29 April 2017

Memutar Ulang Lagu, Menonton Lagi Film yang Sama

No comments :
Adakah yang lebih membosankan dari memutar ulang lagu yang sama? Adakah aktivitas yang lebih sangkil dari menonton film yang sama hingga tiga setengah tahun mendatang?

Motif sudah tidak di situ. Semangat hilang dalam benam bagai intan berlian, membuat semakin jauh jarak yang memang lebih jauh. Tapi semua tetap dipaksakan seperti mendonasikan celana nomor 29 kepada anggota DPR yang subur makmur; sia-sia dan dibuang pada akhirnya, barangkali.

Cuplikan film jenaka, apabila sudah dipertontonkan puluhan kali ke khalayak, hanya berkhasiat sebagai obat insomnia. Lelap, lelap, sampai tiga setengah tahun mendatang, kalau bisa, saya ingin melakukannya, kalau perlu saya ingin membelinya, kalau tak mampu saya akan mengkreditnya secara syariah.

Demi apa semua ini saya lakukan. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bereksperimen ciptakan apel rasa rambutan, kepala berambut brokoli, waktu yang tepat untuk perbaharui data sensus penduduk. Waktu yang terlalu lama untuk sekadar memetik gelar. Waktu yang sangat lama untuk menunggu kesuksesan sekejap terhampar.[]

25 April 2017

Keluyuran Akhir Bulan 2: Sepedaan Lagi

No comments :

Sebagaimana menjaga berat badan supaya gak naik atau turun, emang susah menjaga konsistensi itu ya. Rencana awal tahun ini mau berkomitmen bikin postingan Keluyuran Akhir Bulan setiap bulan pada akhir bulan, tapi sekarang sudah akhir bulan April, dan yang kesampaian nyatanya cuma satu aja yaitu pada akhir Januari.

Kalau boleh beralasan, yah, mulai pertengahan Februari kemarin hari libur saya cuma Minggu, karena, ehem, setiap Sabtu mesti kuliah ke Cimanggis (jangan tanya kenapa saya kuliah lagi, kok kuliah gak kelar-kelar, masih kuliah S1 aja) jadi duduk manis dan tiduran cantik seharian di rumah merupakan sebuah kemewahan, sehingga boro-boro keluyuran atuh. Belum nilai UTS ancur karena emang gak ada effort belajar, belum hujan sepanjang hari, dan lain sebagainya yang bikin mood naik turun, belum uang bulanan minus. Yah gapapalah, siapa pula yang setia nungguin postingan ini sih?

Mumpung kemarin Minggu dan Senin libur, saya akhirnya bisa napas sejenak dari yang aneh-aneh. Sepedaan lagi setelah sekian lama! Dimulai dari Jumat tanggal 14 yang juga tanggal merah, dan akhirnya kemarin bisa leluasa sepedaan ngegosongin kulit dua hari berturut-turut.

Beberapa bulan ini saya kurang olahraga. Entahlah karena apa. Jadinya makin gendut. Celana mulai wanti-wanti di tengah kesesakan. Gak pede liat wajah sendiri di depan cermin. Muka saya biasanya kalau agak lama berhenti olahraga jadi muncul jerawat, dan teksturnya jadi kering, kerutannya makin jelas. Gak enak dipandang, bahkan oleh diri sendiri. Keringat bagi saya adalah facial gratisan yang bikin muka tampak kinclong tanpa oplas. Dan biasanya pula, kalau berhenti olahraga saya suka jatuh sakit, gampang tertular virus. Itu terjadi beberapa minggu yang lalu, menyiksa banget.

Sepedaan lagi, mulai dari jarak yang deket yaitu ke rumah kakak di Ciluar, tempat saya nebeng hidup beberapa tahun lalu. Sekalian ngemis sarapan, sekalian minta dibekelin makan siang (masih aja gak tahu malu). Jarak ke sana kurang lebih 20 kilometer lah pulang-pergi. Lumayan untuk pemanasan betis (dan pantat, tentu saja) lagi setelah setahun lebih gak bersepeda.


