun pisang. Nasi putihnya sama pulennya dengan nasi timbel, malah mirip dengan nasi punel khas Bangil yang tiga tahun silam sempat saya cicipi. Entahlah, kenapa nasi yang dibungkus oleh daun pisang semacam nasi timbel atau nasi krawu itu kok bisa lebih pulen dan lebih nikmat dibanding nasi hasil kreasi Magic Com. Barangkali, sehelai daun pisang justru lebih magic ketimbang seperangkat Magic Com.

Harga nasi krawu berkisar antara 10 hingga 15 ribu, tergantung banyaknya daging yang terkandung di dalam bungkusan daun pisang. Nasi krawu yang saya beli seharga 11 ribu dari penjual bersepeda di kawasan Taman Pinang Indah ini sebenarnya sudah bikin kenyang, tapi namanya juga makan dengan nasi pulen dan sambal terasi, selalu timbul nafsu untuk menambah porsi. Bila tak tahan iman, makan nasi krawu takkan cukup satu.[]

Skor Nasi Krawu Khas Gresik Ibu Mariah :
Rasa : 8,5
Harga : 8
Instagramable : 7

07 February 2016

Campur-Baur ala Rujak Cingur

4 comments :

Tak selamanya makan itu menyenangkan, terutama mencicipi makanan yang jauh dari keseharian kita dan belum pernah kita jajal sebelumnya. Selalu ada rasa khawatir andai makanan yang akan kita santap itu tak sesuai harapan atau ekspektasi semula. Atau bahkan kita seolah sudah menyimpulkan suatu makanan jauh dari rasa lezat dan takkan masuk dalam kolom selera kita, padahal sejilat pun belum berani mencobanya.

Rujak cingur, salah satu kuliner khas Surabaya, bagi saya tergolong makanan semacam demikian. Orang-orang yang pernah saya temui selalu bilang kuliner yang tersebar di hampir seluruh daerah Jawa Timur termasuk Sidoarjo ini sebagai kombinasi bahan makanan yang aneh dan di luar nalar. Rata-rata mereka berpendapat, sekadar melihat, bahkan membayangkan bahan bakunya saja, rujak cingur sudah bikin mual, menimbulkan hasrat ingin muntah, dan jadi biang kerok mencret-mencret sesudahnya.

Jadi menurut mereka, buanglah jauh-jauh rujak cingur dari daftar kuliner favorit yang wajib dicicipi. Memang, orang-orang yang bilang seperti itu rata-rata daerah asalnya sama dengan saya, kalau tidak berasal dari Bandung, ya dari Bogor, pokoknya asli Jawa Barat.

Satu-satunya orang yang mengaku fanatik pada rujak cingur adalah kakak sulung saya. Katanya setiap kali ke Jawa Timur, bisa tiap hari makan rujak cingur. Konon rasanya seger dan bikin merem melek. Lantaran kegemaran kakak sulung inilah saya jadi penasaran, seperti halnya penasaran terhadap kegemarannya pada sate Padang yang beberapa bulan lalu saya bahas. Entahlah, selera kakak sulung mungkin cenderung open tongued (istilah apa pula ini), tidak seselektif lidah saya yang kadang suka pilih-pilih makanan, misalnya ikan.

Mumpung lagi di Sidoarjo, suatu hari saya langsung mencatatkan rujak cingur pada notes untuk bahasan blog ini. Belum sempat berburu rujak cingur, eh, pucuk dicinta rujak cingur pun tiba. Kakak saya yang baru pulang dari rumah pembeli dompet jualannya, datang menjinjing kresek berisi dua pincuk rujak cingur.

"Ayo, langsung dibuka, nanti keburu bari."

"Loh, kok bari? Emang bahannya apa aja?"

"Mirip lotek gitu lah. Ada taoge, kangkung, buah-buahan, ah.. coba weh buka geura..."

Apalagi disuruh, tanpa disuruh pun pasti saya akan segera membongkar pincuk rujak itu tersebab curiousity yang tinggi. Jantung mendadak deg-degan lebih intens. Deg-degan takut gak enak. Deg-degan takut muntah-muntah. Deg-degan takut kiamat benar-benar sudekat, dan percayalah ini sungguh lebay, banget.

Pertama, saya memfoto rujak cingur ini terlebih dahulu untuk keperluan dokumentasi di blog ini (bukannya berdoa), kemudian memilah item demi item satu per satu. Saking banyaknya bahan-bahan yang dicambur-baur hingga tersebut sebagai rujak cingur, mending saya ejawantahkan dalam meme berikut:


Proporsi kesemua bahan di atas, termasuk cingur (hidung sapi) sebagai pemeran utama sehingga tak perlu saya masukkan ke dalam bulatan oval layaknya bahan lain, seolah sudah dikalkulasi dalam formula neraca massa saja sama Mboknya, bener-bener seimbang, tidak berasa lebih, tidak berasa kurang.

Saya makan perlahan guna lebih meresapi bahan dan bumbu sebagai mangsa lidah. Rujak cingur ini layaknya duet maut antara rujak dan lotek, di mana biasanya rujak dan lotek selalu terpisah pada cobek yang berendengan, seperti sepasang tetangga bersebelahan yang tak pernah saling sapa. Bumbu kacangnya enak banget. Tekstur bumbu yang halus sekaligus kental itu semacam pemersatu bangsa dalam sepiring rujak cingur. Baru kali ini saya melihat sayuran, buah-buahan, dan trio kikil, kuping dan cingur begitu intim bercampur-baur dalam piring yang sama, yang ternyata cita rasanya juara!

