05 July 2017

Ngulik 1: Parodi Drama Korea dari Axis

No comments :

Baik, sebelumnya saya jelaskan sedikit. Ngulik adalah kependekan dari Ngulas Iklan, opini subjektif banget dari saya mengenai iklan-iklan apa saja yang menurut saya menarik untuk diulas. Moga ke depannya saya konsisten ngulas iklan demi iklan dengan hati yang riang ya. #halah

Provider telekomunikasi Axis tak mau ketinggalan mengikuti tren korea-koreaan dalam bentuk parodi, yang sebelumnya berhasil dikreasi oleh Sprite dengan teriakan menggemaskan "Oppa!" namun nyatanya dijawab oleh Opa-opa beneran itu. Seperti biasa, karena target market Axis adalah anak sekolahan (yang budget pulsanya terbatas), pengisi iklannya pun didominasi oleh remaja berbaju warna-warni dan tingkah yang "anak muda mah bebas".


Remaja bergaun pink dengan dandanan ala K-Pop keluar dari sedan BMW, sambil nyanyi-nyanyi bahagia. Lari setengah nari sama cowok yang bajunya warna-warni, masing-masing megang hape dan kepalanya khusyuk nunduk, mungkin ceritanya lagi asyik Line-an, BBM-an, Whatsapp-an.

Scene selanjutnya lumayan cerdik karena bener-bener memanfaatkan isu yang lagi anget beberapa bulan lalu. Maung atau macan Cisewu yang lebih mirip kucing itu hadir dalam iklan ini! Macan lucu nan murah senyum tersebut nangkring cantik di komedi putar, warnanya ada yang oranye dan hitam. Saya yakin mayoritas pemirsa khususnya netizen setidaknya tersenyum menyaksikan scene yang diakhiri dengan adegan cewek dan cowok berkemeja polkadot yang berjalan berhadapan sambil tetap asyik dengan hape masing-masing lantaran tak khawatir kehabisan kuota lagi, mungkin.

Menjelang ending, cowok berpayung yang sok cool berpapasan dengan cewek yang heboh sendiri dengan hapenya, sampai-sampai terperosok ke galian fiber optic, lantas kemudian ditengok sama remaja-remaja berpayung di sekitarnya. Entah pada mau nolongin, entah kalau dilanjutkan mungkin malah mau nguburin orang yang sok Hitz. Katanya sih ini marodiin drakor Goblin.

Seperti sebelum-sebelumnya, iklan Axis yang secara disengaja kerap diproduksi urakan seurakan-urakannya, berhasil membuat saya atau mungkin Anda rela menontonnya sampai detik ke 30 tanpa merasa perlu meng-klik "skip ad" di kanal youtube, atau mungkin kita sengaja menunggunya muncul dalam commercial break di televisi.[]

30 June 2017

Paska Raya

No comments :

Di kawasan pariwisata, bising tan-tin-tan-tin mengambang di udara berselimut polusi kendaraan aneka kota. Selain berekreasi, semua punya tujuan yang relatif sama. Pulang. Ke kampung halaman. Segelintir lain, sekadar turut memeriahkan. Ingin bersama-sama merayakan liburan pada musim lebaran. Tidak perlu ada liburan musim panas, musim dingin di sini. Liburan lebaran, saya rasa, sudah cukup mewakili aspirasi segenap rakyat, tak peduli musim rambutan atau durian, tak peduli muslim atau bukan.

Hari ke sekian lebaran, sudah tiga hari saya masuk kerja lagi. Kontras dengan lika-liku jalanan daerah wisata, jalan raya penghubung rutinitas masih lengang. Lampu merah hemat menyala, kelap-kelip oranye yang mendominasi. Sekolah-sekolah belum buka, bank-bank sedang cuti bersama. Penjual bubur ayam dan nasi kuning belum mau mangkal. Porsi nasi padang lebih sedikit dari biasa, Uda rupanya berupaya mengakali harga sembako yang masih di luar biasa.

Tiba di tempat kerja lima belas menit lebih cepat, dengan parkiran motor hanya terisi sepertiga kapasitas. Jalan pulang lebih lengang, kini gunung salak dapat saya pandang sebagai keindahan, sebelumnya luput, tatap semata terfokus pada kemacetan dan lebat hujan. Sebagian besar mengambil cuti, agar leluasa tunaikan tradisi menjelang Idulfitri. Mudik. Mulang ke udik?

*

Sejak kapan tradisi mudik diberlakukan? Tradisi yang menyenangkan, namun terkadang merepotkan. Memberatkan, bagi yang tidak punya uang. Menyedihkan, bagi yang sudah tidak punya ayah dan ibu. Mengenaskan, bagi yang sudah tidak punya kampung halaman, telah berubah menjadi kota mandiri berwawasan lingkungan (saya merasa lebih tepat dengan menyebutnya berwawasan perbankan). Menakjubkan, bagi yang justru harus bertugas di instansi masing-masing, pada hari kemenangan. Bukan, tugas bukanlah tali kekang, kita lebih suka anggapnya sebagai penghargaan dalam bentuk kepercayaan... yah, tak apa, katakanlah begitu.

Data statistik kecelakaan setiap tahun sebelum-setelah lebaran, bukan halangan bagi kita, mereka. Kematian, konon adalah takdir yang harus diterima masing-masing makhluk, semua pasti dapat giliran. Perkara waktu saja. Kebahagiaan bersama keluarga masih menjadi tujuan utama yang sontak memupus keraguan terhadap kehidupan pada masa depan serta kekhawatiran menyongsong kematian.

Tanpa urbanisasi, saya rasa, takkan ada tradisi ini. Arus perpindahan dari desa ke kota membuat banyak orang punya tempat asal dan tempat baru, sehingga selalu ada tempat untuk pulang. Dua puluh tahun mendatang, belum tentu. Orang-orang itu, termasuk saya mungkin, akan menjadi tua. Akan menjadi orangtua yang punya anak. Akankah anak-anak kita nanti berurbanisasi? Ke kota mana lagi? Bukankah Jabodetabek sudah mentok sebagai takaran kemakmuran? Atau ke luar negeri? Ah, memang mudah berpindah kewarganegaraan? Memang murah menjadi imigran?

Kesejahteraan, menimbulkan efek lain yaitu kecemasan. Jika sudah merasa makmur, kita cenderung ingin mempertahankannya sebagai keabadian yang seolah tabu diusik oleh siapa pun termasuk oleh Tuhan, mungkin. Bertahan di sana, enggan untuk melakukan perubahan, termasuk dalam bentuk perpindahan. Tentu tak mudah kelak mengizinkan anak-anak kita merantau ke kota lain yang menurut kita tidak ada yang lebih baik dari Jabodetabek dari segi jaminan kesuksesan. Mau ke mana lagi?

Tiga puluh tahun mendatang, Jabodetabek pada saat lebaran, mungkin, tetap ramai. Kita tidak butuh lagi jalan tol sepanjang apa pun sebagai penyalur hasrat pulang, sebagai penuntas rindu. Orangtua dan anak tinggal di kota yang sama. Orangtua bakal berat membiarkan anaknya meninggalkan potensi kemakmuran berupa lokasi kota strategis untuk berkarier dan menimbun investasi. Pasti. Saya rasa, tidak akan jauh-jauh dari tempat saat ini, sehingga arus mudik takkan lagi sederas sebelum-sebelumnya. Pulang bukan lagi perjuangan tahunan menahan pegal puluhan jam di darat, laut dan udara.

Sementara itu, desa-desa bergeliat mengejar nilai-nilai tertentu supaya tersebut sebagai perkotaan, namun tentu bakal berat prosesnya. Semustahil Mi Sakura yang dapat melampaui market Indomie. Namun, setidaknya, semoga desa melahirkan generasi yang betul-betul terlahir untuk membangun desa, bukan seperti saya yang meninggalkan begitu saja desa demi mengejar hasrat pribadi yang (mau bagaimana lagi) belum saya temukan padanannya di sana. Desa nanti, menyediakan semua, apa pun yang dibutuhkan penduduk tanpa harus pergi dari sana ke kota. Termasuk kemakmuran untuk semua.

Selamat lebaran untuk kemarin. Selamat memamah remah-remah liburan untuk dua hari besok. Selamat menimbun benci, menyambut suci. Sekali lagi, sampai nanti.[]

08 June 2017

Ketika Sudah Jauh Berjalan

No comments :
Okay, lagi-lagi ini akan menjadi tulisan berbau nostalgia.

Sebulan ini saya merasa sangat lelah, mungkin sampai dua minggu ke depan. Kembali dikejutkan oleh tensi darah yang tinggi: 160/110. Mungkin saya memang harus sama sekali meninggalkan gorengan, mi instan, jeroan, percayalah, seharusnya gorengan berada di urutan setelah rendang sebagai makanan terenak sedunia. Kapan mau meninggalkan? Lupakan.

Sejenak, saya tersadarkan bahwa rasa lelah—atau dapat pula dikatakan sebagai kepayahan—ini muncul, mungkin, karena setelah direnungkan, saya sudah cukup jauh berjalan. Mengejar entah stimulus apa yang selalu berkecamuk di kepala, selalu berubah-ubah setiap saat, satu jam mendatang mungkin sudah lain lagi. Yang memaksa kaki saya berjalan, terus berjalan, sulit sekali untuk sekadar menepi sebab selalu dikejar-kejar mimpi yang selalu nisbi.

Waktu yang panjang belum tentu membuahkan hasil yang saya inginkan.

Pada tahun 2006 Italia juara Piala Dunia. Zidane menanduk Materazzi. Dan saat itu, saya lulus SMP, kemudian diterima dengan nilai pas-pasan di SMKN 1 Cimahi, angkatan 33. Ah, sudahlah, saya lebih suka menyebutnya sebagai STM Pembangunan Bandung. Lebih sangar, lebih gagah, lebih berwibawa.

