29 April 2016

Berbagi Hidup dengan Harimau

No comments :
Terdampar di antara badai dan misteri lautan. Dengan seadanya perbekalan. Ketika hidup sungguh-sungguh hanya bergelayut kepada kasih sayang Tuhan. Tiada lagi terlintas niat menantang Keagungan-Nya seperti sebelumnya kerap mudah terlena dalam setitik kenikmatan. Masihkah kita hendak berbuat macam-macam?
Keterasingan seseorang dalam pergulatan hidup di alam yang dipersembahkan Sang Pencipta, disuguhkan apik oleh Life of Pi. Penderitaan akibat keterpentalan dari dunia sebelumnya yang biasa menenangkan meski sejatinya menghayutkan—sebab barangkali dibuat fana oleh manusia sendiri—ke segara luas tanpa batas; berkubik-kubik misteri yang tak seorang pun mampu pecahkan.

Diperparah oleh kehadiran hewan buas dari kebun binatang yang semula hendak dipindahkan dari India ke Kanada, yang berhasil mengevakuasi diri ke sekoci Pi. Terpaksa Pi berbagi hidup dengan seekor harimau lebih dari belasan hari, tanpa pengamanan berlapis-lapis kerangkeng yang biasanya meredam keliaran si belang seperti di kebun binatang milik ayahnya dulu. Ia ditakdirkan untuk bertahan hidup satu sekoci dengan makhluk buas pemakan lima kilogram daging setiap hari.

Semula saya kira plot Life of Pi takkan jauh-jauh dari alur utopis Tarzan atau Mowgli, yang bakal begitu mudahnya menjalin persahabatan dengan hewan-hewan liar, bahkan dapat berkomunikasi melalui bahasa yang dimengerti manusia. Ternyata, nihil. Sampai akhir film, harimau dideskripsikan sebagai harimau, bukan sebagai harimau bertabiat manusia. Ia tetaplah liar sesuai kodrat lahiriahnya. Harimau takkan sekali pun menjelma kucing yang akan dengan mudah dibelai-belai dalam ribaan sang Tuan. Tetap karnivora sejati, makhluk pengoyak daging, yang sungguh mungkin pula mencabik daging manusia tanpa permisi.

Harimau bernama Richard Parker itu sungguh sukar dijadikan sebagai teman, sebagaimana wanti-wanti ayahnya dulu. Dalam berhari-hari bertahan hidup di atas sekoci, terombang-ambing tanpa daya di samudera, acap kali keduanya saling berebut kehidupan. Nyaris menuntaskan salah satu nyawa. Hingga angin dan ombak menambatkan sekoci mereka ke pulau hijau nan menenteramkan pada siang, dan terang benderang saat pekat malam. Sepintas, mirip dengan dunia ini. Dunia berisikan manusia yang kerap dibayangi euforia bahagia, padahal pengintai-pengintai selalu siaga.

*

Pulau terapung yang sekadar berkonstruksi akar-akar pepohonan indah yang saling berpaut itu membangkitkan asa Pi dan Richard Parker. Di sana, sepuasnya mereka memanjakan lapar dan dahaga yang terkatung-katung beberapa hari belakangan. Dedaunan, umbi-umbian, hingga daging-dagingan tersedia melimpah cuma-cuma. Telaga jernih air tawar di tengah lautan dikelilingi ribuan binatang mungil, membuktikan sambil menyelam minum air itu benaran ada dan nyata. Seperti di surga.

Namun begitu malam tiba, perubahan tingkah polah binatang-binatang kecil yang jumlahnya tak tepermanai mengejutkan Pi. Mereka serempak memanjat pohon-pohon. Berlarian menuju tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka bermain dan bersenang-senang pada siang hari. Seolah mencari perlindungan pada malam hari sudah menjadi rutinitas mereka. Mengindikasikan daratan pulau terapung itu pada gelap malam tidak seindah pendar cahayanya.

Menyaksikan adegan ini saya jadi teringat dunia, satu-satunya alam yang sedang dan dapat kita huni sekaligus sedang kita hancurkan pelan-pelan. Keindahan pulau terapung yang nyaris tanpa cela, dengan rendah hati menjujurkan diri sebagai tempat yang nir-abadi, bukan tempat tepat untuk dimukimi selamanya. Sekadar tempat bersinggah dalam sejenak. Selayaknya Pi dan Richard Parker yang memutuskan untuk segera pergi dari bayang-bayang kemolekan pulau perawan itu.

