24 July 2016

Pembantu

No comments :

Saya bersyukur belum pernah sama sekali bercita-cita menjadi pengusaha, entrepreneur, wirausahawan muda tulang punggung (sesungguhnya iga panggang jauh lebih nikmat, demi Tuhan!) ekonomi bangsa, atau apalah istilahnya. Seingat saya, pada 2009/2010an hingga sekarang, pada berbagai media santer sekali ajakan ihwal kejarlah passion atau renjana Anda; hasrat cinta yang menggebu-gebu untuk tak sabar dilakukan setiap saat tanpa pandang waktu bagai buang air besar. Yang sayangnya dimaknai terlalu dini, ah sebut dengan gamblang saja, terlalu dangkal oleh pemirsa Indonesia; negara yang selalu berkembang, dan tak kunjung berbuah ini.

Mayoritas masyarakat tafsirkan kejarlah renjana Anda dengan keluarlah dari pekerjaan dan jadilah pengusaha muda yang sukses! Sebulan berlalu, seseorang berbinar-binar dengan kebebasan tanpa ikatan dari sejuta aturan korporasi. Tiap pagi dapat ongkang-ongkang kaki di depan televisi, menyesap kopi, ditemani anak-istri. Tiga bulan mulai ada sedikit keuntungan dari usaha kecil-kecilannya. Setengah tahun mulai timbul kecurigaan dengan perkembangan usaha yang stagnan. Setahun berlalu ia bingung sendiri dengan kerugian yang datang tiba-tiba. Hingga uang untuk sekadar makan sehari-hari pun tidak ada. Ia baru sadar, usaha untuk menjadi pengusaha berlipat-lipat lebih keras daripada kerja keras sebagai pekerja delapan jam saban hari. Di balik rugi, cemas ia menanti reaksi anak-istri dan keluarga istri.

Saya adalah orang yang percaya, tidak semua orang berbakat untuk menjadi pengusaha. Memang bakat tidak terlahir begitu saja bersama DNA layaknya warna kulit dan tingkat kesipitan mata. Namun saya percaya, bakat terkonstruksi dari watak dan sifat setiap individu, kebiasaan yang dibangun oleh keluarga, dan budaya lingkungan yang menaungi seseorang sejak ia dilahirkan. Bila terbiasa melihat ayahnya berangkat pagi dan pulang pagi demi pasien-pasiennya, maka secara alamiah pikiran dan angannya mulai terarah ke jalan yang sama, dan lagi pula, cuma yang orangtuanya dokter jugalah yang tahu dan bakal rela menggelontorkan dana pendidikan sebanyak itu demi masa depan. Begitu pula bagi yang punya orangtua berprofesi sebagai pedagang, pengusaha, eh, sama sajakah dua profesi ini?

Bukan, saya bukannya masih berpikiran kolot seperti yang biasa pakar-pakar itu mentah lontarkan kepada pegawai negeri sipil dan budak korporasi. Saya realistis saja karena tidak ingin membebani negara berkembang ini dengan jutaan anak muda yang sebetulnya sudah tidak terlalu muda itu berstatus pengangguran terdidik. Saya khawatir generasi saya berpikiran terlampau maju padahal elemen-elemen di sekitarnya sama sekali belum mendukungnya untuk menjadi apa yang ia ingini, sehingga pada akhirnya mereka hidup sebatas di relung alam pikirannya sendiri, bahkan membuat surga dan neraka sendiri-sendiri.

Baiknya, ikuti aturan main di lingkungan masing-masing, dan peramlah cita-cita kita untuk dilansir kelak andai keadaan telah dirasa tepat, dan ini yang penting: pastikan dapur masing-masing sudah terjaga kepulannya setiap hari. Sampai kapan pun hasrat di perut selalu merasa lebih berperan vital ketimbang angan di benak.

