12 December 2016

Tanggal Merah

No comments :

Selayaknya biasa setiap aku keluar rumah, kemacetan selalu setia menyambut pagi, kurang lebih sama seperti istriku yang senantiasa setia padaku yang sudah begini. Untuk berjalan saja susah. Harus pakai kursi roda yang didorong istriku. Sekarang, di dalam sedan ini, aku duduk di sebelah kiri, bukan di sebelah kanan untuk menyetir. Istriku yang berada di sana. Meski ia pun sudah tak lagi muda. Mengapa di dunia ini harus ada akumulasi usia yang mendiskriminasi tua dan muda? Ah, lupakan, kali ini aku tak ingin terlihat lebih perempuan dari istriku.

“Pagi ini macet sekali, Siska. Kamu lelah? Semalam kamu kurang tidur.”

Istriku fokus menyetir. Seingatku belum lama ia dapat menyetir, seusia penyakitku saja. Ia memaksakan diri untuk dapat menyetir sedan tua ini, jika tidak, aku sulit ke mana-mana. Naik angkot, repot sekali, sebab ke mana pun, aku memboyong kursi roda. Menunggu anak, betapa jauh tempat mereka bermukim dan bekerja, padahal bila diukur, tidak jauh-jauh amat karena pesawat dan kereta sudah murah dan nyaman. Sudah tua, menakar jalan ke mana pun terasa jauh bagiku. Tak lagi dapat pergi jauh seperti dulu. Lagi pula kata istriku, waktu mereka terlalu penuh untuk kami.

“Begini-begini saja. Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, Kang.”

Aku tersenyum. Cuma ini yang dapat tulus kuberikan kepadanya sekarang untuk menebus ketotalannya pada segenap hidupku. Kugenggam tangannya, meremas jemarinya yang memeluk kemudi. Masih lembut seperti dulu, cuma sedikit keriput, yang sering orang lain seusiaku persoalkan. Beruntung tangan sebelah kanan belum mati rasa seperti sepasang kaki dan keseluruhan tangan kiriku, sehingga masih dapat kurasakan kasih yang mengalir di balik urat-urat punggung tangan Siska yang terhubung dengan organ kecil di dalam dadanya.

“Lepaskan. Aku sedang fokus menyetir. Aku tak mau lagi mengganti rugi pada anak sekolahan yang kebetulan terjatuh di samping kita. Padahal dia yang menyerempet mobil kita yang tak menyisakan ruang cukup luang dengan trotoar.”

Kubelai rambutnya. “Kalau rambutmu tidak ikut menyetir, kan?” Sudah putih semua. Tapi masih tebal dan lebat. Sementara kepalaku sudah selayaknya helm yang terguguri helai-helai daun cemara, sehingga setiap keluar rumah kusungkupi saja dengan songkok hitam. “Kamu cantik sekali, Siska.”

Istriku tak acuhkan. Mungkin sudah tahu kelanjutannya.

“Bagaimana kalau mampir dulu ke tenda lontong Padang itu, Siska. Pasti enak sekali. Sudah lama aku tidak makan enak. Setiap hari, kamu memasak untukku terlalu jahat, Siska. Tiga kali sehari, aku makan seperti makan dengan kapur berkuah.”

“Tidak.”

“Ayolah. Sesekali aku ingin menyantap makanan manusia.”

“Sekali tidak tetap tidak boleh!”

Seperti bulan-bulan sebelumnya, aku gagal merayu istriku untuk mampir makan dalam perjalanan ke rumah sakit. Membuang bosan, aku memutar tuas di pintu supaya kaca jendela saparuh terbuka. “Matikan saja AC-nya, ya.”

“Sejak kapan AC mobil kita dingin, Kang? Tak ada pengaruh mau jendela dibuka atau ditutup. Buka saja jendelanya kalau mau.”

Aku bersyukur kepalaku masih mampu menoleh ke kiri dan kanan. Sehingga sekarang dapat kupandangi toko-toko tua di kawasan pecinan yang sedang kami susuri. Dulu aku biasa berjalan-jalan di sana bersama istriku beli kain aneka corak untuk ia bikin menjadi baju anak-anak dan kadang-kadang bajuku. Mengudap croissant yang enak di kedai Soe Yun yang menjual pula susu murni dan kue-kue basah yang enak-enak. Akhir-akhir ini aku terlalu sering membayangkan yang sedap-sedap, padahal mustahil dapat kukudap. Kalau saja aku dapat pergi sendiri tanpa istriku.

Sedan tua kami melaju semampunya. Pelan merangkak, lintasi jalan-jalan kota ini yang semakin padat. Apalagi pagi dan sore. Sekalinya keluar rumah, aku harus berangkat pada pagi hari. Dan lebih sial lagi bila jadwal kontrol bertepatan dengan hari Senin yang sarat kebencian, seperti hari ini. Ikut bermacet-macet bersama para pekerja keras itu, yang berdasar pengalamanku, belum tentu bekerja sekeras rintangan perjalanan menuju kantor, energinya sudah terkuras di jalan. Dan tahu-tahu sudah tua.

