29 January 2017

Menembus Foto

4 comments :

Masih punya foto-foto hasil afdrukan dari rol film?

Di rumah orangtua saya masih tersimpan beberapa album foto dari tustel analog. Terakhir mungkin hasil potretan sekitar 2003 atau 2004. Saat itu kamera saku digital sudah marak dijual di Indonesia, tapi masih mahal, lagi pula kualitasnya belum bisa dibandingkan dengan kamera saku film. Kalau saya ingat lagi masa-masa itu, berarti saya masih SMP. Pubertas lagi tinggi-tingginya, masa-masa mulai merasakan ditolak cewek dan baru sadar kalau cuma Ibu yang bilang saya ganteng.

Kala itu, saya suka membolak-balik album foto lama. Lebih jadul dari 2000an. Mungkin 80-90an. Saat paman-paman dan bibi remaja masih tinggal di rumah Kakek. Di dalam potret itu, kakak-kakak saya mungkin ada yang sudah SMP, SD, ada pula yang masih digendong ibu saya. Tentu saya belum lahir. Kelebihan foto-foto hasil cuci-cetak pada masa itu biasanya frame foto tidak penuh oleh gambar, menyisakan bingkai warna putih, di pojok kanan bawah bingkai itu mencantumkan bulan dan tahun foto itu dicetak (atau waktu pemotretan, saya kurang tahu pastinya).

Foto yang saya amati dalam cerita di atas bercantum tahun 1984. Berarti saya baru lahir tujuh tahun kemudian. Paman saya yang satu berambut gondrong sebahu, mengenakan kaus biru navy ketat bercorak tiga garis putih di bahu, dan tentu saja kumis lebat. Paman yang lebih muda berkemeja putih longgar, kulit gelap (mungkin belum tersedia Biore khusus laki-laki), bertelanjang kaki. Selainnya adalah kakak-kakak saya yang masih bocah dan remaja, serta orangtua yang masih muda.

Berkali-kali saya mengamati foto-foto dalam album tersebut, berkali-kali timbul keinginan untuk dapat masuk menembus ke dalam lembar foto itu. Merasakan bagaimana suasana yang sedang mereka alami saat pemotretan. Menyapa ibu saya dan memperkenalkan diri bahwa saya adalah anaknya tujuh tahun mendatang yang kelak menggagalkan program KBnya. Mengajak tos paman-paman saya yang saya yakin usianya tidak jauh dengan usia saya sekarang, atau bahkan lima tahun lebih muda, kemudian menghadiahi mereka kaus My Trip My Adventure. Setelah itu mengajak kakak-kakak saya yang masih kecil bermain Pokemon Go.

Sering pula saya membayangkan apa topik yang sering mereka perbincangkan saat itu. Apakah keresahan mereka sama dengan saat ini? Membahas pemilihan kepala daerah yang bukan daerah pilihan mereka? Saya yakin tidak. Sepengetahuan saya televisi hanya ada TVRI dan itu pun mengudara pada jam-jam terbatas tidak seperti sekarang yang pada bablas. Arus informasi diatur oleh pemerintah. Tidak ada kebebasan. Seluruh berita harus tervisualisasi positif. Sehingga semua orang kala itu membenci acara berita malam dari saluran nasional yang suka ujug-ujug memangkas serial Oshin. Jadi hiburan apa sih yang dipetik dari menggosipkan politik, mungkin demikian pikir mereka.

Sepertinya obrolan mereka tidak jauh dari rencana piknik minggu depan ke Goa Pawon atau gerak jalan ke jalanan yang baru diaspal. Hari itu mau botram di mana, sama lauk apa saja, siapa yang bikin sambal, siapa yang beli ikan asin, siapa yang meniup bara di hawu. Atau yang agak serius paling sudahkah menyapu halaman belakang, karena banyak sekali guguran daun dari pohon-pohon rindang di sana, untuk kemudian dibakar sendiri sambil membakar singkong.

Obrolan yang tidak jauh-jauh dari keseharian. Mungkin karena terbatasnya daya jangkau informasi. Mereka memilih menyapu daun-daun kering padahal itu tidak semudah menyapu layar gawai sambil tiduran. Koran-koran cenderung hati-hati memberitakan. Selain tuntutan penguasa, lagi pula berita hoax kemahalan untuk dicetak dalam kertas setiap hari.