Saya sangat meyakini bahwa sekolah itu telah 80 persen berhasil memahat karakter saya yang sekarang. Doktrin sekolah itu kurang lebih sama seperti tentara: lebih baik bermandi keringat saat latihan daripada bermandikan darah dalam peperangan. Empat tahun lamanya saya di sana, saya merasakan berbagai rasa yang komplet, yang membuat saya meyakini satu hal: tidak ada yang tidak mungkin. Periode selama empat tahun di sana serasa 2 atau 3 kali lebih lama dari seyogianya.

Sekeluarnya dari sana, saya merasa waktu cepat sekali berlalu. Kuliah? Terasa cepat sekali, beda dengan sekolah. Rutinitas, mungkin, memang tidak seperti pendidikan dasar yang melelahkan. Tahu-tahu sekarang sudah 2017, sebelas tahun berlalu. Dan saya masih belum menjadi apa-apa. Selalu kurang rasanya pencapaian yang saya peroleh. Terkadang saya bertanya, kapankah seseorang merasa dirinya sebagai apa-apa? Setelah berhasil jadi seorang Ayah? Setelah menjadi Supervisor? Menjadi Top Management? Direksi? Atau bahkan baru setelah pensiun mereka merasa dirinya berguna?

Yang saya amati, setiap langkah manusia kerap dianggap sia-sia oleh diri mereka sendiri, padahal belum tentu. Mengejar mimpi hanya mempertemukan saya dengan orang-orang yang lebih pandai, lebih rupawan, lebih komunikatif, sehingga saya selalu menjadi orang paling bodoh di antara orang-orang pandai. Dan anehnya saya selalu ketagihan berbaur dengan mereka. Banyak sekali langkah-langkah terlupakan, yang mungkin adalah sebuah nikmat yang besar, yang harus disyukuri. Dan memang apabila kita berjalan, cenderung ingin terus berjalan lebih jauh, lebih jauh lagi, dan enggan kembali ke posisi nol, sebab meski hasil yang dipetik tidak sejalan harapan, hidup harus terus berjalan ke depan.

Dan sekali lagi, mimpi. Atau kalau istilah mimpi berkesan terlalu mengawang-awang, kamu boleh menamakannya sebagai target, tapi saya tetap lebih suka menamakannya mimpi. Hal satu ini lebih sering bikin kita semua kecewa. Kenyataan selalu saja kurang dari target, lebih buruk dari target. Namun anehnya, sudah tahu kita selalu dikecewakan oleh mimpi, kita malah bermimpi hal-hal yang lain, yang lebih tinggi, lebih agung, lebih sulit digapai.

Kapan kita bersedia untuk duduk sejenak? Menengok ke belakang. Meresapi hari ini, saat ini, yang saya percayai lebih baik, jauh lebih baik dari hari-hari kemarin, bulan-bulan kemarin, tahun-tahun kemarin. Menyadari bahwa saya sudah cukup jauh berjalan. Hasil-hasil yang sudah saya peroleh sekarang, saya pikir, malah melampaui harapan-harapan, mimpi-mimpi saya pada masa lampau.

Tetapi, karena mimpi selalu nisbi, karena harapan selalu eksponensial, nikmat-nikmat itu luput saya sadari hari ini, saat ini, sehingga hanya perasaan lelah yang datang setiap saat, bukan rasa tabah. Tahun kemarin memang saya akui, berat sekali, namun membuat saya bersyukur sudah pernah mengalami dan melewati masa-masa sulit itu. Ketika setiap hari seperti hari-hari kosong tanpa tanggal, yang ada di dalam benak hanyalah kebencian terhadap kemampuan diri sendiri yang payah dalam menghadapi kehidupan ini.

Pertengahan tahun lalu saya menemukan harapan baru, berupa sebuah pekerjaan di Bandung, yang percayalah, jauh, sangat jauh dari mimpi-mimpi saya terdahulu. Pekerjaannya aneh, tidak sesuai background, tidak sesuai passion, alur kerjanya tidak lazim, jam kerjanya tak mengenal batas waktu. Namun saya menjalaninya dengan penuh keikhlasan, dan baru memahami bagaimana berperilaku ikhlas itu, yang ternyata nikmat untuk dijalankan, tiada lagi muncul beban-beban yang sesungguhnya tidak perlu dipandang sebagai beban.

Saat itu, berhubungan kembali dengan teman lama melalui Direct Message Twitter, satu-satunya media sosial yang tidak saya hapus. Perasaan itu kembali muncul, malu-malu. Namun pikir saya waktu itu, belum saatnya. Nanti pasti ada waktunya, entahlah, saya kok merasa yakin padahal pada masa itu hidup saya penuh dengan ketidakpastian serta keraguan.

Setengah tahun kemudian, saya kembali menghubunginya. Bersepakat bertemu di suatu tempat yang hangat, mengajaknya makan malam ditemani temaram. Berjumpa seperti sudah puluhan tahun saling mengenal. Tertawa lepas bagai punya referensi pahit-manis hidup yang sama. Bersitatap layaknya dua orang yang sudah saling percaya.

Malam ini saya menyadari, cukup jauh saya berjalan. Bersyukur masih dapat bernapas, bersyukur telah menemukan kamu. Mohon temani saya berjalan lebih jauh lagi ya, Gioveny... sampai kaki saya tak mampu lagi melangkah, sampai tidak ada lagi sudut dunia yang belum terstempeli jejak kita berdua, Cinta.[]

25 May 2017

Ekstra Puding

No comments :
Enam belas hari. Cukup 16 hari. Andai lebih, saya rasa tidak akan sanggup lagi. Syukurlah, sedari kecil, kepikiran untuk jadi tentara pun tidak pernah terlintas, apa lagi bercita-cita. Saya pengen jadi orang sipil aja deh, yang bisa bebas nongkrong di mana-mana, bebas makan di mana-mana, dan bebas mengucapkan selamat pagi cukup dengan kata selamat pagi.

Keluar dari pusat pendidikan Senin siang kemarin, saya teringat ketika Brooks keluar dari penjara Shawshank. Bingung melihat peradaban. Brooks sudah puluhan tahun tidak melihat dunia luar, saya cuma dua minggu, tapi rasanya untuk menyeberang jalan pun sama susahnya sebagaimana Brooks hambir ditabrak mobil. Semua mendadak asing. Kaget saat becermin karena merasa saya jelek sekali dengan kulit wajah maupun sekujur tubuh yang gosong, kepala botak yang tumbuh malas-malas, serta mata bergayut kantung. Ingin kembali lagi? Brooks iya, tapi saya, tidak, terima kasih.

Ada satu istilah di sana yang berkesan bagi saya sampai sekarang. Ekstra puding. Istilah pengganti untuk coffee break atau jeda 15 menit sekitar pukul 10 pagi. Apakah menunya cuma puding? Tidak ada sama sekali, malahan. Yang justru sering hadir adalah getuk, kue talam, lemper, dan lontong. Puding, yang termaktub sebagai nama, tidak pernah ada.

Kenapa berkesan? Tidak tahu. Seneng aja dengernya. Tak perlulah alasan. Seperti cinta, kalau terlalu banyak alasan, mungkin kita tidak sungguh-sungguh terkesan.

Ekstra puding. Puding, makanan yang setengah padat, setengah cair. Lembek. Tapi membuat segar siapa pun yang memakannya. Manis. Dingin. Mudah ambyar, tapi tak apalah karena puding bukan rakyat yang konon harus senantiasa bersatu. Toh lengket-lengket juga kalau ditambah fla susu.

Memang, makan apa pun di sana, tidak ada yang bikin enak. Sangat tidak dianjurkan untuk direview Food Blogger. Pagi, siang, sore, semua menu dapur yang aroma seisi ruangannya bikin mual harus dimakan tergesa-gesa karena katanya di sana bukan warteg atau restoran. Selain ke diskotek, FPI harusnya sidak juga ke sana karena cara mereka makan tidak sesuai sunah rasul yang menganjurkan mengunyah 33 kali sebelum ditelan. Silakan kalau berani.

Apalah itu, barangkali setiap hari kita butuh kekuatan tambahan pada waktu tertentu. Tenaga ekstra. Dalam jeda yang tentu takkan pernah lama sebab waktu tergolong sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, mungkin. Dalam suasana ketergesa-gesaan, seolah-olah sepuluh menit kemudian mau kiamat saja. Supaya kembali semangat menghadapi apa pun, kita tak pernah tahu. Supaya kembali menjelma air yang hendak diapa-apakan pun tetap bergeming.

Apa merek pemutih wajah yang cepat mengembalikan wajah rupawan?[]

04 May 2017

Hujan Magrib

No comments :

Pelet-pelet likuid mengetuk kaca pengemudi, menampar
helm pengendara, menenun peluh hasil memeras
seharian demi tuntutan entah siapa menuntut, tidak jelas,
tapi semua merasa harus tunaikan tuntas.
Masih banyak yang merasa perlu bekerja keras.

Ingin lekas sampai rumah adalah kemewahan ketika
lampu langit mati menyalakan pompa awan-awan hitam
gendut menjelang pukul lima dan tidak ada yang
tahu kapan ia berhenti. Semua ingin
pulang tepat waktu, sudah cukup bahagia.
Kesuksesan tak pernah tepat waktu.

Tenda bubur ayam ramai, tenda pecel lele semarak.
Tidur tenang ibu-ibu penjual tahu granat, pisang cokelat, seblak keparat,
sudah cukup lelah menggaruk inovasi apa lagi untuk
memuaskan pelanggan yang tidak lebih setia dari penyintas politik.