*

Teringat perbincangan dengan ibu saya pada suatu hari. Entah apa pemantik topik obrolan, sehingga menyerempet pada cerita beliau tentang ayahnya atau kakek saya yang sempat berdagang di Jakarta, padahal yang saya kenal, dahulu Kakek berprofesi sebagai pegawai pabrik kertas. Saya pun tergugah untuk menggali lebih dalam masa lalunya. Sebab waktu itu sedang hangat-hangatnya pengusaha muda bermunculan, termasuk generasi sebaya saya.

Namun saya kecewa dan sedih. Sebab Ibu bilang, Kakek gagal berdagang. Memang apa yang dijual oleh Kakek? Beras, katanya. Saya tertawa prihatin. Jauh-jauh ke Jakarta, meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai yang sudah pasti penghasilannya setiap bulan, cuma untuk jualan beras keliling dengan mengendarai sepeda. Tidak laku pula. Andai saya hidup pada masa itu, belum tentu mau senekat Kakek yang padahal saya pikir, dulu tahun 50an belum ada sabda pakar renjana yang mendorong kita agar tergesa keluar kerja. Toh cuma ada ikrar ganyang Malaysia.

Apakah Kakek terus berdagang? Cerita Ibu berlanjut. Ya, kakek saya belum menyerah. Beliau lanjut berdagang di Jakarta. Hanya saja bukan berjualan beras keliling. Melainkan petromaks! Ya, petromaks! Sontak tawa saya lebih meledak saat mendengar barang yang sempat diperjuangkan Kakek dahulu. Jualan lampu petromaks zaman dahulu ibarat jualan cobek pada saat ini. Barangnya terlalu awet dan lama sekali terjadi siklus perputaran uang masuk dan uang keluar, dan bukankah siklus ini yang menjadi napas para pengusaha?

Meskipun memang, dulu masih jarang daerah yang teraliri listrik, petromaks bukanlah barang yang dibeli orang setiap hari. Bahkan beras lebih masuk akal untuk diperdagangkan, saya pikir, ketimbang petromaks. Sebab saya tahu, orang zaman dahulu, tak mudah membeli barang baru meski sudah rusak dan diperbaiki berkali-kali, semisal televisi dan pesawat radio. Mau berharap apa kepada orang anti-konsumsi macam generasi mereka? Mereka generasi penggemar Soekarno, bukan generasi Pokemon Go.

Kakek menyerah dan pulang ke Bandung. Kembali diterima bekerja sebagai pegawai pabrik kertas hingga beliau pensiun. Kembali diterima bekerja di perusahaan yang sama sehabis gagal menjajal usaha, adalah hal yang mustahil terjadi pada masa sekarang; masa di mana lebih mudah mencari pengemis daripada mencari pekerjaan.

Saya pun mengerti bahwa tidak semua kakek harus bernasib seperti Liem Sioe Liong. Namun saya toh tetap terkenang dengan kebaikan dan kewibawaan Kakek. Sosok beliau yang hangat dan teguh adalah inspirasi saya dalam membangun fondasi karakter diri di ambang krisis seperempat abad ini. Meski sejak 2001 saya sudah tak pernah dan tak mungkin dapat menjumpai beliau lagi.

Selain bekerja, bertani, berkebun, dan menggambar kartun, ibu saya bilang, Kakek adalah kiper yang diandalkan kolega-koleganya. Jala-jala gawang tim yang beliau bela dipastikan terbebas dari sentuhan bola dalam setiap pertandingan bila Kakek berdiri di sana. Dan ternyata keahlian sebagai kiper andal, menurun kepada beberapa putra bahkan cucunya yang juga selalu dipercaya menjadi juru selamat dalam emban amanat rekan-rekan satu tim masing-masing.

