Skip to main content

Posts

Menemukan Arti Kesempurnaan di Lawangwangi Creative Space Bandung

Sebuah tempat biasa akan menjadi istimewa ketika seni menyentuhnya. Namun, bagaimana jika sebuah destinasi daerah yang memang sudah tersohor indah dan mendamaikan, kemudian dipoles oleh tangan-tangan magis seniman, lantas kita disuguhi pula oleh makanan enak dari racikan koki?


Lawangwangi Creative Space adalah satu dari sedikit destinasi yang berhasil memadukan antara tempat yang indah, karya-karya seni memikat, dan santapan lezat. Kami takkan pernah menyesal pada Desember 2017 sempat sambangi tempat spesial itu.

Lawangwangi Creative Space berada di kawasan Dago, tepatnya di Jl. Dago Giri No.99a, Mekarwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Rute menuju ke sana sebetulnya sudah sangat memadai untuk kendaraan pribadi, hanya saja kondisi lalu lintas yang lebih parah dari kategori macet ditambah kontur jalanan yang menanjak merupakan tantangan tersendiri untuk dapat tiba ke lokasi.


Namun tak usah khawatir Anda akan menyesal. Sesampainya di sana, kami disambut hangat suami istri yang kemudi…
Recent posts

Makan Sesuka Hati di Sukahati Cafe Cibinong

Satu lagi kafe di Cibinong yang cozy untuk nongkrong berlama-lama.

Namanya Sukahati Cafe yang berada di Jl. Raya Sukahati No.41, Cibinong, tepatnya di seberang Sate Tegal Laka-Laka. Hingga Sabtu kemarin, saya sudah dua kali ke kafe di Cibinong ini, pertama yaitu beberapa bulan lalu dan kemarin saya ke sana lagi untuk makan siang sembari menjajal menu lain.



Pertama kali kami mampir ke kafe ini pada malam hari sepulang kerja beberapa bulan lalu. Kesan pertama saya adalah: tempatnya lega banget. Pun dengan pelataran parkir yang luas, kafe ini sangat saya rekomendasikan untuk keluarga maupun anak-anak muda.



Menu apa saja yang ditawarkan Sukahati Cafe Cibinong?

Mulai dari menu lokal seperti nasi goreng, mi goreng, kwetiau, ayam geprek, dan sebagainya ada di sini. Tersedia pula menu western seperti aneka sandwich, rice bowl, pancake, pasta, hingga burritos beef.



Pada kunjungan pertama saya sengaja mencoba menu yang terpampang pada standing banner di pinggir jalan depan Sukahati Cafe, yakn…

Memviralkan Kemerdekaan di Era Digital

Sudahkah kita merdeka?
Adalah pertanyaan provokatif yang kerap saya temui di linimasa Twitter sejak 2010 hingga 17 Agustus 2017. Di hari kemerdekaan itu, ada saja influencer, endorser, maupun orang-orang terdekat yang mencuit perihal keresahan bahwa kemerdekaan belum merata dirasakan oleh setiap rakyat Indonesia hingga ke pelosok negeri.
Padahal, bukankah jika belum merdeka, kita semua termasuk saya sendiri mustahil bisa leluasa beropini dalam cuitan atau mengudarakan broadcast message grup percakapan, bahkan mustahil dapat mengunggah postingan blog seperti ini sebebas saat ini?

Atau apakah kemerdekaan harus selalu dimaknai sebagai kemakmuran & kesejahteraan?
Saya coba melontar kembali pertanyaan tersebut, sungguhkah kita belum merdeka sehingga provokasi "Sudahkah kita merdeka?" harus selalu diputar ulang setiap tahun semacam alunan lagu Maher Zain yang setia mengiringi orang-orang berbelanja di mal saban bulan Ramadan?

Digitalisasi Rampingkan Digit Kemiskinan
Salah sat…

Sempat Ragu Singgah ke Warung Biru

Beberapa destinasi kuliner olahan laut yang pernah saya coba biasanya menawarkan aneka hidangan laut yang diklaim masih fresh dari sumbernya. Hanya saja, konsekuensi dari menu fresh tersebut yang harus saya terima adalah harganya cenderung mahal.

Mungkin inilah mengapa rumah makan atau tenda seafood sekalipun tidak pernah mencantumkan harga pada lembar-lembar menunya. Supaya kita fokus saja dulu menikmati hidangan di meja tanpa perlu menakar seberapa dalam kocek mesti dirogoh, sebab seringkali tahu-tahu mesti nebus seratus ribu per orang untuk menu yang tak seberapa banyak dan enak.

