Pagi tadi saya dibangunkan bunyi ciak-ciak, dan dalam keadaan setengah mengigau saya langsung menduga itu suara burung, tetapi setelah kesadaran saya agak pulih, taklah mungkin itu kicau burung. Tak ada yang memelihara burung di sini, pohon-pohon di perumahan ini rata-rata masih berusia bayi, sebatas serangga yang bertenggeran di sana. Saya bangkit cuci muka, kemudian kesadaran saya sudah mengutuh serempak dengan sedengus kesal: meteran listrik sudah mencapai nilai kWH kritis. 

Saya baru menjadi pelanggan listrik prabayar selama satu bulan, dan menurut saya cukup merepotkan! Dulu kita cukup sebulan sekali ke ATM buat bayar listrik pascabayar. Kini, saya sudah dua kali―tiga kali dengan sekarang. Lho, kok bisa? Yah, persoalannya adalah, kala itu saya disuruh Mamah cuma ngisi 50 ribu.

"Percobaan dulu lah, Py. Kira-kira 50 ribu bertahan berapa hari."

Tak sampai dua minggu, bunyi ciak-ciak kedengaran lagi. Dan suara yang berkicau secara periodik itu menurut saya beda tipis sama jeritan alarm mobil di parkiran basement yang tersentuh (seulas saja) sama bocah ingusan, bikin greget pengin mecahin kacanya. Sudah saya protes Mamah, supaya beli sekalian 100 ribu, gitu, biar gak bolak-balik Indomaret saban dua minggu atau malah seminggu sekali. Tapi ya gitu deh. Tetep nyuruh beli 50 ribu doang.

Minggu pagi tadi tepat sebulan sejak kali pertama saya mengisi-ulang listrik prabayar.

Mau bagaimana lagi, saya cabut lah ke Indomaret. Terlebih dulu ngambil uang tunai di ATM bersama yang berada di dalam Indomaret. Selesai. Kemudian saya melangkah ke kasir, dengan percaya diri.

"Beli token listrik, Mbak. 100 ribu," iya, mumpung Mamah―yang suka nyuruh beli 50 ribu―gak ada di rumah, mending saya beli sekalian 100 ribu.

Tetapi sayang sekali, ceman-ceman, respon dari si Mbak tak seperti yang saya duga. "Wah, maaf, Pak," iya, saya udah tawakal banget kok suka dipanggil pak, "udah empat harian ini gak bisa nerima pembelian token. Ada gangguan nih."

"Hah, kok?"

"Gak tahu, Pak. Gangguannya dari PLN-nya sih."

Saya sudah berhalusinasi akan mendengar bunyi ciak-ciak dari meteran di rumah sepanjang hari dan otomatis besok listrik mati total.

Tanpa mengucapkan terima kasih, saya mengendarai motor lagi, tak jauh, ke sebelahnya, Alfamart. Mungkin inilah mengapa Alfamart dan Indomaret didesain bersebelahan: supaya kalo barang atau jasa yang tidak ada di Indomaret, kita cukup berpalingmuka ke Alfamart dua meter di sebelahnya. Pun sebaliknya.

Namun ternyata sama saja. Alfamart sama-sama sedang gangguan, dan sama-sama gangguannya bermuasal dari pihak PLN langsung.

Saya memutuskan untuk pulang. Dan ciak-ciak itu setia berceciak. Saya baru dua kali beli token, dan keduanya beli di Indomaret, belum tahu di mana lagi token listrik biasa dijual selain di minimarket. Dan seingat saya, ada orang―saya lupa siapa dia―pernah bilang, dia suka bayar listrik via ATM. Saya pikir, listrik prabayar pun tentunya bisa dibeli di ATM.

Setelah melamun, saya menyandarkan nasib kepada Google, mencari link yang berunsur: Apakah ATM Mandiri bisa melayani penjualan token? Rupanya saya langsung diarahkan ke blog seseorang, bahkan ke website resmi PLN. Di situ dijelaskan tata caranya, dan sebagainya, dan sebagainya. Tanpa menimbang-nimbang lagi saya melesat ke ATM Mandiri yang jaraknya jauh enggak, deket juga enggak.

Sesampai di ATM, saya lanjut memencet perintah demi perintah―tak membaca lagi tata cara di blog itu. Kemudian saya memasukkan nomor ID pelanggan yang 12 digit, tetapi saya cuma memasukkan 11 digit―sesuai yang tertera di kartu―lantas menginput nominal yang saya ingini: 100 ribu. Next! Next! Kok mesin ini malah menyuruh saya memasukkan nomor pelanggan lagi? Saya masukkan lagi yang 11 digit itu. Next, next. Eh, malah disuruh masukin lagi. Aahh, saya geram, segera membatalkan transaksi tersebut―sebab sudah ada tiga orang yang mengantre, tak enak hati.

Di luar ruangan ATM, saya melamun dan bunyi ciak-ciak terus menghantui. Syukurlah saya bawa hape, dan langsung googling perbedaan nomor ID pelanggan dan nomor meter listrik―sebagaimana dua pilihan yang muncul di layar mesin ATM dan tadi saya memilih ID pelanggan. Rupanya, kedua nomor itu memang berlainan. Secara spesifiknya itu tak terlalu penting, namun yang paling nyata dan vulgar adalah, nomor ID pelanggan terdiri dari 12 digit, sedangkan nomor meter listrik terdiri dari 11 digit! Dan yang tertera di kartu―yang saya peroleh dari pemilik rumah yang lama―terdiri atas 11 digit. Berarti, itu nomor...? Ya, nomor meter listrik. Dasar, Cepot, kurang tidur ya.

Betul pemirsah, nomor di atas adalah nomor meter listrik. Bukan nomor ID pelanggan.
Lagi-lagi saya mengantre dan menahan kesabaran untuk segera mempraktikkan. Setiba di hadapan mesin ATM lalu memencet perintah seperti tadi, segera saya pilih nomor meter listrik, bukan nomor ID pelanggan. Saya masukkan 11 digit yang ada di kartu yang pas mengisi kolom yang disediakan, kemudian menginput nominal 100ribu. Dan... berhasil.


Seketika nyanyian ciak-ciak menyebalkan menyirna kendatipun saya belum sampai di rumah untuk menginput nomor token yang banyaknya minta dikresekin itu. Syukurlah.

Terima kasih, Google. Untuk PLN―yang masih belum juga rujuk sama Indomaret dan Alfamart empat hari belakangan ini―tidak terima kasih ah, ngeselin. []