Tibalah giliran mencoba kikil, kuping, dan tentu saja cingur sapi. Tak disangka, ketiga bahan yang tak lazim bagi saya ini sungguh klop bersama bumbu kacang dan aneka sayur-sayuran, bahkan dengan ragam buah yang ada. Seperti saling melengkapi dan tidak justru terjadi tawuran rasa antar mereka di dalam mulut. Aroma cingur dan kikil memang masih cukup kuat, namun setelah tiba dalam goyangan lidah, sensasi amis tidak begitu kentara. Mungkin sudah teredam oleh bumbu kacang likat yang nikmat itu, serta segarnya sayur-sayuran dan buah-buahan yang membuat saya ingin menyuap lagi dan lagi sampai habis.

Potongan lontong yang jumlahnya pas melengkapi makan siang Selasa kemarin hingga perut puas termanjakan. Mungkin lantaran proporsi karbohidrat, protein dan vitaminnya seimbang, makan siang kemarin terasa menyegarkan, tidak justru mengundang kantuk seperti usai makan daging-dagingan.


Seabreg porsi rujak cingur yang kakak tebus seharga 10 ribu rupiah ini berada di daerah Lemah Putro dekat Kampung Jetis. Rujak Cingur Cak To namanya. Selain berjualan rujak cingur, Cak To menyediakan pula gado-gado yang bahan-bahan dan penampakannya agak berbeda dengan gado-gado Betawi. Mungkin lain kali akan kita bahas gado-gado khas Jetis ini, sebab tiga tahun lalu saya pernah mencobanya dan enak banget!

Satu lagi makanan setelah sate Padang yang semula ragu-ragu saya cicipi, faktanya malah masuk ke dalam daftar makanan pilihan saya: Rujak Cingur![]

Skor Rujak Cingur Cak To - Kampung Jetis, Sidoarjo :
Rasa : 8,5
Tempat : 8
Pelayanan : 8
Harga : 8,5
Instagramable : 8

03 February 2016

Masak Aer Biar Mateng

2 comments :
Lawakan Oppie Kumis di televisi beberapa tahun lalu ini sebenarnya membingungkan bila dikaitkan dengan kondisi kita saat ini.

Di rumah Anda sekarang, apakah masih memasak air dari sumur sendiri? Masih berani menenggak air yang sama dengan air yang dipakai untuk mandi?

Kalau saya di Bogor sudah tidak lagi. Pernah beberapa kali masak air dari sumur, tapi bikin saya sakit perut dan kencing tersendat-sendat. Alhasil sampai sekarang saya dan Mamah memutuskan untuk berlangganan air minum isi ulang yang harganya goceng segalon itu, kemudian disaring terlebih dulu melalui Unilever Pure It.

Mengenai kesehatan dan kehigienisan air isi ulang yang di sini dijuluki "Air Bogor" itu sebetulnya masih abu-abu. Banyak hasil riset yang saling bertolak belakang yang pada akhirnya membuat masyarakat memutuskan masing-masing. Tapi alhamdulillah selama mengonsumsi air isi ulang, kesehatan saya baik-baik saja. Tidak seperti minum air sumur sendiri yang langsung bikin saya mules dan anyang-anyangan.

Di kampung halaman saya, Padalarang, kami masih minum hasil jerangan dari air sumur sendiri. Begitupun dengan tetangga-tetangga kami. Airnya terbukti masih bersih dan aman di lambung. Satu-satunya kekurangan air di sana adalah kandungan lumpur hitam yang kadang suka menyumbat saluran flushing kloset dan menciptakan kerak membandel pada bak mandi. Selebihnya, lumpur-lumpur itu toh masih dapat terendapkan di dasar buyung (ember besar) sebagai penampung air untuk keperluan air minum dan memasak.

Ada filsuf yang saya lupa namanya pernah bilang kurang lebih begini:

Untuk menilai kinerja pemerintahan kita, cukup amati air yang mengalir di sungai setempat. Jika bersih, bersihlah politisi-politisi yang kita pilih. Bila kotor, berbau busuk, bersumbat sampah-sampah, demikianlah kelakuan pejabat terhormat kita.

Jangankan sungai, di sini, sumur saja sudah tercemar. Mungkinkah air sungai dimasak? Apakah istilah "Masak Aer Biar Mateng" itu maksudnya adalah air Aqua galon dijerang terlebih dahulu di teko, barulah diminum? Sebab di Bogor saja, bahkan di Sidoarjo yang letaknya jauh dari Jakarta, penduduk setempat sudah terbiasa minum dari air minum dalam kemasan dan ragu dengan air sumur sendiri.

Saya pun ragu dengan pemerintahan negara sendiri. Sepertinya politisi pun harus dijerang dahulu di dalam kuali hingga mendidih, supaya pikiran-pikiran miring mereka terluruskan dan terluruhkan, supaya kelakuan mereka setelahnya higienis dan sejuk di hati rakyat. Takkan lagi bikin kami mules dan muntah-muntah melihat kebodohan mereka di mana-mana, dan bodohnya mereka bangga dengan kebodohan mereka.[]