29 October 2016

Menutup Oktober

No comments :
Entah ada magis apa, Oktober selalu berat setiap tahun. Setidaknya bagi saya dan untuk saya hadapi. Termasuk tahun ini. Awal bulan, kejenuhan melanda. Bingung mesti berbuat apa dan bercerita kepada siapa supaya hidup saya tidak biasa-biasa lagi. Menjelang penutup Oktober, sebaliknya; situasi bagai roller coaster, memiuh adrenalin. Doa saya awal bulan agar tidak hidup lurus-lurus saja rupanya langsung terkabul pada akhir bulan.

Minggu ke lima lari Minggu pagi kemarin, pikiran dan hati terasa kosong. Mungkin efek aspal basah perbuatan hujan semalam silam yang bikin sol sepatu kurang mantap pendaratannya. Mungkin keadaan jiwa saya makin berantakan. Apalah, apalah kemungkinan-kemungkinan yang persetan, tapi jarak terjauh akhirnya berhasil saya tempuh kembali. Berharap besok pagi juga.

Kabar yang ditunggu-tunggu masih menunda agar segera berjumpa. Selasa kemarin datang ke sana disambut jalanan basah, pulang ke sini dengan mata basah. Kecengengan yang ke sekian dalam perjalanan. Saya lelah menghitungnya namun benak berinisiatif mencatat. Yang pasti, ke depannya masih ada, dan harus mulai membiasakan, karena hidup kayaknya memang begitu-begitu saja.

Kabar kabur itu menjadi kado yang paling buruk untuk ibu saya yang berulang tahun ke 62 tanggal 26 lalu. Perpaduan tanggal dan usia yang cantik. Tidak seperti kado yang saya berikan semalam itu. Sejinjing take away Hokben 26 Oktober sore sepulang kerja cuma kesia-siaan. Tahun depan, jangan lagi begini, jangan lagi.

Dua bulan lagi. Tinggalkan tahun yang sangat laki-laki. Resolusi tinggal resolusi. Sakit hanya ingin berumah di hati.[]

#Update Minggu pagi: Sakit bukan hanya ingin bermukim di hati. Tapi juga kaki! Engkel kanan kena lagi. Aaarrghh... babiiii!

23 October 2016

Keseksian Kesuksesan

2 comments :

Selama ini saya kira semua orang punya peluang sama untuk dapat berada di posisi orang yang kita idolakan dan elu-elukan dalam silau sorot lampu media. Beberapa tampil dalam sebuah talkshow, berbagi kenangan penuh perjuangan yang sempat mewarnai perjalanan dia menuju kesuksesan. "Saya dulu dilahirkan di tengah keluarga sederhana. Setiap hari kami makan bubur, karena orangtua saya dikaruniai banyak anak. Kadang tidak makan sehari itu. Sehingga saya berjualan getuk dan arem-arem ke sekolah. Uang hasil jualannya untuk membayar iuran sekolah saya dan adik-adik. Untuk apa malu? Saya lebih malu jika harus miskin seumur hidup!"

Pengakuan yang sering saya dengar dari mulut orang sukses. Tentang dahulu si orang sukses itu bukan orang berada. Berasal dari kampung pelosok negeri. Kemudian memutuskan merantau ke kota untuk mengubah nasib dan takdir dia dan keluarga. Keluar dari kemiskinan, keterbelakangan, dan ketertinggalan dari parameter sukses dalam pikirannya yang sudah terjejal wejangan guru-guru dan harapan dari lubuk hati. Fast forward, sukseslah ia di kota.

Namun, apakah bila seseorang dari dusun sukses mengadu nasib di kota, orang-orang kampung lainnya harus mengikuti jejaknya? Misalkan, orang yang beruntung itu sukses merantau sebagai karyawan bank dan kariernya mulus, apakah tetangga di kampungnya harus jadi bankir juga? Mau sebanyak apa lagi jumlah dan jenis bank di sini kalau orang kampungnya saja kepikiran untuk bercita-cita jadi karyawan bank, padahal sawah upluk-aplak, sapi-sapi tinggal dikawin-kawinkan? Silakan ganti bank dengan skop profesi lain yang tak butuh-butuh amat tenaga kerja manusia, seperti pabrik misal yang lama-lama mungkin dikendalikan oleh robot semuanya, termasuk direkturnya.

Jarang saya lihat orang yang sukses di kampung halamannya. Jika ada pun, ya itu tidak seseksi ikon-ikon sukses mahasiswa Drop Out semacam Bill Gates, Zuckerberg dan mungkin akan diangkat lagi maskot mahasiswa Drop Out sukses lainnya entah untuk apa tujuan media itu ya. Oh, hmm. Mungkin lantaran kita, termasuk saya tentu, sangat gampang terpikat cerita-cerita underdog, from zero to hero, dari tiada menjadi berada, dari gembel kemudian setiap hari check in di hotel.

