31 March 2017

Setelah Kemarin

No comments :
Hari Minggu kemarin terasa luar biasa. Salah belok dua kali. Ditanya ini jawabnya itu. Batuk-batuk dan muntah-muntah saban pagi. Tidur tidak pernah tenang, selalu ada mimpi. Makan tidak enak? Oh, tentu saja makin banyak.

Lalu, setelah kemarin, saya ngapain?

Masih bekerja, malah harus lebih semangat lagi. Walau kemarinnya luar biasa, sesudahnya biasa saja. Hanya ada satu perbedaan: saya punya tujuan. Yang sebelumnya saya hindari dan sempat saya benci, tapi sekarang saya sudah mulai berdamai dengannya. Semua orang pasti akan menjilat ludah sendiri apabila ia sudah banyak belajar dari kepahitan, saya rasa. Hanya masalah waktu saja.

Sepulang kerja tadi, langit Jumat terakhir di bulan Maret membias merah muda. Mungkin senja sedang jatuh cinta. Menyambut malam yang gelap pun rasanya berbunga-bunga. Kalau bukan karena cinta, lantas apa? Ah, besok harus kuliah...[]

18 March 2017

Apa yang Kamu Harap dari Grup Whatsapp?

No comments :
Emotikon-emotikon yang belum tentu sesuai dengan perasaan nyata? Semua anggota dituntut harus aktif cuap-cuap padahal mau cuap-cuap gimana kalau interest satu sama lain berbeda dan topik berita yang disebar semacam itu-itu saja? Atau malah berharap agar developer segera melansir fitur leave group silently?

Semua orang terpaksa terhubung. Meski sedari dulu secara personal pun sama sekali tidak pernah nyambung. Semua harus selalu tersenyum. Semua dituntut harus nimbrung. Dunia nyata sudah cukup riuh untuk sekadar berteduh, tapi mereka mungkin belum merasa cukup. Begitulah kalau orang extrovert sudah mulai melek teknologi, dunia maya jadi gak asik lagi, sama saja dengan dunia nyata yang makin fana: mereka menuntut semua orang menjadi seperti mereka.

Apa yang kamu harap dari grup Whatsapp? Simulasi cengkerama keluarga besar yang harmonis? Ruang kangen dengan teman-teman mulai dari TK sampai komunitas Ibu Menyusui? Saya harap semua orang masih jadi orang baik. Paling tidak, baik dalam hal toleransi terhadap silent reader. Semua gejala yang selama ini kerap muncul hanya membuktikan bahwa sampai kapan pun hobi membaca akan selalu jadi minoritas dibandingkan hobi ngobrol.

Kalau sepi ya sudah sepi. Memangnya setiap suasana harus selalu semarak dengan haha hihi risak sana-sini? Apakah diam dan menyimak bukan sebuah kata kerja? Padahal, kosong tetaplah ruang, dan tidak semua ruang harus selalu diisi. Tidak semua punya ruang renung seluas rumah di Widya Chandra.[]

17 March 2017

Efektivitas yang Bikin Obesitas

No comments :
Berita heboh bulan ini. Berat badan naik lagi. Yah tentu saja, kasat mata pun kelihatan lah. Meski telanjur, namun minggu ini saya perlahan merapikan pola makan yang akhir-akhir ini makin berantakan. Menjadi kurus itu pergulatan seumur hidup. Naik turun, fluktuatif, muncul tenggelam. Kenapa ya?

Saya rasa orang-orang zaman dahulu tidak meresahkan berat badan. Malah sebaliknya, kurang gizi. Badannya kurus-kurus, kulitnya hitam karena terbakar matahari tropis. Badan bau matahari karena parfum tak terbeli. Berat badan bukan concern mereka. Walau katanya genetik menentukan, tapi tak seberapa berpengaruh terhadap BMI mereka. Karena concern mereka kebanyakan adalah besok masih bisa makan atau tidak?

Tapi sekarang. Orang-orang rela mengeluarkan separuh penghasilannya demi tubuh ideal. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk membentuk otot. Berjuta-juta tiap bulan demi jus diet yang harus dibeli entah sampai kapan. Lama-lama bermunculan provider asuransi tubuh ideal. Sebab obesitas sudah  mulai menjadi ketakutan semacam salah milih passion.