Jas hujan bocor, aspal licin, lubang menyamar, menyita
stok waspada yang sudah habis seharian. Tidak ada yang luar biasa;
luar biasa hanya milik pebisnis asuransi dan penjaja mimpi.

Merakit perahu kertas saat hujan, mengapungkannya
ke parit. Sabar menunggunya mengambang jauh.
Atau keburu lapuk oleh hujan tanpa sempat melajukan harapan.
Butuh lebih dari sekadar harapan untuk terus berjalan.[]

29 April 2017

Memutar Ulang Lagu, Menonton Lagi Film yang Sama

No comments :
Adakah yang lebih membosankan dari memutar ulang lagu yang sama? Adakah aktivitas yang lebih sangkil dari menonton film yang sama hingga tiga setengah tahun mendatang?

Motif sudah tidak di situ. Semangat hilang dalam benam bagai intan berlian, membuat semakin jauh jarak yang memang lebih jauh. Tapi semua tetap dipaksakan seperti mendonasikan celana nomor 29 kepada anggota DPR yang subur makmur; sia-sia dan dibuang pada akhirnya, barangkali.

Cuplikan film jenaka, apabila sudah dipertontonkan puluhan kali ke khalayak, hanya berkhasiat sebagai obat insomnia. Lelap, lelap, sampai tiga setengah tahun mendatang, kalau bisa, saya ingin melakukannya, kalau perlu saya ingin membelinya, kalau tak mampu saya akan mengkreditnya secara syariah.

Demi apa semua ini saya lakukan. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bereksperimen ciptakan apel rasa rambutan, kepala berambut brokoli, waktu yang tepat untuk perbaharui data sensus penduduk. Waktu yang terlalu lama untuk sekadar memetik gelar. Waktu yang sangat lama untuk menunggu kesuksesan sekejap terhampar.[]

25 April 2017

Keluyuran Akhir Bulan 2: Sepedaan Lagi

No comments :

Sebagaimana menjaga berat badan supaya gak naik atau turun, emang susah menjaga konsistensi itu ya. Rencana awal tahun ini mau berkomitmen bikin postingan Keluyuran Akhir Bulan setiap bulan pada akhir bulan, tapi sekarang sudah akhir bulan April, dan yang kesampaian nyatanya cuma satu aja yaitu pada akhir Januari.

Kalau boleh beralasan, yah, mulai pertengahan Februari kemarin hari libur saya cuma Minggu, karena, ehem, setiap Sabtu mesti kuliah ke Cimanggis (jangan tanya kenapa saya kuliah lagi, kok kuliah gak kelar-kelar, masih kuliah S1 aja) jadi duduk manis dan tiduran cantik seharian di rumah merupakan sebuah kemewahan, sehingga boro-boro keluyuran atuh. Belum nilai UTS ancur karena emang gak ada effort belajar, belum hujan sepanjang hari, dan lain sebagainya yang bikin mood naik turun, belum uang bulanan minus. Yah gapapalah, siapa pula yang setia nungguin postingan ini sih?

Mumpung kemarin Minggu dan Senin libur, saya akhirnya bisa napas sejenak dari yang aneh-aneh. Sepedaan lagi setelah sekian lama! Dimulai dari Jumat tanggal 14 yang juga tanggal merah, dan akhirnya kemarin bisa leluasa sepedaan ngegosongin kulit dua hari berturut-turut.

Beberapa bulan ini saya kurang olahraga. Entahlah karena apa. Jadinya makin gendut. Celana mulai wanti-wanti di tengah kesesakan. Gak pede liat wajah sendiri di depan cermin. Muka saya biasanya kalau agak lama berhenti olahraga jadi muncul jerawat, dan teksturnya jadi kering, kerutannya makin jelas. Gak enak dipandang, bahkan oleh diri sendiri. Keringat bagi saya adalah facial gratisan yang bikin muka tampak kinclong tanpa oplas. Dan biasanya pula, kalau berhenti olahraga saya suka jatuh sakit, gampang tertular virus. Itu terjadi beberapa minggu yang lalu, menyiksa banget.

Sepedaan lagi, mulai dari jarak yang deket yaitu ke rumah kakak di Ciluar, tempat saya nebeng hidup beberapa tahun lalu. Sekalian ngemis sarapan, sekalian minta dibekelin makan siang (masih aja gak tahu malu). Jarak ke sana kurang lebih 20 kilometer lah pulang-pergi. Lumayan untuk pemanasan betis (dan pantat, tentu saja) lagi setelah setahun lebih gak bersepeda.


Kemudian hari Minggu kemarin saya ke Sempur. Dengan pedenya, kirain batas kawasan Car Free Day di sana masih seperti dulu, yaitu setelah rumah sakit Salak sampai lapangan Sempur. Eh, sekarang cuma di sekitar Air Mancur sampai sebelum RS. Salak toh. Banyak tukang jualan pula yang bikin jalan kayak cendol. Di situ saya terpaksa menuntun sepeda, khawatir menabrak anak kecil yang hampir semua memakai dan main sepatu roda.

Kenapa ya? Usulan Pak Presiden lagikah? Sekalian aja ibukotanya pindahin ke Bogor.

Setelah RS. Salak, CFD gak berlaku lagi. Kendaraan bermotor boleh melintas bebas. Lalu lintas tidak terlalu padat sebab mungkin masih pagi. Sekarang trotoar dilengkapi jalur khusus sepeda yang... useless. Terlalu sempit dan sering dipakai orang jogging atau berjalan dengan anjing, apanya yang jalur sepeda? Mau tak mau tetep gowes di jalan aspal. Bodo amat diklaksonin mobil-mobil pelat B juga dah, Safety First!

Dan baru sadar bahwa lapangan Sempur sudah selesai direnovasi. Berubah nama jadi Taman Ekspresi. Rumput-rumputnya tampak seperti karpet atau memang karpet sintetis ya semacam di Alun-Alun Bandung, entahlah, saya belum sempat mencicipi, karena percayalah, suasana terlalu ramai dan bingung nyimpen sepeda di mana. Lebih ramai daripada dulu. Tapi sedikit lebih rapi dan tertib.

Tidak lama-lama nongkrong sendirian di situ, cuma rihat sejenak, mencuri udara banyak-banyak untuk bekal jalan pulang yang lebih terik, tapi kerja betis relatif lebih ringan sebab jalur pulang ke rumah cenderung menurun. Sampai rumah, saya serasa gak punya pantat. Setelah tiga-lima kali sepedaan lagi nanti mungkin tubuh bakal kembali terbiasakan.

Semoga Keluyuran Akhir Bulan 3 tidak seasal-asalan ini ya...[]

21 April 2017

Selamat Pagi, Malam

No comments :
Aku masih belum paham mengapa uang orang-orang
ciptakan. Buang najis saja harus punya uang.
Ia dapat membeli kebahagiaan, menepis kegamangan, menenung masa depan,
menyuruk belukar takdir. Andai saban malam
tidur berselimut uang aku ingin
membeli waktu. Waktu-waktu suka
kutebus, waktu-waktu duka kutebas,
waktu-waktu hilang kukenang sebagai arsip di awan surga.
Mestinya, Malam, kau melek seharian
gantikan pagi, siang, senja, petang, fajar.
Pagi bukan sinonim
semangat. Malam lebih mewah
dari pekat. Selamat pagi, Malam. Cukup,
isyarat jemari sekadar buat anak-anak kita belajar berhitung.[]

09 April 2017

Memangnya Sekarang Kita Sama Sekali Tidak Butuh Expert?

No comments :
Tadi siang saya pergi mencari tukang pas foto karena sedang perlu pas foto terbaru untuk suatu keperluan. Dan saya baru tahu bahwa mencari foto studio saat ini tidak semudah dahulu, di mana ada kios foto kopi, biasanya terdapat foto studionya juga. Sekarang, kios foto kopi kebanyakan cuma menerima cetak doang, itu pun tinta dan kertasnya abal-abal, jauh banget dibandingkan hasil cuci cetak rol film zaman dulu.

Mau tak mau saya terus mencarinya agak jauh dari rumah, sampai nemu kios foto kopi yang ada plang fujifilm professional. Hmm.. mungkin peninggalan zaman film analog dulu tuh. Melihat plang macam itu saya jadi menyimpulkan tempat itu bagus untuk pemotretan, yah minimal untuk bikin pas foto.

Pelayannya mbak-mbak pendek yang tidak mencerminkan bisa fotografi. Dandanannya ala asisten rumah tangga gitu, kaos-kaos ketat dengan manik-manik. Iyeeee, saya emang judgmental, saya kan ISTJ, tukang ngejudge orang, mau apa? Bayar saya juga engga, kan? Bebas lah, ini blog saya, saya nulis sendiri, ide mikir sendiri, domainnya saya bayar sendiri, Anda mau baca syukur, engga baca pun apa sih ngefeknya ke kehidupan saya? (lah ini kok malah marah-marah)

"Bisa pas foto, Mbak?"

"Ukuran berapa?"

Sampai situ, keraguan saya terhadapnya makin kentara. "Maaf, maksudnya bisa jepret-jepret gitu," sengaja saya pilih kata-kata yang awam, "bukan cetak doang." Saya berusaha mengkonfirmasi kemampuannya sebab saya sudah berkali-kali dikecewakan oleh beberapa tukang fotokopi sebelumnya yang mengaku sebatas menerima jasa cetak foto.

"Iya Mas, bisa. Masuk aja ke dalem."

Saya masuk ke dalam. Terbentang kain biru di situ. Tentu saja untuk latar belakang foto. Di depan kain tersebut teronggok kursi plastik. Saya duduk menunggu.