Saya pun sempat berpikiran demikian saat hendak menjajal sajian seafood di Warung Biru. Malam itu kami melipir untuk makan malam ke Warung Biru yang berlokasi di Jalan Kapten Piere Tendean, Karangrejo, Banyuwangi, dekat Hotel Selamet, cukup dekat dari pusat kota. Walau sekilas mudah dijangkau, kami sempat memutar jalanan satu arah tersebut sekali lagi karena ragu-ragu saat menengok warung makan tersebut, …

Bersabar Menunggu Rujak Soto Bu Sum

Alasan utama saya dan istri untuk mengunjungi Banyuwangi pada Februari 2018 kemarin adalah urusan perut. Kita pengin mencicipi makanan yang belum pernah dicoba dan tidak ada di Bogor. Rujak soto Bu Sum adalah salah satu destinasi yang direkomendasikan oleh Mas @alannobita sehingga sudah istri catat pada itinerary-nya.

Bukankah rujak ada di Bogor? Memang ada. Soto? Tentu saja ada, malahan Bogor punya soto sendiri: soto kuning dan soto mi. Lalu, mengapa rujak soto?

Waktu itu sepulang dari wisata pinus Songgon, kami berkesempatan untuk mampir ke tenda rujak soto Bu Sum di Jl. Letjen Di. Panjaitan, No. 24, Kampungmandar, Kec. Banyuwangi. Lokasinya cukup mudah ditemukan via Google Maps dan memang tak terlampau jauh dari jalan arteri.

Bernaung tenda sederhana tanpa penutup dan tanpa nama di pinggir jalan kompleks, tampak Bu Sum sedang sibuk meracik rujak soto di atas cobek besar, ia berdiri di tengah-tengah para pembeli yang ternyata sudah banyak yang sedang duduk menunggu giliran di bangk…

Merapikan Buku

Meskipun semakin jarang melakukan, bagi saya membaca buku adalah terapi. Bahkan kegiatan merapikan buku pun terapi. Aroma kertas yang walau terkadang bikin sesak karena sempat diguyur bocoran hujan dari atap, sulit tergantikan oleh halaman demi halaman paperless sebuah file PDF. Warna-warni punggung buku dengan aneka tipografi, menciptakan pola acak yang estetik meski mereka ditata seberantakan bagaimanapun.

Suatu hari yang lampau saya ingat pernah mengidamkan punya banyak buku di rumah. Tertata rapi pada rak dengan klasifikasi abjad nama penulis atau mungkin berdasar negara asal penulis, ya, terus terang sampai sekarang saya masih penasaran sama magis penulis-penulis Jepang yang bersahaja dalam mengolah tulisan itu.
Sekarang buku-buku itu memang ada, belum sebanyak harapan saya, tapi sesedikit itu pun rasanya ada saja buku yang belum sempat dibaca atau cuma separuh tebal buku terbaca.
Sekarang, alih-alih membaca buku tebal, sekadar membaca artikel di situs berita yang instan-instan …

Menepi di Foresthree

Sebenernya sudah lama saya tahu ada tempat makan namanya Foresthree di Bogor berkat tipografi di tembok kafe tersebut yang gede sekaligus jelas karena style hurufnya bold. Tapi baru sebulan yang lalu saya dan istri kesampaian mampir ke sana karena lagi males macet-macetan ke Pajajaran.



Berlokasi di Jl. Achmad Adnawijaya, Tegal Gundil, Bogor Utara, Foresthree menawarkan sensasi makan seperti di hutan. Dengan banyaknya spot-spot yang instagramable buat selfie dan arsitektur industrial yang menurut saya adalah sinonim dari hareudang tapi ternyata cukup oke karena banyak kipas angin di sana-sini, Foresthree bikin anak-anak muda makin betah untuk nongkrong berlama-lama di sana.



Menu di Foresthree apa aja?
Sepintas yang saya lihat kemarin, menu Foresthree terdiri dari sajian Western dan Indonesia, tapi tampaknya menu Western lebih mendominasi. Saya memesan Riveria Pizza dan Americano Coffee, sedangkan istri mesen Spaghetti Carbonara dan Smoothies apa gitu namanya lupa.

Waktu tunggu pesanan …