Setelah lontong balap khas Sidoarjo, mari kita mencicipi kuliner tradisional khas Jatim yang lain. Kali ini saya menyisir daerah Bangil, Pasuruan. Ternyata di wilayah tersebut terdapat kuliner khas setempat yang dinamai nasi punel. Kata "punel" sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti "pulen".

Sekilas, nasi punel tampak biasa saja, nasi sebesar kepalan orang dewasa berbalut serundeng yang dibungkus atau beralaskan daun, kemudian lauk pauknya kita sendiri yang memilih sesuai selera. Pilihan lauk yang biasa disajikan yaitu paru, lidah, dendeng, empal, babat lalu dipadukan dengan kacang panjang yang dipotong kecil-kecil yang dibubuhi sambal pedas menggigit. Selain itu, kita juga dapat menambah teman nasi lain seperti tempe mendol dan klomotan (daging kikil yang berbumbu). Dan, lauk tambahan yang paling diburu konsumen yakni sate kerang, hingga kabarnya jika datang terlampau siang ke warung nasi ini, kita sudah pasti akan kehabisan.

Mengenai rasa, wuuuhh.. tentu saja nikmat. Nasi pulen yang beraromakan daun pembungkus lalu bertemu dengan aneka macam lauk dan sambal tentu sangat nikmat untuk kita makan tanpa henti, kalau istilah Sunda mah "ngalimed". Tapi saya harus toleran terhadap celana jeans yang makin hari makin merana kesempitan. Maka, saya berpikir beribu-ribu kali untuk menambah porsi, dan akhirnya urung.

Sayangnya, jika anda mempunyai penyakit asam urat atau pun hipertensi bersiaplah untuk gigit jari. Pasalnya, hampir semua lauk yang dikhususkan untuk nasi punel ini terdiri dari jeroan, biang kerok penyakit-penyakit mayor itu. Tanpa jeroan? Kurang nikmat rasanya jika makan nasi punel tanpa ditemani jeroan. Atau jika anda penderita asam urat atau hipertensi namun tetap bersikukuh ingin menyantap santapan penuh jeroan ini, sejenak lupakan penyakit anda sehari itu saja. Satu hari melanggar pantangan tak apa kan, Pak Dokter? Selamat mencicipi!

bersambung? semoga...