Sebelum melanjutkan perjalanan alias mendayung kembali sekoci harapan, Pi memboyong perbekalan yang melimpah dari pulau itu ke sekoci, satu-satunya transportasi menuju asa keselamatan, demi memperpanjang napas dan asa mereka. Akan terkesan bodoh apabila keduanya melengos begitu saja dari pulau indah itu tanpa mengemas dan mengangkut logistik. Tanpa menyucikan diri terlebih dahulu di telaga sebening kaca pada siang hari, yang pada malam menjelma air asam; air pemusnah sesiapa pun makhluk berani berenang di sana pada waktu yang tidak tepat.

*

Kematangan dan kekuatan cerita dibuktikan pada film yang akhirnya meremukkan hati ini yang biasa keras mendadak melunak beberapa jenak, meninggalkan jejak haru dan menyingkap ruang permenungan. Beruntung sang screenwriter cukup lihai menerjemahkan imaji-imaji penulis novel dalam memadatkan konflik tanpa meluputkan elemen-elemen penting cerita. Efek visual yang tergolong standar bila dibandingkan film lain yang mungkin jauh lebih jor-joran merekayasa indera, seakan elemen remeh-temeh yang tidak terlalu penting untuk penonton perhatikan serta perlu kritisi sebab ombak cerita sudah cukup menghanyutkan ekspektasi kita.

Pada penghujung film, kita dipersilakan untuk memilih cerita mana yang kita sukai. Yang agak terdengar nyata ataukah yang berkesan tak masuk akal? Sebab kehidupan ini adalah lautan kemustahilan-kemustahilan yang mustahil manusia kuasa pahami, hanya Sang Pencipta yang Maha Kuasa membuat segala pun dapat terjadi cukup dengan Kun![]

Photo credit: Raj Dasgupta

22 April 2016

Festival Hujan (2)

2 comments :
Baca sebelumnya: Festival Hujan (1)
Penasaran pada event yang membuat ruas jalan tadi mesti disterilkan, saya mampir ke taman kota. Taman kota merias diri. Burung-burung kertas berhias lampu warna-warni bergelayut pada sebentang tali yang mengitari taman. Lain dengan hiruk pikuk jalanan yang disterilkan, di sini sepatah pun suara luput saya dengar dari mulut hadirin yang duduk di kursi kayu eboni. Senyap. Padahal mereka datang lebih dari sendirian (terpaksa saya harus bilang bahwa mereka datang berpasang-pasangan).

Saya menebus tiket masuk yang murah sekali, lebih murah dari secangkir kopi yang konon panas namun nyatanya suam-suam hasil racikan barista karbitan di kafe yang tak jauh dari sini. Kru perempuan maupun laki-laki yang sama-sama berkostum mantel hujan hijau stabilo bersibuk dengan handie talkie dalam genggaman. Saya mendengar mereka berceracau dan saling tukar perintah, bahkan tukar amarah. Sudahlah, itu urusan mereka, lebih baik segera duduk di tempat yang sudah mereka sediakan.

Lima kursi yang belum tersemayam, dengan saya, alhasil tersisa empat. Pelan saya duduk, menatap atap kosmos yang pekat. Bukankah namanya festival hujan? Andaikata malam ini hujan, berarti kita semua akan kehujanan? Yah, tak apa, setidaknya bukan kehujanan dengan Ladya. Jika berhujan-hujan dengannya, cuma ada dua pilihan bagi saya: membiarkannya terdiam tanpa ucap, atau… membiarkannya pergi, seperti peristiwa saat itu. Sampai saat ini saya rasa pilihan terakhir terdengar masuk akal, selalu.

Belum, pita festival belum digunting secara resmi. Sekalipun jalanan sudah dibersihkan, menteri pemuda belum kelihatan helai kumisnya yang baplang itu. Pentas dimeriahkan pembacaan puisi-puisi yang kesemuanya tentang hujan. Majal sekali. Kecuali puisi tentang hujan di Ethiopia yang dideklamasikan siswi SMP, selainnya semata kegalauan cinta yang dangkal―mungkin karena saya memang tak suka puisi.

Setelah setengah jam diisi oleh pembacaan puisi, MC mengabarkan sembari memohon maklum oleh karena menteri pemuda masih di ibukota tersebab entah apa, namun konon ia bakal menyempatkan hadir. Segenap hadirin mengesah dan bersorak kecewa, dalam hati saya menyerapahi menteri pemuda, sebab ia telah membuat saya berjalan kaki dari jalanan yang disterilkan. Buat apa jalanan tadi disteril jika tokoh agungnya saja datang terlambat.

