05 May 2016

Lima Puluh Penundaan (2)

1 comment :
Baca sebelumnya : Lima Puluh Penundaan (1)
“Apa? Tidak ada kamar kecil di sini? Kalian semua berak di gundukan kerikil rel?”

Petugas stasiun menggeleng. “Di sini, adanya kamar besar,” ia menutur sopan seraya menuding sebuah tempat yang begitu megah. “Di sana kamar besar. Kami sesekali buang air dan becermin dan mencuci tangan sebelum makan di sana. Silakan tengok, moga-moga saya tak keliru menafsirkan istilah Anda.”

Membebek tudingan petugas stasiun, pria itu melangkah lunglai. Kamar besar, ia telah memasuki kamar itu. Petugas itu benar, sebatas perbedaan istilah. Wastafel berjejer apik, cermin-cermin sebening mata bocah menemplok di atasnya. Usai membasuh tangan, ia mematut-matut diri di depan cermin.

“Kawan, benarkah aku lima puluh sudah?” tanyanya pada makhluk dalam cermin yang murung. “Cepat sekali! Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya dua puluh tahun silam. Merayunya. Mencumbunya. Mencintanya. Menempelengnya. Menindasnya, oleh kelelakian. Namun dia begitu setia, sebelum senja itu. Aku tak tahu diuntung. Senja itu, aku keranjingan melakukan dua me- yang terakhir, hingga dia pertama kali menangis, atau, mungkin tangisan pertamanya yang kulihat. Esoknya… di taman itu… aku terperenyak, kesepian tanpanya.”

Jutaan partikel gusar dan sesal mengudak-udak masa lalu hingga luber dalam benak. “Kini aku menyerah. Sedikit lagi…”

Makhluk dalam cermin ikut menitikkan airmata.

“…sedikit lagi, yah, lebih baik aku mati saja. Seperti tokoh obituari di koran kemarin. Kuharap riwayat ia pun termaktub di dalamnya, bersamaku.”

Ia masih berdua dalam kamar besar di depan cermin bersama makhluk plagiasi di dalamnya. Sepi. Apakah penduduk kota T suka menunda-nunda hasrat buang air pula? Ah, manusia-manusia beruntung, yang agaknya kebal menunda kerinduan dan penyesalan seperti menghinggap pria yang beranjak senja usia itu.

Tertatih ia keluar dari kamar besar, tangan kanan menggapai-gapai tembok pucat. Kemeja bergaris yang semula rapi kini memburai dari celana, dua kancing teratasnya berlepas. Kereta belum juga terparkir di stasiun. Dengan seadanya upaya, ia bertanya pada petugas tentang nasib kereta yang ia nanti-nanti. “Sebentar lagi, Tuan. Kereta tiba cukup lama sebab cuma Anda penumpang dari stasiun ini.”

Tidak ada patokan pasti pukul berapa dari petugas. Jelalatan mata pria itu, mengubek kursi tunggu semula. Keringat mengucur menelusuri keriput wajah saat ia merekatkan pantat pelan ke kursi yang keras itu.

“Oh, frisium, ticard, cholestat. Aku lupa membawamu dari kota S.”

Matanya memejam, dadanya naik turun, menggantikan peran detik-detik jam yang tak dikenal oleh penduduk kota T. Tas kulit buaya mencium lantai. Namun serta-merta ia berupaya untuk merogoh ponsel dari dalam tas demi menelepon bosnya lagi, menanyakan keberadaan sang bos, apakah sudah di kantor atau masih… “Tak mungkin beliau masih di rumah,” pikirnya.

Nada hubung berganti kemerosok halo di udara.

“Pak, maaf, barangkali baru sore ini saya sempat ke kantor,” suaranya kian melemah. “Kereta di stasiun kota T rupanya tak berniat buat melayani penumpang.”

“Begitu? Sebentar, saya pun masih memasak rendang. Mungkin malam baru sempat ke kantor. Sudah, santai sajalah. Cabang kita di kota T begini adanya. Buat apa tergesa-gesa? Kau tunggu saja kereta itu. Mungkin sebentar lagi.”