Alih-alih menjadi kiper, saya tak pernah becus bermain sepakbola. Namun perlahan saya meyakini, mungkin, keluarga kami terlahir sebagai yang dipercaya untuk menjaga amanat di barisan paling belakang. Bukan berperan sebagai pengacak-acak daerah orang lain di barisan terdepan guna mereka, mengkreasi, dan menuntaskan peluang, atau penyisir dan penyusup pertahanan lawan di kiri-kanan medan. Baiklah. Saya ingin dikenal sebagai Peter Schmeichel yang dikenang. Bukan akhir karier Michael Owen (atau Lionel Messi, sesuka Anda jika telah meyakini) yang malang.

*

Baru dua bulan menangani keuangan dan pajak perusahaan-perusahaan skala kecil, penolakan diri sendiri untuk menjadi pengusaha semakin kuat. Melalui data-data yang saya kelola, tergambarkan bahwa seorang pengusaha harus rela mengeluarkan modal tanpa tahu lima tahun kemudian uangnya akan kembali atau malah semakin minus, selain dari prediksi-prediksi konsultan yang itu pun kondisional, kembali tergantung kepada insting sang pengusaha.

Ia mesti ikhlas tatap aset-aset berharga yang susah payah dikoleksi berpuluh tahun, sekejap terseleweng oleh pegawainya. Berkewajiban membayar dan mengurus pajak setiap bulan kepada pemerintah yang entah guna dimanfaatkan jadi apa pula oleh korps republik ini, tanpa mereka mau tahu apakah badan usaha bersangkutan sedang untung atau rugi atau malah menjelang kolaps.

Tanpa mental setangguh titanium dan relasi seluas samudera, saya pikir impian untuk menjadi pengusaha cuma setara dengan impian jadi atlet bulutangkis. Yang kita pandang dengan penuh kagum cuma kesuksesan mereka dalam mencapai titel-titel kejuaraan dunia di layar kaca. Di balik tirai arena, sejauh apa yang kita mafhum perihal perjuangan mereka sejak usia tujuh tahun berpeluh-peluh di lapangan, mengorbankan masa muda penuh warna, masa dewasa berjuta dera, dan masa tua yang belum tentu berbahagia.

Yang seringkali orang lupakan, seorang pengusaha yang hebat biasanya adalah mantan profesional yang hebat pula. Lantaran hasratnya lebih besar dari visi dan misi perusahaan, maka ia memutuskan untuk wujudkan impiannya secara mandiri. Bukan tidak atau kurang baik buah karya mereka dahulu, namun wadah mereka bekerja terlalu mungil sebagai tempat mengusahakan daya, karsa, dan selera mereka. Jadi, sudahkah menjadi pembantu korporasi yang baik? Tak ada salahnya, coba lagi Senin depan...[]

Photo credit: 70023venus2009

13 July 2016

Terlalu

2 comments :

Saat rindukan perantauan. Sebab tertakdir kembali ke kampung halaman. Tempat yang bukan hasratmu. Tidak seperti beberapa orang yang kau kenal; sekawanan sakadang kuya batok, yang enggan meninggalkan. Semenjak belia, justru kau ingin melepaskan diri, lekas pergi jauh dari kota ini. Ke mana saja. Asal bukan di sini. Cuma berhasil lebih dari enam tahun. Kemudian gelap. Sekarang, kota inilah lentera kepekatan nasibmu yang semakin lamur. Seret kau ke sini pelan-pelan. Bantu kau tata kembali harapan, titi kehidupan. Semua harus terjadi, sudah terjadi, terjadilah.

Kau mengenali kota lain lebih intim daripada kota ini. Mungkin kota mungil dan sempit lebih cocok denganmu yang payah menghafal jalan, apa lagi menghafal rumus cacing-cacing. Kota kelahiranmu terlalu sarat puja-puji. Sehingga terlalu banyak mengundang turis pemadat akhir pekan yang menyebalkan dan melelahkan. Terlalu luas. Terlalu nyaman. Terlalu ideal. Terlalu tenang. Terlalu santai. Jauh dari naluri yang menggebu. Mimpi yang tinggi. Harapan dalam. Visi melebar. Mungkin ini yang empaskanmu berada di sini. Bukan di sana.