“Kapan Diko pulang?”

“Tidak tahu. Tanya saja langsung padanya.”

“Arum? Windu?

“Kubilang, tanyakan langsung pada mereka. Aku sudah bosan mendengar alasan mengapa mereka betah-betah amat di sana. Sudah kaya raya barangkali. Tak tahu mereka alangkah repotnya mengantre di rumah sakit dengan kartu asuransi kesehatanmu yang sudah jadi milik publik ini. Semua orang bebas sakit kapan saja, sekarang. Makanya tambah penuh saja rumah sakit rujukanmu ini, Kang.” Kudengar kembali lagu keluh yang kerap mengalun dari mulut istriku. “Dan mengantre gaji pensiunanmu yang tidak seberapa itu di kantor pos. Turut berjubel bersama orang-orang yang mengaku miskin yang sedang menagih bantuan tunai bulanan.”

“Tidak seberapa, katamu?”

Istriku diam saja.

“Masih syukur segitu juga pemerintah masih peduli sama kita, Siska.” Aku lupa kapan terakhir kali marah-marah pada istriku. Sekarang Siska lebih galak daripadaku. Namun kini, sepertinya aku jauh lebih bawel dari dia.

“Aku juga pengin kayak orang lain,” dambanya. “Menikmati masa tua yang bahagia di desa perkebunan yang tenteram. Itu angan generasi kita, bukan? Setiap hari kita dapat memetik sendiri mangga, stroberi, anggur. Mau ayam tinggal tangkap dan sembelih. Mau ikan gurami tinggal menjala dari kolam. Beras melimpah. Listrik dan internet, ah tidak penting itu buat kita sekarang, bukan? Kita cuma butuh tempat untuk berdua. Bukan untuk dibagikan kepada dunia.”

“Di mana letak desa seperti itu, Siska? Seingatku, sejak aku masih bekerja sepuluh tahun lalu, tanah-tanah subur di daerah atas sana sudah banyak yang dipagari besi tinggi-tinggi, kemudian ditulisi nama orang kaya dari kota lain. Takkan lama kurasa, bakal disulap jadi kluster-kluster rumah singgah yang harganya terbeli hanya oleh mereka-mereka juga.”

“Kenapa kita tidak ikut beli saja, Kang. Tak usah luas-luas. Lima ratus meter kurasa cukup untuk tempat kita menunggu mati.”

“Kalau ada yang mampu kubeli, kutebus besok pagi.”

“Dulu kau kurang gesit seperti teman-temanmu yang dekat dengan pengusaha dan penguasa. Kau kan orang pajak, mudah saja bukan untuk menjilat mereka. Sedikit saja. Sedikit, kalau dari banyak orang kan jadi banyak.”

“Sudahlah, Siska. Dahulu aku bekerja dengan baik saja, pada hari ini aku stroke, semakin parah. Bagaimana andai aku bekerja lebih agresif dari yang lain?”

“Yah, bekerja jujur saja, kau nyatanya bernasib lebih payah dari rekan-rekanmu yang kau sebut bekerja berlebih-lebihan itu. Kudengar Pak Arus sudah punya perusahaan peternakan sapi yang lumayan besar sekarang di daerah atas.”

“Aku tak ingin apa-apa lagi. Rasanya sebentar lagi mati. Mungkin, mati lebih baik bagiku, sekarang. Beberapa kali aku sempat meminta kematian datang.”

“Aku juga. Sudah lelah rasanya di sini. Kurasa, di alam sana lebih baik.”

“Belum tentu juga, Siska.”

“Entahlah. Pokoknya aku lelah.”

“Lelah karena aku? Aku minta maaf,” sudah keberapa juta kali kata ini kuujar padanya, pada waktu kapan dan tempat mana pun.

“Sudahlah. Delapan tahun sudah cukup membuatku lebih kuat,” Siska mengerem sedan kami sebelum garis putih. Motor-motor dan angkot di belakang kami mengklaksoni, menyalip dan berhenti melampaui belang-belang zebra cross. Istriku memang terlalu patuh pada garis putih. Pada apa pun. Biarkan sajalah.

Sekisar dua kilometer lagi kami sampai di rumah sakit rujukanku yang kusambangi setiap bulan. Namun alangkah rapatnya saf-saf kendaraan ini, termasuk sedan kami. Motor-motor lebih beringas dari biasanya. Bukan tidak tahu, namun kurasa istriku sudah kadung bosan dengan capung-capung Jepang yang kerap mencakar bodi mobil di kanan maupun kiri, terlebih pada mulut bodi kanan-kiri dekat lampu besar.

“Kubilang tadi, Senin ini lebih macet dari biasanya, Siska.”

“Ah! Kau selalu berlebih-lebihan menilai keadaan, Kang, semacam mengira-ngira penyakitmu. Sama saja. Sejak kapan jalanan kota kita kosong melompong seperti gorong-gorong? Kota ini tak pernah berhenti bernapas, pada akhir pekan pun.”

