22 August 2017

Bet and Get

No comments :

Apa yang terjadi setelah 26 tahun? Terlewatkan begitu saja bersama pekerjaan sampai pukul tiga pagi. Mungkin ini yang namanya dewasa, atau ya pasti kamu lebih suka mengatakannya tua. Ah, tapi memang dari dulu juga begitu-begitu juga sih. Apa yang perlu saya gelisahkan dengan ulang tahun tanpa perayaan. Saat ini, yang pantas dirayakan cuma keheningan.

Memasuki pertengahan tahun, menengok diri saya sekarang, seperti mendengarkan kembali rapalan doa-doa yang dahulu sempat saya panjatkan kepada Yang Maha Baik. Saya sangat bersyukur dapat melewati masa-masa sulit, meskipun tentu tidak mudah. Tanpa pernah demikian, mungkin saya tidak dapat mengetahui kekuatan saya, apa yang dapat dan tidak mungkin saya kerjakan, apa-apa saja yang mustahil saya angankan. Dan baru tersadar, kekuatan saya cuma satu: nekat. Bet and get.

Semula saya terlalu meyakini bahwa kerja keras bakal telurkan hasil maksimal. Tapi ternyata dikerjakan sampai botak pun, kalau memang kita tidak punya "rasa" di situ dan ditambah dengan takdir yang tak berkehendak, hasilnya nol. Bahkan minus, seminus-minusnya. Menyenangkan apabila sejak awal kita sudah tahu kekuatan masing-masing, tetapi itu mustahil. Gagal berkali-kali adalah subjek kuliah abadi.

Kini saya lebih percaya, hidup adalah bertaruh. Mulai dari memilih sekolah di mana (ini ternyata lumayan ngefek banyak sama masa depan), melamar kerja ke perusahaan mana, melamar cinta ke siapa. Fase demi fase, saya bagai memasang taruhan yang menurut saya paling cocok, menguntungkan atau tidak itu bagi saya sih relatif. Takkan lagi kecewa apabila meleset, sebab sudah menyadari bahwa itu sudah kehendak terbaik-Nya, dan tidak terlalu bahagia apabila tembus lantaran bisa jadi hal demikian sewujud jebakan-Nya dalam bentuk ujian. Kenyamanan belum tentu aman.

Seseorang, ada yang masih memercayai bahwa pedoman hidup nomor satu adalah planning. Katanya, segala hal harus direncanakan agar jangan sampai kapal kita karam. Ah, saya pikir, planning adalah sebuah keharusan dan dilakukan setiap hari, serutin makan, minum, mandi. Kita harusnya sudah melampaui itu. Beyond limit. Seperti menyanyi, apabila seseorang ingin jadi penyanyi hebat, tidak cukup dengan berbekal suara merdu saja. Nah, saya pikir, si pemuja rencana masihlah setara dengan penyanyi yang sekadar suaranya bagus. Enak didengar, tapi tak menyampaikan insight dan manfaat apa-apa.

Bagi saya, consciousness melampaui planning; hal yang sering orang-orang sembah itu. Tetapi memang, bertaruh secara sadar mengharuskan kita konsekuen terhadap segala hal yang terjadi kelak. Komit dengan taruhan-taruhan yang kita pasang, tak usah menggerutu kalau tak sesuai angan. Siapa yang tahu kalau para penjudi-penjudi itu justru lebih mengimani Tuhannya sebab lebih memasrahkan hartanya daripada kita yang akhir-akhir ini semakin percaya dengan nominal-nominal investasi dapat abadi dimiliki?

26 tahun, jika saya seorang atlet sepakbola (atau atlet olahraga apa pun), nilai jual saya di bursa transfer dapat melonjak tajam sebab mulai menemukan kematangan, setidaknya sampai usia 30, atau justru merosot perlahan akibat terlena dengan kenyamanan personal. Entahlah, saya tak sanggup memposisikan saya di mana, yang pasti saya masih ingin menghabiskan jatah gagal.

