25 May 2017

Ekstra Puding

No comments :
Enam belas hari. Cukup 16 hari. Andai lebih, saya rasa tidak akan sanggup lagi. Syukurlah, sedari kecil, kepikiran untuk jadi tentara pun tidak pernah terlintas, apa lagi bercita-cita. Saya pengen jadi orang sipil aja deh, yang bisa bebas nongkrong di mana-mana, bebas makan di mana-mana, dan bebas mengucapkan selamat pagi cukup dengan kata selamat pagi.

Keluar dari pusat pendidikan Senin siang kemarin, saya teringat ketika Brooks keluar dari penjara Shawshank. Bingung melihat peradaban. Brooks sudah puluhan tahun tidak melihat dunia luar, saya cuma dua minggu, tapi rasanya untuk menyeberang jalan pun sama susahnya sebagaimana Brooks hambir ditabrak mobil. Semua mendadak asing. Kaget saat becermin karena merasa saya jelek sekali dengan kulit wajah maupun sekujur tubuh yang gosong, kepala botak yang tumbuh malas-malas, serta mata bergayut kantung. Ingin kembali lagi? Brooks iya, tapi saya, tidak, terima kasih.

Ada satu istilah di sana yang berkesan bagi saya sampai sekarang. Ekstra puding. Istilah pengganti untuk coffee break atau jeda 15 menit sekitar pukul 10 pagi. Apakah menunya cuma puding? Tidak ada sama sekali, malahan. Yang justru sering hadir adalah getuk, kue talam, lemper, dan lontong. Puding, yang termaktub sebagai nama, tidak pernah ada.

Kenapa berkesan? Tidak tahu. Seneng aja dengernya. Tak perlulah alasan. Seperti cinta, kalau terlalu banyak alasan, mungkin kita tidak sungguh-sungguh terkesan.

Ekstra puding. Puding, makanan yang setengah padat, setengah cair. Lembek. Tapi membuat segar siapa pun yang memakannya. Manis. Dingin. Mudah ambyar, tapi tak apalah karena puding bukan rakyat yang konon harus senantiasa bersatu. Toh lengket-lengket juga kalau ditambah fla susu.

Memang, makan apa pun di sana, tidak ada yang bikin enak. Sangat tidak dianjurkan untuk direview Food Blogger. Pagi, siang, sore, semua menu dapur yang aroma seisi ruangannya bikin mual harus dimakan tergesa-gesa karena katanya di sana bukan warteg atau restoran. Selain ke diskotek, FPI harusnya sidak juga ke sana karena cara mereka makan tidak sesuai sunah rasul yang menganjurkan mengunyah 33 kali sebelum ditelan. Silakan kalau berani.

Apalah itu, barangkali setiap hari kita butuh kekuatan tambahan pada waktu tertentu. Tenaga ekstra. Dalam jeda yang tentu takkan pernah lama sebab waktu tergolong sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, mungkin. Dalam suasana ketergesa-gesaan, seolah-olah sepuluh menit kemudian mau kiamat saja. Supaya kembali semangat menghadapi apa pun, kita tak pernah tahu. Supaya kembali menjelma air yang hendak diapa-apakan pun tetap bergeming.

Apa merek pemutih wajah yang cepat mengembalikan wajah rupawan?[]

04 May 2017

Hujan Magrib

No comments :

Pelet-pelet likuid mengetuk kaca pengemudi, menampar
helm pengendara, menenun peluh hasil memeras
seharian demi tuntutan entah siapa menuntut, tidak jelas,
tapi semua merasa harus tunaikan tuntas.
Masih banyak yang merasa perlu bekerja keras.

Ingin lekas sampai rumah adalah kemewahan ketika
lampu langit mati menyalakan pompa awan-awan hitam
gendut menjelang pukul lima dan tidak ada yang
tahu kapan ia berhenti. Semua ingin
pulang tepat waktu, sudah cukup bahagia.
Kesuksesan tak pernah tepat waktu.

Tenda bubur ayam ramai, tenda pecel lele semarak.
Tidur tenang ibu-ibu penjual tahu granat, pisang cokelat, seblak keparat,
sudah cukup lelah menggaruk inovasi apa lagi untuk
memuaskan pelanggan yang tidak lebih setia dari penyintas politik.

Jas hujan bocor, aspal licin, lubang menyamar, menyita
stok waspada yang sudah habis seharian. Tidak ada yang luar biasa;
luar biasa hanya milik pebisnis asuransi dan penjaja mimpi.

Merakit perahu kertas saat hujan, mengapungkannya
ke parit. Sabar menunggunya mengambang jauh.
Atau keburu lapuk oleh hujan tanpa sempat melajukan harapan.
Butuh lebih dari sekadar harapan untuk terus berjalan.[]