Kamis sore, saya terlibat bincangan dengan seorang teman laki-laki. Dia sering―saya paksa―jadi pembaca pertama tulisan-tulisan saya, baik naskah fiksi eksperimen maupun curhatan di blog cepy break! tercinta ini. Entahlah, berkat perannya itu, apakah dia harus bersyukur atau wajib segera tobat kembali ke jalan yang lurus, ya.

Tidak seperti obrolan sore yang biasa-biasa saja dan sering kali kering, sore itu saya terhenyak. Sekalipun dia sama sekali bukan blogger―lebih tepatnya dia belum beniat untuk menulis dan curhat colongan di blog seperti saya, sebab saya yakin andai ia mulai menulis, tulisan saya nampak seperti sampah yang tersisih oleh tulisannya―ada beberapa pernyataan keren dari mulutnya perihal blog.

“Gimana naskah lu, udah kelar belom?

Saya menggeleng lemah. Selain lemah berkat depresi lantaran naskah impian saya tak selesai-selesai, hati saya pun gemas meratapi polo shirt hitam dan celana jeans dan sepatu kets basah kuyup disimbah hujan penghujung Oktober seukuran butiran jagung dari langit kota hujan.

“Eh, gue suka tuh postingan Perihal Suka lu,” pujinya tiba-tiba, “unik.”

Mendengar pujiannya, saya berusaha memagari hidung supaya tidak mengepakkan sayap.

“Makasih,” timpal saya, tanpa memeluknya. Sebab, jujur, saya lebih suka memeluk perempuan.

Seperti biasa dalam setiap obrolan dengannya, saya memerangkap otak dan mulut dia ke dalam dunia mini saya yang absurd, tidak semua orang rela memahami alur-pikir liar benak saya. Kami saling beropini tentang hujan lebat yang kerap membangkitkan pelbagai imaji. Film indie. Cerpen dan novel sastra. Basket. Perempuan. Kompetisi film sepuluh detik. Dan blog.

Kepadanya, saya mengeluhkan tulisan di blog saya yang kian hari kian aneh. Jauh lebih aneh daripada postingan-postingan awal-awal saya ngeblog, termasuk yang Perihal Suka itu, kesah saya kepadanya.

“Rasanya, gue pengin beralih jadi blogger yang ngebahas makanan aja, deh,” pasrah saya. Ya, saya memilih beralih membahas makanan, sebab tidak mungkin cepy break! menyoal bisnis online dan motivasi dan pengembangan diri. Toh saat ini saya sendiri yang butuh kucuran motivasi, tapi bukan dari motivator.

“Jangan! Gue malah nggak suka blog semacam itu,” sanggahnya.

“Itu urusan lu.”

Sekali lagi dia menggeleng. “Gue sering kecewa membaca blog yang membahas makanan, namun ternyata isinya nggak beda jauh sama rubrik kuliner di portal berita. Tahu gitu, ya udah, mending gue googling aja, kan?” ujarnya. 

Imbuhnya lagi, “Nggak ada opini spesifik yang mengumbar lidah orang itu merasakan rasa asin, manis, atau basi. Yang ada cuma puja-puji terhadap makanan itu tanpa cela. Sedangkan gue, lebih seneng baca opini yang subjektif: apakah tempatnya cocok buat pacaran, apakah harga makanan itu terjangkau oleh kocek mahasiswa.”

Saya melongo. Dan sedikit mengiyakan pendapat teman saya itu dalam hati.

“Malah, gue lebih suka blog yang isinya curhatan kayak blog lu. Well, emang, sih. Kadang postingan lu terkesan cengeng, dan nggak laki,” risaknya.

Saya mendelik, dia ketawa puas.

Katanya lagi, “Walaupun cengeng, tapi, apakah pengalaman hidup atau bahkan cinta seseorang yang gue kenal bisa gue googling semudah googling makanan? Nggak, kan? Kalo gue terpaksa googling, yang ada, malah gue tersesat di website gaya hidup pria urban, lantas dipetuahi sama pria-pria metroseksual bahwa jadi pria menarik itu harus ini lah, itu lah, beli fashion item merek ini lah, harus sesekali pergi ke salon anu lah. Gue pikir pria-pria flamboyan itu lupa, kalo setiap laki-laki itu diciptakan berbeda-beda,” ketusnya, “maksud gue, beda-beda nasib dan rezekinya.”

“Tumben banget lu ngomong sebegini waras,” decak saya. “Terus, apa yang mesti gue lakuin supaya gue bisa semangat lagi buat nulis postingan dan nulis fiksi?”

“Mending baca postingan blog lama lu. Terus terang, postingan lama lu lebih mengalir, blak-blakan, dan jujur. Nggak kayak postingan sekarang yang, agak jaim, menurut gue.”

“Tapi, kan, tulisan dari hari ke hari itu turut mendewasa mengiringi usia manusia yang mengetiknya? Wajar, kan, kalo gue semakin jaim?”

“Ah, tua banget omongan lu!” sambarnya.

Saya terbahak. “Hayo, gimana?”

Mata cerdasnya nampak berpikir. Mulutnya bergerak-gerak.

“Kalo mau punya tulisan bagus, ya, nulis sesuai isi hati lu,” kata teman saya seenteng kapas, “jangan nulis apa yang hebat menurut orang lain, tapi lu sendiri malah bingung. Lu sendiri malah terbebani. Bahkan, jangan-jangan lu malah nggak ngerti tulisan yang lu ketik sendiri.”

Saya sebenarnya tertohok sekaligus takjub menyimak pernyataan teman saya yang tidak terduga-duga itu. Namun, namanya juga perbincangan sesama laki-laki, saya sekadar menyahut, “Males.”

Dan dia pun menukas, “Kampret.”

Begitulah. Kadang kala suara subjektif seorang teman jauh lebih berharga ketimbang petuah emas mencerahkan dari motivator kondang dan motivator jadi-jadian. Pendapat seorang teman tidak bisa di-googling.