Sukses sudah menjadi komoditi seksi untuk dikomersialisasi. Buku-buku laris adalah self-help book yang kontennya sarat dengan motivasi menuju sukses. Andai kemarin Mario Teguh tabah dan fokus konsisten saja bersuper-super sampai menjelang ajal, mungkin negara ini bakal memelesat tanggalkan kemiskinan karena kepapaan sering beliau lukiskan sebagai epidemi menakutkan yang mesti segera diberantas buru-buru. Sayang sekali ia punya anak yang berprofesi sebagai seniman yang tak begitu mempan disumpal karya meme bercantum wejangan supaya pembacanya hidup menjadi orang baik yang super, namun mungkin ia sendiri lupa menjadi ayah yang luar biasa (silakan baca kata "luar biasa" dengan penuh semangat dan tangan terkepal menantang angkasa).

Selain kerja keras yang katanya adalah satu-satunya jalan suci menuju gemilang kesuksesan, saya rasa ada beberapa hal yang orang-orang sukses itu lupa share dalam setiap seminar. Mungkin sungguh lupa. Mungkin terlalu banyak yang dipikirkan. Saya sih lebih percaya mereka takut tak bakalan ngetop dan ngepop lagi kalau sering-sering suguhkan realita kesuksesan yang ternyata tidak butuh-butuh amat motivator.

1. Bacot

Semakin berisi semakin merunduk. Tong kosong nyaring bunyinya. Kendati adat ketimuran terus-menerus menganjurkan (bahkan mengharuskan) penduduknya agar lebih banyak bekerja daripada berbicara, tapi mana buktinya ya. Sejak kecil saya tak banyak berbicara, bahkan malas untuk berbicara dengan siapa pun dan lebih suka menulis, menggambar, rajin mengerjakan PR, membantu Ibu membersihkan rumah, gampang disuruh beli bumbu masakan yang habis ke warung, memapah nenek-nenek menyeberang jalan, dan opsi-opsi yang sering saya silangi pada soal pilihan ganda PPKn. Tapi saya belum sukses-sukses juga nih.

Sepertinya ada yang salah. Justru orang yang pandai berbohong gampang sekali lolos rekrutmen pekerjaan, lalu orang macam itulah yang mudah memikat atasan sehingga cepat naik jabatan. Mereka pun mudah untuk membuka usaha sendiri sebab dengan karunia mulut sefleksibel bola karet itu bukanlah tersebut sewujud effort untuk meyakinkan investor cairkan pinjaman dana usaha yang belum tentu berdayaguna. Seharusnya guru-guru saya dahulu menggelar kejuaraan bersilat lidah saja ketimbang calistung dan cerdas cermat cepat tepat yang tak ada gunanya bagi saya saat ini. Telanjur, saya sudah terlambat 25 tahun untuk memulai belajar berbicara.

Entahlah sekarang, masihkah pepatah untuk senantiasa berdiam agar kelak menelurkan emas itu masih terus diwejangkan guru-guru di sekolah? Mudah-mudahan sih masih, supaya generasi centennials mendatang tumbuh memelihara kenaifan dan tak begitu pinter-pinter amat sehingga gampang dibodohi dengan kecanggihan teknologi, jadi saya enak memperbudak merekanya juga jika kelak saya sempat cicipi kesuksesan, sebagaimana generasi X kepada saya.

2. Bakat

Orang yang lebih percaya pada kerja keras daripada talenta, ah menurut saya sih itu cuma justifikasi lantaran dia kurang berbakat. Realistis sajalah, meski konon persentasenya kecil dibanding kerja keras, bakat itu lumayan menentukan nasib. Apakah kamu pikir tukang servis komputer di Jaya Plaza tidak mau jadi setajir Bill Gates? Belum tentu Bill Gates lebih jago ngakalin kerusakan laptop dibanding Akang tukang servis yang penampilannya lebih mirip personil band metal daripada computer geek itu. Apa sih yang bikin mereka beda nasib? Mungkin pendidikan, mungkin stabilitas negara tempat ia lahir dan bermukim, dan saya percaya satu hal lagi adalah bakat.

