26 May 2016

Perhelatan Tinju Masa Lalu

2 comments :

Menguar aroma masa lalu, angkot hijau menyibak malam. Belum terlalu malam. Kulirik arloji yang kutebus oleh penderitaan lapar berbulan-bulan. Sepuluh menit lagi pukul sembilan. Benakku melayah ke sepuluh tahun silam. Semoga memorimu masih seramah senyummu. Dulu, aku pernah bercerita padamu ihwal teman sebangku bengal di SD. Saking berandalnya, kini aku merindunya. Tidak, lebih baik kita lamurkan namanya, supaya sepasang mata tajam yang dulu nyaris buta itu tak berkedut-kedut malam ini. Kita sebut nama alias. Oleh kawan sekaligus musuhnya, ia dijuluki Geheng.

Bukan! Bukan seperti halnya merindu terhadap mantan-mantan kekasihku yang sering pula kuceritakan kepadamu. Percayalah, anakmu ini masih mencinta dan menghamba perempuan. Dan kau, perempuan yang paling aku cintai. Kini, aku merindukan laku-lampah Geheng terhadap teman pengecut yang sekadar bernyali di balik punggung, menunduk takzim di hadapannya. Sekali, pernah pula ia menggerendel mulut lisutku hingga tak kuasa bertuturkata.

Masih ingatkah kamu, suatu siang sepulang sekolah, air mataku tumpah satu-satu lantaran uang jajan tak seberapa darimu dirampasnya dari kantong celana pendek merah lusuhku. Ia mengingini seribu perak dariku guna ditukar dua batang rokok kretek. Satu untuknya, satu buat abangnya yang putus sekolah. Dibegitukan, hanya angguk bungkamku yang menyahut, dan beberapa tetes air mata yang kubawa pulang ke pangkuanmu.

Dengan tersedu dalam dekapmu, kuharap kau seperti ibu lain yang mengadukan cerita dan derita anak kepada suami. Kemudian suamimu bakal menyatroni rumah orangtua teman yang telah menyebabkan tangis anakmu ini merintih, dan perjudian harga diri antara dua lelaki dewasa pun merebak cuma gara-gara ulah anaknya yang peradang dan anaknya yang pecundang.

Ya, memang, telapak tanganmu yang kasar―sebab bertahun-tahun tak letih membasuh rumah tangga sederhana kita―membelai lembut kepalaku. Bibirmu mengecup keningku. Hangat dan kecut khas tubuhmu sedikit dapat membenamkan kecengenganku. Tetapi aku kecewa, yang kau ucap kadung bijak lagi bajik bagi kekalahan masa kecilku:

“Ia butuh uang, Nak. Dan kasih sayang. Ikhlaskan.”

Usai itu kau tak bertindak seumpama ibu lain. Aku mafhum. Selain lantaran dirimu terlampau tabah sebagai ibuku, sejenak aku pun tersadar dari lupa. Suamimu entah di mana juntrungnya. Dan sungguh aku tak pernah merindu sosok yang oleh anak kecil dalam sinetron biasa dipanggilnya dengan Ayah atau Bapak atau Papa.

Ah, banyak sekali yang berubah. Dulu, saat kau masih menyeberangkanku ke sekolah dasar samping pasar―tempat yang kau biasa sambangi sebelum sayup azan subuh menggelitik telinga mungilku yang lelap di ranjang besi―tak terhidu tubuh-tubuh lelaki berbau arak di terminal serupa malam ini. Telanjur suuzan, tak kuasa kuintip dan kukuping muslihat mereka, sebab berpasang-pasang mata menikamku bagai hendak menebas tubuhku cincang-cincang.

Namun tebersit wejangan yang sempat kau bisikkan sebelum aku merantau guna menempuh studi ke kota yang berjarak empat jam perjalanan dari dusun ini tanpa adangan macet. Bisikmu, andai aku dicengkam takut, hindari beradu pandang dengan mereka yang membuatku takut. Sekali tadi kuamini nasihatmu.

Keterasingan mengebaskan rindu. Malam ini, dalam perjalanan pulang ke rumah kita, aku merindukan telatah Geheng yang membuatnya berminggu-minggu diskors Pak Guru galak itu. Di bangku kelas lima, ia melesap tanpa asap. Rupanya nutrisi-nutrisi menjemukan yang terus disuappaksakan Pak Guru di sekolah tak menggugah seleranya. Ia lebih memilih mengerkah santapan sekeras cadas di perguruan kuli panggul di pasar.

Mendengar kabar Geheng jadi kuli panggul pada usia di mana ingus yang menyerupai angka sebelas di bawah hidung belum dapat ia seka mandiri, Pak Guru terbahak membahana, melonjakkan taraf galaknya beberapa harkat. Aku menangis untuknya saat itu. Bersimbah air mata dalam hati, sebab seperti katamu, kepedihan ditinggal manusia seculas apa pun malah membuat sungai air mata mengering, bukan?

*

Bagai resahmu melalui telepon, dusun ini memang banyak berubah. Toko-toko kelontong Tionghoa bersengit minyak curah menjelma mini market dan gerai ponsel. Dua petak sawah Pak Is mewujud tiga lokal rumah toko yang temboknya masih berbedak cat dasar. Angkot yang kukendarai melintasi rumah tua yang merana tak berlampu di ketiak jalan. Pagar karatnya dipagari semak. Tiada terlihat bunga sedap malam bermekaran malam ini. Cat putihnya memudar burik. Kaca jendela antiknya ompong diretas tukang pulung. Kasihan rumah tua itu. Lirihmu, nenek tua itu sudah meninggal, anak cucunya telanjur kerasan diteduhi rumah-rumah megah di kota.

