19 June 2016

Romantika

2 comments :

Apakah cuma saya yang syok tatap kemajuan? Gelisah menunggu perubahan selanjutnya?

Sekarang, jarak 40 kilometer saja mesti ditempuh dua setengah jam. Setengah jam lagi menyamai rute Bandung-Bogor. Padahal, kalau dirasa-rasa, kecepatan 40 kilometer per jam tergolong kecepatan yang banci, kata teman-teman saya. Tapi buktinya, satu jam pun tidak kesampaian jarak segitu. Jadi siapa yang lebih pantas kita risak banci? Partai Tai?

Hampir semua orang punya mobil. Motor lebih dari dua. Tapi garasi cuma cukup satu sepeda. Entah apa daya atau tanpa upaya. Mungkin cuma saya yang bercita-cita untuk bekerja naik angkutan umum. Tapi memang ada angkutan umum yang sampai ke depan rumah di pelosok kampung? Memang ada angkutan umum yang benar-benar tepat waktu? Tanpa ngetem? Tanpa berputar-putar lebih dulu menyesuaikan trayek masing-masing, melainkan melaju langsung ke jalur konvensional? Dunia akhir-akhir ini menuntut ketepatan, sementara kondisi sarat kecacatan.

Membuktikan perubahan yang terlalu cepat tidak selalu bagus. Tidak usah lekas beli mobil baru, Tuan-Tuan yang budiman. Tidak usah terburu upgrade motor dengan bodi yang lebih bongsor, ganti pacar yang lebih bohay, Akang-Akang lulusan STM yang baru bereuforia kerja di minyak, yang baru tahu foya-foya itu bagaimana caranya. Merekalah yang semestinya berubah lebih cepat. Si pembuat jalan yang lebih suka merencanakan liburan dan mengikis anggaran daripada merancang perbaikan jalan. Si pembuat keputusan. Si pelipat pajak. Si kampret yang suka ngokos jambu sebagian, sisa kerkahannya membusuk mubazir.

Tak usah tergesa-gesa untuk berubah. Bukan karena proses perubahan yang selalu menyakitkan. Namun jauh lebih pedih andai setelah berpayah berubah, sejelalat, kita ingin mengubah diri kembali seperti yang dulu. Tidak ada opsi Ctrl+Z dalam hidup ini. Lanjut saja sampai hang, bad sector, game over. Saatnya melipat laptop masing-masing.[]

Photo credit: Ian D. Keating

11 June 2016

Malas Berpikir

No comments :

Pada zaman ketika seantero dunia serempak menyibak tirai pengetahuan lebar-lebar, kita malah menutup diri sejak dalam pikiran. Terlalu banyak berpikir, bagi segelintir orang berponsel iPhone yang sebangun pagi menyesap kopi di Starbucks sambil menyembah Macbook, hanyalah kesia-siaan. Memang, berpikir taklah seproduktif menjaring klien sebanyak-banyaknya berkat bualan sehambur-hamburnya. Sejak dahulu pun pemikir lebih sering dicap gila, tidak seperti penguasa yang dipuja.

Saya setuju dengan tulisan Pak Hasanudin Abdurakhman dari kanal Qureta. Saat ini, kita bagai dilarang untuk berpikir, bahkan untuk sekadar memikirkan hidup masing-masing. Perkara paling fundamental seperti mencintai saja, kita seakan wajib untuk menelan secara instan kata-kata mutiara dari lembar-lembar meme motivator atau menyimak tutorial menikung pacar orang dari youtuber pengaku pakar asmara? Bukankah kita punya otak sendiri untuk mengetahui metode mencintai yang paling cocok dengan tampang, pendidikan, pengalaman, dan kocek masing-masing? Jangan dulu suruh kami untuk menyelami teori penciptaan Alam Semesta, masalah cinta yang paling privat saja terbukti belum paripurna.

Menurut Pak Hasanudin, orang-orang dibekap di bawah dogma, berpikir bisa dianggap menentang Tuhan. Padahal kitab suci bukan gudang sains, alam adalah sumber sains sejati yang terhampar untuk manusia telaah, hingga peroleh jawaban dari segayut pertanyaan yang menggelisahkan. Agama kita bikin-bikin sebagai kerangkeng kebebasan untuk berpikir. Padahal seharusnya kita membuat agar ia saling melengkapi dengan sains, saling mendukung satu sama lain, bukan lantas membelahnya dengan sekat gamis dan cadar saja. Agama dan sains adalah saudara. Keduanya harus sering-sering bersilaturahmi meski memang kerap berselisih.