Harapmu dahulu, kepakkan sayap selebar-lebarnya di sana. Terbang bebas seingin anganmu. Sungutmu penabur subur. Tubuhmu pamerkan pola warna indah penawan mata sesiapa memandang. Sayangnya, kau gagal jadi kupu-kupu. Tersuruk krisis anarkis. Kau tak mampu kembali jadi kepompong. Sekalipun kembali jadi ulat. Sekarang kau hanya dapat berusaha menjadi apa saja. Dan ternyata lebih sulit menjadi diri sendiri.

Kau rindukan segenap kebebalan. Jalan bolong-bolong perusak ban, pemakmur Si Lae tambal ban. Seribu angkot dengan seribu manuver. Jalan gersang tersaput polusi debu pabrik semen. Ruwet kemacetan senjakala. Hujan lebat berhias blitz semesta, biasa memotretmu yang sedang sendirian dalam gulita padam listrik di rumah yang bocor. Tumpukan buku-buku yang terlalu berat kau bawa ke sini. Seberat berat badanmu. Seberat kenangan. Yang selalu hadir setiap senja bersama layung jingga. Tanpa tata krama.

Langit Bandung sore ini terlalu mendung. Jalanan sore ini terlalu basah. Tak usahlah matamu ikut-ikutan. Semua kenangan harus berlalu. Lupakan yang terlalu.[]

Photo credit: Tinou Bao

06 July 2016

Senandika Kembali

No comments :

Semula, saya berangan lebih baik lebaran tahun ini dianulir saja. Selain lantaran pada awal Ramadan saya masih pengangguran selepas enam bulan, yang tentu akan menjadi jawaban terburuk dari pertanyaan menyebalkan, namun alhamdulillah sekarang sudah bekerja apa saja yang mampu dikerjakan, sehingga harapan saya untuk hidup kembali meremang setelah sebelumnya segelap, sepengap lorong kamp konsentrasi. Sebagaimana impian, lebaran pun bukan lagi termaknai sebagai hari raya agung yang kudus dirayakan. Telah mewujud ritual yang melelahkan. Bukan pembuktian iman, melainkan pameran pencapaian.

Mulai dari puasa. Belum pernah saya dengar ayat Al Quran yang mewajibkan ibadah puasa untuk segenap umat Islam. Apa lagi memaksa kepada penganut agama selain Islam supaya ikut-ikutan tak sarapan nasi uduk pagi-pagi dan santap nasi Padang pada siang hari. Telah jelas, puasa diwajibkan bagi orang-orang yang beriman. Supaya kelak bertakwa. Puasa adalah ibadah paling sederhana yang risiko riyanya paling rendah, kecuali masih memaknai wangi kasturi bau mulut secara harfiah kemudian menebarkannya pada hidung sesama. Sehingga peluang utuhnya pahala sedikit lebih besar dari ibadah lain yang kasat mata. Tanpa harus repot-repot gordeni warteg-warteg. Cukup menjaga hati.

Namun di negeri ini lain. Orang-orang yang tidak beriman disuruh untuk menghormati orang-orang yang (merasa) beriman. Mau berharap apa kepada orang tak beriman? Mereka masih dikasih hidup sama Allah pun syukur. Hidup mereka sudah kepalang sulit, setidaknya sulit dalam takaran amal baik. Tak usah kita perberat dosa mereka dengan menuntut mereka hormati ibadah kita. Baiknya, berpuasalah dalam hening, meski kehidupan semakin jauh dari ketenangan, demi mantapnya keimanan.

Karena rumah kami dekat dengan pasar, sejak kecil saya sudah biasa melihat pedagang-pedagang merokok bahkan dengan nikmatnya menyeruput kuah kupat tahu Padalarang pada siang bolong, padahal pikir saya dulu, semua orang dewasa pasti berpuasa, di mana pada kelas satu SD kala itu saya sedang belajar berpuasa penuh, namun ternyata orang dewasa yang kerjaannya suka menasihati supaya anaknya soleh dan sering nyuruh-nyuruh beli rokok sama terasi itu cuma begitu kelakuannya.

