31 December 2016

Kilas Enam Belas

No comments :
Ramalan saya gak salah-salah amat. Tahun ini ternyata emang lebih berat dari 2015. Perekonomian Indonesia makin enggak jelas. Imbasnya ke mana-mana. Ke hajat hidup orang banyak yang masih perlu subsidi tapi nyatanya subsidi bakalan bener-bener dinihilkan. Negara terus memperbaharui efisiensi anggaran tiap tahun. Masih giat korupsi aja udah sok-sokan ngikutin gaya korporasi dengan kebijakan efisiensi sana-sini.

Jangan tanya dengan hidup saya. Awal tahun yang sangat berat. Mengontrol hidup di 2016 sama beratnya dengan mengendalikan berat badan. Semangat naik turun. Harapan kembang kempis. Begitu pun isi dompet. Tidak seperti tensi darah yang konsisten naik terus dan lambung yang kembali menggolak sampai akhir tahun.


Senang sekali bisa menonton karya beliau langsung di bioskop, bukan lagi mengunduh dari internet seperti tujuh film sebelumnya karena saya yang terlambat mengetahui ada sutradara keren yang filmnya terkategori cult untuk dikoleksi bahkan dipamerkan dalam perbincangan sehari-hari.

Awal tahun ini saya menonton The Hateful Eight sendirian di studio bioskop yang sepi. Kalau tidak salah ingat, cuma ada delapan orang yang duduk di dalam studio. Mentang-mentang film ke delapan dan judulnya pun ada unsur delapan. Tidak seperti antrean padat studio sebelah yang sedang memutar film-film populer. Dan satu jam berselang makin berkurang dari delapan karena ada pasangan yang memilih exit sebelum credit title turun. Mungkin darah-darah di film hampir sama dengan warna lipstik pacarnya dan mereka enggan tercemari imaji mengerikan saat sedang intim berciuman.

Konflik yang lebih rumit dari tujuh film sebelumnya dengan scene dan lokasi minimalis, Tarantino masih mengusung kekhasannya, tentu tidak luput dari adegan menembak buah zakar yang epik itu. Katanya Tarantino cuma mau bikin 10 film seumur hidupnya. Dan karena ini film ke delapan, maka hanya tersisa dua karya beliau yang dapat kita nikmati setelah ini. Tolong, jangan sampai mati ketembak buah zakar dulu sebelum tuntas 10 film ya, Pak Tarantino.

2. Masak Sendiri

Beberapa bulan berlalu. Nasib belum berubah juga karena saya pun tidak melakukan apa-apa dan masih bingung menerima segala kenyataan saat itu. Saya memilih tinggal di rumah sendirian. Membobol tabungan untuk makan sehari-hari. Dengan tujuan mengirit agar tabungan habisnya perlahan-lahan sampai saya dapat pekerjaan, saya memutuskan memasak sendiri.

Belanja sayur ke tukang sayur. Tidak, saya masih terlalu malu untuk membeli sayur di tukang sayur yang lewat depan rumah. Saya beli sayur di kios pinggir jalan saja, dan kresek belanjaannya disamarkan ke dalam ransel sepeda. Ngirit tapi gengsi.

Hampir setiap hari saya memasak dengan membaca resep-resep simpel dari internet karena ribet sekali mempraktikkan resep dari ibu saya yang biasa menggunakan banyak rempah. Tempe orek, (masukkan daging-dagingan atau telor-teloran) asam manis, ayam teriyaki, kangkung saus tiram, sayur sop, tumis jamur, mi dan kwetiau goreng. Sepanjang bulan-bulan sarat keringat di dapur waktu itu, saya menyesal malah sering menyia-nyiakan masakan ibu saya. Ternyata masak itu susah, apalagi bila harus masak bervariasi setiap hari.


Sebenarnya niat melakukan hal satu ini sudah sering muncul sejak jauh-jauh hari sebelum 2016. Tapi saya rasa, bulan Maret (atau April atau Mei yah saya lupa) tahun ini adalah waktu yang tepat untuk menghapus semua akun media sosial. Mula-mula adalah Path, socmed yang selalu bikin anxiety berlebihan karena postingan kita dilihat oleh berapa orang pun kelihatan dan notifikasi love dari orang bikin kita euforia berlebihan. Kemudian Instagram, yah, sebelas dua belas lah dengan Path, malah lebih fana lagi. Google Plus sudah pasti karena dari awal pun gak ada seru-serunya.

Facebook sudah pasti dong karena udah gak ada juga temen yang maen di sana. Cuma akun Twitter yang masih saya aktifkan sampai sekarang. Sebenernya saya juga pengen deaktivasi Twitter, tapi kok sayang yah... banyak banget ceceran darah perjuangan enam tahun belakangan khusus untuk socmed satu ini, yah, termasuk followers yang segitu-gitu aja hahaha. Solusinya cuma saya atur jadi private account saja.

Dampak menghapus berbagai akun socmed bener-bener positif. Saya dapat kembali berpikir jernih tanpa pretensi dari siapa-siapa termasuk teman, keluarga, saudara, seleb socmed, pakar politik abal-abal. Lebih menghargai arti pertemuan offline dengan orang-orang di dunia nyata dan saya dapat bercakap-cakap dengan siapa saja tanpa beban karena saya tidak tahu apa masalah mereka yang biasanya saya ketahui ketika saya masih masif maen socmed terutama Path. Benak saya jauh lebih tenang. Hati saya lebih lapang. Lebih ikhlas menerima dunia apa adanya.

