13 October 2017

Ngulik 3: Candu Menyapu Beranda Maya

No comments :
Beberapa hari lalu istri ngasih tahu ada iklan baru di Net TV. Saya pikir iklan baru yang ia sebut masih seputar acara-acara Net seperti biasa, sebab memang sedikit produk yang berani beriklan di stasiun televisi macam Net yang segmentasinya niche banget. Setelah saya tonton, ternyata semacam iklan layanan masyarakat. Tapi, namanya Net, tentu mereka tidak mengelaborasi iklan gerakan moral semembosankan bikinan instansi-instansi pemerintah. Iklannya bagus.


Berdurasi satu menit, iklan tersebut secara mangkus mengajak kita untuk mengisi waktu lebih bijak. Agar kepala tidak melulu menunduki sabak bercahaya. Agar kerja jempol tidak cuma scroll-scroll. Mengajak kita agar mulai berkarya, bukan terus-terusan membaca-menyimak-menonton yang fana.

Saya sendiri masih belum mengerti mengapa kita semua harus terhubung sedekat ini. Lapisan sosial A mau tidak mau harus terhubung dengan aneka ragam strata, yang sebelumnya tersekati oleh terbatasnya kepemilikan alat atau media komunikasi karena harganya belum memungkinkan dikonsumsi sebagai kebutuhan primer. Saat ini, alat komunikasi sangat murah, kian murah, secara demografis sudah dapat dijangkau segala kalangan sebagai kebutuhan pokok. Dan fitur yang menjadi alasan kuat kita membeli smartphone adalah aplikasi media sosial.

Meski punya banyak dampak positif, akibat socmed yang seolah selalu menampilkan keindahan dan kesempurnaan adalah kewajiban, semua orang jadi insecure, susah banget untuk bersyukur. Bertemu teman-teman lama yang sebelumnya adalah kebahagiaan, kini setelah tersedia beranda maya, malah jadi sebel karena merasa hidup kita tidak sebahagia mereka. Sanak keluarga makin leluasa untuk pamer pencapaian diri maupun anaknya berkat mudahnya menyebar pesan di grup Whatsapp keluarga. Semua merasa punya panggung; tapi semua tidak punya penonton, hanya ingin ditonton.

Remaja desa yang orangtuanya seorang petani, setelah "tercerahkan" oleh unggahan-unggahan di aneka kanal media sosial idolanya, jadi makin enggan untuk meneruskan profesi si ayah. Dia malah kepengen jadi influencer lantaran tergiur penghasilan ratusan juta cukup dengan ngetwit atau mengunggah video pendek di instagram. Tidak seperti ayah atau kakeknya yang hidupnya habis di sawah, berpayah-payah dari pagi sampai petang dibakar matahari sesehari, hasil panen setahun hanya sebanding dengan Raisa ngetwit sekali plus satu foto selfie dengan produk yang dia endorse.

Berkat kemajuan teknologi, gap informasi semakin tipis, namun demikian gap kemakmuran justru makin tebel karena persaingan bisnis yang gila-gilaan gara-gara... lagi-lagi teknologi. Kepengen ini. Kepengen itu. Pengen jadi ini. Pengen jadi itu. Padahal kita sama dia itu jauh beda nasibnya. Tapi karena otak kita terpapar arus informasi terlalu deras, jadi gak fokus sebenarnya kita mau ngapain... apa sih yang sungguh-sungguh kita butuhkan. Otak terlalu cepat mengolah keinginan demi keinginan, dan tubuh kita tidak kuasa mengkonversinya menjadi output, yah, katakanlah karya.

Semua angan hanya berbuah angan, bahkan menguap dan tergantikan oleh angan-angan yang baru, persis seperti recent updates atau instastories yang dalam kurun waktu 24 jam secara otomatis terhapus. Dan update-an instastories kecil kemungkinan dinominasikan di Piala Citra atau Oscar, jadi saya tidak menganggap itu sebagai karya yang dapat diapresiasi. Entahlah nanti kalau generasi ini sudah dewasa dan jadi decision maker nanti, mungkin bersocmed malah jadi kewajiban tiap-tiap warga negara dan terdapat sanksi apabila dilanggar.

Net TV mungkin berusaha menjelaskan kepada warganet, cukup bayangkan membuka beranda media sosialmu seperti membuang hajat; sebentar saja, tak usah berlama-lama, dan kalau sudah selesai, jangan lupa cebok.[]

No comments :

Post a Comment