Suatu sore yang damai sehabis hujan ini, saya yang sedang sendirian di rumah tiba-tiba kepikiran satu hal yang sebenarnya gak penting-penting amat. Iya, saya emang suka kepikiran sesuatu dengan sangat mudah, apa lagi kalo mikirin kamuh... uuuhh.

Kemudian saya iseng skimming beberapa postingan blog tahun 2012 yang tak saya sangka, enak banget dibaca. Membacanya, kadang saya tertawa, jijik, muntah-muntah, hingga termenung. Betapa waktu berlalu cepet banget, sama cepatnya seperti tren musik pagi-pagi yang kini mengemuka lagi band-band pure, tanpa harus berawalan girl atau boy yang tak saya ingat satu pun segenap personilnya itu.

Saya bahkan lupa gimana caranya bisa ngeblog sesantai, sebebas, dan sejujur waktu itu. 

Saya sadar mulai awal 2013 sampai kemarin, saya keranjingan buat lebih banyak mengeluh di blog dengan intensitas yang super gawat, di mana keluh-kesah itu menyamar sebagai jalinan kalimat bersayap yang memuakkan sekaligus membingungkan, demi melamurkan kejujuran. Energi negatif berserakan menyesaki blog tersayang yang tentu saja teman-teman maupun pengunjung yang nyasar ke sini terpaksa membacanya.

Oretan gambar di atas saya bikin pada dini hari beberapa hari yang lalu, ketika siangnya mandeg melakukan apa-apa: belajar, membaca buku, berolahraga, mencuci, bersosialisasi. Makan jadi pengecualian ya. Betapa hampa malam itu, selain karena tak ada orang yang bisa dicurhati (huhuhu), ada beberapa hal yang menggelisahkan pikiran saya untuk berbuat sekecil apa pun, seperti buncahan otak frustasi yang meledak dari kawah kepala orang dalam gambar, sementara mata dan mulutnya ditutup rapat-rapat.

Saya kurang bersyukur.

Sedikit-sedikit ngeluh. Sedikit-sedikit ngeluh. Mengeluh itu racun yang membuat hari kita selalu kelam, gak ada seneng-senengnya. Kalau begini terus, bisa-bisa SBY kalah galau sama saya. Gak sopan dong andai saya ngalahin yang lebih tua.

Semangat! Semoga kata itu menjadi kartu as (padahal saya gak ngerti remi) dalam masa muda saya ke depan. Kebun harapan selayaknya ditanami bibit semangat, supaya nanti tinggal kita tuai sejumput nikmat.

Saatnya kembali ke nol. Betapapun, angka nol bukan berarti kosong. Nol beroleh ruang-ruang hampa lapak kita berekspresi, kita bebas mengisinya dengan apa saja yang kita ingini, dengan sadar dan sabar. []

Oh, ya, ngomong-ngomong, akhir-akhir ini mata saya agak buram dan berbayang. Saya khawatir header blog yang baru saya bikin asal-asalan kemarin menjadi kenyataan :(