Tak lama, mbak-mbak itu datang dengan kamera. DSLR? Mirrorless? Hasselblad? Absolutely No! Bagusan juga kamera saya. Yang dia bawa cuma prosumer fujifilm yang saya pikir keluaran 2009. So yesterday. Pada detik itu saya menyesal dan pengennya sih pulang aja cari tukang pas foto lain. Tapi ya sudahlah, kasian juga.

Selanjutnya, si Mbak memotret saya. Pake satu dua tiga, gak? Tidak.. tidak ada aba-aba sama sekali. Bayangkan saja temanmu yang sedang memotretmu, bahkan lebih parah dari itu. Semula, saya sudah siap dengan kemeja rapi dan gurat senyum yang sepengalaman saya lumayan cucok untuk difoto. Tapi setelah sepuluh-dua puluh jepretan dari Si Mbak itu, tanpa aba-aba, tanpa ada arahan untuk mengatur muka, bahu supaya enak dipandang, mood saya jadi jelek. Boro-boro senantiasa tersenyum.

Suatu kali Si Mbak itu mencoba-coba sendiri kamera jadulnya, dengan mengarahkan autofokus terhadap tangannya sendiri. Seperti amatiran, atau yah memang sudah jelas kok amatiran, atau saya yakin saya dapat lebih baik mengoperasikan kamera tersebut. Tapi apakah harus saya sendiri yang memotret pas foto saya sendiri? Tukang cukur saja tidak mencukur dirinya sendiri, bukan? Yah kalau instansi-instansi pemerintah menerima pas foto dengan gaya selfie sih that's fine. Tapi itu sungguh tidak mungkin.

Senyum saya yang udah dimanis-manisin lama-lama jadi pait. Duduk makin layu dari kriteria tegak. Hati udah dongkol, ngedongkolin si Mbak yang gak punya etika nyoba-nyoba fotoin pelanggannya tanpa aba-aba, asal jepret, dan gagal berkali-kali. Mungkin baru berakhir pada jepretan ke tiga puluh, akhirnya Si Mbak berkata "Udah, Mas". Saya langsung keluar dengan kondisi mood yang makin ancur. Udah bodo amat sama hasilnya.

Agak lama menunggu hasil foto tersebut karena kedistract sama yang mau ngelaminating, motokopi, dan beli map plastik. Ternyata dia ngelayanin pelanggan lain pun ala kadarnya, gak niat, boro-boro gesit. Menggunting kertas saja lama. Makin lama deh ngurusin pas foto saya. Lima belas menit kemudian baru jadi.

Dan hasilnya... lumayan. Tapi kemahalan kalau saya mesti bayar 35 ribu cuma dijepret sama kamera prosumer jadul dan hasilnya pun gak bagus-bagus amat. Yang paling bikin kecewa tentu saja saat-saat pemotretan tadi yang bikin emosi. Okeh, mari saya jelaskan hasil yang saya bilang lumayan itu: tona warnanya pucat, resolusi payah karena mungkin sensornya gak semumpuni DSLR, dan pose tubuh saya yang bungkuk. Saya minta softcopy-nya, makin kecewa lantaran yang dikasih malah foto yang resolusinya 300 x 400 pixel, di tengah gempuran zaman kamera hape aja minimal 8 megapixel! Sejuta topan badai deh... 35 ribu dibeliin seblak telor bisa tuh dapet lima porsi.


Ke Mana Perginya Para Expert?


Apa cuma saya yang meresahkan ini? Bahwa sekarang sudah hampir gak ada, atau okelah kalo terlalu ekstrem, jarang orang yang benar-benar menguasai bidangnya masing-masing. Nuklir? Kimia? Nano Technology? Bukan. Muluk banget sih pikiran lu pada, sok-sokan visioner, pintu rumah aja susah nutup sempurna gak diurus-urus.

Misalnya pas foto tadi. Perasaan yah, dulu pas saya masih kecil, gak sembarangan orang bisa megang kamera. Tukang foto studio yang meskipun seringnya cuma nerima pas foto, tapi itu masih bisa jadi jenjang karier, karena itu adalah sebuah keahlian yang harus dipelajari, dan tidak semua orang mampu mempelajari, atau katakanlah tidak semua orang mau. Alhasil mereka pun mengerjakan serta menggarapnya dengan sungguh-sungguh, karena itu adalah suatu keahlian yang membuat harapan hidup mereka tumbuh. Sehingga tidak melakoni secara setengah-setengah seperti Mbak-mbak tadi yang minta digampar.

Semakin mudah teknologi membuat semua orang meremehkannya dengan logika bahwa semua orang mampu mengoperasikan. Technology for all katanya. Ah bullshit. Sesimpel apa pun suatu pekerjaan toh tidak semua orang dapat melakukannya segenap hati. Pekerjaan adalah rutinitas yang dijalankan setiap saat setiap hari, bertahun-tahun, seumur hidup sampai ia lelah bekerja. Pekerjaan harus dicintai. Tidak semata-mata untuk dijalani.

Yah, saya pikir orang-orang zaman dulu lebih fasih dalam menerapkan follow your passion ketimbang millenial yang cuma ngomong doang. Jika begitu, kita cukup fokus dengan meracik mi ayam yang enak saja, sebenarnya urusan revenue tuh ngikut. Tapi, sekarang sih gak gitu ya. Promosi dan branding tetep nomor satu, hingga sekarang saya susah mencari makanan yang benar-benar enak, karena mungkin para pengusaha makanan salah fokus.

Pekerjaan rutin, seharusnya makin sering dijalankan, keahlian kita bakal makin terasah. Tapi sekarang, saya rasa, kita semua bagai disuruh untuk terburu-buru mempelajari segala hal yang baru sehingga tidak paham asal muasal mengapa kita harus melakukan semua itu. Segalanya serba gegas. Dan sialnya memang teknologi lekas berubah yang menuntut kita semua ikut berubah.

Yah, ini adalah keresahan saya. Saya rasa tidak semua orang harus jadi top management yang senantiasa melihat sesuatu dari helicopter view saja. Kita semua seantero dunia toh masih banget butuh orang-orang yang bener-bener ahli di bidangnya, di underground, tidak semua harus jadi generalis yang pengennya nyaman di awang-awang. Memangnya cukup dengan hanya punya pandangan mata elang saja kita bisa menikmati dunia ini? Kita bisa liat apa memang kalau di dasar dunia ini tidak ada satu orang pun yang becus menggarapnya, dan semua orang melakukan pekerjaan separuh hati saja? Cukupkah memang dengan modal public speaking, percaya diri tampil di depan umum, dan lolos audit sana-sini kalau tidak ada seseorang yang sungguh-sungguh ahli mengerjakan hal-hal remeh-temeh?

Sumpah, saya benci banget sama orang yang selalu meremehkan pekerjaan-pekerjaan bertipe rutinitas. Sebab mau bagaimana ditingkatkan kinerjanya kalau kerjaan-kerjaan kecilnya belum dipastikan oke. Arghh... mengapa kepala saya selalu berisik oleh hal-hal begini.[]

31 March 2017

Setelah Kemarin

No comments :
Hari Minggu kemarin terasa luar biasa. Salah belok dua kali. Ditanya ini jawabnya itu. Batuk-batuk dan muntah-muntah saban pagi. Tidur tidak pernah tenang, selalu ada mimpi. Makan tidak enak? Oh, tentu saja makin banyak.

Lalu, setelah kemarin, saya ngapain?

Masih bekerja, malah harus lebih semangat lagi. Walau kemarinnya luar biasa, sesudahnya biasa saja. Hanya ada satu perbedaan: saya punya tujuan. Yang sebelumnya saya hindari dan sempat saya benci, tapi sekarang saya sudah mulai berdamai dengannya. Semua orang pasti akan menjilat ludah sendiri apabila ia sudah banyak belajar dari kepahitan, saya rasa. Hanya masalah waktu saja.

Sepulang kerja tadi, langit Jumat terakhir di bulan Maret membias merah muda. Mungkin senja sedang jatuh cinta. Menyambut malam yang gelap pun rasanya berbunga-bunga. Kalau bukan karena cinta, lantas apa? Ah, besok harus kuliah...[]

18 March 2017

Apa yang Kamu Harap dari Grup Whatsapp?

No comments :
Emotikon-emotikon yang belum tentu sesuai dengan perasaan nyata? Semua anggota dituntut harus aktif cuap-cuap padahal mau cuap-cuap gimana kalau interest satu sama lain berbeda dan topik berita yang disebar semacam itu-itu saja? Atau malah berharap agar developer segera melansir fitur leave group silently?

Semua orang terpaksa terhubung. Meski sedari dulu secara personal pun sama sekali tidak pernah nyambung. Semua harus selalu tersenyum. Semua dituntut harus nimbrung. Dunia nyata sudah cukup riuh untuk sekadar berteduh, tapi mereka mungkin belum merasa cukup. Begitulah kalau orang extrovert sudah mulai melek teknologi, dunia maya jadi gak asik lagi, sama saja dengan dunia nyata yang makin fana: mereka menuntut semua orang menjadi seperti mereka.

Apa yang kamu harap dari grup Whatsapp? Simulasi cengkerama keluarga besar yang harmonis? Ruang kangen dengan teman-teman mulai dari TK sampai komunitas Ibu Menyusui? Saya harap semua orang masih jadi orang baik. Paling tidak, baik dalam hal toleransi terhadap silent reader. Semua gejala yang selama ini kerap muncul hanya membuktikan bahwa sampai kapan pun hobi membaca akan selalu jadi minoritas dibandingkan hobi ngobrol.

