17 April 2016

Festival Hujan (1)

No comments :

Satu jam menyesap aroma ketiak lintas usia dalam bus kota, bukan hal yang menyenangkan. Mestinya cukup lima belas menit saya sampai di Jalan Lokananta 108, seberang toko roti yang bersebelahan dengan toko bunga. Malam ini saya berupaya berangkat dari kost pukul tujuh, sebab saya sangka paling lambat setengah delapan saya sampai di kost Ladya yang ber-AC dan ber-TV kabel sekaligus rumah kost yang segenap penghuninya perempuan kecuali bapak kostnya yang berstatus duda itu.

Sabtu malam ini saya merasa enggan untuk mengajaknya ke kafe, bioskop, atau ke tempat lain semacamnya. Kami bertengkar semalaman dalam awan-awan chat dan tengah malam ia mengerat panggilan telepon dengan ketus tatkala mulut saya berbusa-busa di udara. Dan malam ini sepotong kalimat Ladya semalam terus terngiang berkali-kali seperti tayangan iklan televisi, “Kapan sih kamu ngertiin aku?”

Entahlah. Yang pasti, Ladya bukanlah sesuatu untuk perlu saya pahami―jujur, saya sudah cukup kerepotan dalam memahami mengapa monyet suka pisang atau sampai kapan kucing bersitegang dengan anjing. Saya sayang padanya. Sudah, sesederhana itu. Mungkin ia anggap prinsip saya terlampau sederhana.

Saya hendak menyambangi kamar kostnya, demi membincang hubungan kami. Apakah jalani saja dulu, lagi. Ataukah cukup sampai di sini. Tapi, buat apa berpisah dengannya jika di kampus, saya masih sering bertemu dengan perempuan itu, terkantuk-kantuk bersama berkat dosen yang melantun dan melantur, tenggelam dalam organisasi kampus serupa, bersama bertindak sebagai organisator setiap ada seminar di jurusan. Dan sama-sama menginisiasi taman baca di kampung tak jauh dari kampus. Banyak sekali bukan kesamaan kami?

Kalaupun saya dan Ladya sungguh berpisah, mungkin kampus menjelma ruang sepengap, sepesing jamban terminal.

Satu per satu penumpang beranjak dari jok penuh coretan aneka rupa dari tangan pintar anak sekolah kurang kasih sayang. Cuma saya lelaki yang masih mendekam. Selebihnya perempuan paruh baya yang barusan bangkit dari duduknya. Perempuan muda berkerudung merah punuk unta tampak berkemas, lungsur terburu-buru dengan wajah yang sebetulnya cantik andai mendiskon harga senyum.

Menggendong ransel kempes, saya turun menghirup udara malam yang lembap dan gerah. Kota ini sedang dikukus dalam dandang semesta. Gemintang yang bertaburan bisa dibilang dan bulan yang sejatinya pemalu, kian tersipu berkat sesuatu yang mengaraknya di sana. Jalan Lokananta 108 masih sekitar tiga kilometer dari leretan kemacetan.

Baru saya tahu mengapa mobil-mobil berbaring lesu di aspal, sesudah melenggang setengah jam menembus celah antara mobil dengan mobil, mobil dengan bus, bus dengan truk―sementara motor sukses menyelusupi jalan tikus. Kata pedagang asongan yang bersualangkah barusan, ada menteri lingkungan hidup dan menteri pemuda dan entah siapa lagi berkunjung ke kota ini, sehingga ruas jalan disterilkan dari roda empat dan roda dua berpelat hitam, apa lagi kendaraan beroda lebih dari empat.

Ada semacam festival di taman kota yang persis di lambung kantor walikota.

Andai saya tahu sejak jauh-jauh hari―setidaknya kemarin, pasti Ladya saya ajak ke sana. Tapi sekarang sudah terlambat. Jikapun amarahnya sudah menyurut, kecil kemungkinan ia mau keluar. Dan saya ulangi sekali lagi: kami sedang bertengkar; tak enak dilihat orang seperti saat itu, saat itu, dan saya lupa kapan lagi kami begitu.

Bila bukan lantaran Ladya, mungkin saya sudah balik badan sejak sejam lalu sebelum bus terbebat jalan tersterilkan, ke rumah teman yang berfasilitas sedikit mewah, demi bermain gim online sembari menonton laga sepakbola dalam TV kabel.

*

Sudahlah, aku tak ingin menyebut namanya. Dia sangat menyebalkan. Semalam aku bilang tak usahlah menghubungiku lagi. Tapi kiranya dia memang belum sempat kenal jera. Ia meneleponku―padahal biasanya ia pelit sekali dalam perkara pulsa. Aku diam saja, tak indahkan ocehannya yang lebih buruk dari dengungan layar semut televisi.

Aku cinta padanya, mungkin kadarnya sedikit lebih ketimbang pacarku yang dulu-dulu itu, entah, padahal hubungan kami bermula dari pertemanan biasa yang bukan disengaja. Kami sering bertemu, sebab memang kami satu kelas di jurusan yang sama, jurusan yang jumlah perempuan dan laki-laki sama rata. Aku tak ingat kapan persisnya ia mengajakku ke kawasan perbukitan malam-malam menikmati kunang-kunang kota. Dan anehnya tahu-tahu aku suka padanya saat itu, desir angin malam berandil sebagai orang ketiga pembaur rasa dua hati yang berbeda.

Tapi bukan sebatas rasa suka yang bertengger dalam hatiku. Ada satu ketaksukaanku daripadanya yang juga penyebab pertengkaran semalam. Ia suka terlambat. Mungkin bagimu sepele, bagiku ini menyebalkan.

