22 April 2016

Festival Hujan (2)

2 comments :
Baca sebelumnya: Festival Hujan (1)
Penasaran pada event yang membuat ruas jalan tadi mesti disterilkan, saya mampir ke taman kota. Taman kota merias diri. Burung-burung kertas berhias lampu warna-warni bergelayut pada sebentang tali yang mengitari taman. Lain dengan hiruk pikuk jalanan yang disterilkan, di sini sepatah pun suara luput saya dengar dari mulut hadirin yang duduk di kursi kayu eboni. Senyap. Padahal mereka datang lebih dari sendirian (terpaksa saya harus bilang bahwa mereka datang berpasang-pasangan).

Saya menebus tiket masuk yang murah sekali, lebih murah dari secangkir kopi yang konon panas namun nyatanya suam-suam hasil racikan barista karbitan di kafe yang tak jauh dari sini. Kru perempuan maupun laki-laki yang sama-sama berkostum mantel hujan hijau stabilo bersibuk dengan handie talkie dalam genggaman. Saya mendengar mereka berceracau dan saling tukar perintah, bahkan tukar amarah. Sudahlah, itu urusan mereka, lebih baik segera duduk di tempat yang sudah mereka sediakan.

Lima kursi yang belum tersemayam, dengan saya, alhasil tersisa empat. Pelan saya duduk, menatap atap kosmos yang pekat. Bukankah namanya festival hujan? Andaikata malam ini hujan, berarti kita semua akan kehujanan? Yah, tak apa, setidaknya bukan kehujanan dengan Ladya. Jika berhujan-hujan dengannya, cuma ada dua pilihan bagi saya: membiarkannya terdiam tanpa ucap, atau… membiarkannya pergi, seperti peristiwa saat itu. Sampai saat ini saya rasa pilihan terakhir terdengar masuk akal, selalu.

Belum, pita festival belum digunting secara resmi. Sekalipun jalanan sudah dibersihkan, menteri pemuda belum kelihatan helai kumisnya yang baplang itu. Pentas dimeriahkan pembacaan puisi-puisi yang kesemuanya tentang hujan. Majal sekali. Kecuali puisi tentang hujan di Ethiopia yang dideklamasikan siswi SMP, selainnya semata kegalauan cinta yang dangkal―mungkin karena saya memang tak suka puisi.

Setelah setengah jam diisi oleh pembacaan puisi, MC mengabarkan sembari memohon maklum oleh karena menteri pemuda masih di ibukota tersebab entah apa, namun konon ia bakal menyempatkan hadir. Segenap hadirin mengesah dan bersorak kecewa, dalam hati saya menyerapahi menteri pemuda, sebab ia telah membuat saya berjalan kaki dari jalanan yang disterilkan. Buat apa jalanan tadi disteril jika tokoh agungnya saja datang terlambat.

MC flamboyan yang membuat saya bingung harus mendaulatnya ganteng atau cantik itu berdiri menenangkan kemisuhan hadirin, mengusulkan band tamu tampil pentas duluan. Lebih tepatnya, ia akan membiarkan acara mulai berjalan kendati tanpa ada sambutan dari menteri pemuda. Mengapa tiada walikota atau wakilnya saja yang hadir menggantikan, tanya saya pada pria gemuk yang duduk di sebelah. Namun ia manggut-manggut tidak tahu.

Pertanyaan yang―lagi-lagi―belum terjawab: mengapa dinamakan festival hujan? Sekarang masih Juli. Hujan jarang saya jumpai. Bulan pertama dengan akhiran -ber masih dua bulan lagi. Sepertinya penduduk kota ini begitu gandrung dengan hujan, sampai-sampai hujan difestivalkan pada bulan Juli.

Vokalis perempuan, satu lelaki bergitar akustik, satu lelaki pembetot bas, satu lelaki lagi duduk di atas kotak kayu yang ia talu-talu naik pentas. Separate Lives mengalun merdu sekaligus pilu. Ekspresi vokalis yang seumur hidupnya bagai tak pernah bahagia cukup mendukung. Saya turut terhanyut bersama hadirin di sekelilingku yang tangannya silih genggam. Saya cuma bisa tersenyum sambil mengamati satu demi satu penonton.

Dan mata saya terhenti saat mendapati sosok perempuan yang… Ladya! Kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya dia ada di kamarnya, menunggu saya!