Kalau sepi ya sudah sepi. Memangnya setiap suasana harus selalu semarak dengan haha hihi risak sana-sini? Apakah diam dan menyimak bukan sebuah kata kerja? Padahal, kosong tetaplah ruang, dan tidak semua ruang harus selalu diisi. Tidak semua punya ruang renung seluas rumah di Widya Chandra.[]

17 March 2017

Efektivitas yang Bikin Obesitas

No comments :
Berita heboh bulan ini. Berat badan naik lagi. Yah tentu saja, kasat mata pun kelihatan lah. Meski telanjur, namun minggu ini saya perlahan merapikan pola makan yang akhir-akhir ini makin berantakan. Menjadi kurus itu pergulatan seumur hidup. Naik turun, fluktuatif, muncul tenggelam. Kenapa ya?

Saya rasa orang-orang zaman dahulu tidak meresahkan berat badan. Malah sebaliknya, kurang gizi. Badannya kurus-kurus, kulitnya hitam karena terbakar matahari tropis. Badan bau matahari karena parfum tak terbeli. Berat badan bukan concern mereka. Walau katanya genetik menentukan, tapi tak seberapa berpengaruh terhadap BMI mereka. Karena concern mereka kebanyakan adalah besok masih bisa makan atau tidak?

Tapi sekarang. Orang-orang rela mengeluarkan separuh penghasilannya demi tubuh ideal. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk membentuk otot. Berjuta-juta tiap bulan demi jus diet yang harus dibeli entah sampai kapan. Lama-lama bermunculan provider asuransi tubuh ideal. Sebab obesitas sudah  mulai menjadi ketakutan semacam salah milih passion.

Menurut saya penyebabnya adalah dunia yang semakin mudah. Bikin kita malas bergerak karena banyak pilihan yang lebih cepat. Motor hampir semua punya. Mobil juga. Kendaraan umum banyak. Transportasi online tinggal sapu-sapu layar. Semua ada demi efektivitas waktu kita semua yang katanya adalah uang.

Perlukah meluangkan lima belas menit sehari untuk berjalan kaki? Semakin nanti semakin bertambah? Okay. Jika terlalu sayang dengan lima belas menit yang katanya terbuang sia-sia, apa yang dapat kita lakukan dengan waktu lima belas menit? Menurut survey, generasi millenial memegang gawai minimal delapan jam sehari. Seperti bekerja saja ya. Jadi apa artinya lima belas menit berbanding delapan jam yang belum tentu berfaedah di depan layar?

Ah, enggak tau lah. Saya menjalani saja. Bawa asik aja. Makan secukupnya (tidak lebih dan tidak kurang itu susah banget). Berusaha untuk enggak malas jalan kaki. Lapangkan hati untuk nanti.[]

12 March 2017

Visual

No comments :
Minggu dini hari kudu melek. Melipir dulu ke sini. Setelah V yang kemarin, hayu lah membahas V yang lain. Visual.

Sepertinya saya jatuh cinta lagi sama kesukaan masa kecil. Menggambar. Dulu suka sekali menggambar orang main basket. Kalau kata orang sih katanya apa yang kita gambar merepresentasikan apa yang kita harapkan. Yang biasa saya gambar dulu adalah anak basket tinggi kurus, muka tirus, dan lumayan ganteng. Dan sayangnya harapan gak selalu linear sama kenyataan, sehingga ya beginilah.

Gambar saya jelek, dan selalu iri sama temen SMP waktu itu yang kalau menggambar, sumpah, gila detail banget. Jadi agak kurang pas sih kalau saya menjadikan menggambar sebagai hobi, apalagi passion #pret. Tapi saya baru sadar kebiasaan saya sejak kecil adalah memperhatikan baliho-baliho di pinggir jalan, terutama apabila sedang bepergian naik angkot maupun bus. Mulai dari spanduk puskesmas tentang ajakan hidup sehat, baliho iklan rokok, sampai papan nama warung yang terdapat nama jalan setempat selalu saya lihat satu-satu. Selalu ada kepuasan tersendiri, meskipun karena sepanjang jalan melihat ke pinggir melulu, jadinya pusing dan muntah di jalan.

Reklame-reklame pinggir stadion sepakbola juga suka saya perhatikan dan pertanyakan, mengapa kalau pertandingan Persib di Siliwangi dulu papannya itu-itu aja, atau malah sama sekali tidak ada papan, tidak seperti saat Manchester United main di Old Trafford yang papan reklamenya bisa digulung-gulung. Ternyata banyaknya reklame menggambarkan seberapa kaya klub bola tersebut. Dan setelah lirik-lirik pertandingan NBA, waw, gila banyak banget papan iklan di arenanya.

Bentuk huruf (yang kemudian saya ketahui sekarang sebagai tipografi), paduan warna, dan foto-foto si model iklan selalu bikin saya penasaran mengapa kok apik banget dan bisa serasi satu sama lain. Ternyata gak semudah itu bikin desain, apalagi untuk orang lain, apalagi memenuhi selera semua orang. Mungkin saja iklan yang sudah tercetak di koran-koran itu sudah revisi ke 10 kali. Mungkin saja itu adalah satu dari 30 opsi yang ditawarkan. Dan mungkin setelah setahun baru diputuskan mau pakai desain yang mana.

Dan gambar yang bagus banget belum tentu bagus menurut kebutuhan. Bagus itu relatif, tapi efektif bisa diukur. Sekarang jadi paham kenapa iklan di TV rata-rata gitu-gitu aja, poster di puskesmas ya biasa-biasa aja, dan kenapa di TV gak ada iklan Mercedes Benz atau promosi jet pribadi semasif mesin pembuat roti. Ngurus detail itu belakangan, yang penting tujuannya udah jelas dan mateng. Yah, visual pun kudu punya visi yang kuat, kalau enggak, mending gak usah.

Saya makin cinta sama V.[]

26 February 2017

Glasses

6 comments :
Gelas rata-rata tampak transparan. Tembus oleh pandang dari sudut mana saja, tumpul atau tajam. Dapat dibentuk apa saja sesuai keperluan macam-macam. Termasuk kacamata. Apa fungsi kacamata? Buat apa orang-orang pakai? Perangkat gaya-gayaan biar terkesan pintar? Penyerap silau surya di pantai? Perlengkapan esensial semacam underwear? Yang harus kamu kenakan sepanjang hari?

Iklan surat kabar nyaris bikin benda itu punah. Cukup dengan terapi, objek-objek yang sebelumnya buram dapat terlihat jelas dan bening lagi. Tanpa harus mengenakan kaca ke mana-mana. Tapi, harus terapi sampai kapan? Kaca yang pecah dapat diganti, tapi janji hanyalah janji, sulit diramu jadi bukti.

Orang bilang susah untuk tersenyum kalau sedang terpuruk. Tapi saya suka senyum-senyum sendiri saat tiba-tiba mengingatmu, padahal waktu itu katakanlah saya sedang terpuruk. Sekarang baru tersadar, untuk tersenyum seharusnya tidak perlu syarat. Untuk memilikimu, nah, itu baru tidak mudah. Tapi, mudah-mudahan yah.

V memang bukan F. Kamu lahir pada bulan Februari, bukan Vebruari. Ah tapi kita anggap sama saja ya. Seperti orang Sunda samar melafal P, F dan V. Apalah alasannya, saya akan terus berusaha untuk tidak mengatakan I Lofe You atau I Lope You. Agar meminimalisir kekeliruan ucap, memanggil namamu dengan baik dan benar saja saya rasa sudah cukup karena nama kamu sudah ada unsur V-nya. Ya, dengan unsur V, saya rasa kamu sudah terlahir dengan cinta yang utuh, membuat hati saya yang keras pada akhirnya luluh.

Entah sudah berapa kali Purple Rain saya putar ulang. Ah, memutar, memangnya kaset atau piringan hitam ya. Saya tafsir yang Prince ceritakan dalam lagu itu adalah orang paling sabar sedunia yang sungguh-sungguh memberikan unconditional love. Kamu percaya ada orang seperti itu?

Nano-nano rasanya beberapa pekan ini. Saya tidak menyangka kembali bertemu. Waktu-waktu yang hilang bagai hadir kembali minta direkam ulang sehingga mewujud waktu-waktu yang baru. Hari-hari yang baru. Datangkan hati yang baru.

Yang ingin saya lakukan sejak masa-masa lampau adalah menjadi kacamatamu. Sesuatu pertama yang kau gapai-gapai di sampingmu saat terbangun subuh hari. Benda paling esensial bagimu dalam menjalani hari-hari. Tanpanya kau buram menantang dunia sepanjang waktu sepanjang hari. Kau geletakkannya saat malam melarut, melurut segala lelah dan letih; melumatnya dalam senyap mimpi. Sampai kamu benar-benar menutup mata nanti.[]

20 February 2017

Yang Penting Meeting

No comments :

Sempat saya berpikiran bahwa setiap pekerjaan, apa pun jenisnya, harus dilakukan secara serius di balik meja, untuk kemudian dipresentasikan melalui pidato formil di depan direktur bahkan ratusan orang, setiap hari. Ternyata, hampir semua pekerjaan selalu bermula dari ngobrol biasa dan bertemu dengan berbagai kalangan mulai hierarki bawah sampai atas. Sekarang saya masih kaget karena cukup dengan ngomong doang, orang-orang toh bisa bikin dapur mereka ngebul.

Padahal dulu, kakek saya selalu bilang bahwa diam itu emas. Kata beliau, jadi orang jangan kebanyakan ngomong, ketawa, dan pecicilan. Tapi ternyata dengan melakukan hal-hal tadi pada saat ini, orang-orang jadi sanggup melunasi cicilan. Sepertinya saya kurang pas hidup di era serba terbuka seperti sekarang di mana segala hal dapat diselesaikan cukup dengan cuap-cuap. Masih kudu belajar banyak ngomong deh biar bisa survive.