Ada swalayan baru beberapa meter dari rumah tua itu, beberapa ratus meter dari rumah kita, katamu. Sepertinya itu yang membuat laju angkot ini tersendat-sendat, dan dalam hati tak henti aku mengumpat-umpat. Apakah tetangga kita sudah lupa alangkah menyehatkan dan menyenangkan berbelanja ke pasar sebelum subuh sepertimu? Rupanya kini mereka lebih senang berburu sandang dan sembako dengan iming-iming separuh harga hingga malam melarut dini hari nanti. Serupa dusun ini, sifat manusia lekas sekali berubah.

Angkot tiba juga di muka swalayan. Inikah swalayan baru itu? Oh, Tuhan. Aku tak seperti sedang melihat swalayan. Saat ini, diriku bak menonton televisi Minggu pagi berdua denganmu. Ada perhelatan tinju di depan swalayan baru itu. Dua petinju berkostum kontras tengah bergumul di arena yang diselia wasit gemuk berbalut putih hitam berdasi kupu-kupu. Yang satu berperawakan kerempeng, satunya lagi sedang-sedang saja, namun nampak kekar. Di atasnya, membentang spanduk ucapan selamat bertanding dari pemerintah kota teruntuk petinju yang berpartisipasi. Berjejalan umbul-umbul sponsor minuman stamina mengitari arena. Juga penonton dan penjudi.

Angkot yang kini berpenumpang dua―hanya diriku dan sopir angkot pemarah―masih bergeming di bibir swalayan. Terimpit kanan-depan-belakang oleh mobil-mobil dari luar kota yang saban minggu menyesaki dusun ini. Selagi menanti satpam swalayan mengurai kendaraan dan manusia sekitar, mataku menerawangi perhelatan tinju. Menatap, pandangku terus menetap pada arena berpenerangan lampu sorot di keempat sudut. Entah hipnosis apa yang menyeret kakiku keluar dari angkot, mengangsurkan ongkos angkot seadanya, dirutuk sopir angkot tersebab ongkos yang kusodorkan padanya ia rasa kurang.

Sekarang tatapku lekat bertambat terhadap pertandingan tinju di depan swalayan baru kota kecil ini. Berdiri berendengan dengan lelaki paruh baya yang bergempita. Wajahnya berseri-seri, bola mata berkantungnya berbinar. Tangan kiri mengepal ke udara, tangan kanannya menuding-nuding kedua petinju. Sabankali ia merisak dalam bahasa kasar setempat, menggoyah-goyah nyali lawan. Berisik sekali. Mungkin, di ronde sisa, jagoannya nyaris menyesap angin juara.

“Siapa versus siapa?”

“Si Geheng, jagoan saya.”

“Yang merah?”

Anggukan lelaki itu mengiyakanku. “Yang satunya lagi, heh, entahlah, apa peduli saya.”

Kemudian ia bersorak mengelukan nama Geheng, manakala mendapati petinju berkostum merah itu sukses meninju dada. Bahu. Dagu. Pelipis lawan. Begitu seterusnya, sampai lawan kepayahan. Sekali lawan terjatuh duduk, namun bangkit lagi. Jatuh lagi. Bangkit lagi dengan sempoyongan.

Rupanya ingatan yang bertandang barusan bersua dengan kenyataan. Aku bertemu Geheng sekarang. Kutelisik sosok lelaki berpelindung kepala, berkaus tanpa lengan dan celana gombrang dan sepatu setengah betis serba merah itu. Ya, aku mengenali matanya. Tajam. Sorotnya menikam lawan tanding yang berkostum serba biru. Lagi, kepalan demi kepalan Geheng layangkan tepat sasaran: ke perut kerempeng; dada ciut; bahu ringkih. Ke wajah lawan yang berpulas lebam.

Ronde ini disudahi denting lonceng. Tersisa satu ronde. Kudengar dari lelaki sebelah, sedari awal Geheng mendominasi pertarungan. Sudah kuduga. Ketahuilah, aku lebih mengenal Geheng daripada Anda, tandasku dalam hati terhadap lelaki pengagum tinju itu; alias lelaki penjudi yang menadah rezeki nomplok dari memar tubuh Geheng.

Aku teringat salah satu bincangan kita suatu malam. Katamu, orang berandal boleh kehabisan simpati, namun tidak untuk satu hal: nyali. Geheng meladeni lawan yang kurasa lebih banyak memutar otak ketimbang memelintir lawan oleh bertubi-tubi kepalan, begitu tangkas mengemudikan arah dan ritme dan tenaga kepalannya, cergas berkelit dari bogem-bogem lawan tak bertujuan, bagai hanya terlahir untuk perhelatan tinju malam ini. Seolah tergolong spesies kucing yang punya sembilan nyawa. Menurutku, setetes pun Geheng tak segan mati.

Dusun ini banyak berubah. Geheng tak berubah.

*

Kurasa, dengan mudah kau dapat menerka juara perhelatan tinju amatir di arena depan swalayan baru ini. Geheng, teman sebangkuku di sekolah dasar, didaulat sebagai juara. Sungguh, rinduku pada teman begundal itu tergenapi malam ini. Sudah kuputuskan menghampirinya usai perut bersimbah keringat dan gurat masa lalu itu dilingkarkan sabuk emas juara. Kuharap ia mengenaliku, yang sama sepertinya, masih begini-begini saja. Tak banyak berubah, sebaliknya dari dusun ini.