Dan apakah kamu tergolong orang yang ingin sekali masuk ke rentang masa lalu untuk kemudian mengubah keputusan yang kelak berbuah penyesalan saat ini agar masa kini dan mendatang berjalan seperti yang kamu harapkan? Bisa saja. Tapi boleh jadi apa yang kamu cicip saat ini, jikapun kamu ubah elemen-elemennya pada masa lampau, adalah hasil kelakuan kita mengubah-ubah seenaknya. Waktu hanya dapat berjalan maju, lampaui batas-batas ruang harapan.[]

Photo credit : Tiyo.63

22 January 2017

Keluyuran Akhir Bulan 1: Suryakencana

No comments :

Apa yang dilakukan pria ISTJ pada akhir bulan? Bagaimana dia merayakan (ataukah meratapi) akhir bulan? Sebagai yang sok-sokan merasa ISTJ, mulai akhir bulan ini saya hendak menceritakannya pada kalian. Semoga menyenangkan, paling tidak untuk diri saya sendiri. Atau mungkin ada yang mau ikut keluyuran, boleh juga janjian sama saya. #modus

Terinspirasi dari lagu Akhir Bulan-nya Kunto Aji, saya pikir bagus juga apabila akhir bulan dirayakan, bukan cuma disesalkan. Justru lantaran akhir bulan itulah, kita atau khususnya saya dapat bebas merayakannya. Dengan remah-remah gaji yang syukur masih menyisa, maka pilihan pun gak banyak. Tapi, biasanya pilihan yang sedikit cenderung mudah untuk dijalankan sebab jadinya tak terlalu banyak pertimbangan apalagi perhitungan. Dan saya pikir destinasi keluyuran tidak usah muluk-muluk. Kebun singkong dekat rumah pun jadi. Prasmanan kondangan temen apalagi.


Sabtu siang kemarin saya ke Suryakencana, Bogor. Niat ke sana supaya kaki berjalan saja karena sehari-hari seringnya duduk melulu. Sayang sekali saya bangun kesiangan padahal kawasan pecinan itu justru ramainya pada pagi hari dan saya ingin sekali merasakan suasana semarak aneka street food di sana. Tapi apa boleh buat. Cucian minta untuk dicuci. Perut minta diisi, yah kamu tahulah saya harus masak nasi sendiri, ngangetin lauk sisa kemarin sendiri. Belum beres-beres, bersih-bersih. Intinya ya males keluar pagi. Baru setelah makan siang saya cus ke sana. Iya, saya emang gak niat cari makan sih ke sana, soalnya,... nanti juga kamu tahu sendiri lah. 


Lama tidak ke pelat F kota karena sehari-hari cuma muterin Citeureup, Cibinong dan sekitarnya, meskipun sama-sama pelat F, kastanya sih timpang. Dan baru sadar kalau Sistem Satu Arah (SSA) malah diterusin programnya. Gak sebatas percobaan. Dan itu menyebalkan. Macetnya malah jadi menyebar. Mau ke A dari B mesti muter dulu ke C dan kejebak macet di D. Tapi udahlah, ngapain juga saya marah-marah di sini. KTP aja masih Bandung.


Setiba di di sana, baru tahu kalau sekarang Suryakencana punya lawang. Dulu mah boro-boro. Masih pahibut sama pedagang kaki lima dan jalannya pun ancur-ancuran. Sekarang lumayan rapi dan agak nyaman dipandang. Kalau macetnya sih, makin. Nyari lapak parkir motor yang lowong pun lumayan lama. Tapi akhirnya dapet juga.


Imlek tinggal seminggu lagi. Mungkin ini yang bikin suasana di sana kemarin kian dominan sama merah dan kuning. Lampion menggantung di hampir setiap toko dan rumah makan. Ada beberapa yang jualan petasan dan rerupa kembang api. Ada yang menggelar lapak bunga-bunga. Sebagian ada yang jualan cangkang ketupat. Entahlah tukang kembang dan cangkang ketupat itu jualan setiap hari ataukah musiman pada saat menjelang imlek saja.


Wara-wiri motret-motretin yang ada di depan mata, ternyata lumayan bikin kaki pegel juga. Maklum jarang banget jalan kaki. Tapi karena merasa belum dapet foto yang sreg, saya terus berjalan dan memotret apa-siapa saja yang tersedia bebas di depan mata (iya, ceritanya ngikutin tips-tipsnya Erick Kim). Blusukan ke Jl. Roda yang sepi, lanjut ke Gg. Aut yang konon kalau pagi-pagi ramai oleh penjaja kenikmatan (perut). Waktu itu sekitar pukul dua siang sih sudah lengang. Kuliner yang tetap eksis sampai siang, ehem... tetep: sate babi.


Cukup banyak bangunan zaman baheula di kawasan ini yang mungkin sudah jadi milik pemerintah kota demi pelestarian bangunan kuno. Sebagian masih dimiliki keturunannya sebagai rumah makan warisan keluarga atau toko sembako atau bahkan sudah jadi milik orang lain.


