14 April 2016

Surat Terakhir untuk M

2 comments :

Ikatan cinta yang pernah mengikat kita, turut membelit jemariku untuk menulis kata-kata berbunga melalui surat terakhir ini padamu. Terlebih bunga-bunga di tepi jalan sudah menjelma parkiran rumah toko, dan bunga rentenir terlalu mudah memperdaya salah satu keluargaku. Sebagai pengangguran, uangku tak cukup untuk sekadar membelikan sekuntum bunga dari florist tempatku dulu menghadiahimu bunga murahan pada hari ulang tahun. Sekarang, menyisipkan bunga dalam kata-kata sekalipun aku tak mampu.

Untuk yang pernah mencintaiku dan kucintai. Yang pernah kunanti 540 hari tanpa kecuali dan sinyal pasti. Meski setiap hari kau kucaci dan kumaki lewat jari namun tetap saja kusayangi segenap hati. Dan kemudian aku sendiri yang mengingkari, memungkas janji-janji setengah suci, pada awal Januari. Mengapa harus berakhir pada Januari, lagi, tanya saja pada Glenn Fredly.

Sejujurnya berat sekali putuskan berpisah denganmu. Kau cantik. Kau baik. Aku memang payah dalam deskripsi, namun kali ini sungguh rumit kudeskripsikan istimewanya kamu. Sampai-sampai puluhan laki-laki yang mengenalmu sempat menyukai dan memaksamu membelalakkan mata, lebih belo dari matamu yang sudah belo. Agar sadarkanmu yang telah menerima orang salah dan payah. Sebagai laki-laki yang punya grade tak seberapa, tentu saja aku sempat berang telusuri fakta-fakta kurang menyenangkan. Usai aku mafhum bahwa fakta selalu menyakitkan, selalu bergumul dengan angan, perlahan aku dapat memaklumi perilakumu, menghapus prasangkaku. Sampai perasaanku padamu benar-benar pupus.

Elaborasikan hubungan kita seperti mengurai arum manis rambut nenek. Bertekstur rumit nan semrawut. Rasa manis gula begitu pekat di lidah, namun pahit gula biang selalu hadir. Kugenggam erat-erat hingga lengket, sehingga menyulitkanku bebaskanmu dari tanganku yang belum tentu bersih dari najis. Kucoba cecap lagi, lambat laun rasa pahit yang mendominasi. Entah, apakah gula biang yang sintetis itu mampu gantikan gula alamiah. Meski manisnya sama, hal yang dipaksakan itu kurang baik. Tidak sehat.

Distorsi sudah biasa dalam hubungan kita. Semakin lama, semakin centil bersemayam di beranda cinta. "Kita berbeda dalam segala, kecuali dalam cinta." Kata mendiang Soe Hok Gie, idolaku yang tidak sempat menikah. Menurutku, penggiat cinta perlu merembugkan distorsi dalam hubungan mereka dengan opsi-opsi kompromi. Sayangnya, kita gagal. Setidaknya, aku sudah mengalah. Tepatnya, aku menyerah. Entahlah kamu. Kuharap, kau segera mengerti. Meskipun memahami selalu sepaket dengan melukai. Tapi aku percaya kamu dapat mengerti tanpa keterpaksaan dan ketergesaan. Meski sekarang kita hidup di era dalam jaringan yang gemar mendepak orang-orang lamban. Padahal belum tentu yang bergerak lesat itu semulia Tuhan.

Tak selamanya cinta semanis tersaji dalam film, memang. Namun aku yang salah. Film tanpa konflik adalah sampah. Roman tanpa air mata hanyalah tugas mengarang anak sekolah. Dan mengapa aku malah dambakan cinta tanpa masalah? Untuk sekarang, sepertinya aku belum cukup gagah untuk mengalah. Masalah-masalah lain yang lebih megah memaksaku lekas menata harapan hidup yang nyaris punah. Aku terlalu sayang padamu untuk jerumuskanmu ke dalam rumpun masalah setinggi gelagah.

Origami hubungan kita rumit. Namun prinsip hidupku berlipat-lipat lebih rumit. Aku tak ingin, bahkan membayangkan masa depan pun enggan. Kita sungguh berbeda. Dan sialnya baru kusadari dan mustahil dapat kusadari sebelum kucoba. Memang klise. Namun aku tak ingin lagi terjebak untuk hindari retorika-retorika di dunia yang sebetulnya tidak keliru-keliru amat untuk ditunaikan. Selama ini aku terjebak dalam relung imaji yang ternyata tak terlalu dibutuhkan oleh dunia. Aku ingin menciptakan duniaku sendiri, namun kata Tuhan, "Kalau kau bisa, ciptakan sendiri sana surga dan nerakamu sendiri!" Aku menyerah. Sebab belum terbayang surga dan neraka itu berwujud seperti apa. Kupindai pada Google StreetView, dan tak terdata.

