Diet terbaik adalah pacaran. Kau rela menahan lapar setiap hari demi menyisihkan uang bulanan untuk sekadar mengajaknya ke kafe atau bioskop atau nonton konser atau membelikannya hadiah kecil pada akhir pekan. Ketika ia tersenyum menerima pemberian kamu, laparmu sudah menjadi masa lalu ditimbun oleh rerimbun bahagia. Namun saat respons ia biasa saja atau kau lirik menu yang ia pesan di meja kafe tersisa lebih dari separuhnya, tak habis, hatimu menangis, teringat perjuangan mengabaikan lapar hari-hari kemarin demi menyenangkannya, dan rupanya ia tidak terlalu senang. Endingnya, nafsu makanmu hilang.

Tanpanya, memang kau dapat tetap beraktivitas. You can live without her. Langit masih biru dan berawan, jalanan masih padat dan macet. But your life is more colorful with her in it. Ia adalah pelangi yang hadir tak sering, hanya sesekali atau bila kau beruntung dapat mengagumi cantiknya pada suatu senja sehabis gerimis.

Bagimu, melihat ia tertawa riang sudah cukup mengenyangkan perut keroncongan. Saat melihatnya menangis, hatimu pun ingin menangis namun gagal sebab kau sadar berbeda gender dengannya. Kau harus tegar. Dan, kau harus minta maaf padanya entah siapa pun yang salah.

Diet terbaik adalah pacaran. Ketika kau mulai peduli kesehatan, dan mulai mengikuti gaya hidup bersih plus sehat kaumnya. Perlahan melupakan polah hidupmu dulu yang berantakan. Demi masa depan.[]