Kemarin, di jalan sepulang melepas ortu dan kakak sulung saya berangkat umrah, pipi saya sakit sekali. Cenat-cenut, kayak Sm*sh. Saya curiga mereka sedang berlenggak-lenggok centil di dalam mulut saya, sambil mencipratkan keringat pada gigi saya sehingga meninggalkan karat. Tapi ternyata bukan. Fiuh.

Lidah saya meraba-raba gigi, hmm, geraham paling bawah, paling pojok sebelah kanan, sepertinya bolong. Setelah tanya-tanya teteh google dan tanya-tanya sama teteh beneran, konon itu geraham bungsu, yang memang riskan bolong.

Dan, sensasinya itu lho, sakit gigi bikin kepala pusing, leher pegal, mata berair, sakitnya menjalar ke mana-mana, kecuali ke hati. Aw. Sebentar, saya mengusap-usap pipi dulu.

Jam segini apotek dekat rumah belum buka, mungkin sejam kemudian baru buka. Saya menunggu di rumah sembari menahan linu di tempat tidur, berharap sakit gigi ini segera minggat.

Ah, daripada sakit gigi ternyata lebih baik sakit hat.. eits, yakin lo, Cep? Iya juga sih, obat sakit gigi itu tersedia di apotek mana pun. Mau sakit gigi di mana pun saya berada, saya tinggal beli obatnya. Bagaimana dengan obat sakit hati? Cuma dia obatnya, nggak bisa dibeli. Tapi dia itu sedang di mana? Masih sama orang lain, tuh. Wah, mendingan sehat lahir batin, deh.

Jadi, saya ralat judul postingan ini ya. Sip.

Catatan: Postingan ini diketik melalui Blogger for Android. Saya curiga formatnya bakal acak-acakan, tidak ada jeda antar paragraf.