Dan itulah yang dipraktikkan oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu, termasuk ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina dan Al-Ghazali. Padahal dulu belum ada Google untuk menjelajahi referensi jurnal internasional. Belum ada Microsoft Word untuk mengetik karya-karya mereka. Belum ada simulasi pengolah variabel-variabel fisik. Mengapa peradaban mereka lebih pesat dari umat Islam kekinian yang hanya berkutat dalam perkara menggordeni warteg, membakar buku-buku, dan mengharamkan golput?

*

Peradaban Barat yang kerap kita kafirkan, mesti kita akui, adalah peradaban paling komplet beberapa abad belakangan. Sudah, kita akui saja. Memang senjata yang teroris todongkan pada batok kepala sandera bule itu bukan produk dari negara yang mereka kecam sebagai kafir? Mulai dari ilmuwan sampai sastrawan, Eropa punya stok melimpah beserta buah ide yang berpengaruh. Dan berapa banyak orang yang bilang ogah nonton sepakbola kecuali klub-klub Liga Eropa yang main? Ranah sepakbola saja, Eropa punya jajaran seniman dan filsuf di lapangan yang mahir menyihir massa, menerabas lintas ras dan budaya. Sementara kita, cuma punya politisi sepakbola.

Maka tidak usah terlampau bangga rendang ternobat sebagai makanan terlezat versi majalah apalah. Atau anak bangsa yang jadi animator di studio Marvel atau ilmuwan penggagas teknologi 4G di perusahaan IT Jepang. Memandang mereka sebagai citizen, memang pantaslah kita bangga kepada mereka yang mampu lolos dari kolam butek pendidikan negara dunia ketiga untuk menembus industri negara maju. Itu tidak mudah, sungguh, salut.

Namun sebagai country, Indonesia masih bukan apa-apa di mata dunia. Masih sebatas pasar basah, surga mereka berjualan sampah-sampah. Yang kesusu membangga-banggakan diri berlebihan pada dunia padahal jauh panggang dari apa-apa. Sudah, kita akui saja masih tertinggal. Mawas diri itu lebih baik. Kecuali kalau kita segera membiasakan budaya berpikir seperti Eropa—dan tentu kemakmuran mesti terpenuhi terlebih dahulu, bukan sebaliknya; memaksakan revolusi—barangkali harapan sedikit terbuka. Cobalah…

Terima kasih Qureta yang mengadakan rubrik Sainstek secara mendalam yang sekarang jarang ditemui di media lain, sebab masyarakat keburu khawatir terdaulat kafir akibat membaca pemikiran-pemikiran termutakhir. Syukurlah masih ada profesional dan dosen pasca sarjana yang rela meluangkan waktu guna menulis artikel-artikel sains populer. Jangan biarkan semua lahan kepenulisan daring direnggut gerombolan remaja haha-hihi penghuni sevel saja. Syukurlah profesional dan akademisi masih rela turun gunung menghangatkan nalar kami, tidak melulu mengeringkan pantai demi proyek reklamasi yang basah… basah.[]

Photo credit: Boris Schrier

09 June 2016

Rezeki Mi Glosor

5 comments :

Salah satu keajaiban dunia versi saya adalah mi glosor. Akhirnya dapat berbuka dengan mi glosor lagi. Tahun lalu masih di Cirebon, di sana tidak ada mi glosor. Ramadan tahun lalu adanya mikirin skripsi yang ternyata gak guna, gak berfaedah sama sekali, tidak mengenyangkan seperti mi glosor.

Setiap bulan Ramadan, di kampung-kampung daerah Bogor dan sekitarnya pasti berjamuran yang menjajakan mi glosor. Biasanya ditemani oleh kroket isi bihun, dan proteslah jika kamu beli mi glosor dan kroket tapi tak dikasih seplastik sambal kacang encer. Tuntut saja ke Badan Metrologi. Itu sudah jadi standarisasi.

Tidak semua orang suka mi glosor. Jika disurvey, mungkin yang doyan mi glosor tergolong minoritas. Mungkin lantaran terlalu sederhana sebab hanya terbuat dari aci, lantas cuma dibumbui bawang putih, kemiri dan lada saja. Tidak seperti mi biasa yang berasal dari gandum. Atau karena terlalu murah? Ya, mahal dan murah harga tak selalu sebanding dengan permintaan. Malah menimbulkan tanya berselubung kecurigaan. Seperti Louis Vuitton KW super, semurah apa pun harganya, gak bakalan Syahrini beli.

Katanya sih aci alias tapioka cenderung menyehatkan lambung. Makanya mungkin hidangan tradisional untuk berbuka puasa itu kebanyakan terbuat dari aci. Kolak biji salak terhasil dari adonan antara ubi dan aci. Es cendol ada campuran tapiokanya, sekoteng juga. Apa lagi ya? Cireng, cilok, cimol, cilor, seblak, ah sebutin aja deh semua. Termasuk mi glosor beserta saudaranya: kerupuk mi kuning alias mireng.

