Rerintik hujan menguyupi ubun-ubun ketika saya memijakkan kaki di salah satu tempat bersejarah di Kota Pahlawan, Surabaya Kamis siang kemarin. Awan mendung kelabu yang menyelimuti hampir seluruh langit Surabaya tidak menyurutkan niat saya untuk berkeliling menyaksikan saksi bisu perjuangan generasi Indonesia di masa lalu. Sebaliknya, awan mendung seolah refleksi dari keadaan negara yang juga kelabu, tak kunjung memutih hingga kini.

Tugu Pahlawan menjulang seolah berani menantang, seberani pendahulu kita dalam memperjuangkan kemerdekaannya hingga simbahan darah mereka mewarnai sepanjang jalanan Kota Surabaya 1945 yang bergejolak. Gedung Raad van Justitie diluluhlantakkan oleh arek-arek Suroboyo, bendera Belanda yang seenaknya dikibarkan di Hotel Yamato disobek warna birunya oleh pemuda hingga hanya menyisakan merah dan putih. Kobaran semangat yang dipantikkan oleh Bung Tomo seakan meluapkan jiwa arek-arek Suroboyo untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman penjilat-penjilat bangsa Eropa. Merdeka ataoe mati! Allied forced go away! Once and forever, the Indonesian Republic!!

Lanjutkan perjuangan, Surabaya..