Sebenernya masih ada dua akun socmed yang susah banget dihapus: Pinterest dan My Space. Gregetan banget saya pengen ngehapus dua akun socmed itu, tapi kayaknya beneran mustahil ya soalnya mereka memproteksi diri dari deaktivasi akun. Ada cara lainkah?

4. Terpaksa Kembali ke Bandung

Stres lantaran kejelasan nasib tak kunjung muncul, akhirnya saya gencar melamar pekerjaan di mana saja, posisi apa saja, dan gaji berapa saja. Ternyata dapetnya malah di Bandung. Lokasi yang tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk bekerja, karena yah, Bandung cuma nyaman sebagai tempat berwisata bukan untuk bekerja.

Ternyata benar. Bekerja di Bandung menyiksa sekali dalam hal perjalanan berangkat-pulang kerja. Macet sepanjang jalan, bukan sekadar di persimpangan! Apalagi akhir pekan! Ah, kedongkolan tiap pagi dan sore saat itu masih hangat dalam ingatan. Tapi demi pengalaman kerja pasca kuliah dan rekening bank yang harus terisi supaya tidak diblokir, saya berusaha ikhlas menjalani segala romantika itu.

Di Bandung, saya bekerja sebagai staf data entry di sebuah konsultan pajak. Pekerjaan utamanya adalah audit dan data controlling. Lucunya saya ditraining sama kelahiran 96 atau 97 ya, pokoknya dia lulusan SMA, dan masih kuliah akuntansi semester tiga. Bener-bener, kelapangdadaan saya waktu itu diuji. Diajarin ini-itu yang setelah direnungkan sih saya juga sudah paham sebelumnya, ditegur kalo salah padahal kan namanya juga baru banget belajar akuntansi setelah seumur hidup saya cuma terpapar sama ilmu engineering, sesekali diomelin karena perkara amat sepele, sama yang usianya lebih muda dan pendidikannya lebih rendah dan tingkat semangatnya masih semangat-semangatnya tapi labil itu cukup menguras adrenalin, terutama emosi dan harga diri. Sumpah, mana lagi bulan puasa.

Tapi yah, saya berusaha tidak menjadikan itu sebagai masalah dan saya menyadari bahwa dulu saat seusianya pun saya seperti itu. Sok Tahu dan Sok Benar adalah sinonim dari Anak Muda. Mungkin karena itulah Bung Karno suka dengan gairah Pemuda (dan istri muda)? Pada akhirnya, saya mampu juga, bahkan saya rasa dapat menyelesaikan pekerjaan lebih efektif dari yang mengajarkan saya, dan pada awal bulan 12, saya lepas landas dari pekerjaan di sana sesuai dengan etika dan peraturan.

5. Hipertensi

Life begins at 40. Masalah, penyakit, akan berdatangan setelah manusia menginjak usia empat puluh. Saya malah ngeduluin. Tidak lama setelah ulang tahun yang ke dua puluh lima, kepala saya puyeng banget ketika sedang bekerja, saat dalam perjalanan pulang-pergi kerja seperti mau pingsan. Setelah dicek dokter, ternyata tensi saya tinggi banget, bahkan bagi standar orangtua sekalipun, sementara saya masih merasa muda lah, masih dua lima kok.

Mungkin karena pekerjaan yang menuntut nol kesalahan (gak lucu kalo auditor salah ngaudit) dan hape mesti standby 24 jam melayani pertanyaan dari atasan dan rekan saya sampai-sampai tidur pun mimpi tentang kerjaan, dan tentu saja jarak rumah dan kantor yang jauh banget dalam segi waktu tempuh perjalanan dan kepadatan lalu lintas, kalau jarak sih seharusnya tidak tergolong seberapa jauh. Stres bikin darah tinggi.

Dua bulan kemudian, kepala saya pusing lagi, bahkan lebih parah, jantung berdetak sangat cepat saat terbangun dari tidur malam. Besoknya absen kerja lagi, dan kata dokter tensi darah saya masih belum turun juga. Sampai sekarang, saya rasa tensi darah belum normal-normal banget. Tapi setidaknya jarak tempat kerja di sini tidak sejauh saat bekerja di Bandung, dan lalu lintasnya masih waras. Kenapa sih masih pada betah di Bandung dan apa yang betul-betul dinikmati orang-orang berpelat B saat Sabtu-Minggu-Tanggal Merah-Tahun Baru dari Bandung? Fana sekali kebahagiaan kita ya.

6. Kembali ke Bogor

Awal Desember saya kembali ke Bogor. Dipanggil lagi sama perusahaan yang dulu sudah menguliahkan saya. Kala itu perasaan saya masih campur aduk mungkin karena sudah kepalang sering merasakan kepahitan dan kepedihan, jadi segala rupa di mata saya tidak ada yang sungguh-sungguh putih suci. Setiap hal pasti punya sisi gelap dan terang. Bukan hitam atau putih, tapi gradasi dari hitam menuju putih. Berharap Tujuh Belas menyenangkan. Biasanya yang mengandung unsur tujuh-tujuhnya itu pertanda baik. Apakah menikah pun pasnya di usia 27? Ah, lupakan.[]

No comments :

Post a Comment