Keringat kian menguyupi kemejanya yang seperti baru dicelupkan ke dalam seember air. Tak kuasa ia berpikir, apa lagi bertanding kata. Namun demikian ia berikrar menjejak kantor untuk bekerja pada hari pertama kepindahannya. Apa pun masalahnya. Kapan pun waktunya. Bagaimanapun caranya.

“Hei, kau berjanji?” telinganya pekak oleh gelak dari corong ponsel. “Janji itu seperti sampah di sini. Ketimbang berjanji, aku lebih suka memasak rendang. Begini saja. Jika kereta tiba, segera kau naik. Tapi turun di stasiun M ya! Tak usah ke kantor. Kau ke rumah saya saja. Kau tak keberatan mencicipi rendang buatan saya? Oh, alangkah ruginya andai kau melewatkan itikad baik bosmu. Sudah seisi kantor pernah memekikkan ‘bangsat’ sehabis mencicip rendang racikan saya. Hampir setiap hari!”

Daya tinggal seciprat, pria itu mengiya dan mengucap terima kasih dan selamat siang. Ponsel terpelanting ke peron, berbarengan dengan geretak kepala yang menghantam lantai. Dan yang ia lihat kini sebatas hitam, perlahan mengelabu.

*

Putih. Ia terjaga berkat bisikan asing, belum pernah ia dengar sebelumnya alunan sehalus, semerdu itu. Berpayah ia singkap matanya lalu memandang atap, hati-hati membetulkan posisi lehernya. Kereta mengonggok di pelupuk mata. Keterpukauannya kian menjadi saat menyadari di sampingnya duduk makhluk yang entah tampan atau cantik―sangat sempurna―yang tengah mencatat sesuatu pada kertas yang begitu putih, sama putihnya dengan kain selebar seprai yang membalut tubuh makhluk asing yang menguar daripadanya wewangian taman surga.

“Kereta sudah tiba. Silakan naik, Tuan. Mari, saya dampingi.”

Masih berbaur panik dan takjub, ia menerabas ke dalam kereta. Makhluk yang mendampingi pria lima puluh tahun itu berjalan amat halus, nihil entakan. Seperti orang yang menggeleser dengan papan luncur di atas lantai licin. Pria itu menyadari bahwa ada yang tak lazim, tetapi ia terus menyumpal mulut, hingga mengenyakkan pantat ke kursi yang menurutnya paling nyaman dalam kereta yang kosong itu. Cuma ia penumpang dari stasiun ini, bahkan tiada penumpang dari stasiun sebelum-sebelumnya. Makhluk sempurna itu turut duduk kemudian menyalaminya. Pria itu tertegun melihat cahaya berpendar dari genggaman keduanya.

“Saya datang mewakili malaikat pencabut nyawa. Saya datang terlambat sebab banyak sekali manusia yang harus dicabut nyawanya hari ini. Esok pun. Lusa. Hingga bertahun-tahun, sampai lima puluh tahun. Lima puluh tahun mendatang, barulah giliran Tuan. Saya sekadar mengabari, supaya Tuan tidak menunggu-nunggu dalam ragu.”

Pria itu termenung dalam duduk lantas membelalaki sekujur tubuhnya yang tak lagi terlilit oleh kemeja dan pantalon. Telanjang. Tas kulit buaya entah ke mana. Ponsel dan koran kematian yang turut sirna dalam tas barangkali telah melamur jadi masa lalu.

“Aku harus menahan derita lima puluh tahun lagi, maksudmu? Majikanmu tega sekali padaku!”

Beberapa saat pria itu menggerutu lantaran kematiannya tertunda. Macam-macam kata ia lontar, hingga ia kehabisan kosakata. Namun demikian ia sadar tak bisa berkehendak apa-apa.

“Jika aku berpasrah―dan pasti kau senang, bolehkan aku memohon sesuatu padamu? Sebelum kau pergi nanti dan kembali mendampingi malaikat pencabut nyawa lima puluh tahun lagi.”

“Tentu, Tuan.”