Ruap bahagia berkat berjumpa dengan teman lama alhasil mewujud. Aku khusyuk menyaksikan prosesi pelingkaran sabuk emas. Namun seketika gendang telingaku berdentum hebat. Kurasa… itu bukan tabrakan mobil yang risau berkat macet. Astaga, ya, itu desingan peluru! Seperseribu detik berselang, terpekik histeris penonton dan pengunjung swalayan perempuan. Kau benar, dusun ini sungguh berubah.

Tak usah menunggu dua-tiga jenak, detik ini kudapati juri, penonton dewasa, penonton bocah, penjudi berlompatan ke arena, memastikan nyawa Geheng. Lamat-lamat kudengar ia telah gugur di arena oleh peluru. Bukan oleh petinju.

Aku membanting pandang. Motor dua tak yang meraung-raung barusan telah melesat kilat, memburakan asap putih menyesakkan berbau gasolin yang tak terbakar sempurna. Namun tiada sadar mata dan benakku merekam beberapa detail. Pengendara depan bertubuh raksasa, berjaket hitam. Entah wajahnya; tersungkup helm full face. Ia membonceng lelaki kurus berompi kulit cokelat. Dari perawakan bungkuk, hidung bangir, bibir tipis lelaki berompi, ya, aku yakin pernah melihat, bahkan mengenalinya, kau pun pasti mengenali bapak peot bertopi lebar dengan tona suara menyebalkan itu. Setiba di rumah, aku masih gundah, mengapa malam itu Pak Guru menjelma penjudi yang sungkan mengakui sabuk emas Geheng? Dusun ini banyak berubah.[]

Bandung, Oktober 2013

Photo credit: Lucho Vidales

17 May 2016

Aline

2 comments :

“Terima kasih rotinya. Tumben kamu bawa oleh-oleh,” cibir Mama.

Aku sekadar menyahut dengan alis dan rengutan wajah. Mataku menerawangi televisi tanpa hasrat, membuang sesal pada siaran langsung Liga Inggris Sabtu malam. Manchester United versus Stoke City. Heran, biasanya segunung penat gara-gara kuliah, praktikum, dan tumpukan usang naskah cerita anak, mendadak pupus saat menonton tim kesayanganku bertanding dan menang seperti malam ini. Sekarang, beginilah.

Mama tak tahu riwayat roti-roti dalam kotak kuning itu. Pedih. Meskipun sebenarnya nasibku menenteng sekotak roti ke rumah tidak segetir hidup Jaden Smith dalam film The Pursuit of Happyness. Malah lucu, setelah kupikir kembali. Sayangnya, makhluk bernama galau mengenal lucu dan pilu sama baiknya.

*

Aku melompat turun dari bus antar kota. Usai empat jam duduk gelisah di dalam bus sambil terus merutuk kemacetan sepanjang ruas tol, akhirnya aku dapat menghirup hawa dingin kota kelahiranku. Sekali saja naik angkot dari terminal ini, aku sudah bisa bertemu Mama. Melampiaskan hasrat perut dan lidah, usai tiga bulan berlapar-lapar lantaran mengirit amunisi bulanan di kosan.

Tapi, kurasa Mama bakal senang kalau aku membawa oleh-oleh. Sayang sekali, aku bukan orang yang suka menjinjing kresek berisi oleh-oleh khas dari kota tempatku kuliah ke sini. Ribet. Sejak kapan sih laki-laki suka berepot-repot?

Ruas jalan dari terminal menuju rumah Mama cukup lengang. Sambil mengemudi, sopir angkot santai mengobrol dengan penumpang sebelah. Membincang cuaca. Dan sepakbola. Sedang diriku masih kepikiran oleh-oleh untuk Mama. Mungkin lebih baik membeli makanan di sekitar sini, ketimbang tanganku tak menenteng apa-apa; cuma membawa tubuh kurus dan ransel merah lusuh ini ke rumah.

Lampu merah mengadang laju angkot. Pengamen-pengamen bocah berhamburan ke setiap angkot, termasuk ke dalam angkot yang kukendarai. Suara kecrek dan alunan memelas dan fals dari mulut kering bocah kucel bau ludah kering itu seketika memantik ide tentang oleh-oleh. Mataku berbinar melihat toko roti di seberang persimpangan.

*

“Selamat datang di toko roti Kincir,” sapa pelayan laki-laki. “Silakan.”

Begitu masuk, aku langsung disambut wangi sedap roti dan cake, dan sapaan ramah pelayan yang sebelumnya membukakanku pintu, dan setelah ku masuk, pelayan laki-laki itu masih menguntitku. Aku risih.

“Biar, saya pilih-pilih sendiri aja, Mas,” ujarku sambil tersenyum sopan.

“Oh, boleh,” lantas ia menyodorkanku nampan kuning beserta penjepit merah, selaras dengan warna dominan interior toko roti yang serba kuning dan merah hati.

Dua roti sudah teronggok di atas talamku. Sambil menyusuri etalase, pandanganku mengibas ke sudut toko. Meja kasir. Alat hitung. Dan gadis cantik. Kasirnya cantik sekali.

Sebagai lelaki, manakala menyaksikan kasir cantik itu, sontak jantungku berdentam lebih intens, mataku malas mengedip. Tanpa dikomando, sekarang aku sudah berdiri di hadapannya. Kasir itu duluan menyapaku.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Ada. Kenapa bukan aku yang duluan menyapamu?

“Eh, enggak,” aku tergeragap. “Pudingnya ada, Mbak?” tanyaku spontan. Aku ingat, Mama suka sekali puding dari toko roti Kincir.

