22 August 2016

Seperempat

2 comments :

Apa yang saya rasakan jelang pergantian hari ini? Biasa saja. Sebiasa sambut hari Senin yang terkondisi sarat kebencian itu. Pagi nanti saya harus bekerja sebagaimana biasa. Sebelum mandi dan berangkat, seperti biasa melahap 7 minutes workout terlebih dahulu, agar selalu sehat menghadapi yang sakit. Menyelesaikan yang takkan pernah selesai. Menghadapi hal biasa yang menolak dihadapi dengan biasa. Berusaha mencintai yang tiada.

Tapi memang, wahai sekte 91, hari ini saya resmi bergabung dengan kalian. Berikut saya angsurkan lembar fotokopi KTP untuk distempel dengan angka dua dan lima besar-besar, atau digunting seperempat bagian, sesuka kalian. Asal jangan kalian kasihkan ke partai berwarna orang meninggal, ya. Saya masih ingin hidup.

Bersyukur, teramat bersyukur, saya dapat mencapai seperempat ini, akhirnya. Memasuki awal tahun, saya mulai terbentur berkali-kali, demikian bulan demi bulan. Suatu hari saya sempat ragu untuk melanjutkan hidup dan mantap untuk mengakhiri saja. Manusia memang perlu terbentur untuk kemudian dapat tulus bersyukur. Krisis seperempat itu benaran ada, penelitian belasan tahun silam itu tidak lebay-lebay amat seperti yang sebelumnya saya duga. Zaman memang sudah berbeda. Masalah baru datang bermacam-macam dan kadang mengada-ada. Sayangnya sifat manusia dari dulu selalu sama. Selalu mencari yang tak ada.

Ke mana mimpi-mimpi itu melejit? Mungkin masih menggantung manis pada ketiak langit. Kenyataannya, kita harus berdiri sendiri di permukaan bumi, tak baik menggantung apa-apa pada apa dan siapa, bolehlah sesekali menjerit bila memang kepalang sakit. Rasa peduli hanya cocok untuk diritualkan masing-masing, bukan demi tuntutan saling. Saya ingin pulang, pulang ke rumah. Letaknya ada di dalam hati sendiri, yang masih terbebat sarang. Semoga lekas tersibak ruang-ruang yang terang. Semakin lapang.

Sudah. Segitu sajalah. Menulis perihal seperempat sekadar dengan seperempat niat, ya beginilah. Lebih baik energi penuhnya saya limpahkan untuk tiga perempat mendatang saja, ya. Mari kita goyang jigo; dua lima, dua lima, semoga makin istimewahhh![]

Photo credit: Booji Wooji Man

2 comments :

  1. wah ultah yeuh hahaa happy 25th birthday.. keep writing ah masih ada tiga perempat lagi menunggu untuk disesali juga kwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha thanks, man. gak papa lah. masa depan memang lapak untuk menyesali masa lalu *pret

      Delete