Saya tidak memungkiri banyak sekali bakat-bakat muda di sini, bahkan di sekitar saya. Sehari-hari mereka tumbuh dengan kepercayaan diri dan harapan tinggi untuk kelak dapat seperti idolanya dalam bidang masing-masing. Sejak dini terus bersemangat mengasah bakatnya demi mencapai goal masing-masing. Tidur sedikit. Jarang bergaul. Habiskan masa muda dengan angka dan kata. Tapi kenyataannya, sebatas bakat tidak cukup. Setelah menyadari, ternyata malah balik lagi ke poin pertama: harus jago bacot juga.

Budaya dan latar belakang negara tentu menentukan keahlian berbicara di depan umum untuk meyakinkan investor atau katakanlah user, misal, dalam suatu penyaringan tenaga kerja. Orang luar sudah terbiasa untuk sekadar mengutarakan pendapat kepada orang lain. Namun di sini tidak begitu, biasanya. Seseorang dengan bakat lumayan pada masa kecil tumbuh dewasa dengan segala ketakutan yang ditransfer oleh orang-orang lebih tua dan berkepentingan. Jadilah waktu mendewasakan usianya namun gagal mendewasakan bakatnya. Talent hunter tentu memilih sosok yang gampang diajak berbicara sebab dengan cara apa lagi satu sama lain bekerjasama dan berkompromi jika tidak dengan berkomunikasi. Karena lebih mudah mengidentifikasi keahlian bacot daripada bakat yang sering kali hanya terkubur dalam palung hati seseorang, bahkan mungkin ia sendiri tidak sadar dianugerahi bakat itu.

3. Beungeut

Awalnya saya pikir manusia berparas cantik dan ganteng itu cuma laku di sinetron dan model reklame saja, atau setidaknya industri lain takkan begitu mendiskriminasi penampilan termasuk postur tubuh. Setelah saya alami, rupanya faktor beunget ini lumayan berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam bidang masing-masing. Jumlah orang ganteng dan cantik di kampung sepertinya tidak terlalu melimpah layaknya di kota. Yah mungkin karena tampil menawan sepanjang hari itu butuh modal, sementara mereka untuk memutuskan membeli antara baju bola KW3 atau beras raskin pun mikirnya sampai setahun. Keburu nikah dan punya anak, sebelum sempat mengukir wajah sendiri.

Jikapun orang sukses itu sering digembar-gemborkan berasal dari kampung pinggir jurang, saya yakin status mereka lumayan terpandang di mata penduduk kampungnya. Paling tidak, bapaknya tokoh masyarakat semacam ketua RT, atau setidaknya juragan kambing. Hanya, karena dikomparasi dengan penduduk perkotaan yang profesinya aneh-aneh dan berpenghasilan berdigit-digit, tentu saja kalah mentereng dan media menakar dia berasal dari keluarga sederhana.

Baiklah. Ganteng dan cantik itu katanya relatif. Tapi untuk apa kita menyertakan potret wajah saat mengajukan lamaran pekerjaan? Katakanlah itu bertujuan agar mereka dapat menghafal wajah kita sebelum benar-benar bersuamuka secara langsung. Saya agak ragu dengan alasan ini. Beberapa kali saya dengar, wajah adalah cerminan jiwa. Ini sungguh sial karena wajah saya bila saya tilik lama-lama di depan cermin malah mirip debt collector, dan lebih sial lagi, saya tidak pernah melamar ke leasing. Pantas saja pabrik-pabrik menolak saya, mungkin takut dipalak.

Dan yang saya amati, orang cantik cenderung effortless dalam memperoleh pekerjaan untuk kemudian meniti karier menuju puncak, sebelum disarankan untuk berhenti bekerja dan mengurus anak dan rumah saja, dan ini jarang sekali karena banyak yang memilih udahan daripada setiap hari mengelola jemuran yang bukan passion dia. Paling tidak dengan wajah seberuntung itu lebih mudah untuk meyakinkan orang lain. Ini memang menyakitkan. Namun mau bagaimana lagi? Tapi saya pikir ulang, faktor beungeut ini sebanding dengan bacot. Yang cantik bisa saja bego, tapi yang pandai berbicara biasanya cukup rapi dalam melipat kebodohannya. Betapa beruntung yang punya keduanya.

4. Bokap

Wuah. Tentu saja faktor terakhir inilah yang paling penting tunjang kesuksesan. Kuliah di ITB apalagi MIT dan Harvard itu bukan cuma butuh otak yang cerdas. Butuh wawasan untuk susun strategi perihal bagaimana cara-cara menembus tembok tebal kampus itu yang ternyata banyak pintu lain termasuk jalur tol, butuh mental badak yang tidak gampang panas dengan perkataan orang, dan tentu saja biaya yang hmm kamu tahu sendirilah. Lantas dari mana diperoleh semua itu? Orangtua. Stabilitas keuangan keluarga. Sementara, faktor keharmonisan keluarga masih nomor dua atau mungkin lima. Bagi yang biasa-biasa saja, sudahlah. Kecuali jika kamu adalah seorang spesial di antara puluhan juta, tentu dengan perjuangan meyakinkan pejabat kampus itu bahwa kamu cukup berbakat. Dan selain bakat, tentu butuh keahlian bacot mumpuni.