Kasir itu menggeleng. Anggun sekali.

“Maaf, pudingnya habis. Barangkali mau coba chocolate cheese cake, Mas? Atau red velvet?” tawarnya mempromosikan produk selain roti.

“Hmm, enggak. Saya pengin roti aja. Ada rasa lain?”

Kasir itu meninggalkan mejanya. Menemaniku mengitari etalase kaca. Dia sungguh cantik dengan rambut kemerahan yang disasak. Berbalut seragam hitam dan celemek merah hati, kulitnya nampak putih, namun tidak pucat. Seputih pualam. Hidungnya tidak mancung, tapi di mataku sangat padu mempercantik oval wajahnya yang sudah cantik. Senyumnya menyejukkan. Apa lagi?

“Udah lama kerja di sini?”

“Tiga tahun, Mas,” sahutnya, “sejak toko roti cabang sini buka.”

“Wah, lumayan lama, ya,” tanggapku. “Tinggal di mana?”

“Enggak jauh dari sini,” dan kasir itu menyebut nama jalan sekitar persimpangan ini. Jalan itu tak jauh dari jalan depan rumahku.

“Oh, ya? Rumah kita berdekatan, dong,” seruku. Kuduga modusku kali ini bakal menuai kesuksesan. Tidak seperti modus-modus di kampus yang acap gagal. Dengan sabar, kasir cantik itu menanggapi serentetan pertanyaan dariku yang beraroma modus. Modus terselubung. Terutama pertanyaanku perihal nomor telepon.

“Nomor telepon toko? Hmm, sebentar, Mas. Saya cari dulu, ya,” sambil melengos hendak mencari buku telepon atau mungkin dus roti yang biasa mencantumkan nomor telepon.

Aku lekas mencegahnya, “Bukan! Maksud saya, nomor hape… kamu.”

Sebenarnya aku tersipu kala menodong nomor handphone. Namun, demi kelancaran modus, apa pun harus diusahakan, kan?

“Oh,” lagi-lagi dia terkekeh. “Boleh. Tapi, buat apa?”

“Ya, kalau tiba-tiba ibu saya ngidam roti, jadi gampang, kan? Tinggal telepon kamu,” kelitku dari motif sebenarnya.

Dengan mulut menahan tawa, kasir itu mengeja angka demi angka yang bila digabung barulah sempurna sebagai nomor handphone.

Setelah itu kami berjalan berdampingan. Aku senang sekali mendengarkan suara gurihnya memaparkan apa-apa produk dan seluk beluk toko roti ini, yang bagiku tidak lebih penting dibanding siapa yang sedang memaparkan.

“Ada lagi?”

“Dua lagi, deh,” pintaku. “Roti cokelat keju kismis sama roti isi jagung manis. Jadi, semuanya enam, ya.”

“Boleh,” katanya sembari mengambilkanku dua roti menggunakan penjepit plastik. Ya, tadi aku memang risih dikuntit pelayan. Namun siapa yang menolak kalau yang menguntit dan mendampingiku secantik kasir sebelahku?

“Udah, Mas? Enam aja?”

Aku mengangguk. Jemari lentiknya cekatan mengemasi roti-roti ke dalam kotak dus kuning bercorak teratai merah hati. Astaga, gadis cantik tetap saja cantik walau sedang sibuk menunaikan tugas. Wajahnya pancarkan ramah. Bibirnya selalu tersungging. Kupikir, tak semua karyawan toko kue atau toko roti atau toko apa pun punya senyum semurah dan seramah kasir cantik ini.

“Biasanya toko tutup jam berapa?”

“Sembilan,” singkatnya. “Kenapa, Mas? Mau nganter saya pulang?” ia cekikikan.

Spontan aku melirik arloji dan menatap jam dinding toko. Lima menit lagi pukul sembilan.

“Sembilan? Pulang bareng aja, yuk,” bujukku.

Dia ketawa. “Enggak usah. Udah biasa pulang malam, Mas.”

Baiklah. Aku takkan memaksanya. Kurogoh dompet dari saku belakang celana usai kasir itu menyebut total harga roti-roti yang kubeli. Mata dan jarinya lincah menelusuri recehan dalam laci alat hitung. Dan ia menyodorkan uang kembalian kepadaku beserta bill. Kasir itu mengucap terima kasih, silakan berkunjung kembali.

Aku masih bergeming di depan meja kasir. Tak biasanya, kuamati bill yang kugenggam. Memindainya saksama, mulai dari nama toko roti hingga nama kasir. Nah! Namanya Laras. Ah, sebentar. Sepertinya aku terkenang masa lalu. Aih, jangan-jangan… kasir ini…

“Kamu Laras? Alumni SMP 5?”

Kasir itu tercekat. Dan mengangguk cepat. “Kok tahu?”

“Wah, dunia itu sempit, ya. Kita kan satu sekolahan, dulu!”

Sembari meringis, Laras melipat-lipat bibirnya, tampak sedang mengingat-ingat masa lalu.

“Sorri. Tapi, kok, aku enggak inget kamu, ya? Atau, aku lupa?”

Ya, ya. Dulu, aku memang tidak populer. Sekali saja populer, yakni saat terjerembap ketika babak penyisihan classmeeting basket. Aku tak pandai bermain basket, namun karena populasi laki-laki di kelasku lebih sedikit dari perempuan, terpaksa aku main. Hasilnya, tim basket kelasku jadi juru kunci pada babak penyisihan.