Lama-kelamaan saya malah senang. Baguslah, setidaknya lapak surga berpeluang lebih besar untuk dapat saya masuki kemudian mukimi kalau orang dewasa banyak yang tidak berpuasa. Menghadapi persaingan global dan Masyarakat Ekonomi ASEAN saja saya berdarah-darah dan entah bagaimana pangkal ceritanya, bagaimana nasib pecundang macam saya bila semua orang berlomba-lomba masuk surga? Haruskah periang, berhobi futsal, pandai berkomunikasi dan beradaptasi, dan punya koneksi orang dalam agar dapat lolos seleksi ke surga?

*

Mudik menurut saya adalah ritual paling penting yang penduduk Indonesia khusyuk tunaikan ketimbang puasa Ramadan. Hampir segenap orang-orang pandai dari kampung sudah hidup mapan di kota-kota besar. Yang tinggal di kampung cuma nenek-nenek dan bocah ingusan. Tentu saja orang-orang sukses harus mudik ke kampung halaman masing-masing. Setidaknya untuk informasikan bahwa mereka baik-baik saja di kota. Meski tak selamanya mereka senantiasa menggunakan metode yang baik dan terpuji sesuai titah nenek moyang untuk menggapai kesuksesan, karena dunialah yang berkehendak begini. Segunung parsel dan amplop-amplop berisi angpao lebaran teruntuk keluarga besar dan segerombol tetangga—yang bernasib tak sebaik mereka—telah cukup pancarkan mereka baik-baik saja.

Sudah tak musim mudik ke kampung halaman dengan mengendarai bus berjam-jam seperti zaman paman dan bibi saya dahulu. Kesejahteraan penduduk Indonesia sedemikian melejit. Hampir semuanya punya mobil sendiri. Sayangnya sarana penghubung antar kota dan antar daerah tidak berkembang sepesat rumah toko yang secepat kilat mengurug kebun-kebun dan hamparan sawah laksana makanan pokok mereka bukan beras. Haruskah mengubah pola pikir ke sekian kali untuk tak lagi prioritaskan kendaraan pribadi dalam cetak biru pencapaian hidup ini?

Seandainya kesejahteraan mudah ditemukan tidak di kota-kota besar saja. Atau malah kita yang keliru persepsikan standar dan sesuaikan parameter kemakmuran ini, sehingga jadilah begini. Orang-orang pandai hanya kita temukan di kota-kota besar. Mungkin office boy yang biasa Anda suruh-suruh memfotokopi notulensi meeting itu dulunya adalah langganan rangking satu di kampungnya. Dan penjaga warnet pengap bau rokok dan peju itu dulu anak kesayangan guru yang terpaksa bekerja karena tak punya peluang kerja lain, terlebih di kampungnya, selain kemauan untuk bekerja apa saja di kota.

Sekali lagi, yang kita temukan di dusun-dusun dan pedalaman selain lansia dan bocah bau matahari adalah orang yang kurang kuat mentalnya meski lumayan pintar—yah walau tak separipurna kecantikan, kepandaian, dan kesejahteraan Dian Sastro. Remaja putus sekolah yang kadar brengseknya nanggung, tidak sekhaffah teman brengsek yang sukses di kota. Anak yang terpaksa tinggal serumah dengan orangtua karena orangtuanya sakit keras sehingga butuh dirawat sepanjang hari, atau orang gila yang keluarganya tak lagi sanggup sekolahkan ke rumah sakit jiwa. Tak apa, sebagian besar yang hidup di kota-kota besar, sepintas jiwanya jauh lebih sakit tinimbang orang sakit jiwa sungguhan di kampung.