Katakanlah enggan kuliah karena lulus SMA lanjut kuliah itu sudah mainstream, dan karena kamu orang kaya kamu ingin terpandang lebih hipster senantiasa. Mau berwirausaha saja. Tentu lebih mudah bila mempunyai orangtua yang setiap harinya tidak perlu resah memikirkan jas hujan bocor karena kehujanan pulang-pergi ke kantor naik motor. Cukup minta satu anak perusahaan saja. Sudah tersebut wirausahawan muda. Mudah kan. Tapi untuk sukses, tentu butuh 3B sebelumnya. Tapi, apa sih yang tidak bisa ditebus dengan uang? Maka dari itu saya merasa B terakhir ini cukup krusial, yang membuat populasi orang sukses di dunia ini tetap sedikit dan terlestarikan sebagai sosok-sosok istimewa yang katanya sih patut diteladani.

Menjadi sukses memang berkesan seksi. Namun bagi saya saat ini, lebih nyaman untuk sering-sering ngaca dan sadar diri. Demikianlah, saya sudahi saja khotbah saya kali ini. Kalau saya cukup pandai berbasa-basi (termasuk berbasa-basi menutup tulisan ini), mungkin saya takkan kepikiran untuk buang-buang waktu menulis di sini.[]

Photo credit: Mahmood Salam

16 October 2016

Membuang yang Tabu

No comments :

Penderitaan bagi saya adalah terlampau lama bertemu dengan seseorang atau orang-orang, dalam rangka urusan pekerjaan sehari-hari atau silaturahmi sesekali. Jika terpaksa harus melakukan hal tersebut, biasanya sepulang dari suatu pertemuan, saya suka sakit perut. Karena terlalu lama menahan kentut, dan perjumpaan di restoran sambil makan dan minum bersama, tentu saja memperparah keadaan. Dan ketahuilah, ini cukup menggelisahkan.

Apalagi jika kantor atau lokasi perjumpaan merupakan ruang berpendingin udara, dan letak kamar mandi dekat sekali dengan ruangan di mana orang yang saya kenal sedang hangat-hangatnya berdiskusi. Untuk membuang angin di kamar mandi pun, saya merasa malu dan khawatir andai ledakan dari pantat yang mana saya tahu akan ber-output stereo atau syukur-syukur nir audio, bocor ke luar kamar mandi sehingga kedengaran oleh orang lain. Mungkin bagi petugas penunggu toilet, suara kentut maupun "plung" sebanding dengan ketokan palu dan gemuruh gerinda bagi tukang mebel, yang menandakan bahwa hari itu mereka lumayan produktif jalani ikhtiar hidup.

Hal ini yang bikin saya malas ketemu orang bila tidak penting-penting amat. Sebab sekalinya ketemu, biasanya tidak sebentar, dan tidak enak kalau saya permisi pulang duluan. Jadi, kalau tidak siap-siap amat untuk bertahan, mending urung sekalian. Saya malu bila suatu saat harus dioperasi dengan diagnosis gangguan perut akibat keseringan menahan kentut. Penyakit ini tidak lebih keren dari kanker dan leukemia, yang sering jadi konflik internal cerita-cerita fiksi itu.

Kenapa selalu timbul kecemasan terkait hal sesampah kentut, saya masih bingung. Dan mengapa kegiatan membuang angin yang sering kali terjadi secara impulsif dan tak dapat direncanakan secara matang, merupakan hal tabu? Padahal menurut saya, meludah sembarangan jauh lebih barbar, dan saya heran orang-orang yang saya temui sehari-hari lebih sering ketahuan meludah sembarangan daripada membuang angin (mungkin lantaran di jalan, polusi dari emisi bahan bakar jauh lebih ganas daripada busuk kentut, sehingga hidung saya luput mengidentifikasi).

Apalagi pengendara yang serampangan meludah di tengah perjalanan di depan saya, suatu hari setang motor dan sarung tangan sebelah kanan saya pernah terciprat sedikit air liurnya, dan itu lebih menjijikkan dibanding terpaksa hirup kentut seseorang, sebab jika sikap toleran dan empati sedang tak berkenan, cukup saya menghindar dari pekat aroma itu, semisal keluar dari ruangan tempat kami berada untuk mencari udara netral yang lebih melimpah di luar. Sementara air liur, bisa saja mengandung kuman-kuman penyebar wabah melalui media udara yang saya tak tahu seberapa cepat dan awet tingkat penyebaran penyakit suatu ludah.

