12 March 2017

Visual

No comments :
Minggu dini hari kudu melek. Melipir dulu ke sini. Setelah V yang kemarin, hayu lah membahas V yang lain. Visual.

Sepertinya saya jatuh cinta lagi sama kesukaan masa kecil. Menggambar. Dulu suka sekali menggambar orang main basket. Kalau kata orang sih katanya apa yang kita gambar merepresentasikan apa yang kita harapkan. Yang biasa saya gambar dulu adalah anak basket tinggi kurus, muka tirus, dan lumayan ganteng. Dan sayangnya harapan gak selalu linear sama kenyataan, sehingga ya beginilah.

Gambar saya jelek, dan selalu iri sama temen SMP waktu itu yang kalau menggambar, sumpah, gila detail banget. Jadi agak kurang pas sih kalau saya menjadikan menggambar sebagai hobi, apalagi passion #pret. Tapi saya baru sadar kebiasaan saya sejak kecil adalah memperhatikan baliho-baliho di pinggir jalan, terutama apabila sedang bepergian naik angkot maupun bus. Mulai dari spanduk puskesmas tentang ajakan hidup sehat, baliho iklan rokok, sampai papan nama warung yang terdapat nama jalan setempat selalu saya lihat satu-satu. Selalu ada kepuasan tersendiri, meskipun karena sepanjang jalan melihat ke pinggir melulu, jadinya pusing dan muntah di jalan.

Reklame-reklame pinggir stadion sepakbola juga suka saya perhatikan dan pertanyakan, mengapa kalau pertandingan Persib di Siliwangi dulu papannya itu-itu aja, atau malah sama sekali tidak ada papan, tidak seperti saat Manchester United main di Old Trafford yang papan reklamenya bisa digulung-gulung. Ternyata banyaknya reklame menggambarkan seberapa kaya klub bola tersebut. Dan setelah lirik-lirik pertandingan NBA, waw, gila banyak banget papan iklan di arenanya.

Bentuk huruf (yang kemudian saya ketahui sekarang sebagai tipografi), paduan warna, dan foto-foto si model iklan selalu bikin saya penasaran mengapa kok apik banget dan bisa serasi satu sama lain. Ternyata gak semudah itu bikin desain, apalagi untuk orang lain, apalagi memenuhi selera semua orang. Mungkin saja iklan yang sudah tercetak di koran-koran itu sudah revisi ke 10 kali. Mungkin saja itu adalah satu dari 30 opsi yang ditawarkan. Dan mungkin setelah setahun baru diputuskan mau pakai desain yang mana.

Dan gambar yang bagus banget belum tentu bagus menurut kebutuhan. Bagus itu relatif, tapi efektif bisa diukur. Sekarang jadi paham kenapa iklan di TV rata-rata gitu-gitu aja, poster di puskesmas ya biasa-biasa aja, dan kenapa di TV gak ada iklan Mercedes Benz atau promosi jet pribadi semasif mesin pembuat roti. Ngurus detail itu belakangan, yang penting tujuannya udah jelas dan mateng. Yah, visual pun kudu punya visi yang kuat, kalau enggak, mending gak usah.

Saya makin cinta sama V.[]

No comments :

Post a Comment