Beberapa bulan lalu saat masih kerja di Bandung, biasanya saya meeting sebulan sekali sama bos. Meeting, sebagaimana artinya secara harfiah, ya memang cuma bertemu. Ketemuan. Sama saja dengan ketemu sama pacar atau perempuan yang kamu sukai. Kadang beneran serius, sesekali dead air, stuck mau ngomongin apa, atau malah lebih sering haha-hihi-nya. Yang membedakan cuma kontennya. Semuanya tentang pekerjaan. Bukan tentang perasaan. Yang muaranya adalah bagaimana menghasilkan uang lebih banyak dengan usaha dan modal lebih sedikit.

Pada hari sebelum meeting, tentu saja saya harus mempersiapkan data-data yang sekiranya bakal bos tanyakan. Apa saja masalah yang sedang terjadi, masalah yang sudah dapat teratasi, dan rencana-rencana perbaikan ke depan. Pada malam harinya, hebat banget kalau saya bisa tidur nyenyak. Padahal tidak ada apa-apa, dan perbaikan masalah mulai kelihatan progresnya. Tapi tetap saja deg-degan, meskipun meeting ya tidak jauh-jauh dari ngobrol, makan, ngobrol, makan, pulang.

Interaksi. Mungkin ini yang dilupakan sekolah-sekolah dan mungkin juga orangtua (sok tau banget, jadi orangtua aja belum). Pendidikan bukan sekadar mengerjakan soal, menjawab pertanyaan, memastikan kuku pendek, seragam rapi, rambut tidak melewati kerah. Ngobrol itu saya pikir sama pentingnya dengan matematika. Menghitung hasilnya dapat diprediksi, tapi brainstorming bisa berbelok arah ke mana-mana, ke tujuan yang tidak terduga sebelumnya. Salah menghitung dapat dimaklumi oleh minus beberapa poin, tapi salah mengambil keputusan bisa-bisa berujung pada saling tuding menyalahkan. Tidak setiap urusan dapat mudah dikendalikan sendirian.

Gara-gara asumsi saya sendiri, saya sempat membayangkan bagaimana kalau karyawan restoran pizza cepat saji sedang meeting, katakanlah meeting evaluasi mingguan.

Leader : "Payah! Kemarin gue perhatiin masih banyak pengunjung yang duduknya kelamaan padahal menunya udah habis. Meja-meja penuh! Lo gak liat apa di luar banyak calon pengunjung yang gak jadi mampir gegara meja-meja kita masih kelihatan penuh sesak? Boro-boro efektif! Kalian ngapain aja, sih?"
Pelayan A : "Maaf, sebetulnya saya udah berkali-kali datengin mejanya dan bilang 'Sudah boleh diangkat piringnya, kakak?' Tapi gimana lagi, Mbak, piring, mangkok dan gelasnya udah saya ambil semuanya, lah terus kalo saya dateng ke situ mau minta izin ngangkat apa lagi dong, Mbak?"
Leader : "Ah elah, gitu aja nanya! Apa kek, lo minta izin ngelap mejanya, atau sekalian aja tawarin 'Mau pesan menu apa lagi kakak?'. Pokoknya ganggu terus! Jangan ampe dia tenang dan nyaman sehingga dia makin betah duduk di situ! SOP kita kan sejak mulai penyajian ampe pelanggan selesai makan waktunya paling lama cuma boleh 40 menit. Kalau pengunjung kelamaan duduk, gimana ceritanya kita bisa lewatin target "Sejuta Pengunjung dalam Setahun" dari manajemen! Seneng kalo posisi gue gak aman gara-gara gue miss target?"
Pelayan B : "Semua salah kami, Mbak. Besok-besok akan kami evaluasi. Maklum Si A masih baru, belom 3 bulan di cabang sini. Dia urusan saya. Nanti Si A saya OJT lagi."
Leader : "Halah, mau nunggu berapa tahun lagi sih? Kita butuh yang cepet-cepet! Kalo lo gak bisa berkembang, A, cari sono warung tegal, gak usah kerja di sini!"
Pelayan C : "Baik, Mbak, besok-besok saya bakal terus monitor pengunjung. Terutama pasangan abege-abege yang cuma numpang pacaran. 80 persen sih yang lama duduknya ya mereka-mereka ini. Cuma pesen sensasi delight aja gayanya udah kayak pacaran di restoran Prancis. Yang kayak gitu-gitu tuh yang kudu kita ganggu secara ekstra biar gak merasa nyaman duduk lama-lama.
Leader : "Nah, gitu dong. Cuma lo doang kayaknya yang masih terkualifikasi sebagai pelayan di sini. Lo berdua mah taik lah, bisanya cuma nyemilin serpih-serpih smoke beef, pinggiran pizza, sama paprika sisa konsumen!"
Pelayan C : "Semua ini berkat arahan dan bimbingan Mbak."

Mengerikan, tapi saya rasa masih logis. Semua orang memang punya target masing-masing. Sesuai tuntutan hierarki atasnya masing-masing. Mau bagaimana caranya terserah, asalkan risiko ditanggung masing-masing. Terpenting, berbagai masalah sepertinya dapat diselesaikan cukup dengan meeting.

Jadi, target nikah kamu kapan?[]

Photo credit: Fumigraphik

11 February 2017

Harus Gini Harus Gitu

No comments :

Pernahkah kamu bermasalah dengan kata "harus"?

Kita harus sekolah supaya pinter. Kenapa harus pinter? Biar selulusnya dari sekolah itu, bisa ngelanjutin ke sekolah bagus. Kenapa harus bagus? Biar gampang lolos universitas bagus. Kenapa harus bagus universitasnya? Biar lulus nanti gampang cari kerja? Kenapa harus kerja? Hmm... kamu pikir dengan berpikir saja bisa bikin perut kenyang?

Harus muncul karena ada patokan. Patokan yang padahal semu. Tidak jelas berada di titik dan limit mana. Seberapa gunduk batas kekayaan kamu yang kelak menegurmu agar berhenti bekerja keras? Seberapa jauh kamu harus terus berlari mengejar yang tak pasti, batas jarak yang akan sadarkanmu bahwa rihat dalam kapsul jeda sesekali perlu demi kewarasan.

Pekerjaan adalah gudang "harus" terbesar sejagat. Mulai dari hal remeh temeh sampai yang bikin otak meleleh, semua harus sesuai target. Harus sejalan visi dan misi. Harus dikerjakan berlandaskan company policy. Harus sesuai etika dan moral setempat. Bahkan untuk berbicara saja, harus sangat berhati-hati menjaga kata-kata yang hendak terlontar, harus dengan intonasi teratur, harus mudah dimengerti khalayak, harus senantiasa meniti rel konteks pembicaraan. 

Mungkin itulah kenapa cuma 40 jam per minggu batas waktu yang diperbolehkan untuk bekerja. Bila kebablasan lama-lama bisa gila. Dunia ini saya pikir pada dasarnya menawarkan kebebasan, bukan keharusan. Cuma kita saja yang sedikit-sedikit mengharuskan begini dan begitu, dilarang ini dan itu, yang menjadikan keharusan sebagai kebiasaan, bahkan kebutuhan. Potongan rambut, mode busana, merek sepatu, segalanya bagaikan sudah menjadi standar baku yang harus diikuti perkembangannya. Pada akhirnya semua orang lupa bahwa semula pakaian ada hanya untuk melindungi tubuh dari panas matahari dan dingin angin, bukan pemuas ingin.

Saya khawatir andai keharusan sudah telanjur jadi kebiasaan. Seperti kentut, lama-lama mungkin kita tidak paham betul apa yang sedang kita lakukan. Jawabannya cuma yah dunia kepalang menuntut kita melakukan ini, mengerjakan itu, entahlah buat apa dan demi apa semua ini. Suara-suara di dalam hati terkubur makin dalam dan kian sukar didengar.

Apakah kamu baik-baik saja andai kehilangan kegiatan yang tidak mengharuskanmu begini begitu? Yang bebaskanmu mengerahkan segenap potensi tanpa pretensi apa-apa dari siapa-siapa? Atau kamu hendak memutuskan mengisi akhir pekan dengan leyeh-leyeh tiduran di rumah pun harus terlebih dahulu menerima approval dari bos kamu? Pagi-pagi beli nasi uduk sambal kacang encer harus survey legalitas dulu ke BPOM? Mendengarkan musik harus selalu relevan dengan konteks kegiatan yang sedang dilakukan? Memangnya tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak ada maknanya, mengalir begitu saja, memasrahkan semuanya? Apakah kamu pikir cinta pun harus ada maknanya, yang harus dipresentasikan di hadapan klien, seberapa untung-ruginya, apa saja dampak positif-negatifnya?

Selamat menyambut hari kasih sayang bagi yang masih berani menyayangi. Untuk hal satu ini, saya merasa harus berani.[]

Photo credit: Republic of Korea

06 February 2017

Susahnya Mikir

No comments :
Entah kenapa kecerdasan punya tempat istimewa di hati ini. Selalu bikin saya terpana. Saking terpesonanya, suka tiba-tiba timbul perasaan iri sama orang yang lebih pinter. Ini sih gawat sebab ternyata buanyak banget yang lebih pinter itu. Kecuali kalau dulu saya gak memutuskan keluar-keluar dari kampung halaman, mungkin saya tetep bakal merasa bahwa sayalah yang paling pinter. Ternyata itu cuma dalam pikiran saya sendiri.

Minggu kemarin ngikutin training tentang problem solving. Dua kata yang sejujurnya sudah sering saya dengar sejak jaman sekolah. Saking seringnya lama-lama saya jadi cenderung menyepelekan dan menganggapnya sebagai hal klise. Padahal setelah ditelisik lebih dalam lagi, waw. Susah. Pake banget. Mendadak di kelas jadi orang paling bego setelah selama ini merasa paling jenius sedunia.

