31 October 2017

Ngulik 4: Ramai-ramai Memuji yang Biasanya Bikin Kita Jemu

No comments :

Secara keseluruhan, iklan harus simpel dan clear supaya mudah dibaca kerumunan yang lewat dalam waktu tidak lama. Bahasa iklan harus padat, ringkas, namun meaningful agar mudah dicerna. Tampak visual harus memikat pandang, mengikuti tren sekarang, misal mengadopsi style flat dengan proyeksi itu atau efek-efek kuas cat air atau cat tumpah, dengan sedikit gradasi cahaya. Apakah benar?

Bagi Gojek, belum tentu, bahkan mungkin tidak benar. Buktinya, beberapa hari lalu mereka tidak mesti berepot-repot mendandani reklame vertikal Gojek di kawasan Kuningan dengan sangat menor demi memancing calon pelanggan, mempertahankan pelanggan setia. Cukup berkanvas putih polos, bersenjatakan mungkin sekitar 200 kata yang merangkai paragraf konten iklan mereka. Sekilas tampak sama seperti pekerjaan rumah anak SMP yang baru pertama kali mencetak tugas ikhtisar pada sehelai kertas HVS sendiri.

Bersenjatakan 200-300 kata, apakah menurut Anda iklan Gojek terbaru ini terlalu berlarat-larat, menjemukan, sudah meleset dari teori marketing? Sila baca dengan santai, lantaran menurut saya bahasanya enak sekali dibaca, copy ini lebih mirip curhatan anak SMA yang berandai-andai Jakarta berkondisi terbalik, meski sudut pandang orang kedua ini (kamu) lebih cenderung tertambat kepada young adult yang baru punya anak berusia sekitar 3-4 tahun.


Perusahaan rintisan transportasi dan logistik tersebut dengan lancangnya memajang reklame yang berkesan polos tanpa make-up di kawasan strategis; strategis dalam segi lokasi dan harga pemasangan yang tinggi. Menurut Chief Marketing Officer Gojek, Piotr Jakubowski, hal ini selain untuk menghibur pengendara yang telanjur jengah bermacet-macet tiap hari, pun bertujuan guna mengetes apakah memang pamor sarana promosi fisik sudah melamur sehingga pada era saat ini untuk mengkreasi ads yang efektif dan efisien hanya mungkin berhasil disebarkan melalui media digital?

Sambutan khalayak ternyata positif. Dari mulut ke mulut, bahkan dari jempol ke jempol melalui gawai masing-masing, media cetak berupa reklame fisik itu malah secara cuma-cuma didigitalisasikan oleh para netizen melalui share demi share melalui grup Whatsapp maupun aneka media sosial. Ya, sasaran Piotr melampaui target; ia telah menciptakan iklan media cetak sekaligus media daring, namun sekadar keluar ongkos untuk melansir di media cetak saja! Tercapailah semuanya: efektif, efisien, dan keren di mata netizen dan citizen! Lantas apa lagi yang perlu diperdebatkan?

Ada, rupanya. Segelintir warganet mengatakan bahwa Gojek menyontek iklan di luar negeri yang menggunakan cara serupa dalam mempromosikan produk mereka. Seperti biasa, netizen selalu bersikap politically correct. Apakah meniru sebuah cara adalah salah? Padahal netizen tersebut berkoar-koar dimediai oleh HP Xiaomi yang 90% menjiplak iPhone luar dalam, dan laptop mereka masih pakai Windows bajakan. Seharusnya mereka bermediasosial menggunakan pisang saja yang terang-terang pure orisinal ciptaan Tuhan tanpa campur tangan riset & marketing, kalau mereka ingin konsisten sebagai pemuja keaslian.

Jadi, menurut saya, sangat tidak penting kalaupun Gojek menjiplak atau sebatas terinspirasi dari karya iklan lain. Apabila sasaran atau objektif tim Marketing Gojek tepat bahkan melampaui target, maka tugas mereka sudah selesai. Selanjutnya, kembali berkreasi. Good job!

