Tadi pagi, sebangun tidur, langsung becermin. Melihat muka, rasanya pengin nyuruh Mbok setrika buat nyetrika muka saya. Sumpah, kusut banget. Kantung mata hitam, mata sayu, penampakan jerawat, brewok mulai tumbuh liar di sekitar pelipis. Apa baru nyadar aja, ya?

Beberapa hari lagi, semester empat usai. Barangkali, teman-teman sekalian heran, kenapa saya yang notabene mahasiswa masih menjalani kuliah seperti halnya proses belajar di SMA? Setiap hari kerjaannya, belajar dan belajar, tugas dan tugas. Tidak ada kegiatan semacam seminar-seminar, mampir ke perpustakaan kampus, atau riset ilmiah seperti teman saya di Bandung yang bikin saya ngiler. Padahal mindset saya dulu, kerjaannya mahasiswa itu turun ke jalan buat menuntut kebijakan pemerintah yang cemen, dan menjunjung reformasi lagi kayak 15 tahun silam. Revolusi bahkan.

Beberapa organisasi kampus sudah dibentuk, namun belum berfungsi sama sekali. Alasannya? Belum punya bangunan kampus sendiri, sehingga tidak leluasa untuk melakukan kegiatan. Ke dua, jumlah mahasiswanya masih sedikit. Alasan utama, pihak kampus belum menandatangani kesepakatan dengan kami. Miris.

Memang, kampus saya, yang kebetulan almamaternya masih embrio, sedang dan masih mencari-cari formula yang tepat untuk menggodok mahasiswanya. Saya rasakan begitu, saya merasakan perbedaan metode kuliah setiap semester demi semester. Semester satu: mata kuliah dari berbagai disiplin ilmu keteknikan disodorkan dan disuapkan dengan frontal, sampai-sampai saya mual-mual dalam mencernanya. Tapi, hingga semester empat saat ini, lumayan ada perbaikan di sana-sini, terutama pada aspek kurikulum, sehingga saya tidak perlu mengkonsumsi antimo setiap semesternya.

Sekarang ini, saya tak lebih dari kelinci percobaan pihak kampus. Tak apalah, segala hal memang ada risikonya, kan? Yang penting biaya akademik full gratis sampai wisuda kelak. Enak? Ah, enakan juga Pia Apple Pie.
Sabtu malam kemarin, ada yang nonton Advertorial di Metro TV tentang STMSI? Pada acara itu dipaparkan bahwa Semen Indonesia (reinkarnasi Semen Gresik) membuka perguruan tinggi baru di Jakarta sana. Disiplin ilmunya Manajemen, sudah terakreditasi dan punya akta pendirian.

Heran, mengapa Semen Indonesia begitu mudah dalam memperoleh akreditasi kampusnya, sedangkan nasib kami yang di sini masih kalang kabut. Ups, bukan urusan saya juga, sih, itu urusan pejabat Dikti.

STMSI bakal jadi saingan kampus saya?

Bukan sepertinya, melainkan saling melengkapi. ST Manajemen tentunya amat berbeda dengan ST Teknologi seperti kampus saya. Misalnya apa? Ya betul. Mahasiswa ST Manajemen banyak yang cantik-cantik.