MC flamboyan yang membuat saya bingung harus mendaulatnya ganteng atau cantik itu berdiri menenangkan kemisuhan hadirin, mengusulkan band tamu tampil pentas duluan. Lebih tepatnya, ia akan membiarkan acara mulai berjalan kendati tanpa ada sambutan dari menteri pemuda. Mengapa tiada walikota atau wakilnya saja yang hadir menggantikan, tanya saya pada pria gemuk yang duduk di sebelah. Namun ia manggut-manggut tidak tahu.

Pertanyaan yang―lagi-lagi―belum terjawab: mengapa dinamakan festival hujan? Sekarang masih Juli. Hujan jarang saya jumpai. Bulan pertama dengan akhiran -ber masih dua bulan lagi. Sepertinya penduduk kota ini begitu gandrung dengan hujan, sampai-sampai hujan difestivalkan pada bulan Juli.

Vokalis perempuan, satu lelaki bergitar akustik, satu lelaki pembetot bas, satu lelaki lagi duduk di atas kotak kayu yang ia talu-talu naik pentas. Separate Lives mengalun merdu sekaligus pilu. Ekspresi vokalis yang seumur hidupnya bagai tak pernah bahagia cukup mendukung. Saya turut terhanyut bersama hadirin di sekelilingku yang tangannya silih genggam. Saya cuma bisa tersenyum sambil mengamati satu demi satu penonton.

Dan mata saya terhenti saat mendapati sosok perempuan yang… Ladya! Kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya dia ada di kamarnya, menunggu saya!

Sama seperti saya, Ladya sedang menyeruput senandung dari empat manusia di pentas yang khusyuk mencurahkan notasi dan emosi. Sesekali dia melambai ke arah pentas sambil melengkung senyum dan mengerucutkan bibirnya. Saya tilik wajah-wajah di pentas. Pembetot bas membetot senjatanya dengan wajar, sesekali tersenyum tipis pada hadirin. Wajah pemukul kotak kayu―entahlah, apa nama persisnya alat itu―datar sekali. Vokalis masih tenggelam dalam alam sendu Phil Collins. Si pemetik gitar, yang berduet dengan vokalis perempuan, tersenyum pada hadirin. Saya amati bidikan senyumnya terdestinasi kepada satu hadirin: Ladya. Keduanya beradu pandang, mata Ladya berbinar-binar seperti kaca yang dilap saban hari. Sesekali bernyanyi tanpa mengeluarkan suara, jikapun mengeluarkan suara, pastinya kalah oleh alunan duet penyanyi di pentas beserta instrumen pengiring.

Sementara langit sukses mengusir bintang-gemintang hingga tiada satu pun, bulan pun terselaput kelam. Setetes dingin terjerembap di rambut, meresap ke dalam kulit kepala saya. Tetes selanjutnya. Pacak-pacak hujan lambat-laun membasahi kepala dan bahu saya. Semakin rapat. Semakin tumpat. Saya urung melepas rekatan dalam kursi kayu ini sebab melihat orang-orang bergeming seperti sedia kala, terbuai suara penyanyi perempuan dan penyanyi laki-laki yang menyanyikan kehidupan terpisah. Hujan bukan alasan untuk berteduh. Pakaian hadirin basah kuyup selayaknya burung-burung kertas yang layu dan satu per satu jatuh di samping sepatu saya.

Begitupun Ladya.

Rambut yang ia ikat, ditisik lidi-lidi hujan. Gaun hitamnya―baru sekarang saya melihat tubuhnya berbalut gaun―perlahan menampung urine awan. Saya ingin menyampirkan mantel yang tak terlampau tebal ini kepadanya, khawatir ia menggigil.

Saya membungkuk di samping Ladya yang masih duduk mencorong ke pentas, agak mengganggu penonton sebelahnya dan saya pun mohon permisi. Ladya menolehku, membiarkan mantel saya menyungkupi kepalanya. Ladya kembali tenggelam dalam senandung tanpa mengindahkan hadir saya.

“Kenapa kamu di sini, Ladya?”

“Menonton pementasan musik,” matanya lurus ke pentas, “dan pertunjukan hujan. Aku rindu keduanya.”

“Kita pulang saja,” bujuk saya, “cari tempat berteduh. Kita minum cokelat hangat atau kopi di sana, mau?” dengan mata, saya menuding bangunan kecil yang terang benderang oleh lampu besar berbentuk cangkir di atapnya.

