Televisi di Ruang Publik



Keberadaan televisi di ruang publik, misal di Bank atau Samsat, fungsinya menurut saya sekadar pajangan.

Apa yang dapat dinikmati dari bentuk visual bisu?

Mustahil kita dapat mengerti mengapa Nunung dan Andre tertawa di layar. Bukannya kita terhibur, justru malah tambah dongkol nunggu antrean pembayaran sekaligus lantaran enggak kedengeran apa sih yang tersiar di layar.

Ini bukan perkara mengagung-agungkan nalar, tetapi emang sia-sia aja.

Jadi baiknya gimana? Kalau volumenya digedein, gak bakal kedengeran dong woro-woro petugas ruang publik bersangkutan. Iya juga sih.

Mendingan gak usah ada sekalian.

Oh iya, kenapa gak dijadiin media advertising aja? Si TV bisu itu kenapa gak dibikin jadi kayak big screen di persimpangan lampu merah ya. Lumayan nguntungin kayaknya.

Tapi, apa iya ada yang mau ngiklan di ruang publik?

Eh, tapi crowd-nya banyak lho. Setiap hari ada aja yang bayar pajak kendaraan. Penuh mulu. Jadi secara jumlah massa, udah terpenuhi sih.

Lumayan buat nambah petugas pelayanan baru supaya lebih banyak, atau katakanlah beli alat bantu otomatis baru kalau pengen ngurangin manpower. Biar pelayanan instansi pemerintah makin cepet. Sekarang, bikin KTP aja ngantrenya setahun lebih.

Tapi emang sih, crowdnya gak bakalan kayak di mall, yang relatif pada punya duit buat beli produk yang iklannya tayang pada layar TV bisu. Mereka ke mall karena kepengen, tapi kita ke instansi pemerintah karena harus.[]

No comments

Powered by Blogger.