Ah, dua pekan rasanya terlalu singkat untuk berlibur di suatu tempat yang jarang kita pijak. Terlebih jika daerah yang kita sambangi tersebut meninggalkan kesan mendalam yang akan selalu terkenang-kenang dalam memori. Detik berdetak sangat cepat, satu hari seakan bergulir beberapa jam saja. Jika dalam situasi seperti ini, saya baru menyadari bahwa alangkah ruginya kalau kita menyiakan waktu, karena waktu takkan pernah mau diperintah untuk berjalan mundur.

Sidoarjo ialah sebuah kota kecil penyangga kota metropolitan Surabaya yang juga merupakan wilayah termungil sekaligus terpadat di Provinsi Jawa Timur. Namun, menyandang status mungil dan padat penduduk bukan berarti suasana kota kecil ini kumuh, kotor, semrawut tak keruan.


Ada fenomena unik pada Sidoarjo. Barangkali anda masih mengingat tujuh tahun lalu kota ini pernah dilanda musibah yang tak lazim, yakni banjir. Bukan banjir yang disebabkan oleh air sungai yang meluap seperti di Jakarta sepekan kemarin, melainkan oleh lumpur panas dari perut bumi. Lapindo Brantas, perusahaan kontraktor yang menangani eksplorasi gas dan minyak bumi milik Grup Bakrie ini menyalahi prosedur penambangan yang seharusnya membuat casing terlebih dulu sebelum eksplorasi dilakukan. Alhasil lumpur panas menyembul dari beberapa rekahan tanah akibat human error tersebut, rekahan bertambah banyak, hingga lumpur panas itu menenggelamkan 10 pabrik, 90 hektar sawah, masjid serta ribuan rumah penduduk. Hingga kemarin, ketinggian tanggul lumpur mencapai sekitar 5-7 meter, melebihi ketinggian pohon.

Sudah tentu pada saat itu media sangat gencar memberitakan peristiwa getir ini. Selama tiga bulan berturut-turut berita-berita tentang luapan lumpur Lapindo berhasil mendoktrin masyarakat untuk menandai Sidoarjo sebagai tempat kelam untuk dikunjungi, apalagi untuk berbisinis. Media menggambarkan seolah kota ini sudah mati.

Kerupuk, yang paling khas dari Sidoarjo.

Tapi ternyata tidak. Justru sebaliknya, perkembangan kota kecil ini tumbuh pesat paska tragedi lumpur tersebut. Mal-mal dibangun di beberapa titik strategis, hotel bintang tiga Sun Hotel pun berdiri megah, aneka wisata kuliner mulai dari warung tenda, warung kopi, kafe hingga resto mulai menghiasi Sidoarjo. Perantau, pengusaha muda dari beberapa daerah berdatangan untuk mengembangkan dan merintis usahanya di Sidoarjo. Tidak heran jika sebuah baliho besar berlatar belakang Bupati Sidoarjo mencantumkan kalimat "Sidoarjo, Kota UKM terbesar di Indonesia", karena bila kita menyusuri jalan kota ini tampak berjejer pertokoan tua hingga mal modern yang sama-sama sarat pengunjung, pedagang kaki lima yang menjual beraneka ragam hasil karyanya mulai dari kuliner khas seperti kerupuk, olahan hasil bumi maupun hasil tambak (udang dan bandeng), pakaian serta aksesoris, dan sebagainya yang tampaknya tak pernah kehabisan konsumen.

Kota kecil padat penduduk ini tidak terkesan kumuh, jarang sekali saya menemukan sampah tergeletak di jalan. Selain airnya cukup bersih, sungai dan kali yang mengelilingi Sidoarjo pun mengalir deras, karena tidak terhambat oleh sampah. Bahkan saya dapat menyaksikan ikan-ikan sungai dan sebangsa udang kecil di permukaan sungai. Dapat dipastikan bahwa penduduk pribumi maupun perantau di Sidoarjo mempunyai rasa memiliki yang positif, sehingga di tengah kesibukan mereka dalam berbisnis tidak serta merta melupakan keadaan lingkungan sekitar.

Kini saya percaya bahwa apa yang kita saksikan dalam berita-berita di televisi tidak sedramatis itu. Media seolah tidak pernah kehabisan berita tentang musibah sosial, demonstrasi, tawuran massa, konflik antar suku, dan seabreg berita bombastis yang mempunyai nilai jual tinggi, menurut mereka, karena akan menaikkan rating stasiun televisi tersebut. Akibatnya, rasio antara berita negatif dan positif tidak berimbang. Media secara tidak langsung menutup mata dan telinga kita akan kabar positif di segenap pelosok nusantara. Media menutup mata dan telinga kita dari kabar mengenai adanya pusat UKM Indonesia di kota kecil di Jawa Timur, kota yang sedang beranjak dari paradigma masyarakat Indonesia yang menyimpulkan bahwa ciri khas Sidoarjo hanyalah luapan lumpur panas yang semakin meninggi dari hari ke hari.

Selat Madura
Salah besar jika kita menakar perkembangan Indonesia sebatas DKI Jakarta atau pun Bodetabek. Memang, sebagian besar perantau dari berbagai suku menggantungkan hidupnya di sana. Ada yang sukses, namun banyak pula yang stres. Maka banyak orang yang menyimpulkan bahwa jika ingin menyaksikan pasang-surut ekonomi Indonesia, berkunjunglah ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Niscaya akan tampak oleh kita pengemis yang memasang wajah memelas, pengamen yang mengamen setengah menodong, pedagang yang senantiasa mengeluh karena dagangannya tidak ada yang membeli, hingga pengangguran berdampingan kontras dengan pengusaha yang kekayaannya menggunung dan pejabat berdasi yang dengan santainya mengendarai Toyota Vellfire. Itukah potret Indonesia sebenarnya? Saya pikir anda mempunyai jawaban dengan sudut pandang tersendiri.