Mi glosor pun menyehatkan dompet ribuan pedagang takjil dadakan di pinggir jalan arteri yang mulus maupun jalan pelosok kampung yang bolong-bolong, hingga di persimpangan gang-gang permukiman padat. Sebanyak itu orang yang berjualan dengan produk yang sama: mi glosor, mireng, kroket, dan gorengan-gorengan gemes lainnya. Tapi semuanya ada yang beli. Heran. Padahal kan sama saja. Apakah masalah selera lidah yang berbeda-beda? Mencari-cari harga yang paling murah? Atau tergantung pedagang mana yang lebih banyak diutangi, dialah yang seseorang hindari untuk ke situ membeli?

Saya harus mulai percaya, rezeki akan datang tergantung pada kerja keras masing-masing kita. Mulai memercayai kekuatan diri. Memahami kekurangan diri. Dan realistislah. Ngapain jualan Louis Vuitton di kampung yang makan daging pun setahun sekali? Hermes KW 5 pun gak bakalan ada yang beli. Terlalu mahal bagi mereka untuk dipakai menampung belanjaan dari pasar. Kurang gede untuk menyelundupkan besek pengajian.

Jadi, sudah berapa kali bolong tarawih dengan alasan hujan? Kalau saya nunggu masjid kosong deh (keburu lebaran).[]

01 June 2016

Beli Cakue Lagi

2 comments :

Sejak siang Mamah bilang ngebet pengin cakue. Saya mendadak terkenang saat-saat kuliah dulu. Sepulang kuliah jam sepuluh atau sebelas malam, saya biasa mampir makan di pinggir jalan sebelum benar-benar mengetuk pintu rumah kakak. Selain nasi goreng, kwetiau, atau pecel ayam, cakue adalah jimat pengganjal perut untuk bergadang hingga subuh waktu itu. Enggak rela speedy unlimited RT/RW-nya tak optimal dimanfaatkan.

Menunaikan kehendak Mamah, semalam saya ketemu lagi sama mas-mas cakue itu. Sekalian cari angin karena jarang keluar rumah akhir-akhir ini, apalagi malam hari. Awalnya saya pikir si mas cakue sudah bangkrut. Maklum masih muda. Pedagang-pedagang muda (baca: karbitan, dikompori buat keluar kerja oleh pakar passion ala-ala) di daerah ini biasanya tak bertahan lama. Baru garap cappucino cincau, mendadak ngetren piscok lumer. Baru terjadi pemerataan pengguna Instagram di Indonesia, udah muncul aja Steller. Enggak fokus. Taik lah perubahan.

Tapi ternyata si mas masih ada. Masih jujur. Masih polos. Melayani pesanan pembeli sesuai antrean dan tak mendahulukan yang lebih cantik atau yang pura-pura cantik. Sekarang masih banyak aja tuh langganannya, padahal gerobak ramping nan efisiennya tak berubah. Tak dihiasi pernak-pernik retro ala-ala dengan papan tulis hitam dan goresan kapur. Tanpa opsi rasa toblerone atau nutella. Dan tentu saja, masih medhok.

Hampir empat tahun yang lalu. Cerita tentang kepolosan mas-mas cakue itu sempat saya posting di blog ini. Boleh diklik, namun mohon maklumi perihal tulisan zaman dahulu kala yang masih menggebu-gebu ngata-ngatain pemerintah. Waktu itu saya khilaf. Pemerintah bukan untuk dikata-katain. Baiknya dibiarin aja kesintingannya begitu sampai stroke dan mampus.

Gila ya. Udah hampir empat tahun yang lalu. Akhir 2012. Masa-masa saya masih ngata-ngatain pemerintah. Presidennya masih SBY. Meski melankolis dan sedikit-sedikit prihatin, toh beliau cerdas menjaga kestabilan ekonomi kala terjadi krisis di negara maju. Sementara sekarang, saking bobrok dan kacrutnya kebijakan pemerintah, saya jadi males ngata-ngatainnya juga. Mending nulis cerpen. Lumayan honornya buat beli mi instan. Ngata-ngatain pemerintah gak ada faedahnya, paling tahu-tahu kena pasal ujaran kebencian. Saya lebih butuh mi instan.

Yeah, kalau dipikir-pikir saya malah lebih mellow dari SBY. Ini buktinya. Masih aja ngeblog tentang postingan 2012. Dasar terjebak masa lalu. Dasar remah-remah rengginang. Mau apa? Kalau mau ngasih saya kerjaan, boleh lah.[]