Kemudian hari Minggu kemarin saya ke Sempur. Dengan pedenya, kirain batas kawasan Car Free Day di sana masih seperti dulu, yaitu setelah rumah sakit Salak sampai lapangan Sempur. Eh, sekarang cuma di sekitar Air Mancur sampai sebelum RS. Salak toh. Banyak tukang jualan pula yang bikin jalan kayak cendol. Di situ saya terpaksa menuntun sepeda, khawatir menabrak anak kecil yang hampir semua memakai dan main sepatu roda.

Kenapa ya? Usulan Pak Presiden lagikah? Sekalian aja ibukotanya pindahin ke Bogor.

Setelah RS. Salak, CFD gak berlaku lagi. Kendaraan bermotor boleh melintas bebas. Lalu lintas tidak terlalu padat sebab mungkin masih pagi. Sekarang trotoar dilengkapi jalur khusus sepeda yang... useless. Terlalu sempit dan sering dipakai orang jogging atau berjalan dengan anjing, apanya yang jalur sepeda? Mau tak mau tetep gowes di jalan aspal. Bodo amat diklaksonin mobil-mobil pelat B juga dah, Safety First!

Dan baru sadar bahwa lapangan Sempur sudah selesai direnovasi. Berubah nama jadi Taman Ekspresi. Rumput-rumputnya tampak seperti karpet atau memang karpet sintetis ya semacam di Alun-Alun Bandung, entahlah, saya belum sempat mencicipi, karena percayalah, suasana terlalu ramai dan bingung nyimpen sepeda di mana. Lebih ramai daripada dulu. Tapi sedikit lebih rapi dan tertib.

Tidak lama-lama nongkrong sendirian di situ, cuma rihat sejenak, mencuri udara banyak-banyak untuk bekal jalan pulang yang lebih terik, tapi kerja betis relatif lebih ringan sebab jalur pulang ke rumah cenderung menurun. Sampai rumah, saya serasa gak punya pantat. Setelah tiga-lima kali sepedaan lagi nanti mungkin tubuh bakal kembali terbiasakan.

Semoga Keluyuran Akhir Bulan 3 tidak seasal-asalan ini ya...[]

21 April 2017

Selamat Pagi, Malam

No comments :
Aku masih belum paham mengapa uang orang-orang
ciptakan. Buang najis saja harus punya uang.
Ia dapat membeli kebahagiaan, menepis kegamangan, menenung masa depan,
menyuruk belukar takdir. Andai saban malam
tidur berselimut uang aku ingin
membeli waktu. Waktu-waktu suka
kutebus, waktu-waktu duka kutebas,
waktu-waktu hilang kukenang sebagai arsip di awan surga.
Mestinya, Malam, kau melek seharian
gantikan pagi, siang, senja, petang, fajar.
Pagi bukan sinonim
semangat. Malam lebih mewah
dari pekat. Selamat pagi, Malam. Cukup,
isyarat jemari sekadar buat anak-anak kita belajar berhitung.[]

09 April 2017

Memangnya Sekarang Kita Sama Sekali Tidak Butuh Expert?

No comments :
Tadi siang saya pergi mencari tukang pas foto karena sedang perlu pas foto terbaru untuk suatu keperluan. Dan saya baru tahu bahwa mencari foto studio saat ini tidak semudah dahulu, di mana ada kios foto kopi, biasanya terdapat foto studionya juga. Sekarang, kios foto kopi kebanyakan cuma menerima cetak doang, itu pun tinta dan kertasnya abal-abal, jauh banget dibandingkan hasil cuci cetak rol film zaman dulu.

Mau tak mau saya terus mencarinya agak jauh dari rumah, sampai nemu kios foto kopi yang ada plang fujifilm professional. Hmm.. mungkin peninggalan zaman film analog dulu tuh. Melihat plang macam itu saya jadi menyimpulkan tempat itu bagus untuk pemotretan, yah minimal untuk bikin pas foto.

