Manusia-manusia yang tergesa seolah tersinggung manakala garis putih paling kiri jalan saya pinjam sejenak untuk lajur khayal sepeda. Tin-Tiin! Tiiiiiinn! “Anjing!” Sepasang anjing ternak bermata sayu milik tuan lapo tuak itu terkesan ogah menggonggong, mungkin mengalah pada saya yang merapal umpatan kepada sesiapa yang menjeritkan klakson barusan.

Pagi melambat ketika sepatu putih beroles tanah merah memancal pedal keluar perumahan, menyibak kampung dan rerimbun kebun singkong, membelah sibuknya jalan raya Bogor-Jakarta pada hari biasa, jauh lebih lambat ketimbang reka ulang gol kontroversial. Gigil angin lembap memeluk peluh wajah, bersicepat dengan kabut-kabut polutan dari pantat kuda-kuda besi yang melesat bergesa-gesa. 

Usai seminggu kemarin melindap, matahari mulai berfokus bersinar, namun mata saya tidak fokus melihat bokong kuda-kuda besi itu, tentu. Pemandangan di kiri kanan lebih memikat. Saya menggowes santai saja. Anak-anak SD negeri berbalut baju yang sama di lapangan rumput dengan genangan di muka gawang. Di bibir jalan, penadah rongsokan sedang menggelar terpal biru, menebar onderdil motor di atasnya. Pagi menjelang siang ini, masih ada loper koran yang merapikan berita pagi di dalam tas yang menyampiri jok belakang bebek hondanya.

*** 

Belum lama. Saya menggemari sepeda baru-baru ini. Sejak Juni tahun lalu. Demi apa? Demi mengekang perut supaya tidak merengek menambah nomor celana. Tubuh saya terlalu berat untuk berlari, dan sarapan pagi keluar lagi saat baru lima menit berenang gaya bebas di kolam berkaporit. Dalam olahraga tim, saya selalu jadi anak bawang yang lelet.

Berkat sepeda, andai ditanya oleh orang lain―terutama orang yang sangat dekat semisal kerabat―perihal hobi, maka saya takkan menjawab “menulis” sebagai hobi saya. Menulis, sekalipun sudah menelurkan banyak sahabat, kepuasan batin, dan sedikit “bonus” dalam masa muda saya, namun orang-orang sekitar saya masihlah apriori terhadap kegiatan yah, katakanlah hobi itu. Itu bukan masalah. Lagi pula saya pun menganggap menulis sebagai kegiatan yang biasa, sebiasa menyaksikan stiker Soeharto di kaca belakang angkot, selazim mengintip pasangan “entah sedang apa” di kursi pojok atas bioskop. 

Maka, saat ditanya kegemaran, akan saya jawab dengan percaya diri: bersepeda. Setidaknya, saya urung menjawab “menulis” sebagai hobi sehingga takkan didaulat autis―maaf, istilah ini saya pinjam dari salah satu mulut mereka, jemari saya cuma merekamnya, padahal sungguh, autis itu tiga kali lebih cerdas, sampai-sampai orang yang merasa normal kewalahan memahami keunikan mereka. 

Saat bersepeda saya dapat menikmati dunia yang lambat, adegan demi adegan tersaji jelas; paku-paku dan baut berebahan beralaskan aspal. Entah siapa yang merebahkan.

*** 

Saya teringat adegan minum teh ala Inggris―afternoon tea―yang menghiasi serial Lima Sekawan yang saya baca sewaktu SD. Saya merasa aneh dengan kegiatan Dick, Anne, Julian, George, Timmy yang setiap sore minum teh bersama orangtua dan paman-bibi mereka, kadangkala cuma mereka berlima. Sekiranya ada anggota keluarga yang tak hadir saat upacara minum teh di meja makan, bisa dipastikan ia sedang terlibat masalah dengan anggota keluarga lain, sehingga diwajarkan untuk absen. Bila boleh ekstrem, bagi orang Inggris, ritual minum teh mungkin seperti kewajiban salat Ashar bagi umat Islam.

Apa saja yang mereka bincangkan saat minum teh? Obrolan ringan, biasanya masing-masing orang bergantian mengudar apa yang dikerjakan pada pagi hingga siang hari itu. Oh, ya, setting yang biasa ada dalam buku Lima Sekawan itu yakni masa-masa liburan sekolah. Rupanya saat liburan pun mereka selalu berkegiatan yang kerap sarat petualangan itu. Namun pada sorenya―antara 15.00-17.00―mereka tetap meluangkan waktu buat minum teh bersama-sama keluarga, pada empat musim.

Entah, apakah ritual minum teh masih ditunaikan oleh orang Inggris di tahun 2014, sebab latar cerita Lima Sekawan itu berkisar pada 40-50an. Namun rupanya masyarakat Jepang pun punya kebiasaan minum teh saban sore, sampai sekarang. Selain memelihara tradisi turun-temurun, konon dengan melakukan kebiasaan minum teh, orang Jepang berlatih kesabaran dan sopan santun. Selain itu, guna menenangkan pikiran. Semacam relaksasi. Hmm, padahal image mereka begitu kental dengan ketergesa-gesaan, saya pikir.

***

Digiring zaman yang serba gegas ini, kadang-kadang kita lupa untuk berpikir sejenak sebelum berbicara. Lelaku berbicara sudah merasuki aneka media, bukan sekadar mulut ke mulut. Setengah enam pagi, jemari bangun lebih duluan ketimbang mata, sekadar untuk ngetwit: Thanks God It’s Friday, bukan lagi ramai-ramai operasi semut “Jumat Bersih” atau senam SKJ di lapangan desa. Lagi pula, lapangan desa sudah berganti impitan rumah pendatang.

Mi instan kalah instan oleh layanan pesan instan Whatsapp. Ribuan pesan tiap hari membanjir dari salah satu grup. Sungguh, saya selalu kalah cepat oleh mereka. Saya baru berpikir, jempol-jempol mereka sudah sengit beradu argumen tentang agama dan kebebasan hak pribadi. Padahal, dalam chat, saya ingin mengobrol seringan taipan berbicara tentang kemiskinan, bukan tentang ide bombastis dan mendebatkan pepatah usang. Lantaran setumpuk buku lebih baik tata bahasa serta jelas alurnya, maka saya menutup kitab Whatsapp, kemudian tenggelam dalam buaian pengarang, perlahan-lahan.

Harap saya, jangan mencontoh leletnya hidup saya, sebab Anda bakal jauh tertinggal oleh orang lain. Anda akan menangis merenungi pencapaian rival Anda berada di atas, tinggi sekali. Anda akan sangat malu dalam balutan iri dan pilu. Hanya satu yang pasti akan Anda peroleh dari kelambatan: kesunyian. Kesunyian yang mencipta ruang, bukan kesepian yang mengembar-ngembarkan uang.

Mudah-mudahan, Anda tidak tergesa-gesa kala membaca gerutuan ini. []