Pemecahan masalah itu gak mudah. Apalagi kalau mesti berdaya guna. Bukan cuma bagus idenya tapi harus bisa diimplementasikan. Masalah yang mudah saja cara penyelesaiannya tidak mudah, bagaimana dengan masalah berat? Yah, segala hal pun harus dipelajari. Mungkin tidak ada batas waktu kapan proses belajar berakhir untuk memecahkan masalah, karena mana ada hidup yang luput dari masalah.

Dalam mengerkah masalah, pinter doang gak cukup. Kita dituntut berpikir cepat, taktis, dan visioner. Dan sampai sekarang saya masih mencari-cari dari mana mereka itu dapat diperoleh? Apakah dari tumpukan buku-buku manajemen yang baru dibaca kata pengantarnya pun sudah ampuh bikin saya ngorok di sofa? Dari pengalaman bertahun-tahun, setelah khatam kaidah 10 ribu jam? Dari pengalaman berorganisasi? Atau malah hanya mungkin terlahir melalui bakat alam?

Ahh... susah banget jadi orang yang pas dalam segalanya. Gak lebih gak kurang. Segala pun kudu belajar. Semangat lah.[]

29 January 2017

Menembus Foto

4 comments :

Masih punya foto-foto hasil afdrukan dari rol film?

Di rumah orangtua saya masih tersimpan beberapa album foto dari tustel analog. Terakhir mungkin hasil potretan sekitar 2003 atau 2004. Saat itu kamera saku digital sudah marak dijual di Indonesia, tapi masih mahal, lagi pula kualitasnya belum bisa dibandingkan dengan kamera saku film. Kalau saya ingat lagi masa-masa itu, berarti saya masih SMP. Pubertas lagi tinggi-tingginya, masa-masa mulai merasakan ditolak cewek dan baru sadar kalau cuma Ibu yang bilang saya ganteng.

Kala itu, saya suka membolak-balik album foto lama. Lebih jadul dari 2000an. Mungkin 80-90an. Saat paman-paman dan bibi remaja masih tinggal di rumah Kakek. Di dalam potret itu, kakak-kakak saya mungkin ada yang sudah SMP, SD, ada pula yang masih digendong ibu saya. Tentu saya belum lahir. Kelebihan foto-foto hasil cuci-cetak pada masa itu biasanya frame foto tidak penuh oleh gambar, menyisakan bingkai warna putih, di pojok kanan bawah bingkai itu mencantumkan bulan dan tahun foto itu dicetak (atau waktu pemotretan, saya kurang tahu pastinya).

Foto yang saya amati dalam cerita di atas bercantum tahun 1984. Berarti saya baru lahir tujuh tahun kemudian. Paman saya yang satu berambut gondrong sebahu, mengenakan kaus biru navy ketat bercorak tiga garis putih di bahu, dan tentu saja kumis lebat. Paman yang lebih muda berkemeja putih longgar, kulit gelap (mungkin belum tersedia Biore khusus laki-laki), bertelanjang kaki. Selainnya adalah kakak-kakak saya yang masih bocah dan remaja, serta orangtua yang masih muda.

Berkali-kali saya mengamati foto-foto dalam album tersebut, berkali-kali timbul keinginan untuk dapat masuk menembus ke dalam lembar foto itu. Merasakan bagaimana suasana yang sedang mereka alami saat pemotretan. Menyapa ibu saya dan memperkenalkan diri bahwa saya adalah anaknya tujuh tahun mendatang yang kelak menggagalkan program KBnya. Mengajak tos paman-paman saya yang saya yakin usianya tidak jauh dengan usia saya sekarang, atau bahkan lima tahun lebih muda, kemudian menghadiahi mereka kaus My Trip My Adventure. Setelah itu mengajak kakak-kakak saya yang masih kecil bermain Pokemon Go.

Sering pula saya membayangkan apa topik yang sering mereka perbincangkan saat itu. Apakah keresahan mereka sama dengan saat ini? Membahas pemilihan kepala daerah yang bukan daerah pilihan mereka? Saya yakin tidak. Sepengetahuan saya televisi hanya ada TVRI dan itu pun mengudara pada jam-jam terbatas tidak seperti sekarang yang pada bablas. Arus informasi diatur oleh pemerintah. Tidak ada kebebasan. Seluruh berita harus tervisualisasi positif. Sehingga semua orang kala itu membenci acara berita malam dari saluran nasional yang suka ujug-ujug memangkas serial Oshin. Jadi hiburan apa sih yang dipetik dari menggosipkan politik, mungkin demikian pikir mereka.

Sepertinya obrolan mereka tidak jauh dari rencana piknik minggu depan ke Goa Pawon atau gerak jalan ke jalanan yang baru diaspal. Hari itu mau botram di mana, sama lauk apa saja, siapa yang bikin sambal, siapa yang beli ikan asin, siapa yang meniup bara di hawu. Atau yang agak serius paling sudahkah menyapu halaman belakang, karena banyak sekali guguran daun dari pohon-pohon rindang di sana, untuk kemudian dibakar sendiri sambil membakar singkong.

Obrolan yang tidak jauh-jauh dari keseharian. Mungkin karena terbatasnya daya jangkau informasi. Mereka memilih menyapu daun-daun kering padahal itu tidak semudah menyapu layar gawai sambil tiduran. Koran-koran cenderung hati-hati memberitakan. Selain tuntutan penguasa, lagi pula berita hoax kemahalan untuk dicetak dalam kertas setiap hari.

Dan apakah kamu tergolong orang yang ingin sekali masuk ke rentang masa lalu untuk kemudian mengubah keputusan yang kelak berbuah penyesalan saat ini agar masa kini dan mendatang berjalan seperti yang kamu harapkan? Bisa saja. Tapi boleh jadi apa yang kamu cicip saat ini, jikapun kamu ubah elemen-elemennya pada masa lampau, adalah hasil kelakuan kita mengubah-ubah seenaknya. Waktu hanya dapat berjalan maju, lampaui batas-batas ruang harapan.[]

Photo credit : Tiyo.63

22 January 2017

Keluyuran Akhir Bulan 1: Suryakencana

No comments :

Apa yang dilakukan pria ISTJ pada akhir bulan? Bagaimana dia merayakan (ataukah meratapi) akhir bulan? Sebagai yang sok-sokan merasa ISTJ, mulai akhir bulan ini saya hendak menceritakannya pada kalian. Semoga menyenangkan, paling tidak untuk diri saya sendiri. Atau mungkin ada yang mau ikut keluyuran, boleh juga janjian sama saya. #modus

Terinspirasi dari lagu Akhir Bulan-nya Kunto Aji, saya pikir bagus juga apabila akhir bulan dirayakan, bukan cuma disesalkan. Justru lantaran akhir bulan itulah, kita atau khususnya saya dapat bebas merayakannya. Dengan remah-remah gaji yang syukur masih menyisa, maka pilihan pun gak banyak. Tapi, biasanya pilihan yang sedikit cenderung mudah untuk dijalankan sebab jadinya tak terlalu banyak pertimbangan apalagi perhitungan. Dan saya pikir destinasi keluyuran tidak usah muluk-muluk. Kebun singkong dekat rumah pun jadi. Prasmanan kondangan temen apalagi.


Sabtu siang kemarin saya ke Suryakencana, Bogor. Niat ke sana supaya kaki berjalan saja karena sehari-hari seringnya duduk melulu. Sayang sekali saya bangun kesiangan padahal kawasan pecinan itu justru ramainya pada pagi hari dan saya ingin sekali merasakan suasana semarak aneka street food di sana. Tapi apa boleh buat. Cucian minta untuk dicuci. Perut minta diisi, yah kamu tahulah saya harus masak nasi sendiri, ngangetin lauk sisa kemarin sendiri. Belum beres-beres, bersih-bersih. Intinya ya males keluar pagi. Baru setelah makan siang saya cus ke sana. Iya, saya emang gak niat cari makan sih ke sana, soalnya,... nanti juga kamu tahu sendiri lah. 


Lama tidak ke pelat F kota karena sehari-hari cuma muterin Citeureup, Cibinong dan sekitarnya, meskipun sama-sama pelat F, kastanya sih timpang. Dan baru sadar kalau Sistem Satu Arah (SSA) malah diterusin programnya. Gak sebatas percobaan. Dan itu menyebalkan. Macetnya malah jadi menyebar. Mau ke A dari B mesti muter dulu ke C dan kejebak macet di D. Tapi udahlah, ngapain juga saya marah-marah di sini. KTP aja masih Bandung.


Setiba di di sana, baru tahu kalau sekarang Suryakencana punya lawang. Dulu mah boro-boro. Masih pahibut sama pedagang kaki lima dan jalannya pun ancur-ancuran. Sekarang lumayan rapi dan agak nyaman dipandang. Kalau macetnya sih, makin. Nyari lapak parkir motor yang lowong pun lumayan lama. Tapi akhirnya dapet juga.


Imlek tinggal seminggu lagi. Mungkin ini yang bikin suasana di sana kemarin kian dominan sama merah dan kuning. Lampion menggantung di hampir setiap toko dan rumah makan. Ada beberapa yang jualan petasan dan rerupa kembang api. Ada yang menggelar lapak bunga-bunga. Sebagian ada yang jualan cangkang ketupat. Entahlah tukang kembang dan cangkang ketupat itu jualan setiap hari ataukah musiman pada saat menjelang imlek saja.


Wara-wiri motret-motretin yang ada di depan mata, ternyata lumayan bikin kaki pegel juga. Maklum jarang banget jalan kaki. Tapi karena merasa belum dapet foto yang sreg, saya terus berjalan dan memotret apa-siapa saja yang tersedia bebas di depan mata (iya, ceritanya ngikutin tips-tipsnya Erick Kim). Blusukan ke Jl. Roda yang sepi, lanjut ke Gg. Aut yang konon kalau pagi-pagi ramai oleh penjaja kenikmatan (perut). Waktu itu sekitar pukul dua siang sih sudah lengang. Kuliner yang tetap eksis sampai siang, ehem... tetep: sate babi.