Kujulurkan kepala ke luar mobil. Mengamati satu per satu kendaraan. Banyak sekali mobil bagus. Dan nomor pelatnya pun bagus-bagus setelah lebih saksama kuperhatikan. Motor tentu saja lebih banyak. Kusetel lagu lama yang mengalun dari radio tape, memutar nada-nada serak dari pita kaset. Sudah tak ada lagu baru dalam bentuk kaset dan aku sudah malas memperbaharui seperangkat sistem audio mobil tua kami.

Kurasa, dengan cara berjalan kaki, akan lebih cepat daripada mengendarai mobil untuk melenggang sejauh dua kilometer ini. Pedagang-pedagang yang dulu berjualan di trotoar memang sudah dimusnahkan walikota, cerai-berai berpindah ke beberapa daerah pinggiran dan perbatasan kota. Tapi kenyataannya masih sama saja macetnya.

“Ke mana tukang bubur ayam yang saking kentalnya, ia balik mangkuknya pun tidak tumpah itu pindah, ya? Dulu sembari berangkat bekerja, kita sering mampir sarapan di sana.”

“Mengapa tanya padaku? Pindah ke pinggiran barangkali.”

“Sepulang dari rumah sakit, bagaimana kalau kita mencari lokasi baru tukang bubur itu, Siska?”

“Sudah keburu siang, Kang. Pukul dua tidak ada bubur ayam.”

Apa lagi jenis makanan yang dapat kuajukan melalui proposal rayuan pada istriku. Banyak sekali tentu saja. Soto babat, gudeg, bakmi, rawon, sate kambing, gulai kambing, iga panggang…

“Tumben, parkiran sepi sekali, Kang.”

Kami sudah sampai di rumah sakit. Istriku tak sepayah biasanya ketika memarkirkan sedan kami karena hanya ada dua mobil di areal parkir yang tak seberapa luas ini. Selanjutnya, giliran menunaikan ritual untukku. Mengeluarkan kursi roda dari bagasi, lantas membimbingku berpindah duduk dari kursi mobil ke kursi roda. Ya, sejauh ini, istriku adalah perempuan yang paling kuat.

Kami meluncur menuju bangunan yang tampak menonjol dengan ornamen kaca, material ringan, dan warna-warna terang dibanding bangunan rumah sakit sekitarnya yang tampak tua dengan bedak-bedak kusam pada temboknya, untuk mengambil nomor antrean dari mesin yang ada di sana. Namun sepi sekali, sesepi parkiran barusan. Tidak ada orang di dalam sangkar khusus pelayanan asuransi kesehatan publik itu. Pintu masuknya pun dalam keadaan terkunci.

“Mengapa dikunci?” tanyaku.

“Biar kutanyakan pada satpam di sana.”

Istriku meluncurkan kursiku ke pos satpam.

“Pintu di sana mengapa dikunci, Dek?”

“Hari ini libur, Bu.”

“Libur apa? Sekarang kan hari Senin?”

“Tanggal merah. Saya tidak begitu paham ada peringatan hari apa. Yang pasti, hari ini tanggal merah.”

Mungkin kami terlalu tua untuk memperhatikan kalender seteliti dulu semasih bekerja, mengamati warna tanggal demi tanggal dan memicingkan mata untuk selidiki aksara-aksara kecil keterangan hari peringatan tertentu, lantas membulati tanggal tersebut dengan spidol. Siska mendorongku kembali ke pelataran parkir. Memindahkan tempat dudukku, melipat kursi roda, dan sedikit mengumpat saat tangannya kembali menggenggam kemudi.

“Sudahlah. Kita jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Ya?”

“Yah. Jangan lama-lama. Aku belum memasak.”

“Sekalian kita makan. Kamu pasti lelah setiba di rumah. Lagi pula kau kurang istirahat semalam,” bujukanku memang membosankan, tapi semoga kali ini ampuh.

Istriku merengut. “Sudah telanjur. Baiklah. Aku kalah.”

Kami berencana pergi sebentar ke salah satu taman dari puluhan taman kota yang sudah cukup nyaman untuk dikunjungi setelah pemugaran. Mungkin tanggal merah menyuruh kami sejenak bernapas di luar, usai melulu terbekap di dalam rumah yang semakin pengap untuk kami mukimi berdua.

Taman yang kami sambangi ramai sekali. Kuamati di parkiran, banyak pelat-pelat luar kota yang tertambat di sana. Setelah melakukan ritual seperti biasanya, istriku mendorong kursiku menuju sudut yang setidaknya tidak terlampau ramai oleh manusia. Hanya ada bangku beton dipayungi teduh pohon-pohon tua.

“Tanggal merah setelah hari Minggu begini, mengapa tak ada yang menengok kita, Siska? Mengapa orang asing yang rajin ke kota ini dibanding anak-anak kita?”

“Kubilang, tanyakan langsung pada mereka. Jangan lagi-lagi menanyakanku tentang yang sudah-sudah! Aku lelah!”

Kali ini, aku bungkam saja. Khawatir Siska berubah pikiran perihal kesepakatan makan enak di luar sepulang dari sini.[]

Bandung, Oktober 2016

Photo credit: Normal's Overrated

No comments :

Post a Comment