Sampai di ujung Jl. Suryakencana dan sepi dari objek foto yang menarik, saya memutuskan putar balik, berjalan kembali ke gapura bertuliskan Lawang Suryakencana, beberapa meter dari mulut lawang ada angkot yang mogok lantas didorong sama dua orang. Ketika hendak pulang nyamperin motor ke parkiran, saya sempat berpapasan dengan rombongan berwajah kearab-araban. Kompak pada senyum pula. Toko di pinggir yang saat itu mereka lintasi ada gantungan lampion-lampionnya pula. Terus? Ya bagus aja, kali bisa jadi representasi kesatuan dalam keragaman. #empret


Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson kenceng banget dari mobil-mobil di samping saya, mending kalo telolet bikin bocah-bocah hepi. Ternyata dua abang ojek online dari dua perusahaan berbeda lagi parkir sembarangan. Sebenernya sembarangan itu biasa aja di kita, tapi mereka parkirnya di sekitar pertigaan sih. Ah, entah kliennya yang gak tahu diri menentukan pick up point, entah apalah. Saya gak peduli. Mending pulang. Eh, motret kelakuan mereka dulu sih.


Apa yang didapat dari keluyuran akhir bulan kali ini? Tidak ada sepertinya, cuma badan yang terasa fit karena digerakkan beberapa jam dan kulit yang gak terlalu pucat terpapar ultraviolet bebas. Eh, ada sih. Aroma asap panggangan sate babi ternyata mirip-mirip sama sate sapi. Dan jaket abang ojek online makin kumal aja, udah gak keren kayak testimoni-testimoni yang mewujud ads setahun lalu, saya gak yakin mereka itu wangi-wangi sekarang.


Oh ya satu lagi. Nci, sendirian aja? Saya ikhlas kok nemenin Enci makan bareng B2. Berdua maksudnya...[]

PS: Foto-foto berkualitas biasa aja seperti di atas selengkapnya dapat dilihat di sini. Terima kasih.

15 January 2017

Perpanjangan STNK Tahunan Bisa Dilakukan di Samsat Seluruh Jawa Barat

2 comments :

Bisakah memperpanjang STNK bukan di Samsat Penerbit? Bisa banget!
Asalkan STNK Anda diterbitkan di daerah yang tercakup Provinsi Jawa Barat, maka Anda dapat mengurus perpanjangan STNK di Samsat mana saja di areal Jabar, kecuali jika STNK Anda diterbitkan oleh Polda Metro Jaya alias DKI dan/atau Polda luar Jabar lain.

Iya, saya juga baru tahu hari Sabtu kemarin. Kebetulan tanggal 17 Januari adalah tanggal jatuh tempo STNK motor saya, dan karena tidak sedang berada di daerah STNK itu diterbitkan, beberapa minggu belakangan saya gelisah juga kalau sampai ditunda-tunda sampai waktu senggang benar-benar ada untuk pulang mengurusnya ke Bandung, tahun depan pun belum tentu ada. Apalagi katanya tarif pengurusan STNK naik, ini nih yang bikin makin males ngurusin.

Tapi mau gimana lagi. Daripada suatu saat ada pemeriksaan polisi saya apes ditanyai kelengkapan surat-surat, berabe dong. Meskipun saya baru tahu perihal pajak kendaraan yang mati seharusnya bukan polisi yang memvonis kita salah atau tidak, itu urusan kita dengan fiscus, tapi ya sudahlah, kita bisa apa. Disiplin dan waspada lebih baik.

Syukurlah Samsat Kab. Bogor buka pada hari Sabtu, walaupun hanya setengah hari. Pada hari Sabtu, pendaftaran antrean pertama dibuka pukul setengah sembilan dan ditutup pukul sebelas siang. Meski malas dan cuaca yang mendukung untuk semakin malas, saya memaksakan diri berangkat ke Samsat Kab. Bogor yang berlokasi di sekitar Stadion Persikabo. Setiba di sana saya langsung mencari keberadaan Customer Service.

Samsat penuh sekali ternyata, termasuk CS-nya. Mungkin karena hari Sabtu, hari kebanyakan kaum proletar libur dan tidak mungkin sempat mengurus administrasi negara macam STNK ini pada hari biasa. Dan juga saya rasa bangunan Samsat Kab. Bogor tidak terlampau luas bila saya bandingkan dengan Samsat Cimareme.
Apakah karena lebih sempit maka pelayanannya jadi lebih lama?
Oh, ternyata malah lebih cepat. Mungkin karena kapasitas tampung ruangannya lebih sedikit, maka nomor antreannya pun tidak sepanjang di Cimareme. Cuma harus kuat berdiri aja, tersebab ruangannya kecil tentu saja kursi-kursi tunggunya pun tak banyak. Tapi toh prosesnya tidak terlalu lama. Saya memasukkan formulir ke loket pendaftaran sekitar pukul sepuluh kurang, dan kurang dari satu jam kemudian saya sudah menerima STNK yang sudah diperpanjang di loket penyerahan.

