30 June 2017

Paska Raya

No comments :

Di kawasan pariwisata, bising tan-tin-tan-tin mengambang di udara berselimut polusi kendaraan aneka kota. Selain berekreasi, semua punya tujuan yang relatif sama. Pulang. Ke kampung halaman. Segelintir lain, sekadar turut memeriahkan. Ingin bersama-sama merayakan liburan pada musim lebaran. Tidak perlu ada liburan musim panas, musim dingin di sini. Liburan lebaran, saya rasa, sudah cukup mewakili aspirasi segenap rakyat, tak peduli musim rambutan atau durian, tak peduli muslim atau bukan.

Hari ke sekian lebaran, sudah tiga hari saya masuk kerja lagi. Kontras dengan lika-liku jalanan daerah wisata, jalan raya penghubung rutinitas masih lengang. Lampu merah hemat menyala, kelap-kelip oranye yang mendominasi. Sekolah-sekolah belum buka, bank-bank sedang cuti bersama. Penjual bubur ayam dan nasi kuning belum mau mangkal. Porsi nasi padang lebih sedikit dari biasa, Uda rupanya berupaya mengakali harga sembako yang masih di luar biasa.

Tiba di tempat kerja lima belas menit lebih cepat, dengan parkiran motor hanya terisi sepertiga kapasitas. Jalan pulang lebih lengang, kini gunung salak dapat saya pandang sebagai keindahan, sebelumnya luput, tatap semata terfokus pada kemacetan dan lebat hujan. Sebagian besar mengambil cuti, agar leluasa tunaikan tradisi menjelang Idulfitri. Mudik. Mulang ke udik?

*

Sejak kapan tradisi mudik diberlakukan? Tradisi yang menyenangkan, namun terkadang merepotkan. Memberatkan, bagi yang tidak punya uang. Menyedihkan, bagi yang sudah tidak punya ayah dan ibu. Mengenaskan, bagi yang sudah tidak punya kampung halaman, telah berubah menjadi kota mandiri berwawasan lingkungan (saya merasa lebih tepat dengan menyebutnya berwawasan perbankan). Menakjubkan, bagi yang justru harus bertugas di instansi masing-masing, pada hari kemenangan. Bukan, tugas bukanlah tali kekang, kita lebih suka anggapnya sebagai penghargaan dalam bentuk kepercayaan... yah, tak apa, katakanlah begitu.

Data statistik kecelakaan setiap tahun sebelum-setelah lebaran, bukan halangan bagi kita, mereka. Kematian, konon adalah takdir yang harus diterima masing-masing makhluk, semua pasti dapat giliran. Perkara waktu saja. Kebahagiaan bersama keluarga masih menjadi tujuan utama yang sontak memupus keraguan terhadap kehidupan pada masa depan serta kekhawatiran menyongsong kematian.

Tanpa urbanisasi, saya rasa, takkan ada tradisi ini. Arus perpindahan dari desa ke kota membuat banyak orang punya tempat asal dan tempat baru, sehingga selalu ada tempat untuk pulang. Dua puluh tahun mendatang, belum tentu. Orang-orang itu, termasuk saya mungkin, akan menjadi tua. Akan menjadi orangtua yang punya anak. Akankah anak-anak kita nanti berurbanisasi? Ke kota mana lagi? Bukankah Jabodetabek sudah mentok sebagai takaran kemakmuran? Atau ke luar negeri? Ah, memang mudah berpindah kewarganegaraan? Memang murah menjadi imigran?

Kesejahteraan, menimbulkan efek lain yaitu kecemasan. Jika sudah merasa makmur, kita cenderung ingin mempertahankannya sebagai keabadian yang seolah tabu diusik oleh siapa pun termasuk oleh Tuhan, mungkin. Bertahan di sana, enggan untuk melakukan perubahan, termasuk dalam bentuk perpindahan. Tentu tak mudah kelak mengizinkan anak-anak kita merantau ke kota lain yang menurut kita tidak ada yang lebih baik dari Jabodetabek dari segi jaminan kesuksesan. Mau ke mana lagi?

Tiga puluh tahun mendatang, Jabodetabek pada saat lebaran, mungkin, tetap ramai. Kita tidak butuh lagi jalan tol sepanjang apa pun sebagai penyalur hasrat pulang, sebagai penuntas rindu. Orangtua dan anak tinggal di kota yang sama. Orangtua bakal berat membiarkan anaknya meninggalkan potensi kemakmuran berupa lokasi kota strategis untuk berkarier dan menimbun investasi. Pasti. Saya rasa, tidak akan jauh-jauh dari tempat saat ini, sehingga arus mudik takkan lagi sederas sebelum-sebelumnya. Pulang bukan lagi perjuangan tahunan menahan pegal puluhan jam di darat, laut dan udara.

Sementara itu, desa-desa bergeliat mengejar nilai-nilai tertentu supaya tersebut sebagai perkotaan, namun tentu bakal berat prosesnya. Semustahil Mi Sakura yang dapat melampaui market Indomie. Namun, setidaknya, semoga desa melahirkan generasi yang betul-betul terlahir untuk membangun desa, bukan seperti saya yang meninggalkan begitu saja desa demi mengejar hasrat pribadi yang (mau bagaimana lagi) belum saya temukan padanannya di sana. Desa nanti, menyediakan semua, apa pun yang dibutuhkan penduduk tanpa harus pergi dari sana ke kota. Termasuk kemakmuran untuk semua.

Selamat lebaran untuk kemarin. Selamat memamah remah-remah liburan untuk dua hari besok. Selamat menimbun benci, menyambut suci. Sekali lagi, sampai nanti.[]

No comments :

Post a Comment