Barulah saat kudedah peristiwa memalukan itu kepada Laras, nampak dia tercerahkan. Tentu saja Laras mengingatnya. Dulu, aku jatuh mendarat tepat di hadapan Laras yang sedang duduk menonton. Kami pun sama-sama tertawa mengenang kekonyolanku. Dan paras Laras semakin cantik kala tertawa lepas.

Lima menit berlalu. Aku masih terpaku dan terpukau di muka kasir sambil menenteng kresek berisi kotak roti, masih ingin lanjut berbincang bersama Laras sampai toko roti Kincir tutup, dan ia pulang. Bersamaku, kuharap.

“Udah pukul sembilan. Beneran enggak mau pulang bareng?”

Laras menggeleng. “Kamu duluan aja. Biar cepet istirahat. Capek kan empat jam duduk melulu di bus?” tuturnya manis.

Ah, Laras perhatian sekali. Sudah kuputuskan untuk menghubunginya melalui chat nanti malam. Dan kuharap, reaksi selanjutnya bakal bergulir seperti yang kuharap. Semoga.

“Wah, Aline ikut jemput? Duh, Aline pasti kangen, ya, sama Mama? Mama juga…,” seru Laras sekonyong-konyong. Wajahnya semringah melihat siapa yang baru saja datang ke toko ini. Laras semakin cantik kalau bahagia.

Mataku turut bertambat pada siapa yang sedang disorot Laras. Lelaki muda berperawakan tinggi kekar tengah menimang anak kecil bergelimun jaket tebal pink. Tersemat bando merah hati pada dahi mungil anak itu. Kuduga, usianya belumlah genap dua tahun. Dan lelaki berkulit bersih, berpipi kasar sebab cambangnya nampak subur itu tersenyum padaku. Aku terlongo, namun lekas membalas senyumnya.

“Aline, ini ada Om. Temen lama Mama,” tutur Laras seperti bernyanyi, seraya meraih anak kecil dari lengan lelaki muda berambut kelimis berombak itu. Beberapa kali Laras mengecup pipi, dahi, dan segenap sudut kepala mungil Aline. Seandainya aku jadi Aline, enak sekali.

Aline sama cantiknya dengan Laras, Mamanya.[]

Bandung, Oktober 2013

Photo credit: Callie Elizabeth C

05 May 2016

Lima Puluh Penundaan (2)

1 comment :
Baca sebelumnya : Lima Puluh Penundaan (1)
“Apa? Tidak ada kamar kecil di sini? Kalian semua berak di gundukan kerikil rel?”

Petugas stasiun menggeleng. “Di sini, adanya kamar besar,” ia menutur sopan seraya menuding sebuah tempat yang begitu megah. “Di sana kamar besar. Kami sesekali buang air dan becermin dan mencuci tangan sebelum makan di sana. Silakan tengok, moga-moga saya tak keliru menafsirkan istilah Anda.”

Membebek tudingan petugas stasiun, pria itu melangkah lunglai. Kamar besar, ia telah memasuki kamar itu. Petugas itu benar, sebatas perbedaan istilah. Wastafel berjejer apik, cermin-cermin sebening mata bocah menemplok di atasnya. Usai membasuh tangan, ia mematut-matut diri di depan cermin.

“Kawan, benarkah aku lima puluh sudah?” tanyanya pada makhluk dalam cermin yang murung. “Cepat sekali! Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya dua puluh tahun silam. Merayunya. Mencumbunya. Mencintanya. Menempelengnya. Menindasnya, oleh kelelakian. Namun dia begitu setia, sebelum senja itu. Aku tak tahu diuntung. Senja itu, aku keranjingan melakukan dua me- yang terakhir, hingga dia pertama kali menangis, atau, mungkin tangisan pertamanya yang kulihat. Esoknya… di taman itu… aku terperenyak, kesepian tanpanya.”

Jutaan partikel gusar dan sesal mengudak-udak masa lalu hingga luber dalam benak. “Kini aku menyerah. Sedikit lagi…”

Makhluk dalam cermin ikut menitikkan airmata.

“…sedikit lagi, yah, lebih baik aku mati saja. Seperti tokoh obituari di koran kemarin. Kuharap riwayat ia pun termaktub di dalamnya, bersamaku.”

Ia masih berdua dalam kamar besar di depan cermin bersama makhluk plagiasi di dalamnya. Sepi. Apakah penduduk kota T suka menunda-nunda hasrat buang air pula? Ah, manusia-manusia beruntung, yang agaknya kebal menunda kerinduan dan penyesalan seperti menghinggap pria yang beranjak senja usia itu.

Tertatih ia keluar dari kamar besar, tangan kanan menggapai-gapai tembok pucat. Kemeja bergaris yang semula rapi kini memburai dari celana, dua kancing teratasnya berlepas. Kereta belum juga terparkir di stasiun. Dengan seadanya upaya, ia bertanya pada petugas tentang nasib kereta yang ia nanti-nanti. “Sebentar lagi, Tuan. Kereta tiba cukup lama sebab cuma Anda penumpang dari stasiun ini.”

Tidak ada patokan pasti pukul berapa dari petugas. Jelalatan mata pria itu, mengubek kursi tunggu semula. Keringat mengucur menelusuri keriput wajah saat ia merekatkan pantat pelan ke kursi yang keras itu.

“Oh, frisium, ticard, cholestat. Aku lupa membawamu dari kota S.”

Matanya memejam, dadanya naik turun, menggantikan peran detik-detik jam yang tak dikenal oleh penduduk kota T. Tas kulit buaya mencium lantai. Namun serta-merta ia berupaya untuk merogoh ponsel dari dalam tas demi menelepon bosnya lagi, menanyakan keberadaan sang bos, apakah sudah di kantor atau masih… “Tak mungkin beliau masih di rumah,” pikirnya.