Bukan apa-apa. Dia tak pernah terlambat membeli fiksi fantasi terbaru untuk dirinya di toko buku ataupun terlambat membeli voucher gim online yang bagiku serupa racun kloroform. Dia pun tak pernah terlambat berangkat kuliah, apalagi saat jadwal seorang dosen perempuan di antara sehimpun dosen lelaki yang tak lagi muda (tidak, buat apa aku cemburu terhadap perempuan sebaya tanteku).

Ada keterlambatan yang paling terkenang, selebihnya sering sekali. Dia terlambat menjemputku sepulangku dari kantor penelitian tempatku magang. Kala itu, pertengahan Desember. Hujan. Ya, ada halte kecil yang bisa menjelma peneduh. Sayang sekali, hujan sore itu terlalu lebat untuk dinaungi atap halte yang ompong, dan angin turut menyimpangsiurkan arah hujan.

Satu jam kemudian dia nongol bukan dengan vespa―yang kerap mogok mendadak itu―dan mantel hujan transparan untukku. Melainkan bus kota.

Jika aku tahu ia naik bus kota, sudah sedari tadi aku naik bus kota! Dan aku bingung, siapa yang semestinya mengakui ketololan saat itu. Seturunnya dari bus kota, dia menadah air hujan oleh ransel belel di kepala. Berjalan tergesa-gesa seperti enggan kehujanan, padahal sudah satu jam aku bergelimang hujan, sebab percaya dia akan datang. Dan dia memang sungguh-sungguh datang, beserta keterlambatan.

“Maaf, aku terlambat. Hujan.”

Aku diam saja.

“Sudah lama menunggu?”

Aku memejam, menunggu maafnya, yang pasti basi.

“Maaf, aku tak mengendarai vespa. Hujan, aku sedang malas hujan-hujanan. Jadi, aku memutuskan naik bus kota saja. Ide bagus, kan, sehingga kau takkan kehujanan nanti,” dia tersenyum, “kita mampir makan dulu?”

Aku membuang pandang pada bus kota yang melambat menubruk tirai hujan yang kini meminggir di halte. Aku bergegas naik bus dengan baju basah dan mata lenyah. Aku tak melihat lelaki itu naik; mungkin tengah terlongo gagu menerawangi bus yang mengentuti.

Dia akan ke sini malam ini. Begitu katanya dalam chat tadi sore. Aku tak membalas, membiarkan simbol read mengoyak-oyak perasaannya sehingga ia merasa sangat bersalah. Namun ku yakin dia lempeng-lempeng saja, takkan sepanik Minggu kemarin ketika sepatu running-nya raib di masjid raya.

Aku sedang membaca dan sedikit merevisi berkas penelitian yang belum terselesaikan di kamar kost yang sepi (karena ini malam Minggu). Ekor mataku mendapati LED ponsel berkedip-kedip, memunculkan nomor telepon saja tanpa foto kontak. Kusambar, dan langsung kuangkat panggilan itu. Dari Jef! Hahaha. Ini gila. Sudah tiga tahun berlalu, sejak terakhir kali aku mendengar suaranya. Sontak ku bertanya dari siapa atau bahkan dari mana Jef memperoleh nomor teleponku yang tak pernah kuumbar ke sembarang orang.

“Penting?”

Jef masih memelihara telatah yang membuatku merasa sebal terhadapnya. Bedanya, kali ini aku menanggapinya dengan senyuman. Dan, yah, sepacak kerinduan. Jef menanyakan kabar. Aku jawab sebagaimana formalnya: baik―padahal sungguh sebaliknya. Aku bertanya kabar balik yang dijawab Jef oleh jawab yang tak kusangka.

“Kurang baik,” katanya dengan tukikan nada. “Makanya aku nelpon kamu.”

Hatiku menghangat. Bingung harus melontar kata apa pun selain ‘oh’.

“Tebak aku di mana? Aku di kotamu! Di festival hujan. Jam delapan, bandku tampil lho,” Jef bersemangat di udara.

“Festival hujan?” tanyaku sepolos kertas HVS.

“Masih betah di gua, Ladya? Aku turut prihatin…”

Aku membela diri dengan dalih setumpuk kesibukan. Dan lain-lain, yang ternyata tak membuat ia gagal merisakku. Menyebalkan!

“Kalau mau, tunggu aku jemput kamu. Tapi, jalan kaki ya. Percuma naik mobil van-ku juga. Jalan sekitar taman telah steril. Ada menteri. Jangan tanya menteri apa atau siapa, pokoknya menteri. Hebat kan kota kecilmu ini, dikunjungi menteri segala?”

Jujur aku malas. Namun, tak elok rasanya menampik tawaran dari seseorang, apa lagi seseorang itu adalah teman lama yang sudah lama tak kita jumpai dan kebetulan berada di kota yang aku mukimi sekarang. Aku mengiya dan meruapkan kegembiraan melalui tawa kecil, sampai Jef memungkas percakapan. Lekas kubenahi berkas-berkas tugas yang menumpuk pada malam Minggu. Merapikan wajah dan senyum di depan cermin, mengganti piyama oleh sehelai gaun hitam yang paling kusukai sehingga jarang kupakai selain ke acara-acara istimewa. Sekarang aku sedang menanti Jef yang akan menjemputku. Seingatku, Jef tak biasa terlambat seperti… siapa ya?

Jef adalah cinta pertamaku. Lebih tepatnya, mantan pertamaku... (bersambung)

Maret, 2014

Photo credit: Aaron Steorts

No comments :

Post a Comment