Pekan kemarin, melihat teman-teman kuliah pakai kamera DSLR. Macam-macam hasil potretannya: tentu saja, sebagian besar berupa objek manusia yang dengan pose berkacak pinggang sambil salah satu kakinya ditekuk itu lho, hehehe.

Setelah dipikir-pikir lagi, saya sangat menyayangkan. Memang, DSLR-nya baru sekelas entry level, yakni Nikon D3100. Tapi, bukankah DSLR memiliki kemampuan sekadar jeprat-jepret? Sayang sekali kalau tidak dioptimalkan.

Kalau menoleh ke belakang, jarang banget orang yang punya kamera, apalagi yang punya SLR (sebelum maraknya era Digital). Hanya kalangan terbatas seperti jurnalis atau fotografer pro yang menekuni bidang tersebut. Saat ini jauh berbeda. Komunitas fotografi, yang memudahkan untuk saling belajar dan bertukar ilmu memotret sudah bertebaran di daerah-daerah, serta senantiasa terhubung di media online di samping mereka pun rutin mengadakan kopi darat secara offline. Bahkan, sekarang anak kecil pun sudah menenteng, mengalungkan kamera ke mana-mana.

Kenapa, ya? Pasti ada konspirasi yahudi atau illuminati, nih.
Tidak bisa dimungkiri, era social media turut memengaruhi ranah fotografi. Social media saat ini yang memungkinkan setiap orang untuk berbagi momen kebahagiaan bersama keluarga, kekasih, atau bahkan hanya dia sendiri alias narsis dengan sekali sentuhan. Edit-edit sedikit dengan instagram. Klik! Bingo, momen tak terlupakan kita langsung tersebar secara instan ke awan.

Selain itu, harga kamera saat ini jauh lebih terjangkau ketimbang dulu. Ya, bagi orang lain. Bagi saya tetap berat, eh.

Eh, Malah Jadi Ngidam Prosumer

Pertamanya, sih pas lihat Mas MT, yang sering nenteng kameranya ke #kelasanggit. Penasaran, dengan polos saya tanya, itu DSLR, bukan? Doi senyum, "Bukan, ini prosumer. Tapi hasilnya lumayan, kok. Kalo jeli makenya," tuturnya.

Saat itu belum tertarik dengan kamera semi pro itu. Tapi, barusan, menarilah jemari ini buat cari info harga kamera prosumer. Kebetulan kamera Mas MT mereknya Canon. Entah tipe apa, powershot yang berapa saya kurang tahu. Tapi, di situs tempat saya cari-cari harga itu, ada yang most viewed, yaitu Fujifilm Finepix S2980. Tak menunggu lama, saya klik deh produk yang paling banyak dilihat tersebut.

Ungkapan bernada positif banyak bertebaran di kolom testimoni. Intinya, para pengguna Fujifilm Finepix S2980 cukup puas dengan kinerjanya. Bahkan ada yang mengatakan, mereka merasa lega lantaran kameranya cukup mewakili beberapa fitur DSLR (tak banyak tentunya), serta bisa digunakan dan digenggam dengan mudah oleh anaknya yang masih 6,5 tahun.

Kelegaan itu berdasar dari keprihatinannya kala menyaksikan anak sepantaran SD yang menenteng Canon 600D di mal. Mubazir, ungkapnya.
Makin menggebu, deh. Cari lagi review situs lain serta mencari hasil-hasil jepretan Fujifilm Finepix S2980. Setelah ditelusuri, ternyata banyak juga pengguna kamera prosumer Fujifilm Finepix S2980. Di kaskus pun ada forumnya, dan ada pula blog yang menampilkan hasil jepretan kamera prosumer di bawah 2 juta itu, yang ternyata not bad. Boleh dilihat di sini, di sini, atau di sini.

Dan, menurut saya kamera itu cocok dengan kebutuhan saya yang suka iseng memotret ala kadarnya. Bukan setingkat pro, yang hidupnya berpenghasilan dari memotret yang mengharuskan untuk punya beberapa camera kit serta seabreg tipe lensa berharga selangit. Saya cuma anak muda yang tertarik memotret objek-objek yang juga tak muluk-muluk, misalnya orang-orang di pinggir jalan, awan, rumput, binatang yang mudah ditemui (bukan kecoa atau belatung juga tapi), atau menu makanan dan secangkir kopi.

Sabar, ya Fujifilm Finepix S2980. Tunggu tabungan penuh dulu, deh. Tabungan di septic tank.