01 June 2016

Beli Cakue Lagi

2 comments :

Sejak siang Mamah bilang ngebet pengin cakue. Saya mendadak terkenang saat-saat kuliah dulu. Sepulang kuliah jam sepuluh atau sebelas malam, saya biasa mampir makan di pinggir jalan sebelum benar-benar mengetuk pintu rumah kakak. Selain nasi goreng, kwetiau, atau pecel ayam, cakue adalah jimat pengganjal perut untuk bergadang hingga subuh waktu itu. Enggak rela speedy unlimited RT/RW-nya tak optimal dimanfaatkan.

Menunaikan kehendak Mamah, semalam saya ketemu lagi sama mas-mas cakue itu. Sekalian cari angin karena jarang keluar rumah akhir-akhir ini, apalagi malam hari. Awalnya saya pikir si mas cakue sudah bangkrut. Maklum masih muda. Pedagang-pedagang muda (baca: karbitan, dikompori buat keluar kerja oleh pakar passion ala-ala) di daerah ini biasanya tak bertahan lama. Baru garap cappucino cincau, mendadak ngetren piscok lumer. Baru terjadi pemerataan pengguna Instagram di Indonesia, udah muncul aja Steller. Enggak fokus. Taik lah perubahan.

Tapi ternyata si mas masih ada. Masih jujur. Masih polos. Melayani pesanan pembeli sesuai antrean dan tak mendahulukan yang lebih cantik atau yang pura-pura cantik. Sekarang masih banyak aja tuh langganannya, padahal gerobak ramping nan efisiennya tak berubah. Tak dihiasi pernak-pernik retro ala-ala dengan papan tulis hitam dan goresan kapur. Tanpa opsi rasa toblerone atau nutella. Dan tentu saja, masih medhok.

Hampir empat tahun yang lalu. Cerita tentang kepolosan mas-mas cakue itu sempat saya posting di blog ini. Boleh diklik, namun mohon maklumi perihal tulisan zaman dahulu kala yang masih menggebu-gebu ngata-ngatain pemerintah. Waktu itu saya khilaf. Pemerintah bukan untuk dikata-katain. Baiknya dibiarin aja kesintingannya begitu sampai stroke dan mampus.

Gila ya. Udah hampir empat tahun yang lalu. Akhir 2012. Masa-masa saya masih ngata-ngatain pemerintah. Presidennya masih SBY. Meski melankolis dan sedikit-sedikit prihatin, toh beliau cerdas menjaga kestabilan ekonomi kala terjadi krisis di negara maju. Sementara sekarang, saking bobrok dan kacrutnya kebijakan pemerintah, saya jadi males ngata-ngatainnya juga. Mending nulis cerpen. Lumayan honornya buat beli mi instan. Ngata-ngatain pemerintah gak ada faedahnya, paling tahu-tahu kena pasal ujaran kebencian. Saya lebih butuh mi instan.

Yeah, kalau dipikir-pikir saya malah lebih mellow dari SBY. Ini buktinya. Masih aja ngeblog tentang postingan 2012. Dasar terjebak masa lalu. Dasar remah-remah rengginang. Mau apa? Kalau mau ngasih saya kerjaan, boleh lah.[]

2 comments :

  1. Tp cakue ala-ala skrng biasanya sih enak cuma jd mahal aja haha. Beda ama kue cubit red velvet atau greentea yg rasanya malah jd gak karu2an XD
    Nice post u melancholic boy!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya juga ya. thankful to ekspansi cakue medan yang udah meningkatkan standarisasi daerah lain :))

      Delete