Pelayannya mbak-mbak pendek yang tidak mencerminkan bisa fotografi. Dandanannya ala asisten rumah tangga gitu, kaos-kaos ketat dengan manik-manik. Iyeeee, saya emang judgmental, saya kan ISTJ, tukang ngejudge orang, mau apa? Bayar saya juga engga, kan? Bebas lah, ini blog saya, saya nulis sendiri, ide mikir sendiri, domainnya saya bayar sendiri, Anda mau baca syukur, engga baca pun apa sih ngefeknya ke kehidupan saya? (lah ini kok malah marah-marah)

"Bisa pas foto, Mbak?"

"Ukuran berapa?"

Sampai situ, keraguan saya terhadapnya makin kentara. "Maaf, maksudnya bisa jepret-jepret gitu," sengaja saya pilih kata-kata yang awam, "bukan cetak doang." Saya berusaha mengkonfirmasi kemampuannya sebab saya sudah berkali-kali dikecewakan oleh beberapa tukang fotokopi sebelumnya yang mengaku sebatas menerima jasa cetak foto.

"Iya Mas, bisa. Masuk aja ke dalem."

Saya masuk ke dalam. Terbentang kain biru di situ. Tentu saja untuk latar belakang foto. Di depan kain tersebut teronggok kursi plastik. Saya duduk menunggu.

Tak lama, mbak-mbak itu datang dengan kamera. DSLR? Mirrorless? Hasselblad? Absolutely No! Bagusan juga kamera saya. Yang dia bawa cuma prosumer fujifilm yang saya pikir keluaran 2009. So yesterday. Pada detik itu saya menyesal dan pengennya sih pulang aja cari tukang pas foto lain. Tapi ya sudahlah, kasian juga.

Selanjutnya, si Mbak memotret saya. Pake satu dua tiga, gak? Tidak.. tidak ada aba-aba sama sekali. Bayangkan saja temanmu yang sedang memotretmu, bahkan lebih parah dari itu. Semula, saya sudah siap dengan kemeja rapi dan gurat senyum yang sepengalaman saya lumayan cucok untuk difoto. Tapi setelah sepuluh-dua puluh jepretan dari Si Mbak itu, tanpa aba-aba, tanpa ada arahan untuk mengatur muka, bahu supaya enak dipandang, mood saya jadi jelek. Boro-boro senantiasa tersenyum.

Suatu kali Si Mbak itu mencoba-coba sendiri kamera jadulnya, dengan mengarahkan autofokus terhadap tangannya sendiri. Seperti amatiran, atau yah memang sudah jelas kok amatiran, atau saya yakin saya dapat lebih baik mengoperasikan kamera tersebut. Tapi apakah harus saya sendiri yang memotret pas foto saya sendiri? Tukang cukur saja tidak mencukur dirinya sendiri, bukan? Yah kalau instansi-instansi pemerintah menerima pas foto dengan gaya selfie sih that's fine. Tapi itu sungguh tidak mungkin.

Senyum saya yang udah dimanis-manisin lama-lama jadi pait. Duduk makin layu dari kriteria tegak. Hati udah dongkol, ngedongkolin si Mbak yang gak punya etika nyoba-nyoba fotoin pelanggannya tanpa aba-aba, asal jepret, dan gagal berkali-kali. Mungkin baru berakhir pada jepretan ke tiga puluh, akhirnya Si Mbak berkata "Udah, Mas". Saya langsung keluar dengan kondisi mood yang makin ancur. Udah bodo amat sama hasilnya.

Agak lama menunggu hasil foto tersebut karena kedistract sama yang mau ngelaminating, motokopi, dan beli map plastik. Ternyata dia ngelayanin pelanggan lain pun ala kadarnya, gak niat, boro-boro gesit. Menggunting kertas saja lama. Makin lama deh ngurusin pas foto saya. Lima belas menit kemudian baru jadi.

Dan hasilnya... lumayan. Tapi kemahalan kalau saya mesti bayar 35 ribu cuma dijepret sama kamera prosumer jadul dan hasilnya pun gak bagus-bagus amat. Yang paling bikin kecewa tentu saja saat-saat pemotretan tadi yang bikin emosi. Okeh, mari saya jelaskan hasil yang saya bilang lumayan itu: tona warnanya pucat, resolusi payah karena mungkin sensornya gak semumpuni DSLR, dan pose tubuh saya yang bungkuk. Saya minta softcopy-nya, makin kecewa lantaran yang dikasih malah foto yang resolusinya 300 x 400 pixel, di tengah gempuran zaman kamera hape aja minimal 8 megapixel! Sejuta topan badai deh... 35 ribu dibeliin seblak telor bisa tuh dapet lima porsi.