Menurut saya penyebabnya adalah dunia yang semakin mudah. Bikin kita malas bergerak karena banyak pilihan yang lebih cepat. Motor hampir semua punya. Mobil juga. Kendaraan umum banyak. Transportasi online tinggal sapu-sapu layar. Semua ada demi efektivitas waktu kita semua yang katanya adalah uang.

Perlukah meluangkan lima belas menit sehari untuk berjalan kaki? Semakin nanti semakin bertambah? Okay. Jika terlalu sayang dengan lima belas menit yang katanya terbuang sia-sia, apa yang dapat kita lakukan dengan waktu lima belas menit? Menurut survey, generasi millenial memegang gawai minimal delapan jam sehari. Seperti bekerja saja ya. Jadi apa artinya lima belas menit berbanding delapan jam yang belum tentu berfaedah di depan layar?

Ah, enggak tau lah. Saya menjalani saja. Bawa asik aja. Makan secukupnya (tidak lebih dan tidak kurang itu susah banget). Berusaha untuk enggak malas jalan kaki. Lapangkan hati untuk nanti.[]

12 March 2017

Visual

No comments :
Minggu dini hari kudu melek. Melipir dulu ke sini. Setelah V yang kemarin, hayu lah membahas V yang lain. Visual.

Sepertinya saya jatuh cinta lagi sama kesukaan masa kecil. Menggambar. Dulu suka sekali menggambar orang main basket. Kalau kata orang sih katanya apa yang kita gambar merepresentasikan apa yang kita harapkan. Yang biasa saya gambar dulu adalah anak basket tinggi kurus, muka tirus, dan lumayan ganteng. Dan sayangnya harapan gak selalu linear sama kenyataan, sehingga ya beginilah.

Gambar saya jelek, dan selalu iri sama temen SMP waktu itu yang kalau menggambar, sumpah, gila detail banget. Jadi agak kurang pas sih kalau saya menjadikan menggambar sebagai hobi, apalagi passion #pret. Tapi saya baru sadar kebiasaan saya sejak kecil adalah memperhatikan baliho-baliho di pinggir jalan, terutama apabila sedang bepergian naik angkot maupun bus. Mulai dari spanduk puskesmas tentang ajakan hidup sehat, baliho iklan rokok, sampai papan nama warung yang terdapat nama jalan setempat selalu saya lihat satu-satu. Selalu ada kepuasan tersendiri, meskipun karena sepanjang jalan melihat ke pinggir melulu, jadinya pusing dan muntah di jalan.

Reklame-reklame pinggir stadion sepakbola juga suka saya perhatikan dan pertanyakan, mengapa kalau pertandingan Persib di Siliwangi dulu papannya itu-itu aja, atau malah sama sekali tidak ada papan, tidak seperti saat Manchester United main di Old Trafford yang papan reklamenya bisa digulung-gulung. Ternyata banyaknya reklame menggambarkan seberapa kaya klub bola tersebut. Dan setelah lirik-lirik pertandingan NBA, waw, gila banyak banget papan iklan di arenanya.

Bentuk huruf (yang kemudian saya ketahui sekarang sebagai tipografi), paduan warna, dan foto-foto si model iklan selalu bikin saya penasaran mengapa kok apik banget dan bisa serasi satu sama lain. Ternyata gak semudah itu bikin desain, apalagi untuk orang lain, apalagi memenuhi selera semua orang. Mungkin saja iklan yang sudah tercetak di koran-koran itu sudah revisi ke 10 kali. Mungkin saja itu adalah satu dari 30 opsi yang ditawarkan. Dan mungkin setelah setahun baru diputuskan mau pakai desain yang mana.

Dan gambar yang bagus banget belum tentu bagus menurut kebutuhan. Bagus itu relatif, tapi efektif bisa diukur. Sekarang jadi paham kenapa iklan di TV rata-rata gitu-gitu aja, poster di puskesmas ya biasa-biasa aja, dan kenapa di TV gak ada iklan Mercedes Benz atau promosi jet pribadi semasif mesin pembuat roti. Ngurus detail itu belakangan, yang penting tujuannya udah jelas dan mateng. Yah, visual pun kudu punya visi yang kuat, kalau enggak, mending gak usah.

Saya makin cinta sama V.[]