Nada hubung berganti kemerosok halo di udara.

“Pak, maaf, barangkali baru sore ini saya sempat ke kantor,” suaranya kian melemah. “Kereta di stasiun kota T rupanya tak berniat buat melayani penumpang.”

“Begitu? Sebentar, saya pun masih memasak rendang. Mungkin malam baru sempat ke kantor. Sudah, santai sajalah. Cabang kita di kota T begini adanya. Buat apa tergesa-gesa? Kau tunggu saja kereta itu. Mungkin sebentar lagi.”

Keringat kian menguyupi kemejanya yang seperti baru dicelupkan ke dalam seember air. Tak kuasa ia berpikir, apa lagi bertanding kata. Namun demikian ia berikrar menjejak kantor untuk bekerja pada hari pertama kepindahannya. Apa pun masalahnya. Kapan pun waktunya. Bagaimanapun caranya.

“Hei, kau berjanji?” telinganya pekak oleh gelak dari corong ponsel. “Janji itu seperti sampah di sini. Ketimbang berjanji, aku lebih suka memasak rendang. Begini saja. Jika kereta tiba, segera kau naik. Tapi turun di stasiun M ya! Tak usah ke kantor. Kau ke rumah saya saja. Kau tak keberatan mencicipi rendang buatan saya? Oh, alangkah ruginya andai kau melewatkan itikad baik bosmu. Sudah seisi kantor pernah memekikkan ‘bangsat’ sehabis mencicip rendang racikan saya. Hampir setiap hari!”

Daya tinggal seciprat, pria itu mengiya dan mengucap terima kasih dan selamat siang. Ponsel terpelanting ke peron, berbarengan dengan geretak kepala yang menghantam lantai. Dan yang ia lihat kini sebatas hitam, perlahan mengelabu.

*

Putih. Ia terjaga berkat bisikan asing, belum pernah ia dengar sebelumnya alunan sehalus, semerdu itu. Berpayah ia singkap matanya lalu memandang atap, hati-hati membetulkan posisi lehernya. Kereta mengonggok di pelupuk mata. Keterpukauannya kian menjadi saat menyadari di sampingnya duduk makhluk yang entah tampan atau cantik―sangat sempurna―yang tengah mencatat sesuatu pada kertas yang begitu putih, sama putihnya dengan kain selebar seprai yang membalut tubuh makhluk asing yang menguar daripadanya wewangian taman surga.

“Kereta sudah tiba. Silakan naik, Tuan. Mari, saya dampingi.”

Masih berbaur panik dan takjub, ia menerabas ke dalam kereta. Makhluk yang mendampingi pria lima puluh tahun itu berjalan amat halus, nihil entakan. Seperti orang yang menggeleser dengan papan luncur di atas lantai licin. Pria itu menyadari bahwa ada yang tak lazim, tetapi ia terus menyumpal mulut, hingga mengenyakkan pantat ke kursi yang menurutnya paling nyaman dalam kereta yang kosong itu. Cuma ia penumpang dari stasiun ini, bahkan tiada penumpang dari stasiun sebelum-sebelumnya. Makhluk sempurna itu turut duduk kemudian menyalaminya. Pria itu tertegun melihat cahaya berpendar dari genggaman keduanya.

“Saya datang mewakili malaikat pencabut nyawa. Saya datang terlambat sebab banyak sekali manusia yang harus dicabut nyawanya hari ini. Esok pun. Lusa. Hingga bertahun-tahun, sampai lima puluh tahun. Lima puluh tahun mendatang, barulah giliran Tuan. Saya sekadar mengabari, supaya Tuan tidak menunggu-nunggu dalam ragu.”

Pria itu termenung dalam duduk lantas membelalaki sekujur tubuhnya yang tak lagi terlilit oleh kemeja dan pantalon. Telanjang. Tas kulit buaya entah ke mana. Ponsel dan koran kematian yang turut sirna dalam tas barangkali telah melamur jadi masa lalu.

“Aku harus menahan derita lima puluh tahun lagi, maksudmu? Majikanmu tega sekali padaku!”

Beberapa saat pria itu menggerutu lantaran kematiannya tertunda. Macam-macam kata ia lontar, hingga ia kehabisan kosakata. Namun demikian ia sadar tak bisa berkehendak apa-apa.

“Jika aku berpasrah―dan pasti kau senang, bolehkan aku memohon sesuatu padamu? Sebelum kau pergi nanti dan kembali mendampingi malaikat pencabut nyawa lima puluh tahun lagi.”

“Tentu, Tuan.”

Ia mengutarakan keinginannya untuk ditemani seseorang yang kerap menghantui dalam rindu itu. Ia ingin melesapkan lima puluh tahun lagi bersamanya, membalas tuntas dendam dalam penantian panjang puluhan tahun kemarin. Ia mengumbar wajah memelas pada ajudan malaikat pencabut nyawa yang sinar matanya kian memendar-mendar. Sang ajudan tersenyum maklum, “Maaf, tidak bisa.”

Pria telanjang menyentak, “Kenapa? Mengapa aku tak bisa berjumpa dengannya, sekalipun aku sudah menerobos alam sebegini aneh?”

“Dia sudah tidak di sini.”

“Oh. Lebih baik aku mati saja, kalau begitu?” lantangnya. “Cepat, cepat, cabut saja nyawaku, ajudan! Kau bisa kan, kau punya otoritas untuk berbuat apa yang majikanmu perbuat! Aku bersedia! Buat apa hidup lima puluh tahun lebih lama jika aku masih tetap sendiri seperti lima puluh tahun kemarin?”