Ia mengutarakan keinginannya untuk ditemani seseorang yang kerap menghantui dalam rindu itu. Ia ingin melesapkan lima puluh tahun lagi bersamanya, membalas tuntas dendam dalam penantian panjang puluhan tahun kemarin. Ia mengumbar wajah memelas pada ajudan malaikat pencabut nyawa yang sinar matanya kian memendar-mendar. Sang ajudan tersenyum maklum, “Maaf, tidak bisa.”

Pria telanjang menyentak, “Kenapa? Mengapa aku tak bisa berjumpa dengannya, sekalipun aku sudah menerobos alam sebegini aneh?”

“Dia sudah tidak di sini.”

“Oh. Lebih baik aku mati saja, kalau begitu?” lantangnya. “Cepat, cepat, cabut saja nyawaku, ajudan! Kau bisa kan, kau punya otoritas untuk berbuat apa yang majikanmu perbuat! Aku bersedia! Buat apa hidup lima puluh tahun lebih lama jika aku masih tetap sendiri seperti lima puluh tahun kemarin?”

“Untuk mematikan manusia, tak semudah itu, Tuan.”

Kemudian pria itu meremukkan jendela kereta yang sedang meluncur tunak oleh kepalanya. Meraup serpihan kaca di kursi, menembuskannya pada batok kepala. Membelek dadanya. Kemaluannya. Ia berteriak sebab tak merasakan sakit sama sekali.

“Tuan tidak bisa mati hari ini. Tunggu lima puluh tahun lagi. Bakda itu, nanti, niscaya Tuan akan bertemu dengan wanita yang sudah tenang di sana.”

Pria itu tersedu dengan beling menancapi mata, perut dan kemaluan, namun tiada darah maupun nanah yang menyembul daripadanya, juga ajal.

Laju kereta melambat berkat rem yang mendayu. Tampak ajudan malaikat pencabut nyawa bersiap-siap turun. Pria lima puluh tahun ikut mengemasi serpih beling dan tangisnya. Namun sang ajudan mengadang kemudian mengangsurkan kemeja bergaris, pantalon, pantofel dan tas kulit buaya padanya.

“Sampai jumpa lima puluh tahun lagi, Tuan.”

Kereta berhenti di sebuah stasiun yang sangat indah, langit menyemburat jingga senja paling indah di pantai dara. Ajudan malaikat pencabut nyawa melayang dan luput dari kereta. Pria lima puluh tahun memupus tangis dan lekas mengenakan seluruh pakaian. Tas kulit buaya menyampiri pundak. Kereta pun melaju meninggalkan stasiun utopia, dan tak lama berhenti di stasiun yang ramah baginya. Stasiun kota S! Alangkah meriah dan meruah penumpang yang naik ke kereta yang ia tumpangi. Ia pun terpaksa berdiri, merelakan tempat duduknya direnggut wanita menor montok menggemaskan. Wanita itu membujukrayu dengan desahan yang dibuat-buat.

Pria itu menyambut, namun sama sekali tak terpantik gairah, “Maaf, aku setia menantinya lima puluh tahun lagi. Kau tak cukup sempurna sebagai pemadan.”

“Tapi sekarang kan 14 Februari. Yakin Anda menolakku, Tuan?” genitnya.

Pria itu kukuh tak acuh meski dengan mesra keriput wajahnya dibelai-belai wanita itu. Merasa tak diindahkan, wanita menor merengut kemudian beranjak merayau kursi-kursi yang tengah diduduki pria lain. Pria lima puluh tahun pun dapat duduk leluasa kini, masa bodoh terhadap wanita-wanita maupun gadis yang payah berdiri di dalam kereta. Hingga seorang wanita menghampiri melengkung senyum, rambutnya dipangkas pixie, menunjukkan leher jenjang dan dagu lancip. Bibir merahnya menggiring benak dan rasa pria itu ke masa dahulu, dulu sekali. “Cinta selalu tepat waktu, Sayang,” wanita itu menyodorkan kotak bentuk hati berwarna cokelat berpita merah jambu padanya, “kamu jangan nakal lagi ya.”[]

Bogor, Maret 2014

Photo credit: Thomas Fading 

1 comment :