Ke Mana Perginya Para Expert?


Apa cuma saya yang meresahkan ini? Bahwa sekarang sudah hampir gak ada, atau okelah kalo terlalu ekstrem, jarang orang yang benar-benar menguasai bidangnya masing-masing. Nuklir? Kimia? Nano Technology? Bukan. Muluk banget sih pikiran lu pada, sok-sokan visioner, pintu rumah aja susah nutup sempurna gak diurus-urus.

Misalnya pas foto tadi. Perasaan yah, dulu pas saya masih kecil, gak sembarangan orang bisa megang kamera. Tukang foto studio yang meskipun seringnya cuma nerima pas foto, tapi itu masih bisa jadi jenjang karier, karena itu adalah sebuah keahlian yang harus dipelajari, dan tidak semua orang mampu mempelajari, atau katakanlah tidak semua orang mau. Alhasil mereka pun mengerjakan serta menggarapnya dengan sungguh-sungguh, karena itu adalah suatu keahlian yang membuat harapan hidup mereka tumbuh. Sehingga tidak melakoni secara setengah-setengah seperti Mbak-mbak tadi yang minta digampar.

Semakin mudah teknologi membuat semua orang meremehkannya dengan logika bahwa semua orang mampu mengoperasikan. Technology for all katanya. Ah bullshit. Sesimpel apa pun suatu pekerjaan toh tidak semua orang dapat melakukannya segenap hati. Pekerjaan adalah rutinitas yang dijalankan setiap saat setiap hari, bertahun-tahun, seumur hidup sampai ia lelah bekerja. Pekerjaan harus dicintai. Tidak semata-mata untuk dijalani.

Yah, saya pikir orang-orang zaman dulu lebih fasih dalam menerapkan follow your passion ketimbang millenial yang cuma ngomong doang. Jika begitu, kita cukup fokus dengan meracik mi ayam yang enak saja, sebenarnya urusan revenue tuh ngikut. Tapi, sekarang sih gak gitu ya. Promosi dan branding tetep nomor satu, hingga sekarang saya susah mencari makanan yang benar-benar enak, karena mungkin para pengusaha makanan salah fokus.

Pekerjaan rutin, seharusnya makin sering dijalankan, keahlian kita bakal makin terasah. Tapi sekarang, saya rasa, kita semua bagai disuruh untuk terburu-buru mempelajari segala hal yang baru sehingga tidak paham asal muasal mengapa kita harus melakukan semua itu. Segalanya serba gegas. Dan sialnya memang teknologi lekas berubah yang menuntut kita semua ikut berubah.

Yah, ini adalah keresahan saya. Saya rasa tidak semua orang harus jadi top management yang senantiasa melihat sesuatu dari helicopter view saja. Kita semua seantero dunia toh masih banget butuh orang-orang yang bener-bener ahli di bidangnya, di underground, tidak semua harus jadi generalis yang pengennya nyaman di awang-awang. Memangnya cukup dengan hanya punya pandangan mata elang saja kita bisa menikmati dunia ini? Kita bisa liat apa memang kalau di dasar dunia ini tidak ada satu orang pun yang becus menggarapnya, dan semua orang melakukan pekerjaan separuh hati saja? Cukupkah memang dengan modal public speaking, percaya diri tampil di depan umum, dan lolos audit sana-sini kalau tidak ada seseorang yang sungguh-sungguh ahli mengerjakan hal-hal remeh-temeh?

Sumpah, saya benci banget sama orang yang selalu meremehkan pekerjaan-pekerjaan bertipe rutinitas. Sebab mau bagaimana ditingkatkan kinerjanya kalau kerjaan-kerjaan kecilnya belum dipastikan oke. Arghh... mengapa kepala saya selalu berisik oleh hal-hal begini.[]