“Untuk mematikan manusia, tak semudah itu, Tuan.”

Kemudian pria itu meremukkan jendela kereta yang sedang meluncur tunak oleh kepalanya. Meraup serpihan kaca di kursi, menembuskannya pada batok kepala. Membelek dadanya. Kemaluannya. Ia berteriak sebab tak merasakan sakit sama sekali.

“Tuan tidak bisa mati hari ini. Tunggu lima puluh tahun lagi. Bakda itu, nanti, niscaya Tuan akan bertemu dengan wanita yang sudah tenang di sana.”

Pria itu tersedu dengan beling menancapi mata, perut dan kemaluan, namun tiada darah maupun nanah yang menyembul daripadanya, juga ajal.

Laju kereta melambat berkat rem yang mendayu. Tampak ajudan malaikat pencabut nyawa bersiap-siap turun. Pria lima puluh tahun ikut mengemasi serpih beling dan tangisnya. Namun sang ajudan mengadang kemudian mengangsurkan kemeja bergaris, pantalon, pantofel dan tas kulit buaya padanya.

“Sampai jumpa lima puluh tahun lagi, Tuan.”

Kereta berhenti di sebuah stasiun yang sangat indah, langit menyemburat jingga senja paling indah di pantai dara. Ajudan malaikat pencabut nyawa melayang dan luput dari kereta. Pria lima puluh tahun memupus tangis dan lekas mengenakan seluruh pakaian. Tas kulit buaya menyampiri pundak. Kereta pun melaju meninggalkan stasiun utopia, dan tak lama berhenti di stasiun yang ramah baginya. Stasiun kota S! Alangkah meriah dan meruah penumpang yang naik ke kereta yang ia tumpangi. Ia pun terpaksa berdiri, merelakan tempat duduknya direnggut wanita menor montok menggemaskan. Wanita itu membujukrayu dengan desahan yang dibuat-buat.

Pria itu menyambut, namun sama sekali tak terpantik gairah, “Maaf, aku setia menantinya lima puluh tahun lagi. Kau tak cukup sempurna sebagai pemadan.”

“Tapi sekarang kan 14 Februari. Yakin Anda menolakku, Tuan?” genitnya.

Pria itu kukuh tak acuh meski dengan mesra keriput wajahnya dibelai-belai wanita itu. Merasa tak diindahkan, wanita menor merengut kemudian beranjak merayau kursi-kursi yang tengah diduduki pria lain. Pria lima puluh tahun pun dapat duduk leluasa kini, masa bodoh terhadap wanita-wanita maupun gadis yang payah berdiri di dalam kereta. Hingga seorang wanita menghampiri melengkung senyum, rambutnya dipangkas pixie, menunjukkan leher jenjang dan dagu lancip. Bibir merahnya menggiring benak dan rasa pria itu ke masa dahulu, dulu sekali. “Cinta selalu tepat waktu, Sayang,” wanita itu menyodorkan kotak bentuk hati berwarna cokelat berpita merah jambu padanya, “kamu jangan nakal lagi ya.”[]

Bogor, Maret 2014

Photo credit: Thomas Fading 

01 May 2016

Lima Puluh Penundaan (1)

No comments :

Sudah lebih dari lima puluh menit ia duduk di kursi tunggu, memandangi teduh riah wajah dan langkah penduduk kota T yang menggelangkan karet aneka warna: merah, kuning, hijau, biru, hitam, transparan. Digit almanak menyinari kepala yang ditumbuhi rumput kelabu merancung jarang-jarang: 13 Februari 2050, entah pukul berapa. Hatinya menyaput dalam kabut dan penantian. Kereta yang hendak menyeretnya ke kantor baru belum kunjung tiba.

Selain kabut dingin dan bau rumput basah yang jarang ia jumpai di kota S, pria itu terheran oleh jalanan yang umpama pemakaman: aspal hitam mulus, tiada ranjau-ranjau paku dan baut yang berebahan bebas, tak ia dapati mobil yang menjeritkan klakson ke pantat bus tua nan lengang yang ia tumpangi, kecuali sepeda yang dikayuh perlahan oleh manusia-manusia lamban.

Kepalanya mendongaki dinding stasiun, mengelap keringat di kening oleh setangan. Berkali-kali, sebelum tangannya meraih ponsel dari dalam tas kulit buaya.

“Halo. Selamat pagi. Maaf mengganggu, Pak,” dengan terbata, kemudian dibalas suara dari udara.

“Oh, kau sudah menelepon? Saya masih di kasur. Betapa giatnya!”

Pria itu mengulum senyum masam, “Kira-kira, jam berapa Anda ke kantor, Pak?”

“Jam?”

“Ya, Pak, Anda berangkat jam berapa?”

“Sebentar lagi saya berangkat.” Saya harus bercinta, mandi, mengantar lanang ke sekolah, mencabuti rumput liar di taman, memasak rendang, bercinta lagi, kilahnya. Meski tergaguk-gaguk menyimak dalih yang renggang dari kegaliban seorang bos, pria itu memungkas panggilan. Matanya mencelat saat menatap layar ponsel usai sadar jam tangannya ketinggalan di kota S, “Lho, jamnya mana?” Ia jelajahi pengaturan tanggal dan waktu dalam ponsel. Celakanya pengaturan tanggal dan waktu beku, berkali-kali berupaya ia tembus.

“Aneh, ke mana perginya seluruh jam di kota T?”