Cukup banyak bangunan zaman baheula di kawasan ini yang mungkin sudah jadi milik pemerintah kota demi pelestarian bangunan kuno. Sebagian masih dimiliki keturunannya sebagai rumah makan warisan keluarga atau toko sembako atau bahkan sudah jadi milik orang lain.


Sampai di ujung Jl. Suryakencana dan sepi dari objek foto yang menarik, saya memutuskan putar balik, berjalan kembali ke gapura bertuliskan Lawang Suryakencana, beberapa meter dari mulut lawang ada angkot yang mogok lantas didorong sama dua orang. Ketika hendak pulang nyamperin motor ke parkiran, saya sempat berpapasan dengan rombongan berwajah kearab-araban. Kompak pada senyum pula. Toko di pinggir yang saat itu mereka lintasi ada gantungan lampion-lampionnya pula. Terus? Ya bagus aja, kali bisa jadi representasi kesatuan dalam keragaman. #empret


Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson kenceng banget dari mobil-mobil di samping saya, mending kalo telolet bikin bocah-bocah hepi. Ternyata dua abang ojek online dari dua perusahaan berbeda lagi parkir sembarangan. Sebenernya sembarangan itu biasa aja di kita, tapi mereka parkirnya di sekitar pertigaan sih. Ah, entah kliennya yang gak tahu diri menentukan pick up point, entah apalah. Saya gak peduli. Mending pulang. Eh, motret kelakuan mereka dulu sih.


Apa yang didapat dari keluyuran akhir bulan kali ini? Tidak ada sepertinya, cuma badan yang terasa fit karena digerakkan beberapa jam dan kulit yang gak terlalu pucat terpapar ultraviolet bebas. Eh, ada sih. Aroma asap panggangan sate babi ternyata mirip-mirip sama sate sapi. Dan jaket abang ojek online makin kumal aja, udah gak keren kayak testimoni-testimoni yang mewujud ads setahun lalu, saya gak yakin mereka itu wangi-wangi sekarang.


Oh ya satu lagi. Nci, sendirian aja? Saya ikhlas kok nemenin Enci makan bareng B2. Berdua maksudnya...[]

PS: Foto-foto berkualitas biasa aja seperti di atas selengkapnya dapat dilihat di sini. Terima kasih.

15 January 2017

Perpanjangan STNK Tahunan Bisa Dilakukan di Samsat Seluruh Jawa Barat

2 comments :

Bisakah memperpanjang STNK bukan di Samsat Penerbit? Bisa banget!
Asalkan STNK Anda diterbitkan di daerah yang tercakup Provinsi Jawa Barat, maka Anda dapat mengurus perpanjangan STNK di Samsat mana saja di areal Jabar, kecuali jika STNK Anda diterbitkan oleh Polda Metro Jaya alias DKI dan/atau Polda luar Jabar lain.

Iya, saya juga baru tahu hari Sabtu kemarin. Kebetulan tanggal 17 Januari adalah tanggal jatuh tempo STNK motor saya, dan karena tidak sedang berada di daerah STNK itu diterbitkan, beberapa minggu belakangan saya gelisah juga kalau sampai ditunda-tunda sampai waktu senggang benar-benar ada untuk pulang mengurusnya ke Bandung, tahun depan pun belum tentu ada. Apalagi katanya tarif pengurusan STNK naik, ini nih yang bikin makin males ngurusin.

Tapi mau gimana lagi. Daripada suatu saat ada pemeriksaan polisi saya apes ditanyai kelengkapan surat-surat, berabe dong. Meskipun saya baru tahu perihal pajak kendaraan yang mati seharusnya bukan polisi yang memvonis kita salah atau tidak, itu urusan kita dengan fiscus, tapi ya sudahlah, kita bisa apa. Disiplin dan waspada lebih baik.

Syukurlah Samsat Kab. Bogor buka pada hari Sabtu, walaupun hanya setengah hari. Pada hari Sabtu, pendaftaran antrean pertama dibuka pukul setengah sembilan dan ditutup pukul sebelas siang. Meski malas dan cuaca yang mendukung untuk semakin malas, saya memaksakan diri berangkat ke Samsat Kab. Bogor yang berlokasi di sekitar Stadion Persikabo. Setiba di sana saya langsung mencari keberadaan Customer Service.

Samsat penuh sekali ternyata, termasuk CS-nya. Mungkin karena hari Sabtu, hari kebanyakan kaum proletar libur dan tidak mungkin sempat mengurus administrasi negara macam STNK ini pada hari biasa. Dan juga saya rasa bangunan Samsat Kab. Bogor tidak terlampau luas bila saya bandingkan dengan Samsat Cimareme.
Apakah karena lebih sempit maka pelayanannya jadi lebih lama?
Oh, ternyata malah lebih cepat. Mungkin karena kapasitas tampung ruangannya lebih sedikit, maka nomor antreannya pun tidak sepanjang di Cimareme. Cuma harus kuat berdiri aja, tersebab ruangannya kecil tentu saja kursi-kursi tunggunya pun tak banyak. Tapi toh prosesnya tidak terlalu lama. Saya memasukkan formulir ke loket pendaftaran sekitar pukul sepuluh kurang, dan kurang dari satu jam kemudian saya sudah menerima STNK yang sudah diperpanjang di loket penyerahan.

Ngomong-ngomong, dari mana saya tahu informasi bahwa perpanjangan STNK tahunan bisa dilakukan di seluruh Samsat areal Jawa Barat? Tentu dari Customer Service. Sebab walau sebelumnya sudah googling di internet, saya belum menemukan artikel yang tepat dan kebanyakan kurang tegas menyampaikan informasinya (entah mungkin kebijakan Samsat yang juga berubah-ubah). Mudah-mudahan artikel blog saya kali ini membantu Anda yang sedang mencari informasi tentang perpanjangan STNK ya.

Lantas bagaimana dengan gosok rangka plus ganti pelat lima tahunan? Apakah bisa dilakukan di seluruh Samsat areal Jawa Barat? Karena usia motor saya baru tiga tahun, maka tunggu infonya dua tahun lagi ya![]

NB: Kelamaan, woy!

08 January 2017

Fase

1 comment :

Sampai juga saya di 2017. Pekan kedua. Gila, cepat sekali waktu berlalu. Pikiran hanya membolehkan saya berhenti dan stagnan di 2012. Tidak lebih. Selebihnya hanya berjalan tanpa sadar utuh, berharap hari esok hari lusa lebih baik namun begitu-begitu juga. Mungkin masa-masa sebelum 2012 adalah yang paling menyenangkan untuk dikenang, sedangkan 2012 sampai sekarang, ya begitulah. Tidak terlalu, atau saya yang perlahan lupa cara bersenang-senang.

Sudah jadi apa sekarang? Belum, mungkin tidak akan. Saya masih laki-laki dengan segala ketakutan yang hinggap bergantian setiap sore hingga malam. Jika malam itu konten mimpi saya cukup baik, maka ketakutan segera berganti sebagai keikhlasan pada pagi hari. Sedangkan tatkala mimpi buruk, ia datangkan lebih banyak ketakutan, minta untuk diselesaikan hingga berserakan sebab tak kunjung mampu tertuntaskan.

Saya selalu menghindari tidur siang karena membenci kenangan yang sekonyong datang sebangunnya saya menjelang petang. Apalagi sore yang cerah seperti beberapa hari ini. Langit biru tanpa awan, bulan yang senyum lebih awal, dan waktu magrib yang terlambat, lewat pukul enam, sesekali filter jingga semesta turut bangkitkan suasana melankolis. Mengembalikan ruang ke masa lalu yang belum terlalu dahulu.

Sejak lima setengah tahun lalu hingga akhir 2014 saya biasa berangkat kuliah pada senja hari dan sial sekali mengapa harus senja karena senja adalah cakram penyimpan memori terawet dibanding blu-ray sekalipun, tanpa perlu mesin pemutar sudah terputar otomatis kala atmosfer mendukung, saat layung merundung.

Mengingatkan saya pada masa dahulu biasa keluar dengan seseorang dan sebelumnya saya harus melihat sekaligus meramal kondisi langit saat itu apakah cerah atau mendung karena saya hanya punya satu jas hujan dan itu pun repot membawanya. Masa-masa keluar sendirian tanpa perlu bawa uang banyak-banyak dan akhirnya celingak-celinguk di daerah asing. Tanpa memikirkan apa-apa, dengan siapa, besok bagaimana. So fearless.

Fase ini cukup menyiksa. Saya kira ombak dalam benak cukup menggolak di quarter life crisis kemarin saja, namun faktanya masih ada ataukah memang masih berlanjut dan krisis belum berakhir betul. Ruang selalu kalah cepat dari waktu dalam usaha mengkreasi impian dan harapan.

Tidak boleh seperti ini terus. Tergulung perubahan demi perubahan yang membosankan. Fase hanyalah fase. Baru satu bulan saya pindah kembali ke sini. Entah, apakah tiga bulan mendatang saya masih di sini. Tapi setidaknya harus menyusun rencana-rencana lagi. Agar lekas beranjak dari segala. Saya harus berlari agak jauh lagi setiap pekan atau malah dua kali dalam sepekan. Keluar rumah, pergi memotret, membekukan waktu yang saya yakin bakal makin gila menaklukkan ruang. Mengunggahnya di sini, dan menulis tentang potret paling berkesan hari itu.

Tapi, nanti saja ya. Ah, ya, selalu nanti, padahal waktu enggan sejenak pun berhenti.[]

Photo credit: Cameron Bowles