01 May 2016

Lima Puluh Penundaan (1)

No comments :

Sudah lebih dari lima puluh menit ia duduk di kursi tunggu, memandangi teduh riah wajah dan langkah penduduk kota T yang menggelangkan karet aneka warna: merah, kuning, hijau, biru, hitam, transparan. Digit almanak menyinari kepala yang ditumbuhi rumput kelabu merancung jarang-jarang: 13 Februari 2050, entah pukul berapa. Hatinya menyaput dalam kabut dan penantian. Kereta yang hendak menyeretnya ke kantor baru belum kunjung tiba.

Selain kabut dingin dan bau rumput basah yang jarang ia jumpai di kota S, pria itu terheran oleh jalanan yang umpama pemakaman: aspal hitam mulus, tiada ranjau-ranjau paku dan baut yang berebahan bebas, tak ia dapati mobil yang menjeritkan klakson ke pantat bus tua nan lengang yang ia tumpangi, kecuali sepeda yang dikayuh perlahan oleh manusia-manusia lamban.

Kepalanya mendongaki dinding stasiun, mengelap keringat di kening oleh setangan. Berkali-kali, sebelum tangannya meraih ponsel dari dalam tas kulit buaya.

“Halo. Selamat pagi. Maaf mengganggu, Pak,” dengan terbata, kemudian dibalas suara dari udara.

“Oh, kau sudah menelepon? Saya masih di kasur. Betapa giatnya!”

Pria itu mengulum senyum masam, “Kira-kira, jam berapa Anda ke kantor, Pak?”

“Jam?”

“Ya, Pak, Anda berangkat jam berapa?”

“Sebentar lagi saya berangkat.” Saya harus bercinta, mandi, mengantar lanang ke sekolah, mencabuti rumput liar di taman, memasak rendang, bercinta lagi, kilahnya. Meski tergaguk-gaguk menyimak dalih yang renggang dari kegaliban seorang bos, pria itu memungkas panggilan. Matanya mencelat saat menatap layar ponsel usai sadar jam tangannya ketinggalan di kota S, “Lho, jamnya mana?” Ia jelajahi pengaturan tanggal dan waktu dalam ponsel. Celakanya pengaturan tanggal dan waktu beku, berkali-kali berupaya ia tembus.

“Aneh, ke mana perginya seluruh jam di kota T?”

*

Di kota S, kereta biasa tiba dan lalu tepat waktu. Segenap penduduk ikut-ikutan menepati waktu. Ia bingung harus jengkel ataukah senang mendapati keunikan di tempat baru. Di kantor lama, ia kerap ditelepon majikan berkali-kali kala tengah berdiri satu kaki secara bergantian dalam sesak kereta listrik, sedikit waktu luangnya dicuri demi diinstruksi aneka pekerjaan yang harus tuntas hari itu. Menjelang senja, ia pulang tak pernah tepat waktu, ia biasa pulang tiga-empat jam lebih terlambat.

“Baiklah, besok bangun siang saja. Aku harus terbiasa terlambat di sini.”

Mengelebat pemuda berompi biru yang berjalan dengan setumpuk kertas dalam pelukan. Ia terpikat lantas memanggil pemuda itu sembari bangkit perlahan, sampai pemuda berompi berjalan menghampiri dengan santai.

“Koran pagi ini?” ia sambar satu eksemplar, “kenapa siang sekali?”

“Seperti biasa, Tuan. Ini koran kemarin.”

“Kemarin?” mata pria itu menyipit. “Apa gunanya saya membeli dan membaca koran kemarin, Nak?”

“Ah, Anda turis rupanya. Harap Tuan percaya, koran kemarin di kota ini lebih aktual ketimbang koran hari ini di kota sebelah. Lagi pula, apa yang semestinya diberitakan jika kota ini sudah begini damai?”

Ia membaca sekilas dan kemudian mendapati konten yang tak biasa. Belum sempat ia berpikir, “Tuan jadi beli? Kalau urung, boleh saya pergi?”