Apakah bet and get adalah tagline yang cenderung berkesan optimis? Jika kamu masih mengartikannya begitu, mungkin tempat main kamu kurang jauh. Atau kamu adalah fresh graduate yang langsung dapet kerjaan enak tanpa pernah merasakan kartu ATM ditelan mesin dan gorengan adalah menu makan besar kamu sesehari. Kamu gak perlu lah baca tulisan di atas. Instastories kamu telat update tuh.[]

Photo credit: Utku Yaman

02 August 2017

Detail dalam Dunkirk

No comments :

Menonton film-filmnya Nolan, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, benci beberapa kali mendengar celotehan di belakang, "Ah, gini doang? Datar!" Atau kedua, kita hanya dapat terdiam, entah takjub, terpesona dengan kegemilangan Nolan, atau bener-bener gak ngerti abis nonton apaan. Tetapi, setelah Inception, Interstellar, saya lagi-lagi harus menjura kepada bapak jenius itu karena sukses melahirkan eksperimen selanjutnya.

Tidak ada tokoh utama. Tidak ada pahlawan. Semua hanya sedang bertahan hidup. Dan ternyata, untuk sekadar bertahan saja, sangat sulit bagi manusia mana pun. Meskipun sudah berlari, melompat, berguling, mengerahkan kekuatan ekstra berkat bertahun-tahun ditempa di medan latihan, bagaimanapun peluru tak mengenal training hours. Yang kita butuh cuma sedikit keberuntungan.

Bersama seorang serdadu lain, tokoh yang sering disorot dalam film ini (saya tidak tahu namanya sebelum saya berusaha mencari di IMDB, dan saya tidak dapat mengatakannya sebagai aktor utama karena percayalah, tidak ada yang benar-benar tersorot sebagai pahlawan di sini) berhasil menghindari tajam peluru, menyusup ke atas perahu atau kapal pengevakuasi dengan cara menggotong prajurit cedera supaya dapat mudah naik tidak peduli dia tentara Inggris atau Prancis.

Dia dan ratusan ribu serdadu lain berusaha bertahan di dermaga Dunkirk dari musuh yang tidak nampak, dari darat, laut dan udara. Ini yang saya salut dengan film ini. Lebih mencekam mana, musuh yang terkesan kuat, seram di mata kita, jelas-jelas nampak sulit dikalahkan, ataukah musuh yang kita tidak tahu di mana mereka berada, akan tetapi peluru demi peluru tiba, semakin mendekat, seakan mereka tinggal beberapa hasta dari tempat kita berlindung?

Saya lebih takut dengan musuh yang tidak nampak. Dan Nolan, saya pikir, cukup berhasil membuat saya percaya akan kehadiran musuh tersebut. Dengan scoring mencekam khasnya, situasi lokasi dan suasana hati pemain yang kelam, dan tempo yang seolah tak berujung, menggiring benak saya dari adegan yang mungkin bagi segelintir orang membosankan, namun saya menikmatinya sebab bagai turut tenggelam dalam layar lebar. Ya, ini patokan film bagus menurut saya; yang sukses membuat saya tenggelam, bagaimanapun deras-lambat alur ceritanya. 

Dunkirk bukan film terbaik Nolan. Dunkirk adalah eksperimen terbaik yang pernah diwujudkan olehnya. Detail, ya mungkin inilah kata kunci untuk Dunkirk. Saya disuguhi detail adegan, detail suasana yang mungkin ibarat Nolan sedang melukis, dia sedang mencoba aliran realisme campur romantisme namun terkadang impresionis, membuat saya memercayai apa yang terjadi, serta membuka kepenasaran saya untuk mengorek sejarah Inggris lebih detail lagi, apakah ini memang sungguh-sungguh terjadi? Atau Nolan pantas mendapat penghargaan kategori pendusta terbaik?[]