Musik masih mengalun menandingi sendu hujan. Kru yang berseragam mantel hujan itu, memayungi tiap-tiap personil band dengan payung hitam. Kelistrikan tidak ada masalah. Suara masih terhasil bulat dari box-box aneka ukuran yang sedari awal berada di tempat teduh.

“Tak usah. Aku di sini saja. Menonton hujan. Aku mencintainya.”

“Sebesar cintamu padaku?”

Air hujan berkontak dengan air asing dari mata Ladya. Dia menatap saya lengkap dengan senyum yang cantik, kulihat lesung di pipinya, membuat saya bersyukur pernah menyayanginya. Ladya mengenyahkan mantelku. Berdiri sejenak menengadah langit. Tampak sangat menikmati bulir per bulir yang jatuh ke rambut, pundak. Gaun hitam kuyup mencetak tubuhnya. Saya tambah sayang padanya.

“Malam ini, hatiku kembali kepada hujan. Maafkan aku.”

Mantel kembali bersampir pada bahu saya yang tengah menatap punggung Ladya yang melangkah hati-hati ke panggung didampingi hujan. Kini dia berhujan-hujan bersama lelaki bergitar yang masih bernyanyi. Dua kelebat kilat memotret bibir Ladya yang beradu dengan bibir lelaki bergitar. Berkat sokongan hujan, keduanya hanyut dalam pelukan. Saya mengaduh kepada hujan, namun kiranya langit festival hujan sedang khusyuk terbahak hingga terperas air matanya. Berlimpahan.[]

Bogor, Maret 2014

Photo credit: Carl Beebee

17 April 2016

Festival Hujan (1)

No comments :

Satu jam menyesap aroma ketiak lintas usia dalam bus kota, bukan hal yang menyenangkan. Mestinya cukup lima belas menit saya sampai di Jalan Lokananta 108, seberang toko roti yang bersebelahan dengan toko bunga. Malam ini saya berupaya berangkat dari kost pukul tujuh, sebab saya sangka paling lambat setengah delapan saya sampai di kost Ladya yang ber-AC dan ber-TV kabel sekaligus rumah kost yang segenap penghuninya perempuan kecuali bapak kostnya yang berstatus duda itu.

Sabtu malam ini saya merasa enggan untuk mengajaknya ke kafe, bioskop, atau ke tempat lain semacamnya. Kami bertengkar semalaman dalam awan-awan chat dan tengah malam ia mengerat panggilan telepon dengan ketus tatkala mulut saya berbusa-busa di udara. Dan malam ini sepotong kalimat Ladya semalam terus terngiang berkali-kali seperti tayangan iklan televisi, “Kapan sih kamu ngertiin aku?”

Entahlah. Yang pasti, Ladya bukanlah sesuatu untuk perlu saya pahami―jujur, saya sudah cukup kerepotan dalam memahami mengapa monyet suka pisang atau sampai kapan kucing bersitegang dengan anjing. Saya sayang padanya. Sudah, sesederhana itu. Mungkin ia anggap prinsip saya terlampau sederhana.

Saya hendak menyambangi kamar kostnya, demi membincang hubungan kami. Apakah jalani saja dulu, lagi. Ataukah cukup sampai di sini. Tapi, buat apa berpisah dengannya jika di kampus, saya masih sering bertemu dengan perempuan itu, terkantuk-kantuk bersama berkat dosen yang melantun dan melantur, tenggelam dalam organisasi kampus serupa, bersama bertindak sebagai organisator setiap ada seminar di jurusan. Dan sama-sama menginisiasi taman baca di kampung tak jauh dari kampus. Banyak sekali bukan kesamaan kami?

Kalaupun saya dan Ladya sungguh berpisah, mungkin kampus menjelma ruang sepengap, sepesing jamban terminal.

Satu per satu penumpang beranjak dari jok penuh coretan aneka rupa dari tangan pintar anak sekolah kurang kasih sayang. Cuma saya lelaki yang masih mendekam. Selebihnya perempuan paruh baya yang barusan bangkit dari duduknya. Perempuan muda berkerudung merah punuk unta tampak berkemas, lungsur terburu-buru dengan wajah yang sebetulnya cantik andai mendiskon harga senyum.