*

Tahun ini saya merasa lebih hidup. Betul sekali, seperti pernah saya tulis, apalah guna hidup bila semata alami kebahagiaan. Semula saya sempat membenci Tuhan. Kenapa kok rasanya keadilan terkesan malas untuk mampiri saya termasuk keluarga saya. Tiap jam temukan keanehan. Setiap hari merangkak lalui tanjakan curam, terpelanting saat turunan tajam, luput lompati renggang jurang. Setiap malam rutin hinggap keputusasaan. Hingga pagi datang menyitir-nyitir segumpal penyesalan masa lalu, berulang.

Kemudian ada satu titik balik atau kalau di Just Alvin biasa disebut “Turning Point” yang terjadi tiga bulan silam. Titik pembalik impian-impian saya. Pengelap lensa mata saya setelah sebelumnya terburami fana dunia. Titik penol jiwa raga yang tiada lagi berdaya berdiri tanpa senderan apa pun sehingga saya mantap untuk bersandar kembali kepada Allah. Bukan lagi memasrahkan harapan pada seseorang atau menyerahkan masa depan pada korporasi. Sebagai insan yang dilahirkan, manusia dibekali kertas kosong yang kelak kita isi sekehendak masing-masing. Kembali tersadarkan, mau-maunya nasib saya didikte sama korporasi yang sok kenal sok dekat sama kita sekadar dari psikotes dan uji-uji instan lainnya. Allah saja yang menciptakan saya, toh memberi berlimpah kebebasan pada saya untuk menentukan tujuan dan alur hidup meski tentu tak selamanya saya berbuat kebajikan.

Sekarang saya mulai memandang hidup dengan biasa saja. Tak gampang kepengin menyimak gadget keluaran terbaru, motor berdesain futuristik, perempuan-perempuan cantik yang memang mana mungkin sih mau sama saya. Melihat orang berkaos My Trip My Adventure atau Nesyenel Jeojrefik sudah berhasil travelling dan mengotori langit ke tujuh pun saya meliriknya biasa-biasa saja. Tidak seperti dulu. Memangnya untuk bahagia, cuma harus melakukan yang orang lain lakukan? Saya sudah sampai titik di mana hari ini mau makan dengan apa pun sudah dapat menentukan sendiri tanpa harus bingung berjam-jam dan bilang terserah. Apa lagi dalam gulirkan roda aktualisasi diri. Kurang merdeka apa hidup bebas di era reformasi, kalau kelakuan masih saja menghamba tren demi tren berkedok modernisasi yang begitu lekas berubah, namun demikian sebatas suguhkan basa-basi dan sensasi dengan nir-esensi.

Selamat hari raya Idul Fitri. Sucikan hati. Mari rayakan tanpa embel-embel jabatan korporasi.[]

Photo credit: Fredy Wijaya

02 July 2016

Cinta dan Nafsu

No comments :

Sering sekali saya mendengar pendapat bahwa lagu cinta adalah lagu cemen. Lagu cengeng. Mendengarkannya bukanlah kegiatan produktif, takkan berfaedah sama sekali terhadap kemaslahatan alam marcapada. Seharusnya lagu itu tidak cinta melulu, kata Efek Rumah Kaca. Memang, lagu yang ngepop tak pernah jauh-jauh dari tema cinta-cintaan, mengisah sejoli duduk dua-duaan di taman, pulang kencan pertama berlatar tirai gerimis, menerabasnya dengan proteksi sebentang jaket menggelimuni keduanya. Diakhiri pelukan dan kecupan.

Demikian contoh formula lagu jatuh cinta yang mirip satu sama lain. Namun sepertinya jauh lebih banyak lagu tentang patah hati daripada jatuh cinta, dan lagu bertema semacam ini senantiasa laku di pasaran. Pangsa pasarnya luas, mulai dari remaja belasan tahun hingga mamah-mamah muda yang baru mencecap kehidupan setelah pernikahan ternyata begitu. Padamu, padaku, untukmu, untukku, pasti selalu ada dalam lirik lagu semacam ini. Kata-kata dalam lirik lagu dominan berimbuh dengan -mu dan -ku. Seakan hidup cuma tentang mereka berdua. Begitulah kelakuan orang yang sedang gila akan cinta.