Sama seperti saya, Ladya sedang menyeruput senandung dari empat manusia di pentas yang khusyuk mencurahkan notasi dan emosi. Sesekali dia melambai ke arah pentas sambil melengkung senyum dan mengerucutkan bibirnya. Saya tilik wajah-wajah di pentas. Pembetot bas membetot senjatanya dengan wajar, sesekali tersenyum tipis pada hadirin. Wajah pemukul kotak kayu―entahlah, apa nama persisnya alat itu―datar sekali. Vokalis masih tenggelam dalam alam sendu Phil Collins. Si pemetik gitar, yang berduet dengan vokalis perempuan, tersenyum pada hadirin. Saya amati bidikan senyumnya terdestinasi kepada satu hadirin: Ladya. Keduanya beradu pandang, mata Ladya berbinar-binar seperti kaca yang dilap saban hari. Sesekali bernyanyi tanpa mengeluarkan suara, jikapun mengeluarkan suara, pastinya kalah oleh alunan duet penyanyi di pentas beserta instrumen pengiring.

Sementara langit sukses mengusir bintang-gemintang hingga tiada satu pun, bulan pun terselaput kelam. Setetes dingin terjerembap di rambut, meresap ke dalam kulit kepala saya. Tetes selanjutnya. Pacak-pacak hujan lambat-laun membasahi kepala dan bahu saya. Semakin rapat. Semakin tumpat. Saya urung melepas rekatan dalam kursi kayu ini sebab melihat orang-orang bergeming seperti sedia kala, terbuai suara penyanyi perempuan dan penyanyi laki-laki yang menyanyikan kehidupan terpisah. Hujan bukan alasan untuk berteduh. Pakaian hadirin basah kuyup selayaknya burung-burung kertas yang layu dan satu per satu jatuh di samping sepatu saya.

Begitupun Ladya.

Rambut yang ia ikat, ditisik lidi-lidi hujan. Gaun hitamnya―baru sekarang saya melihat tubuhnya berbalut gaun―perlahan menampung urine awan. Saya ingin menyampirkan mantel yang tak terlampau tebal ini kepadanya, khawatir ia menggigil.

Saya membungkuk di samping Ladya yang masih duduk mencorong ke pentas, agak mengganggu penonton sebelahnya dan saya pun mohon permisi. Ladya menolehku, membiarkan mantel saya menyungkupi kepalanya. Ladya kembali tenggelam dalam senandung tanpa mengindahkan hadir saya.

“Kenapa kamu di sini, Ladya?”

“Menonton pementasan musik,” matanya lurus ke pentas, “dan pertunjukan hujan. Aku rindu keduanya.”

“Kita pulang saja,” bujuk saya, “cari tempat berteduh. Kita minum cokelat hangat atau kopi di sana, mau?” dengan mata, saya menuding bangunan kecil yang terang benderang oleh lampu besar berbentuk cangkir di atapnya.

Musik masih mengalun menandingi sendu hujan. Kru yang berseragam mantel hujan itu, memayungi tiap-tiap personil band dengan payung hitam. Kelistrikan tidak ada masalah. Suara masih terhasil bulat dari box-box aneka ukuran yang sedari awal berada di tempat teduh.

“Tak usah. Aku di sini saja. Menonton hujan. Aku mencintainya.”

“Sebesar cintamu padaku?”

Air hujan berkontak dengan air asing dari mata Ladya. Dia menatap saya lengkap dengan senyum yang cantik, kulihat lesung di pipinya, membuat saya bersyukur pernah menyayanginya. Ladya mengenyahkan mantelku. Berdiri sejenak menengadah langit. Tampak sangat menikmati bulir per bulir yang jatuh ke rambut, pundak. Gaun hitam kuyup mencetak tubuhnya. Saya tambah sayang padanya.

“Malam ini, hatiku kembali kepada hujan. Maafkan aku.”

Mantel kembali bersampir pada bahu saya yang tengah menatap punggung Ladya yang melangkah hati-hati ke panggung didampingi hujan. Kini dia berhujan-hujan bersama lelaki bergitar yang masih bernyanyi. Dua kelebat kilat memotret bibir Ladya yang beradu dengan bibir lelaki bergitar. Berkat sokongan hujan, keduanya hanyut dalam pelukan. Saya mengaduh kepada hujan, namun kiranya langit festival hujan sedang khusyuk terbahak hingga terperas air matanya. Berlimpahan.[]

Bogor, Maret 2014

Photo credit: Carl Beebee

2 comments :

  1. Waww berkali-kali lipat lebih keren dari draft tulisan ini yg entah kpn gw pernah(dipaksa)baca dahulu kala..

    Keep the good work,cep!

    ReplyDelete