Pria itu mengangsurkan selembar kertas lusuh dari rogohan kocek kepada loper. Mengernyit keningnya saat menerima tampikan loper, “Tuan, betapa tergesa-gesanya Anda. Kami biasa membayar sesuatu yang kami beli hari ini, pada esok atau dua hari berikutnya,” sang loper tersenyum tawar sambil berlalu dan kembali melenggang pelan tanpa menjajakan dagangannya secara persuasif.

Sekarang ia kembali hanyut dalam benam kursi tunggu seraya membaca koran; lembar-lembarnya tersusun dari kertas yang lebih bagus dari brosur promosi town house di pulau perawan seberang kota S, namun demikian ada keganjilan yang membuatnya menyesal telah membeli koran itu.

“Wartawan pemalas! Loper penipu! Ini sih cuma lembar-lembar obituari!”

Ketimbang tiada kegiatan yang bisa dilakukan selain membaca koran―lagi pula belum ia tebus dengan uang, ia menilik halaman muka koran. Berita kematian yang sungguh estetik, dengan tata letak dan tipografi ciamik. Profil mendiang lengkap dengan potret kala usianya belia sebelum sukses sebelum mati, didedah secara komprehensif, seperti udaran tokoh-tokoh politik yang berusaha merayu pada halaman penuh di surat kabar kota S.

Selanjutnya, pandangnya tertumbuk pada lembar serupa lembar sebelumnya, dengan nama dan profil berbeda. Kali ini wanita anggun yang berpose membidikkan kamera berlensa tele gelang putih terhadap gumpal-gumpal awan yang sejajar dengannya dalam foto itu. Menurut paparan penulis, ia berpulang tersebab kehilangan hati yang dicuri oleh kekasihnya untuk ibunya yang kesepian.

“Adakah sesuatu yang agak waras di kota ini?” ia berdecap takjub.

Konon semasa hidup, wanita itu senang berkegiatan di alam bebas, travel photographer wanita―satu-satunya―di kota T, dan itu yang membuat ia merenda kasih dengan teman liputannya. Namun sayang, sang kekasih lebih mengasihi ibunya, sehingga nekat mencuri hati wanita itu untuk ibunya. Wanita itu meninggal, ibu kekasihnya bertahan hidup, kemudian lelaki itu memutuskan menikahi ibunya.

“Edan!”

Tak ada yang dilamurkan; segenap mendiang atau orang-orang terdekat almarhumah termasuk kekasih khianat itu bercantum nama sebenarnya, seolah perbuatan mencuri dianggap biasa. Termasuk mencuri organ tubuh sevital hati. Namun demikian ia pun maklum sekaligus ragu, adakah profesi polisi dan jaksa di kota ini yang biasa menindak rerupa kriminalitas seperti melimpah di kota S?

Sejelalat ia teringat wanita yang sudah sekian lama usang, bahkan namanya siapa ia lupa. Kini seseorang itu menyinggahi kenangan, mengetuk-ngetuk palung kalbu yang kini kian mengelabu.

“Ah, kau di mana? Aku melajang selama lima puluh tahun hidupku. Demi kau, Sayang. Mengapa kau tak kunjung kembali? Kau menghilang sejak saat itu, ah, saat itu…, di senja yang remang di taman satu-satunya kota S yang sibuknya meniru broker di bursa efek itu? Jika kau kembali, kemarilah, ke kota ini. Kota ini begitu tenang, saking tenangnya, aku jemu menunggu kereta yang terlambat di hari pertama kepindahanku dari kota S. Tiada sesalku yang sangat daripada kejadian kala itu: membiarkanmu pergi tanpa berpayah menggamit lenganmu, mengadang langkahmu.”

Ia melesakkan lembar-lembar koran ke dalam tas. Berdiri celingak-celinguk mencari-cari kamar kecil, sekadar untuk becermin: apakah keriput wajahnya memang sudah berusia 50? Di kota S ia tak punya cukup waktu untuk becermin... (bersambung)

Maret, 2014

Photo credit: Kaiyu Chang 

No comments :

Post a Comment