The Beatles pada awal kemunculannya pun tidak ujug-ujug merilis lagu tentang pertanyakan tujuan hidup ala Imagine anggitan John Lennon. Sebutkan yang populer saja: Michele, Let it Be, Girl, Hey Jude, dan tentu Yesterday; tentang dia yang memang diharuskan dan seharusnya pergi. Karya lain dari mereka pun selalu berbumbu asmara penuh kejujuran, dengan sudut pandang sesuai usia masing-masing personel pada periode saat itu.

Lagu yang sering disenandungkan di kafe dan hotel adalah Evergreen Love Songs. Mulai dari L-O-V-E dari Nat King Cole, Because You Loved Me dari Celine Dion, I Love You dari Saigon Kick, Beautiful Girl, Especially for You, Right Here Waiting for You, hingga lagu-lagu cinta yang sedang ngehits saat ini. Kafe, terlebih hotel, kemungkinan besar ditinggalkan pengunjung setia jika terlalu sering datangkan Siksa Kubur atau Karinding Attack.

Cinta adalah konflik universal. Tidak semua orang punya kegelisahan sama tentang kesenjangan sosial-ekonomi yang sangat timpang, atau sama-sama merenungi terlalu lesatnya teknologi yang barangkali kelak robot lebih cerdas kemudian berbalik menguasai manusia melalui artificial intelligent. Sependiam-pendiamnya seseorang, pasti pernah diam-diam menyukai seseorang. Secantik-cantiknya perempuan, mungkin lebih sering disakiti ketimbang dicintai karena kata Eka Kurniawan menjadi cantik adalah luka.

Keterikatan yang sama akan suatu hal biasanya menimbulkan kebersamaan. Namun sayang nasibnya seperti solidaritas yang sering disalahgunakan orang yang punya kepentingan; saat tujuannya tercapai ia lupakan semua jargon yang pada mulanya ia doktrinkan melalui provokasi. Sementara yang punya kepentingan di dalam ranah ini adalah produser. Mereka terus mengeksploitasi cinta pada produk-produk mereka. Beberapa lagu cinta sekarang malah gagal hasilkan getar-getar getir namun menyenangkan itu. Seperti mi instan yang menebar aroma penggugah selera namun baru dibiarkan 10 menit sudah membatu, yang tidak terlalu sehat untuk dikonsumsi setiap hari.

Entahlah saya jadi harus terpaksa dengarkan lagu-lagu sebelum tahun 2005. Era sebelum digitalisasi total, ketika media kaset masih ada yang beli meski tak banyak. Karya musisi-musisi era tersebut selalu berhasil mengobati hati yang masih basah lukanya berkat lirik matang dan aransemen dinamis dari daya dan karsa mereka. Terkadang kita tidak harus melupakan duka, bagi saya lebih menyenangkan untuk mengakrabi luka. Lama-lama tanya, duka, dan luka pulih dengan sendirinya, mengelupaskan kenangan, menyibak masa depan.

Cinta adalah senyawa adiluhung yang tidak bisa terdistraksi apa-apa selain oleh produser. Dan kita pun mesti berbaik sangka pada produser yang di tengah kejam peralihan teknologi masih setia mengikuti keinginan masyarakat dengan segala risiko rugi dan caci, tidak seperti yang mengaku wakil namun kami tak merasa terwakili. Sampai kapan pun cinta adalah produk yang akan selalu laku, meski kita sama-sama malu-malu mengonsumsinya. Cinta bukan tercipta untuk aman dibincangkan ramai-ramai. Namun tertransaksi diam-diam di dalam kamar gelap bagai candu, sabu, nafsu.[]

Photo credit: Cepy HR