03 February 2016

Masak Aer Biar Mateng

2 comments :
Lawakan Oppie Kumis di televisi beberapa tahun lalu ini sebenarnya membingungkan bila dikaitkan dengan kondisi kita saat ini.

Di rumah Anda sekarang, apakah masih memasak air dari sumur sendiri? Masih berani menenggak air yang sama dengan air yang dipakai untuk mandi?

Kalau saya di Bogor sudah tidak lagi. Pernah beberapa kali masak air dari sumur, tapi bikin saya sakit perut dan kencing tersendat-sendat. Alhasil sampai sekarang saya dan Mamah memutuskan untuk berlangganan air minum isi ulang yang harganya goceng segalon itu, kemudian disaring terlebih dulu melalui Unilever Pure It.

Mengenai kesehatan dan kehigienisan air isi ulang yang di sini dijuluki "Air Bogor" itu sebetulnya masih abu-abu. Banyak hasil riset yang saling bertolak belakang yang pada akhirnya membuat masyarakat memutuskan masing-masing. Tapi alhamdulillah selama mengonsumsi air isi ulang, kesehatan saya baik-baik saja. Tidak seperti minum air sumur sendiri yang langsung bikin saya mules dan anyang-anyangan.

Di kampung halaman saya, Padalarang, kami masih minum hasil jerangan dari air sumur sendiri. Begitupun dengan tetangga-tetangga kami. Airnya terbukti masih bersih dan aman di lambung. Satu-satunya kekurangan air di sana adalah kandungan lumpur hitam yang kadang suka menyumbat saluran flushing kloset dan menciptakan kerak membandel pada bak mandi. Selebihnya, lumpur-lumpur itu toh masih dapat terendapkan di dasar buyung (ember besar) sebagai penampung air untuk keperluan air minum dan memasak.

Ada filsuf yang saya lupa namanya pernah bilang kurang lebih begini:

Untuk menilai kinerja pemerintahan kita, cukup amati air yang mengalir di sungai setempat. Jika bersih, bersihlah politisi-politisi yang kita pilih. Bila kotor, berbau busuk, bersumbat sampah-sampah, demikianlah kelakuan pejabat terhormat kita.

Jangankan sungai, di sini, sumur saja sudah tercemar. Mungkinkah air sungai dimasak? Apakah istilah "Masak Aer Biar Mateng" itu maksudnya adalah air Aqua galon dijerang terlebih dahulu di teko, barulah diminum? Sebab di Bogor saja, bahkan di Sidoarjo yang letaknya jauh dari Jakarta, penduduk setempat sudah terbiasa minum dari air minum dalam kemasan dan ragu dengan air sumur sendiri.

Saya pun ragu dengan pemerintahan negara sendiri. Sepertinya politisi pun harus dijerang dahulu di dalam kuali hingga mendidih, supaya pikiran-pikiran miring mereka terluruskan dan terluruhkan, supaya kelakuan mereka setelahnya higienis dan sejuk di hati rakyat. Takkan lagi bikin kami mules dan muntah-muntah melihat kebodohan mereka di mana-mana, dan bodohnya mereka bangga dengan kebodohan mereka.[]

2 comments :

  1. wkwkwk jadi lupa mau komen apa pas baca paragraf terakhir

    ReplyDelete
    Replies
    1. gapapa, asal jangan lupakan akoh :3 #hoeks

      Delete