Suatu pagi di sudut kota Bogor.

"Bang, yang satu gak pake bihun, yang satunya pake taoge tapi gak pake tahu, terus yang satunya lagi kecapnya dikit aja ya," kata seorang ibu muda sembari menggendong anaknya yang masih berusia sekitar satu tahun.

Si abang ketoprak itu hanya mengangguk, lalu mulai meracik bumbu andalannya.

"O iya, yang pake taoge tapi gak pake tahu, pedesnya dikit ya bang. Kalo yang dua, pedesnya sedeng aja," si ibu kembali me-request yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan oleh si abang.

Lalu ada pembeli lagi. Kali ini remaja perempuan.

"Bungkus empat ya bang. Yang satu sedeng, yang satu pedes, yang satunya pedes banget, terus yang satu lagi lontongnya dikit aja," remaja itu langsung melontarkan request-nya.

"Siap neng.. Bentar ya, bikinin buat ibu ini dulu," kata si abang sambil mesam-mesem.

"Oke deh, cepetan dikit ya bang," mata remaja itu tertuju pada smartphone yang dipegangnya lalu ngetwit, "Ciyus deh, lama beut nih si abang. #HuFtBanGeDh." Mungkin.

Kebetulan aku belum melontarkan request seperti ibu-ibu itu. Tidak seperti kepada pembeli sebelumnya, kali ini si abang sendiri yang bertanya tentang pesananku.

"Mau berapa bungkus mas?" 

Hmm, syukurlah, biasanya aku dipanggil pak. "Satu aja bang, makan sini. Pedes ya!"

"Pedes biasa apa pedes banget? Pake taoge? Pake bihun?"

Aku merenung sejenak.

"Emmm, yang nerima saya apa adanya aja bang. Saling mengerti kesibukan masing-masing, gak pundungan. Gak cantik juga gapapa, yang penting gak beda-beda jauh sama Jennifer Anniston deh," entah kenapa aku serasa sedang berada di acara Take Me Out versi di bawah pohon rindang.

Kemudian terjadi keheningan yang panjang di bawah pohon rindang itu.