Namun demikian, metode advertising anti-teori semacam ini sebaiknya tidak usahlah menjadi tren. Saya tidak akan sanggup membaca iklan Meikarta dengan copy sepanjang ini dipasang di Cirebon, atau sepanjang jalan raya lintas Jawa, kalaupun dipaksakan nanti diklaksonin terus diserempet bus Luragung lantaran melaju lambat-lambat. Anda ingin pindah ke Meikarta? Mari kembali ke kenyataan. Makin pusing keingetan cicilan-cicilan? Asikin aja.[]

13 October 2017

Ngulik 3: Candu Menyapu Beranda Maya

No comments :
Beberapa hari lalu istri ngasih tahu ada iklan baru di Net TV. Saya pikir iklan baru yang ia sebut masih seputar acara-acara Net seperti biasa, sebab memang sedikit produk yang berani beriklan di stasiun televisi macam Net yang segmentasinya niche banget. Setelah saya tonton, ternyata semacam iklan layanan masyarakat. Tapi, namanya Net, tentu mereka tidak mengelaborasi iklan gerakan moral semembosankan bikinan instansi-instansi pemerintah. Iklannya bagus.


Berdurasi satu menit, iklan tersebut secara mangkus mengajak kita untuk mengisi waktu lebih bijak. Agar kepala tidak melulu menunduki sabak bercahaya. Agar kerja jempol tidak cuma scroll-scroll. Mengajak kita agar mulai berkarya, bukan terus-terusan membaca-menyimak-menonton yang fana.

Saya sendiri masih belum mengerti mengapa kita semua harus terhubung sedekat ini. Lapisan sosial A mau tidak mau harus terhubung dengan aneka ragam strata, yang sebelumnya tersekati oleh terbatasnya kepemilikan alat atau media komunikasi karena harganya belum memungkinkan dikonsumsi sebagai kebutuhan primer. Saat ini, alat komunikasi sangat murah, kian murah, secara demografis sudah dapat dijangkau segala kalangan sebagai kebutuhan pokok. Dan fitur yang menjadi alasan kuat kita membeli smartphone adalah aplikasi media sosial.

Meski punya banyak dampak positif, akibat socmed yang seolah selalu menampilkan keindahan dan kesempurnaan adalah kewajiban, semua orang jadi insecure, susah banget untuk bersyukur. Bertemu teman-teman lama yang sebelumnya adalah kebahagiaan, kini setelah tersedia beranda maya, malah jadi sebel karena merasa hidup kita tidak sebahagia mereka. Sanak keluarga makin leluasa untuk pamer pencapaian diri maupun anaknya berkat mudahnya menyebar pesan di grup Whatsapp keluarga. Semua merasa punya panggung; tapi semua tidak punya penonton, hanya ingin ditonton.

Remaja desa yang orangtuanya seorang petani, setelah "tercerahkan" oleh unggahan-unggahan di aneka kanal media sosial idolanya, jadi makin enggan untuk meneruskan profesi si ayah. Dia malah kepengen jadi influencer lantaran tergiur penghasilan ratusan juta cukup dengan ngetwit atau mengunggah video pendek di instagram. Tidak seperti ayah atau kakeknya yang hidupnya habis di sawah, berpayah-payah dari pagi sampai petang dibakar matahari sesehari, hasil panen setahun hanya sebanding dengan Raisa ngetwit sekali plus satu foto selfie dengan produk yang dia endorse.

Berkat kemajuan teknologi, gap informasi semakin tipis, namun demikian gap kemakmuran justru makin tebel karena persaingan bisnis yang gila-gilaan gara-gara... lagi-lagi teknologi. Kepengen ini. Kepengen itu. Pengen jadi ini. Pengen jadi itu. Padahal kita sama dia itu jauh beda nasibnya. Tapi karena otak kita terpapar arus informasi terlalu deras, jadi gak fokus sebenarnya kita mau ngapain... apa sih yang sungguh-sungguh kita butuhkan. Otak terlalu cepat mengolah keinginan demi keinginan, dan tubuh kita tidak kuasa mengkonversinya menjadi output, yah, katakanlah karya.

Semua angan hanya berbuah angan, bahkan menguap dan tergantikan oleh angan-angan yang baru, persis seperti recent updates atau instastories yang dalam kurun waktu 24 jam secara otomatis terhapus. Dan update-an instastories kecil kemungkinan dinominasikan di Piala Citra atau Oscar, jadi saya tidak menganggap itu sebagai karya yang dapat diapresiasi. Entahlah nanti kalau generasi ini sudah dewasa dan jadi decision maker nanti, mungkin bersocmed malah jadi kewajiban tiap-tiap warga negara dan terdapat sanksi apabila dilanggar.

Net TV mungkin berusaha menjelaskan kepada warganet, cukup bayangkan membuka beranda media sosialmu seperti membuang hajat; sebentar saja, tak usah berlama-lama, dan kalau sudah selesai, jangan lupa cebok.[]