Menggendong ransel kempes, saya turun menghirup udara malam yang lembap dan gerah. Kota ini sedang dikukus dalam dandang semesta. Gemintang yang bertaburan bisa dibilang dan bulan yang sejatinya pemalu, kian tersipu berkat sesuatu yang mengaraknya di sana. Jalan Lokananta 108 masih sekitar tiga kilometer dari leretan kemacetan.

Baru saya tahu mengapa mobil-mobil berbaring lesu di aspal, sesudah melenggang setengah jam menembus celah antara mobil dengan mobil, mobil dengan bus, bus dengan truk―sementara motor sukses menyelusupi jalan tikus. Kata pedagang asongan yang bersualangkah barusan, ada menteri lingkungan hidup dan menteri pemuda dan entah siapa lagi berkunjung ke kota ini, sehingga ruas jalan disterilkan dari roda empat dan roda dua berpelat hitam, apa lagi kendaraan beroda lebih dari empat.

Ada semacam festival di taman kota yang persis di lambung kantor walikota.

Andai saya tahu sejak jauh-jauh hari―setidaknya kemarin, pasti Ladya saya ajak ke sana. Tapi sekarang sudah terlambat. Jikapun amarahnya sudah menyurut, kecil kemungkinan ia mau keluar. Dan saya ulangi sekali lagi: kami sedang bertengkar; tak enak dilihat orang seperti saat itu, saat itu, dan saya lupa kapan lagi kami begitu.

Bila bukan lantaran Ladya, mungkin saya sudah balik badan sejak sejam lalu sebelum bus terbebat jalan tersterilkan, ke rumah teman yang berfasilitas sedikit mewah, demi bermain gim online sembari menonton laga sepakbola dalam TV kabel.

*

Sudahlah, aku tak ingin menyebut namanya. Dia sangat menyebalkan. Semalam aku bilang tak usahlah menghubungiku lagi. Tapi kiranya dia memang belum sempat kenal jera. Ia meneleponku―padahal biasanya ia pelit sekali dalam perkara pulsa. Aku diam saja, tak indahkan ocehannya yang lebih buruk dari dengungan layar semut televisi.

Aku cinta padanya, mungkin kadarnya sedikit lebih ketimbang pacarku yang dulu-dulu itu, entah, padahal hubungan kami bermula dari pertemanan biasa yang bukan disengaja. Kami sering bertemu, sebab memang kami satu kelas di jurusan yang sama, jurusan yang jumlah perempuan dan laki-laki sama rata. Aku tak ingat kapan persisnya ia mengajakku ke kawasan perbukitan malam-malam menikmati kunang-kunang kota. Dan anehnya tahu-tahu aku suka padanya saat itu, desir angin malam berandil sebagai orang ketiga pembaur rasa dua hati yang berbeda.

Tapi bukan sebatas rasa suka yang bertengger dalam hatiku. Ada satu ketaksukaanku daripadanya yang juga penyebab pertengkaran semalam. Ia suka terlambat. Mungkin bagimu sepele, bagiku ini menyebalkan.

Bukan apa-apa. Dia tak pernah terlambat membeli fiksi fantasi terbaru untuk dirinya di toko buku ataupun terlambat membeli voucher gim online yang bagiku serupa racun kloroform. Dia pun tak pernah terlambat berangkat kuliah, apalagi saat jadwal seorang dosen perempuan di antara sehimpun dosen lelaki yang tak lagi muda (tidak, buat apa aku cemburu terhadap perempuan sebaya tanteku).

Ada keterlambatan yang paling terkenang, selebihnya sering sekali. Dia terlambat menjemputku sepulangku dari kantor penelitian tempatku magang. Kala itu, pertengahan Desember. Hujan. Ya, ada halte kecil yang bisa menjelma peneduh. Sayang sekali, hujan sore itu terlalu lebat untuk dinaungi atap halte yang ompong, dan angin turut menyimpangsiurkan arah hujan.

Satu jam kemudian dia nongol bukan dengan vespa―yang kerap mogok mendadak itu―dan mantel hujan transparan untukku. Melainkan bus kota.

Jika aku tahu ia naik bus kota, sudah sedari tadi aku naik bus kota! Dan aku bingung, siapa yang semestinya mengakui ketololan saat itu. Seturunnya dari bus kota, dia menadah air hujan oleh ransel belel di kepala. Berjalan tergesa-gesa seperti enggan kehujanan, padahal sudah satu jam aku bergelimang hujan, sebab percaya dia akan datang. Dan dia memang sungguh-sungguh datang, beserta keterlambatan.