Lempeng-lempeng kasih memang masih mengerak dalam dadaku. Tentu sulit mengerik kerak-kerak kenangan yang telah kau limpahkan begitu ruah padaku. Setiap saat kita sempatkan berbincang di awan-awan percakapan, tiap akhir pekan kita habiskan waktu berdua seolah tiada orang lain selain kita di dunia ini. Padahal aku masih punya angan kedua, ketiga, setelah cinta, namun tak sempat menggarapnya sebab waktuku terlimpah pada angan pertama. Cuma kata maaf yang akhirnya membalas kerelaanmu itu. "Maaf, tentu kau dapat mencari yang lebih baik." Semoga hidupmu lebih baik tanpaku.

Obrolan kita tiap Sabtu dan Minggu malam, sejujurnya sama membosankannya dengan mendengarkan kuliah pada lima hari sebelumnya. Kadang aku yang mengantuk, namun lebih sering kau yang lebih dulu terkantuk dan sungguh mendengkur. Pada masa kini, semua hal membosankan yang terjadi dahulu tiba-tiba mewujud kerinduan, menyeretku kembali berada pada momen-momen itu. Menyenangkan untuk dikenang, getir untuk direnungkan. Pada akhirnya kuputuskan merajut kebahagiaan tanpa memilin kelindan kenangan. Benang masa laluku terlalu kusut untuk kuurai dan kulanjutkan.

Vakansi kutunaikan setiap hari, sekarang. Tanpa harapan yang melambung. Tanpa libatkan notasi emosi dan bait-bait delusi. Tidak seperti dulu. Entahlah, mungkin ini faktor umur. Tahun ini aku genap seperempat abad. Mungkin sepertiga hidupku telah aku arungi begitu saja. Sesekali aku bervakansi ke masa lalu. Menjenguk hari demi hari yang bervariasi. Bulan demi bulan yang urakan. Tahun demi tahun yang telah memahat diriku dengan telaten, hingga kau saksikan aku, pengangguran yang arogan. Menjelang dua lima, aku ingin lebih santun dan menjaga perkataan. Tak apalah sedikit menjilat, sebab itu yang dunia butuhkan.

Efek selalu timbul setelah ada aksi. Aku merasa berbeda dengan diriku beberapa bulan lalu. Meski sedikit, aku berubah. Perubahan diri ini malah semakin membuatku yakin untuk meninggalkanmu. Atau lebih tepatnya, kau sekarang yang meninggalkanku, meninggalkan pulau Jawa, ribuan kilometer jauhnya, terpisah lebar lautan dan ketetapan Tuhan. Kuharap ini adalah takdir yang membantuku lebih cepat mereparasi hidupku lebih baik. Kuharap kau pun begitu. Doaku selalu untukmu.

Yang terbaik untukmu adalah yang terbaik bagiku. Biarlah Tuhan yang mengatur kebaikan kita masing-masing. Aku tak boleh menafikan takdir-Nya kelak. Yang dapat kulakukan adalah menjalani hidup yang biasa ini. Yang kadang membosankan, mengharukan, namun apalah guna hidup bila hanya alami kebahagiaan. Tanpa jadikan manusia sebagai sandaran harapan. Hanya Tuhan tempatku bersandar, meski kadang aku lupakan, padahal Ia ada dekat di hatiku. Hatimu. Selalu.

Opera hujan sore ini hadir, mendengungkan irama layar semut televisi pada dini hari. Ia datang tepat ketika aku hendak menitipkan padanya surat untukmu bersama aroma Petrichor. Surat yang terakhir. Setelah surat pertama pada April dua tahun kemarin.

Undangan pernikahan setiap pekan selalu terunduh otomatis dalam aplikasi percakapanku. Entah kenapa aku jarang menyempatkan hadir. Sebagai teman aku merasa keterlaluan. Aku minta maaf pada semuanya, sebab nyali dan luka dari kegagalan merengkuh harapan belum kering betul. Masih rentan dan basah. Khawatir ledakkan amarah. Namun kuharap kelak kita yang mengirim undangan pada semua. Undangan pernikahan kita masing-masing.[]

P.S. Aku tak mengharapkanmu untuk membaca surat terakhir ini. Aku tak memaksa, dan takkan lagi memaksa seseorang. Kau bukan lagi sosok yang harus kupaksa melakukan sesuatu, mengubah perilaku, sesuai kehendakku seperti dulu. Tapi setidaknya huruf pertama dari masing-masing alinea mengungkapkan bahwa...

2 comments :

  1. wah cep, mengharukan sekali..
    kalo saya jadi si M itu bisa jatuh cinta lagi tuh hahaaa
    setiap cerita suka ada tekatekinya, bagus! bikin mikir hehee..

    ReplyDelete