Masih suka hujan-hujanan? Masih suka bersorak gembira kala menyaksikan awan mendung, lantas berhamburan keluar rumah untuk bermain air bersama sahabat, masing-masing membuat perahu kertas yang akan dipacu di selokan?

Dulu, saya suka hujan. Sekarang, benci. Bukan apa-apa. Saya adalah salah satu dari sekian juta pengendara motor, yang tak mempunyai atap layaknya mobil bila hujan. Kontan, sekalipun sudah berbalut mantel hujan, itu tak menjamin tubuh saya terbebas dari kuyup. Terlebih bila hujan sangat deras. Setiba di rumah, baju yang saya kenakan bisa diperas layaknya cucian, seluruh badan menggigil. Setelah itu, masuk angin, demam, pilek.

Kekecewaan akan hujan berlaku pula bagi pedagang es cendol. Saya bisa merasakan kekecewaan mereka kala menyaksikan pedagang es cendol memarkir gerobaknya dengan gontai, berteduh dan berjongkok lesu meratapi rinai hujan di depan sebuah toko yang rolling door-nya tertutup. 

Kasihan.

Sebaliknya, hujan malah memberi kebahagiaan bagi segelintir orang. Pedagang payung atau jas hujan, misalnya. Mereka memperoleh pendapatan finansial yang melonjak kala musim penghujan tiba. Atau, belasan anak kecil yang menawarkan jasa ojek payung di Terminal Baranang Siang. Atau, pedagang wedang jahe dan bajigur, yang kebanjiran pelanggan karena dagangan mereka sungguh cocok dengan kondisi dingin tatkala hujan. Atau, Pemda dan Dinas PU. Kuduga, setiap hujan mengguyur kota atau daerahnya, mereka bahagia dan berpesta-pora lantaran dalam waktu dekat akan segera mendapatkan proyek baru perbaikan jalan raya yang rusak akibat terkikis oleh derasnya hujan yang turun seenaknya. Mungkin.

Selain itu, bagi penduduk luar Jawa yang jangka waktu kemaraunya lebih panjang, hujan merupakan sesuatu yang amat dinanti-nanti seperti seorang Ibu yang tengah menanti kelahiran buah hatinya.

Meresapi hal-hal di atas, saya termenung. Dalam hidupnya, manusia dihadapkan pada beberapa pilihan. Pilihan itu yang pada akhirnya akan melahirkan beragam sudut pandang. Ada yang suka hujan, ada yang benci hujan. Ada yang terpaksa bekerja keras di kala hujan, demi tuntutan urgent work order. Ada pula yang bermalas-malasan ketika hujan, di tengah keputusasaan pedagang es cendol yang berjalan pulang mendorong gerobaknya, karena dagangannya tak mungkin dijajakan dalam cuaca dingin.


Saya rasa, tak masalah apabila setiap manusia berseberangan pendapat, beradu argumen, lantaran itu merupakan hakikat manusia yang beradab. Tanpa adanya perbedaan, sudut pandang atau apa pun, manusia takkan pernah berkembang. Tetap hidup. Namun, sebenarnya mati suri.

Ibarat perangkat lunak, mungkin manusia harus menyempatkan diri untuk meng-upgrade firmware-nya dengan versi paling mutakhir secara berkala, supaya tak mengundang bugs terhadap Operating System yang diterapkan pada perangkatnya.

Dan, tentu saja solusinya hanya dua. Menghormati perbedaan. Menghargai sudut pandang.