“Maaf, aku terlambat. Hujan.”

Aku diam saja.

“Sudah lama menunggu?”

Aku memejam, menunggu maafnya, yang pasti basi.

“Maaf, aku tak mengendarai vespa. Hujan, aku sedang malas hujan-hujanan. Jadi, aku memutuskan naik bus kota saja. Ide bagus, kan, sehingga kau takkan kehujanan nanti,” dia tersenyum, “kita mampir makan dulu?”

Aku membuang pandang pada bus kota yang melambat menubruk tirai hujan yang kini meminggir di halte. Aku bergegas naik bus dengan baju basah dan mata lenyah. Aku tak melihat lelaki itu naik; mungkin tengah terlongo gagu menerawangi bus yang mengentuti.

Dia akan ke sini malam ini. Begitu katanya dalam chat tadi sore. Aku tak membalas, membiarkan simbol read mengoyak-oyak perasaannya sehingga ia merasa sangat bersalah. Namun ku yakin dia lempeng-lempeng saja, takkan sepanik Minggu kemarin ketika sepatu running-nya raib di masjid raya.

Aku sedang membaca dan sedikit merevisi berkas penelitian yang belum terselesaikan di kamar kost yang sepi (karena ini malam Minggu). Ekor mataku mendapati LED ponsel berkedip-kedip, memunculkan nomor telepon saja tanpa foto kontak. Kusambar, dan langsung kuangkat panggilan itu. Dari Jef! Hahaha. Ini gila. Sudah tiga tahun berlalu, sejak terakhir kali aku mendengar suaranya. Sontak ku bertanya dari siapa atau bahkan dari mana Jef memperoleh nomor teleponku yang tak pernah kuumbar ke sembarang orang.

“Penting?”

Jef masih memelihara telatah yang membuatku merasa sebal terhadapnya. Bedanya, kali ini aku menanggapinya dengan senyuman. Dan, yah, sepacak kerinduan. Jef menanyakan kabar. Aku jawab sebagaimana formalnya: baik―padahal sungguh sebaliknya. Aku bertanya kabar balik yang dijawab Jef oleh jawab yang tak kusangka.

“Kurang baik,” katanya dengan tukikan nada. “Makanya aku nelpon kamu.”

Hatiku menghangat. Bingung harus melontar kata apa pun selain ‘oh’.

“Tebak aku di mana? Aku di kotamu! Di festival hujan. Jam delapan, bandku tampil lho,” Jef bersemangat di udara.

“Festival hujan?” tanyaku sepolos kertas HVS.

“Masih betah di gua, Ladya? Aku turut prihatin…”

Aku membela diri dengan dalih setumpuk kesibukan. Dan lain-lain, yang ternyata tak membuat ia gagal merisakku. Menyebalkan!

“Kalau mau, tunggu aku jemput kamu. Tapi, jalan kaki ya. Percuma naik mobil van-ku juga. Jalan sekitar taman telah steril. Ada menteri. Jangan tanya menteri apa atau siapa, pokoknya menteri. Hebat kan kota kecilmu ini, dikunjungi menteri segala?”

Jujur aku malas. Namun, tak elok rasanya menampik tawaran dari seseorang, apa lagi seseorang itu adalah teman lama yang sudah lama tak kita jumpai dan kebetulan berada di kota yang aku mukimi sekarang. Aku mengiya dan meruapkan kegembiraan melalui tawa kecil, sampai Jef memungkas percakapan. Lekas kubenahi berkas-berkas tugas yang menumpuk pada malam Minggu. Merapikan wajah dan senyum di depan cermin, mengganti piyama oleh sehelai gaun hitam yang paling kusukai sehingga jarang kupakai selain ke acara-acara istimewa. Sekarang aku sedang menanti Jef yang akan menjemputku. Seingatku, Jef tak biasa terlambat seperti… siapa ya?

Jef adalah cinta pertamaku. Lebih tepatnya, mantan pertamaku... (bersambung)

Maret, 2014

Photo credit: Aaron Steorts

14 April 2016

Surat Terakhir untuk M

2 comments :

Ikatan cinta yang pernah mengikat kita, turut membelit jemariku untuk menulis kata-kata berbunga melalui surat terakhir ini padamu. Terlebih bunga-bunga di tepi jalan sudah menjelma parkiran rumah toko, dan bunga rentenir terlalu mudah memperdaya salah satu keluargaku. Sebagai pengangguran, uangku tak cukup untuk sekadar membelikan sekuntum bunga dari florist tempatku dulu menghadiahimu bunga murahan pada hari ulang tahun. Sekarang, menyisipkan bunga dalam kata-kata sekalipun aku tak mampu.