*

Di kota S, kereta biasa tiba dan lalu tepat waktu. Segenap penduduk ikut-ikutan menepati waktu. Ia bingung harus jengkel ataukah senang mendapati keunikan di tempat baru. Di kantor lama, ia kerap ditelepon majikan berkali-kali kala tengah berdiri satu kaki secara bergantian dalam sesak kereta listrik, sedikit waktu luangnya dicuri demi diinstruksi aneka pekerjaan yang harus tuntas hari itu. Menjelang senja, ia pulang tak pernah tepat waktu, ia biasa pulang tiga-empat jam lebih terlambat.

“Baiklah, besok bangun siang saja. Aku harus terbiasa terlambat di sini.”

Mengelebat pemuda berompi biru yang berjalan dengan setumpuk kertas dalam pelukan. Ia terpikat lantas memanggil pemuda itu sembari bangkit perlahan, sampai pemuda berompi berjalan menghampiri dengan santai.

“Koran pagi ini?” ia sambar satu eksemplar, “kenapa siang sekali?”

“Seperti biasa, Tuan. Ini koran kemarin.”

“Kemarin?” mata pria itu menyipit. “Apa gunanya saya membeli dan membaca koran kemarin, Nak?”

“Ah, Anda turis rupanya. Harap Tuan percaya, koran kemarin di kota ini lebih aktual ketimbang koran hari ini di kota sebelah. Lagi pula, apa yang semestinya diberitakan jika kota ini sudah begini damai?”

Ia membaca sekilas dan kemudian mendapati konten yang tak biasa. Belum sempat ia berpikir, “Tuan jadi beli? Kalau urung, boleh saya pergi?”

Pria itu mengangsurkan selembar kertas lusuh dari rogohan kocek kepada loper. Mengernyit keningnya saat menerima tampikan loper, “Tuan, betapa tergesa-gesanya Anda. Kami biasa membayar sesuatu yang kami beli hari ini, pada esok atau dua hari berikutnya,” sang loper tersenyum tawar sambil berlalu dan kembali melenggang pelan tanpa menjajakan dagangannya secara persuasif.

Sekarang ia kembali hanyut dalam benam kursi tunggu seraya membaca koran; lembar-lembarnya tersusun dari kertas yang lebih bagus dari brosur promosi town house di pulau perawan seberang kota S, namun demikian ada keganjilan yang membuatnya menyesal telah membeli koran itu.

“Wartawan pemalas! Loper penipu! Ini sih cuma lembar-lembar obituari!”

Ketimbang tiada kegiatan yang bisa dilakukan selain membaca koran―lagi pula belum ia tebus dengan uang, ia menilik halaman muka koran. Berita kematian yang sungguh estetik, dengan tata letak dan tipografi ciamik. Profil mendiang lengkap dengan potret kala usianya belia sebelum sukses sebelum mati, didedah secara komprehensif, seperti udaran tokoh-tokoh politik yang berusaha merayu pada halaman penuh di surat kabar kota S.

Selanjutnya, pandangnya tertumbuk pada lembar serupa lembar sebelumnya, dengan nama dan profil berbeda. Kali ini wanita anggun yang berpose membidikkan kamera berlensa tele gelang putih terhadap gumpal-gumpal awan yang sejajar dengannya dalam foto itu. Menurut paparan penulis, ia berpulang tersebab kehilangan hati yang dicuri oleh kekasihnya untuk ibunya yang kesepian.

“Adakah sesuatu yang agak waras di kota ini?” ia berdecap takjub.

Konon semasa hidup, wanita itu senang berkegiatan di alam bebas, travel photographer wanita―satu-satunya―di kota T, dan itu yang membuat ia merenda kasih dengan teman liputannya. Namun sayang, sang kekasih lebih mengasihi ibunya, sehingga nekat mencuri hati wanita itu untuk ibunya. Wanita itu meninggal, ibu kekasihnya bertahan hidup, kemudian lelaki itu memutuskan menikahi ibunya.

“Edan!”

Tak ada yang dilamurkan; segenap mendiang atau orang-orang terdekat almarhumah termasuk kekasih khianat itu bercantum nama sebenarnya, seolah perbuatan mencuri dianggap biasa. Termasuk mencuri organ tubuh sevital hati. Namun demikian ia pun maklum sekaligus ragu, adakah profesi polisi dan jaksa di kota ini yang biasa menindak rerupa kriminalitas seperti melimpah di kota S?

Sejelalat ia teringat wanita yang sudah sekian lama usang, bahkan namanya siapa ia lupa. Kini seseorang itu menyinggahi kenangan, mengetuk-ngetuk palung kalbu yang kini kian mengelabu.

“Ah, kau di mana? Aku melajang selama lima puluh tahun hidupku. Demi kau, Sayang. Mengapa kau tak kunjung kembali? Kau menghilang sejak saat itu, ah, saat itu…, di senja yang remang di taman satu-satunya kota S yang sibuknya meniru broker di bursa efek itu? Jika kau kembali, kemarilah, ke kota ini. Kota ini begitu tenang, saking tenangnya, aku jemu menunggu kereta yang terlambat di hari pertama kepindahanku dari kota S. Tiada sesalku yang sangat daripada kejadian kala itu: membiarkanmu pergi tanpa berpayah menggamit lenganmu, mengadang langkahmu.”

Ia melesakkan lembar-lembar koran ke dalam tas. Berdiri celingak-celinguk mencari-cari kamar kecil, sekadar untuk becermin: apakah keriput wajahnya memang sudah berusia 50? Di kota S ia tak punya cukup waktu untuk becermin... (bersambung)

Maret, 2014

Photo credit: Kaiyu Chang