Menuju Dua Tujuh


Tahun yang jauh lebih lembut dibanding 2016 yang berdetak jauh lebih lambat. Seperti membalikkan skeptisisme saya yang merata sepanjang tahun sebelumnya. Sampai suatu hari tersadar, yang saya perlukan cuma satu: persistence. Menukil Bruce Lee, "Be Like Water!" itu bener. Air malah memuncrat kalau ditepuk, balik menyakiti saat dipukul, tenang mengisi ruang ketika dituang, menyegarkan saat diminum pada temperatur yang dingin, bisa bikin melepuh kala sedang mendidih.

Mengiblat sama Bruce Lee yang bilang jadilah seperti air, emang sih, hidup lebih tepat dianalogikan sebagai aktivitas berenang ketimbang berjalan. Kecuali pakai alat bantu, enggak mungkin kita tahan berlama-lama di dalam air, dan kata siapa hidup di dunia bakalan lama? Yang lama adalah persiapan dan latihannya biar gak cepet tenggelam, meskipun suatu saat, ada masanya saya untuk tenggelam.

Dan saya rasa, 2017 berlalu sangat cepat. Ahok betah di penjara dan Pak Anies udah duduk manis di singgasana. Tabung gas melon makin susah dicari, mau diapain lagi sih subsidi, rakyat masih pada susah juga. Kevin Sanjaya & Marcus Gideon udah sah jadi legenda. Berat badan makin-makin aja. Dan yang perlu distabilo, seperti baru kemarin rasanya saya ngelamar Veny, dan enam bulan kemudian menikahinya. Menghalalkannya? Enggak, saya gak menganggap dia serupa babi. Dia istrinya Cepy.

Buku paling berkesan selama 2017? Bukan Murakami. Bukan Eka Kurniawan. Bukan Steinbeck. Dan tentu bukan Tere Liye. Jatuh kepada The Toyota Way. Buku teks wajib anak Teknik Industri yang baru saya baca sekarang. Telat, oke, gak apa-apa. Yang pasti, keluarga Toyoda membuka mata saya, menjadi kapitalis bisa dengan menempuh jalan elegan. Gak harus grabak-grubuk macam firma-firma dari Negeri Paman Sam.

Dampak yang kampret adalah, saya jadi skeptis sama merek mobil selain Toyota. Entahlah, yang luar biasa siapa: Penulis Toyota Way yang piawai menuturkan filsafat manajemen sehingga sukses meyakinkan para pembaca yang biasanya keburu pada ngantuk duluan, atau keluarga Toyoda emang terlahir keren.

Saya tahu paragraf di atas berkesan seperti freshman yang tiba-tiba tercerahkan setelah membaca Nietzsche atau Karl Max dari senior kampusnya.

Film paling berkesan?

Apa lagi kalau bukan La La Land.

Sebelum nonton, saya pikir film macam apa, paling juga drama cinta Hollywood yang so so. Kenyataannya emang bener. La La Land itu film drama musikal yang dibumbui cinta, tapi yang bikin beda adalah formulanya bener-bener fresh. Sulit untuk menebak alur cerita, misi si tokoh utama itu sebenernya apa sih, dan gak nyangka endingnya bakal serealistis itu, walaupun pasti banyak penonton yang kecewa karena terlalu dekat dengan kenyataan. Dan lagu-lagunya enak banget. Gak ada yang jelek. Kreatornya beneran niat bikin drama musikal.

Harapan tahun depan?

Pengin bisa ngontrol pola makan lagi kayak dulu. Merutinkan olahraga biar celana lama cukup lagi.

Bukan deh. Itu susah. Itu dusta.

Saya gak mau terlalu banyak berharap lagi. Cuma, izinkan saya berdoa. Moga saya & istri sehat walafiat, karena beberapa bulan ini kita kayak non stop minum obat. Semoga temen-temen menemukan jalan masing-masing yang lebih lapang sehingga leluasa menggurat rute menuju tujuan yang beda-beda tapi sama-sama sejahtera. Cuma diri sendiri yang pantas diabdi.[]

No comments:

Powered by Blogger.