Untuk yang pernah mencintaiku dan kucintai. Yang pernah kunanti 540 hari tanpa kecuali dan sinyal pasti. Meski setiap hari kau kucaci dan kumaki lewat jari namun tetap saja kusayangi segenap hati. Dan kemudian aku sendiri yang mengingkari, memungkas janji-janji setengah suci, pada awal Januari. Mengapa harus berakhir pada Januari, lagi, tanya saja pada Glenn Fredly.

Sejujurnya berat sekali putuskan berpisah denganmu. Kau cantik. Kau baik. Aku memang payah dalam deskripsi, namun kali ini sungguh rumit kudeskripsikan istimewanya kamu. Sampai-sampai puluhan laki-laki yang mengenalmu sempat menyukai dan memaksamu membelalakkan mata, lebih belo dari matamu yang sudah belo. Agar sadarkanmu yang telah menerima orang salah dan payah. Sebagai laki-laki yang punya grade tak seberapa, tentu saja aku sempat berang telusuri fakta-fakta kurang menyenangkan. Usai aku mafhum bahwa fakta selalu menyakitkan, selalu bergumul dengan angan, perlahan aku dapat memaklumi perilakumu, menghapus prasangkaku. Sampai perasaanku padamu benar-benar pupus.

Elaborasikan hubungan kita seperti mengurai arum manis rambut nenek. Bertekstur rumit nan semrawut. Rasa manis gula begitu pekat di lidah, namun pahit gula biang selalu hadir. Kugenggam erat-erat hingga lengket, sehingga menyulitkanku bebaskanmu dari tanganku yang belum tentu bersih dari najis. Kucoba cecap lagi, lambat laun rasa pahit yang mendominasi. Entah, apakah gula biang yang sintetis itu mampu gantikan gula alamiah. Meski manisnya sama, hal yang dipaksakan itu kurang baik. Tidak sehat.

Distorsi sudah biasa dalam hubungan kita. Semakin lama, semakin centil bersemayam di beranda cinta. "Kita berbeda dalam segala, kecuali dalam cinta." Kata mendiang Soe Hok Gie, idolaku yang tidak sempat menikah. Menurutku, penggiat cinta perlu merembugkan distorsi dalam hubungan mereka dengan opsi-opsi kompromi. Sayangnya, kita gagal. Setidaknya, aku sudah mengalah. Tepatnya, aku menyerah. Entahlah kamu. Kuharap, kau segera mengerti. Meskipun memahami selalu sepaket dengan melukai. Tapi aku percaya kamu dapat mengerti tanpa keterpaksaan dan ketergesaan. Meski sekarang kita hidup di era dalam jaringan yang gemar mendepak orang-orang lamban. Padahal belum tentu yang bergerak lesat itu semulia Tuhan.

Tak selamanya cinta semanis tersaji dalam film, memang. Namun aku yang salah. Film tanpa konflik adalah sampah. Roman tanpa air mata hanyalah tugas mengarang anak sekolah. Dan mengapa aku malah dambakan cinta tanpa masalah? Untuk sekarang, sepertinya aku belum cukup gagah untuk mengalah. Masalah-masalah lain yang lebih megah memaksaku lekas menata harapan hidup yang nyaris punah. Aku terlalu sayang padamu untuk jerumuskanmu ke dalam rumpun masalah setinggi gelagah.

Origami hubungan kita rumit. Namun prinsip hidupku berlipat-lipat lebih rumit. Aku tak ingin, bahkan membayangkan masa depan pun enggan. Kita sungguh berbeda. Dan sialnya baru kusadari dan mustahil dapat kusadari sebelum kucoba. Memang klise. Namun aku tak ingin lagi terjebak untuk hindari retorika-retorika di dunia yang sebetulnya tidak keliru-keliru amat untuk ditunaikan. Selama ini aku terjebak dalam relung imaji yang ternyata tak terlalu dibutuhkan oleh dunia. Aku ingin menciptakan duniaku sendiri, namun kata Tuhan, "Kalau kau bisa, ciptakan sendiri sana surga dan nerakamu sendiri!" Aku menyerah. Sebab belum terbayang surga dan neraka itu berwujud seperti apa. Kupindai pada Google StreetView, dan tak terdata.