Ngomong-ngomong, dari mana saya tahu informasi bahwa perpanjangan STNK tahunan bisa dilakukan di seluruh Samsat areal Jawa Barat? Tentu dari Customer Service. Sebab walau sebelumnya sudah googling di internet, saya belum menemukan artikel yang tepat dan kebanyakan kurang tegas menyampaikan informasinya (entah mungkin kebijakan Samsat yang juga berubah-ubah). Mudah-mudahan artikel blog saya kali ini membantu Anda yang sedang mencari informasi tentang perpanjangan STNK ya.

Lantas bagaimana dengan gosok rangka plus ganti pelat lima tahunan? Apakah bisa dilakukan di seluruh Samsat areal Jawa Barat? Karena usia motor saya baru tiga tahun, maka tunggu infonya dua tahun lagi ya![]

NB: Kelamaan, woy!

08 January 2017

Fase

1 comment :

Sampai juga saya di 2017. Pekan kedua. Gila, cepat sekali waktu berlalu. Pikiran hanya membolehkan saya berhenti dan stagnan di 2012. Tidak lebih. Selebihnya hanya berjalan tanpa sadar utuh, berharap hari esok hari lusa lebih baik namun begitu-begitu juga. Mungkin masa-masa sebelum 2012 adalah yang paling menyenangkan untuk dikenang, sedangkan 2012 sampai sekarang, ya begitulah. Tidak terlalu, atau saya yang perlahan lupa cara bersenang-senang.

Sudah jadi apa sekarang? Belum, mungkin tidak akan. Saya masih laki-laki dengan segala ketakutan yang hinggap bergantian setiap sore hingga malam. Jika malam itu konten mimpi saya cukup baik, maka ketakutan segera berganti sebagai keikhlasan pada pagi hari. Sedangkan tatkala mimpi buruk, ia datangkan lebih banyak ketakutan, minta untuk diselesaikan hingga berserakan sebab tak kunjung mampu tertuntaskan.

Saya selalu menghindari tidur siang karena membenci kenangan yang sekonyong datang sebangunnya saya menjelang petang. Apalagi sore yang cerah seperti beberapa hari ini. Langit biru tanpa awan, bulan yang senyum lebih awal, dan waktu magrib yang terlambat, lewat pukul enam, sesekali filter jingga semesta turut bangkitkan suasana melankolis. Mengembalikan ruang ke masa lalu yang belum terlalu dahulu.

Sejak lima setengah tahun lalu hingga akhir 2014 saya biasa berangkat kuliah pada senja hari dan sial sekali mengapa harus senja karena senja adalah cakram penyimpan memori terawet dibanding blu-ray sekalipun, tanpa perlu mesin pemutar sudah terputar otomatis kala atmosfer mendukung, saat layung merundung.

Mengingatkan saya pada masa dahulu biasa keluar dengan seseorang dan sebelumnya saya harus melihat sekaligus meramal kondisi langit saat itu apakah cerah atau mendung karena saya hanya punya satu jas hujan dan itu pun repot membawanya. Masa-masa keluar sendirian tanpa perlu bawa uang banyak-banyak dan akhirnya celingak-celinguk di daerah asing. Tanpa memikirkan apa-apa, dengan siapa, besok bagaimana. So fearless.

Fase ini cukup menyiksa. Saya kira ombak dalam benak cukup menggolak di quarter life crisis kemarin saja, namun faktanya masih ada ataukah memang masih berlanjut dan krisis belum berakhir betul. Ruang selalu kalah cepat dari waktu dalam usaha mengkreasi impian dan harapan.

Tidak boleh seperti ini terus. Tergulung perubahan demi perubahan yang membosankan. Fase hanyalah fase. Baru satu bulan saya pindah kembali ke sini. Entah, apakah tiga bulan mendatang saya masih di sini. Tapi setidaknya harus menyusun rencana-rencana lagi. Agar lekas beranjak dari segala. Saya harus berlari agak jauh lagi setiap pekan atau malah dua kali dalam sepekan. Keluar rumah, pergi memotret, membekukan waktu yang saya yakin bakal makin gila menaklukkan ruang. Mengunggahnya di sini, dan menulis tentang potret paling berkesan hari itu.

Tapi, nanti saja ya. Ah, ya, selalu nanti, padahal waktu enggan sejenak pun berhenti.[]

Photo credit: Cameron Bowles