Saya percaya dalam seciprat air liur terkandung rupa-rupa virus dari sosok peludah. Tapi kentut? Bukankah kentut cuma angin yang numpang lewat dari perut ke lubang dubur begitu saja, dan angin dari perut yang sejatinya netral terkontaminasi menjadi sengit karena mesti pula lalui pasokan tinja, lantas lekas bergabung dengan udara sekitar, hanya tenggat penetralan di udara bebasnya saja yang berbeda-beda sehingga cukup mengganggu pernapasan orang sekitar. Apakah kebiasaan membuang angin harus selalu tergolong perilaku yang tabu?

Saya menunggu riset ilmiah perihal tinjauan fisiologis dan sosiologis perilaku membuang angin sembarangan kelak memperoleh penghargaan Nobel. Segera.[]

Photo credit: eyesontheskies

09 October 2016

Lari Lagi

2 comments :

Sudah pekan ketiga saya lari pada Minggu pagi. Padahal sesungguhnya, pada satu-satunya hari libur itu saya hanya ingin bangun siang dan membaca buku seharian di kamar sampai larut malam dan ketiduran untuk kemudian terjaga sambut Senin yang selalu dibenci. Tapi mau bagaimana lagi, saya ingin sehat.

Tekanan darah yang tinggi cukup menyiksa saya akhir-akhir ini, sebelum memutuskan kembali berlari. Melalui pusing di kepala, dan pencernaan yang kurang nyaman. Hari-hari pun saya lalui dengan serapah. Terus membenci kondisi yang sudah telanjur begini dan merisak nasib diri sendiri. 

Sampai muncul cetusan untuk keluar rumah tanpa motor, atau bahkan satu hari tanpa mengendarai motor sama sekali. Cukup keluar dengan celana pendek, kaus longgar (supaya tidak terlalu kelihatan bahenol), sepatu olahraga, dan uang secukupnya untuk ongkos angkot. Pukul setengah enam kurang sepuluh saya pergi untuk berlari ke tempat yang banyak orang-orang berlari. Lumayan, pulangnya ramai ibu-ibu lagi senam sambil teriak-teriak menggugah syahwat di parkiran supermarket, membeoi instruktur senam yang mungkin lebih cocok jadi biduan dangdut. Cukup menyegarkan letih, tapi, ah, sudah tua-tua sih.

Percobaan minggu pertama hasilnya badan sakit semua: perut kalikiben (pasti gak tahu artinya), paha merah-merah, dan kaki susah dipakai untuk langsung bangkit dari tidur atau duduk tanpa tangan ikut membantu menahan ke lantai atau kursi. Padahal minggu pertama, saya lebih sering berjalan daripada berlari. Minggu kedua hanya kaki kanan yang sakit, dan keesokan harinya rasa pegal itu langsung lenyap. Akhirnya Minggu pagi tadi, alhamdulillah tidak ada anggota badan yang manja. Padahal jarak berlari sudah lebih jauh dari dua Minggu sebelumnya dan saya berlari tanpa berhenti. Mungkin tubuh sudah adaptasi. Atau mungkin saya lebih lama berpura-pura melakukan pendinginan di depan parkiran supermarket. Bahagia itu gitu aja kali ya.

Jujur, saya ingin melanjutkan rutinitas Minggu pagi ini secara istiqamah. Bukan, bukan lantaran kebelet kurus. Itu sih... susah. Saya cuma ingin sehat. Yang saya rasakan saat sedang berlari, otak seolah melepaskan beban-beban pekerjaan yang tak pernah terselesaikan, dari harapan yang tak kunjung sampai. Dari masa lalu yang sebenarnya berat untuk dilepaskan tapi berat pula untuk dikenang-kenang. Pain dan fear itu mungkin memang semu dan cuma iseng nangkring di otak. Cara melepaskan diri dari belenggu itu, ternyata cukup dengan menggerakkan seluruh badan lebih dari 45 menit.

Sebada berlari, saya merasa hidup. Benar-benar hidup. 25 tahun kemarin mungkin saya cuma pura-pura dan seolah-olah hidup. Karena saya tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab dalam kenyataan meski sudah beberapa kali keras berusaha (usaha macam apa ini), cukuplah sekali seminggu saya ingin sejenak berlari dari hal-hal nisbi. Walau tak satu pun peduli, walau segala hal telah terukur materi. Ah, penutupan sampah macam apa ini.[]

Photo credit: Markus Goller