Lempeng-lempeng kasih memang masih mengerak dalam dadaku. Tentu sulit mengerik kerak-kerak kenangan yang telah kau limpahkan begitu ruah padaku. Setiap saat kita sempatkan berbincang di awan-awan percakapan, tiap akhir pekan kita habiskan waktu berdua seolah tiada orang lain selain kita di dunia ini. Padahal aku masih punya angan kedua, ketiga, setelah cinta, namun tak sempat menggarapnya sebab waktuku terlimpah pada angan pertama. Cuma kata maaf yang akhirnya membalas kerelaanmu itu. "Maaf, tentu kau dapat mencari yang lebih baik." Semoga hidupmu lebih baik tanpaku.

Obrolan kita tiap Sabtu dan Minggu malam, sejujurnya sama membosankannya dengan mendengarkan kuliah pada lima hari sebelumnya. Kadang aku yang mengantuk, namun lebih sering kau yang lebih dulu terkantuk dan sungguh mendengkur. Pada masa kini, semua hal membosankan yang terjadi dahulu tiba-tiba mewujud kerinduan, menyeretku kembali berada pada momen-momen itu. Menyenangkan untuk dikenang, getir untuk direnungkan. Pada akhirnya kuputuskan merajut kebahagiaan tanpa memilin kelindan kenangan. Benang masa laluku terlalu kusut untuk kuurai dan kulanjutkan.

Vakansi kutunaikan setiap hari, sekarang. Tanpa harapan yang melambung. Tanpa libatkan notasi emosi dan bait-bait delusi. Tidak seperti dulu. Entahlah, mungkin ini faktor umur. Tahun ini aku genap seperempat abad. Mungkin sepertiga hidupku telah aku arungi begitu saja. Sesekali aku bervakansi ke masa lalu. Menjenguk hari demi hari yang bervariasi. Bulan demi bulan yang urakan. Tahun demi tahun yang telah memahat diriku dengan telaten, hingga kau saksikan aku, pengangguran yang arogan. Menjelang dua lima, aku ingin lebih santun dan menjaga perkataan. Tak apalah sedikit menjilat, sebab itu yang dunia butuhkan.

Efek selalu timbul setelah ada aksi. Aku merasa berbeda dengan diriku beberapa bulan lalu. Meski sedikit, aku berubah. Perubahan diri ini malah semakin membuatku yakin untuk meninggalkanmu. Atau lebih tepatnya, kau sekarang yang meninggalkanku, meninggalkan pulau Jawa, ribuan kilometer jauhnya, terpisah lebar lautan dan ketetapan Tuhan. Kuharap ini adalah takdir yang membantuku lebih cepat mereparasi hidupku lebih baik. Kuharap kau pun begitu. Doaku selalu untukmu.

Yang terbaik untukmu adalah yang terbaik bagiku. Biarlah Tuhan yang mengatur kebaikan kita masing-masing. Aku tak boleh menafikan takdir-Nya kelak. Yang dapat kulakukan adalah menjalani hidup yang biasa ini. Yang kadang membosankan, mengharukan, namun apalah guna hidup bila hanya alami kebahagiaan. Tanpa jadikan manusia sebagai sandaran harapan. Hanya Tuhan tempatku bersandar, meski kadang aku lupakan, padahal Ia ada dekat di hatiku. Hatimu. Selalu.

Opera hujan sore ini hadir, mendengungkan irama layar semut televisi pada dini hari. Ia datang tepat ketika aku hendak menitipkan padanya surat untukmu bersama aroma Petrichor. Surat yang terakhir. Setelah surat pertama pada April dua tahun kemarin.

Undangan pernikahan setiap pekan selalu terunduh otomatis dalam aplikasi percakapanku. Entah kenapa aku jarang menyempatkan hadir. Sebagai teman aku merasa keterlaluan. Aku minta maaf pada semuanya, sebab nyali dan luka dari kegagalan merengkuh harapan belum kering betul. Masih rentan dan basah. Khawatir ledakkan amarah. Namun kuharap kelak kita yang mengirim undangan pada semua. Undangan pernikahan kita masing-masing.[]

P.S. Aku tak mengharapkanmu untuk membaca surat terakhir ini. Aku tak memaksa, dan takkan lagi memaksa seseorang. Kau bukan lagi sosok yang harus kupaksa melakukan sesuatu, mengubah perilaku, sesuai kehendakku seperti dulu. Tapi setidaknya huruf pertama dari masing-masing alinea mengungkapkan bahwa...